
Tiga hari telah berlalu setelah kejadian waktu itu. Wildan tidak pernah lagi ikut berangkat kesekolah bersama. Tyo dan Vey sebelum berangkat selalu menyempatkan mampir ke rumah Wildan dulu.
Tyi dan juga Vey tidak pernah menjumpai Wildan di rumah. Ayah Wildan selalu mengatakan Wildan sudah berangkat sedari tadi pagi. Tapi, Ayah Wildan juga tidak begitu tahu kemana Wildan pergi pagi-pagi betul.
Akhirnya Tyo dan juga Vey hanya berdua saja. Irene berangkat diantar oleh Reza. Entah, mereka benar-benar kembali lagi atau lainnya aku tidak ingin tahu sekarang. Menjauh untuk yang kedua kalinya yang saat ini Vey rasakan.
"Kenapa semuanya jadi seperti ini yah. Aku kira mereka akan bahagia, ternyata tidak," gumam Vey pada dirinya sendiri.
kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Kita semua hanya mengikuti alur yang sudah dituliskan. Angin siang hari begitu sangat kencang saat ini. Pepohonan tampak menggoyang-goyangkan daunnya.
Vey duduk sendiri di taman belakang yang menjadi tempat favorit mereka berempat. Tapi, sekarang mungkin hanya menjadi tempat favorit Vey. Vey mendongakkan kepalanya menikmati sentuhan semilir angin yang menyentuh dan menggoyangkan rambutnya.
Seperti biasa telinganya tidak pernah terlepas dari benda kecil yang menyalurkan alunan musik. Headset kesayangan yang selalu menemaninya dikala rasa penat mendekat.
"Sahabat yang sejati itulah kita
Biarkan ku menari diderasnya hujan
Tak ku rela kau terluka, biarlah aku menggantikan sulitmu. Hah, dia yang terluka tapi aku yang sakit."
Tanpa sadar Vey merasakan sesak yang tiba-tiba saja datang. Sesakit itukah rasanya cinta yang tak terbalaskan. Sesedih itukah jika patah hati tuk kedua kalinya. Vey terus menerka-nerka rasa sakit yang Wildan alami.
__ADS_1
Sulit memang, ketika kita sudah mencintai seseorang yang tak sedikitpun membalas rasa cinta itu. Kita harus rela berpikir untuk tidak melukainya. Mengalah untuk selalu melihat dia bahagia. Kenapa cinta harus sesakit ini dan saling melukai.
Bukankah cinta itu selalu menampakkan indahnya. Atau, akan terlihat jika sudah waktunya tiba. Seperti waktu itu, Wildan dan Irene masih melihat keindahan itu. Merasa diatas awan yang sangat empuk jika terpijak.
**
Sedang ditempat lain Wildan menyibukkan dirinya dengan pekerjaan yang sudah dia dapat. Wildan belum memberitahukan pekerjaannya kepada sang Ayah. Dengan kesibukan barunya ini Wildan bisa sedikit melupakan semuanya.
Waktu istirahat tiba, Wildan yang sudah membawa bekal dari rumah tidak perlu harus keluar dari tempatnya bekerja. Wildan bekerja dipabrik penggilingan padi yang dimiliki oleh orang tua Niko sang vokalis yang berada di warkop kemarin.
Membuka kertas coklat yang bertali karet orange, menampakkan nasi segenggam dengan lauk ikan telur dadar dan mie instan. Sebelum makan Wildan sudah mencuci tangannya dulu. Menyuapkan nasi dan lauknya memasukkan kedalam mulutnya.
Dikunyahnya makanan sederhana itu dengan perlahan. Makan dibawah pohon dengan hembusan angin menemani. Sesuap demi sesuap Wildan mengunyahnya, kali ini dengan kunyahan yang sedikit dipercepat.
Berlari segera untuk menggantikan teman yang satunya untuk makan siang. Pekerjaan Wildan tidak begitu berat, Wildan hanya disuruh untuk mengontrol keluar masuknya barang.
Kembali kesekolah dimana Vey yang sudah berpindah tempat kerumah.
Pukul 12.30 Vey meminta izin untuk pulang lebih awal. Vey berhari-hari seperti tidak mempunyai semangat lagi untuk datang kesekolah. Sudah, Vey pikirkan besok dan seterusnya dia tidak akan datang kesekolah.
Tidak ada kegiatan lagi untuk kelas 3 saat ini. Tinggal menunggu pengumuman dan pengambilan ijasah. Berjalan sendirian sangat tidak nyaman sekali. Tidak ada yang dia jahili seperti kemarin.
__ADS_1
Menengok ke kanan dan ke kiri siapa tahu melihat seseorang yang Veu kenal. Berjalan sendiri seperti sangat lambat, tidak segera sampai. Vey berjalan tertunduk sambil kakinya menendang-nendang krikil jalanan.
"Paling benci kalau sudah berjalan sendiri. Wildan juga kemana sih dia sudah tiga hari gak berangkat sekolah. Patah hati kok gitu banget yah, bikin orang males sekolah," gerutu Vey seorang diri.
Dari arah belakang ada Irene yang berboncengan dengan Reza. Reza menghentikan kendaraannya tepat disamping Vey yang menunduk.
"Vey, kok sendirian kamu pulangnya," sapa Irene turun dari motor Reza. Vey berhenti dan melihat ke lawan bicaranya.
"Eh, kamu Ren! Iya nih, Tyo masih disuruh bantuin Bu tina di lab katanya. Jadi, yah terpaksa pulang sendiri deh," jawab Vey berbohong. Pikiran Vey masih galau saat ini.
"Ow, Za! Kamu pulang dulu saja. Biar aku jalan bareng Vey," suruh Irene pada Reza.
"Eh, gak usah Ren kamu pulang saja sama Reza. Aku gak papa kok jalan sendiri, sambil ngukur jalan aja, hehehe," tolak Vey dengan halus.
"Beneran, kamu gak papa Vey jalan sendiri. Aku temani yah Vey," kekeh Irene ingin menemani Vey.
"Beneran, gak apa-apa Kok. Udah kamu pulang saja sama Reza, udah sana naik buruan," dorong Vey agar Irene naik motor lagi bersama Reza.
Reza hanya melihat Vey dan Irene bergantian lucu. Mungkin Reza pikir mereka seperti anak kecil yang berebut mainan. Dengan paksaan Vey yang tak gentar akhirnya Irene kembali lagi naik ke motor Reza.
"Aku duluan yah Vey," pamit Reza dan Irene bersamaan. Vey hanya melambaikan tangannya dan tersenyum sekilas.
__ADS_1
Dengan sekali menarik nafas Vey kembali melanjutkan perjalanannya. Langkah kakinya sekarang Vey selingi dengan berlari.
NOTES: JIKA CINTAMU HANYA MENYAKITI MAKA LEPASKAN AGAR RASA ITU TAK TEELALU TERASA.