SENYUM DIBALIK DUKA

SENYUM DIBALIK DUKA
MASIHKAH ADA MAAF


__ADS_3

Rasa yang tidak biasa membuat Irene merasa bersalah kepada Wildan. Ingin berlari dan memeluknya kembali.


"Hey, diam saja sih kamu Wil," tegur Raka. Wildan hanya sedikit menyunggingkan sudut bibirnya dan melenggang pergi.


Melihat Wildan pergi Irene langsung berlari untuk mengikutinya. Tio, Raka dan lainnya meneriaki nama Wildan namun, tidak dihiraukan.


"Kenapa Wildan Yo, belum tuntas nih kerjaan sudah ngibrit duluan. Susulin sana, Yo!"


"Lah, kenapa aku yang disuruh nyusul. Susul sendiri sana!"


"Lha bocah gemblung, kan kamu temannya. Cepat susulin sana, Tio!"


"Huh, rempong banget jadi laki. Kaki ada dua nyuruh orang. Kenapa gak kakimu yang nyusul si ****** itu. Ngeselin lu,"


Raka dan lainnya tertawa melihat Tio yang menolak tali tetap berangkat. Itulah sahabat meskipun kesal dia tetap berangkat.


Sedangkan di taman kecil buatan Wildan berdir menghadap ke persawahan yang gelap. Bersedekap dengan keuda kaki yang sedikit dibuka. Dibelakang tampak Irene yang berdiru sedikit menjauh.


Langkah kaki Irene perlahan maju sedikit demi sedikit. Tepat di belakang Wildan yang berjarak 5 jengkal. Irene memandang tubuh belakang Wildan.


Ada rasa yang ingin menggapai namun, Irene tidak cukup berani. Jantungnya berdegup ketika bibirnya hendak mengucapkan kata.

__ADS_1


Dengan sedikit mengatur nafas dan berulangkali membuangnya. Irene memberanikan diri untuk lebih mendekat lagi.


"Wil," panggil Irene. Wildan sedikit menengok dan melihat menggunakan ekor matanya saja.


"Ada apa?" jawabnya.


"Wil, bagaimana kabarmu?" basa-basi Irene berjalan pelan menghampiri Wildan.


Wildan tersenyum miring mendengar sapaan wanita yang dulu pernah dicintainya. Tidak menjawab Wildan malah mengambil satu batu krikil untuk dilemparnya ke tengah sawah.


Irene sadar tidak sepantasnya dia masih mengharap lebih untuk bisa berbincang seperti dulu. Luka yang diberikannya begitu dalam. Karena tidak mendapat jawaban dari Wildan.


"Kabarku jauh lebih baik dari yang dulu. Maaf, aku tidak hadir di pemakaman tunanganmu,"


'Tunanganmu' kata yang membuat Irene terpukul. Tubuhnya membeku tidak berani berbalik menghadap ke Wildan. Dengan menekan kata itu Irene bisa menyimpulkan bahwasannya luka itu masih menganga lebar.


Setetes air mata membasahi pipi Irene. Wildan berbalik dan berjalan mendekat ke arah Irene yang masih membelakanginya.


"Pernah kah kamu tahu Ren. Luka yang pertama kali kamu goreskan masih belum bisa aku sembuhkan. Meskipun, aku mencoba untuk mencintai wanita lain. Cinta pertama ku itu kamu dan aku kira untuk cinta yang kedua aku bisa menikmatinya. Ternyata--. Ren, jangan pernah salahkan hati yang dipenuhi luka untuk tidak memaafkan. Aku mencoba menghapus semua luka dengan akal sehatku. Tetapi, sampai detik ini luka itu masih saja tidak menutup."


Air mata Irene semakin deras membasahi kedua pipinya. Bahkan Irene tidak bisa menghentikannya. Kesabaran Wildan selama ini tidak pernah terbatas.

__ADS_1


Tio yang melihat dan mendengar kata-kata Wildan rasanya ingin marah. Tapi Tio tidak bisa berbuat lebih. Mu gkin Wilfan butuh mencurahkan semya isi hatinya kepada Irene. Wanita yang dulu dicinta tetapi menorehkan bara api di atas luka Wildan.


Wildan memutari tubuh beku Irene dengan wajah yang sudah basah. Sakit ketika melihat Irene menangis. Akan tetapi bagaimana sakitnya hati Wildan yang dipermainkan wanita yang sangat dicintainya itu.


Banyak hal dan kata yang ingin Wildan ucapkan. Memendam rasa sakit seorang diri membuat Wildan semakin dingin kepada semua wanita. Tidak ingin merasakan sakit yang sama dan mencari obat yang bisa menyembuhkan luka akibat terbakar itu.


Irene mengangkat wajahnya yang tertunduk dan memberanikan diri untuk menatap wajah datar Wildan. Satu hal yang tidak bisa Wildan lupakan ketika menatap kedua mata itu.


Dulu ketika masih ada cinta di mata Wildan untuk Irene. Menatap dalam mata sembab Irene membuat Wildan ingin berlari dan memaafkannya.


"Aku tahu, maka dari itu aku minta maaf. Aku yakin, sesakitnya kamu, sebencinya kamu kepadaku. Aku harap kamu mau memaafkan almarhum Reza. Hanya untuk Reza maafkan dia Wil."


"Yah sudah dari dulu aku memaafkannya. Hanya saja aku tidak habis pikir dengan jalan pikiranmu. Ren, apa segampang itu kamu mau menerimaku dan segampang itu pula kamu kembali dengannya. Bahkan, kata putus itu pun keluar dari mulutku. Aku harap kamu tidak lupa itu. Tidak segampang itu Ren, aku lelaki juga memiliki perasaan sama halnya Reza. Kalau kalian masih saling mencintai kenapa waktu itu Reza tidak memperjuangaknmu di hadapan orang tuanya. Terus, selama hampir dua tahun hubungan kita. Kamu--sudahlah Ren, semuanya sudah menjadi butiran debu yang tertiup angin. Cukup dan lupakan semuanya. Terutama, lupakan aku meski tidak sekalipun kamu menyimpan rasa untukku."


"Wil,"


Irene memegang Wildan yang hendak pergi. Wildan menengok ke arah pergelangan tangannya yang dipegang oleh Irene.


"Ren, maaf tolong lepaskan tanganku." Irene menggeleng dan semakin kuat memegang pergelangan tangan Wildan.


Melihat itu Tio keluar dari persembunyiannya.

__ADS_1


__ADS_2