
Sudah beberapa minggu sekembalinya Vey dan keluarga dari liburan yang menyenangkan. Vey kembali lagi beraktifitas seperti biasa.
Wildan, Tio, Irene menyambut kembali kedatangan teman barunya itu 2minggu mereka tidak bertemu. Pasti membuat mereka merasakan kerinduan. Sekarang mereka sudah menjadi sahabat.
Suasana hatiku saat ini sangat senang berbeda dengan sebelumnya. Terasa berat seperti mengangkat barang yang beratnya 1kwintal lebih.
Aku menceritakan semua tentang liburanku disana, mereka tampak sedikit terkejut. Mereka juga memberikan semangat untuk kembali bangkit dan melupakan semuanya.
Hari demi hari waktu demi waktu kita semua sudah berada diujung. Kelas 3 ini aku dan lainnya sangat disibukkan dengan berbagai macam tugas.
Tidak ada lagi waktu berkumpul seperti dulu selain berkumpul untuk mengerjakan tugas. Dimulai dari sekarang, semuanya mempersiapkan ujian yang akan datang.
Ujian kelulusan sekolah sudah didepan mata. Kesibukan juga makin bertambah, aku dan juga Wildan mengerjakan tugas kelompok. Dimana tugas kelompok ini sebagai tugas praktek, Iren juga sudah menyibukkan diri dengan berbagai macam praktek.
Dengan kesibukanku ini aku sudah bisa melupakan semuanya. Bunda, Papa, dan Mbak Asri tak lagi membahas masalah kemarin.
Aku harus belajar lebih ekstra lagi untuk menggapai cita-citaku. Fatih kadang juga membantuku jika aku merasa kesulitan. Mbak Asri dan Fatih sekarang tambah dekat, dan itu membuatku lebih semangat lagi.
Kali ini ujian tengah semester dilaksanakan, dimana dua minggu lagi sudah menghadapi akhir dari perjuangan seorang siswa. Ujian terkahir yang bisa dibilang ujian kelulusan sekolah sudah diambang mata.
Aku harus lebih giat dan lebih semangat lagi untk mendapat nilai terbaik. Bukan terlalu bersemangat hanya saja aku sudah tidak sabar lagi untuk memberikan sedikit kebahagiaan kepada keluargaku kalau aku bisa bangkit dan lulus dengan nilai yang baik.
Seperti halnya hari ini, aku sudah memantapkan hati dan langkahku untuk mulai mencorat-coret kertas bertinta hitam itu. Sama seperti ujian-ujian sebelumnya, hanya saja untuk ujian kali ini aku menambahkan lagi semangatku.
Berpacu dalam kertas dan perlatan lainnya sungguh membuatku bahagia sendiri. Lain halnya dengan teman-teman yang merasa sangat tegang.
Kertas putih dengan lembar jawaban sudah dibagikan rata. Ku baca satu persatu soal dengan teliti, siapa tau apa yang aku pelajari keluar semua.
Dan benar saja sebagian ada banyak yang keluar dari yang aku pelajari. Ku goreskan pensil tulisku, mulai mengukir huruf demi huruf. Mencoret apa yang menurutku terjawab dengan benar.
Tidak membutuhkan waktu lama aku sudah menyelesaikan semua soal. Aku meneliti lagi semua jawaban yang sudah terselesaikan dengan cepat. Mulai terdengar suara-suara yang aku yakin dari mereka yang kesulitan.
Ku memutar leherku untuk melihat mereka yang dalam kesulitan. Dan benar ada beberapa dari mereka yang sepertinya meminta bantuan kepada teman yang didepannya.
__ADS_1
Dia terlihat seperti anak bayi yang tidak dibelikan mainan oleh orang tuanya. Aku menuliskan cara dan jawaban yang aku punya, aku bukan merasa pintar tapi, aku kasian pada mereka.
"Ini, aku kasih tau sedikit yah. Ini jawaban soal A, untuk soal B aku tidak tau. Soal mu apa?" tanyaku bisik-bisik kepada teman belakangku.
Oh yah, soal ujian pastinya diacak dan sebagian juga soal A pasti ada disoal B. Aku mendapatkan soal ujian A, aku meminjam soal ujian B dari teman belakangku.
"Aku dapat soal B," jawab siswa perempuan dibelakangku.
"Sini, aku pinjam soalnya sebentar. Nanti tolong kasih tau yang lainnya yah yang gak bisa," punyaku pada siswi perempuan yang bernama Erna itu.
Aku mulai mengerjakan soal mana saja yang menyulitkan mereka. Karna tidak semua jawaban yang aku berikan. Aku hanya membantu mereka yang tidak tau jawaban dari soal itu.
Waktu masih kurang setengah jam lagi, masih bisa untuk ku membantu mereka. Guru pengawas pun juga sibuk dengan obrolannya. Bukannya aku sok kepintaran, aku hanya tidak bisa melihat anak yang kesusahan meminta bantuan tapi tidak dihiraukan.
Sepintar-pintarnya seseorang jika memberikan bantuan sedikit jawaban. Tidak akan mengurangi atau merugikan kepintarannya. Malahan kita akan mendapatkan pahala dari bantuan itu.
Kepintaran tidak boleh dibuat ajang kesombongan, atau ajang untuk dijadikan saingan. Karna sesuatu yang dilebihkan itu tidak akan pernah baik.
Selesai aku membantu Erna dan lainnya, diwaktu yang kurang 5 menit lagi. Aku mulai maju kedepan untuk mengumpulkan soal dan lembar jawabannya.
Ujian kali ini jika sudah selesai boleh dipersilahkan langsung pulang. Karna, hari ini adalah ujian akhir jadi mata pelajaran hanya ada 1 mata pelajaran.
Didepan gerbang terlihat semua murid yang mengistirahatkan pikirannya sebentar diwarung depan. Saat aku berjalan sendiri dikoridor sekolah, suara Wildan memanggilku dari arah belakang.
"Vey," teriak Wildan. Aku .memutar tubuhku untuk melihat kebelakang.
Ku ukir sebuah senyuman dan lambaian tangan kepada mereka bertiga. Wildan tidak sendiri ada Tio dan juga Irene, kami sepakat untuk pulang bersama-sama.
Saat dijalan kami berempat banyak sharing tentang soal ujian tadi. Aku, Wildan Dan Tio satu jurusan sedangkan Iren beda jurusan dengan kita. Sehingga dia hanya menjadi pendengar setia kali ini.
"Gimana Vey, lancar semuanya," tanya Tio.
"Alhamdulillah, lancar Tio?" jawabku. Trus kamu sendiri dan juga Wildan gimana lancar juga kan?" tanyaku balik kepada mereka.
__ADS_1
"Hah, bisa dibilang gitu sih, tadi ada satu soal yang bikin aku pusing. Jadi tidak sempat aku jawab deh," ujar Tio seperti orang yang putus asa.
"Kalau kamu Wil, gimana?" jawab Irene. Meskipun beda jurusan Irene berusaha menunjukkan perhatiannya kepada pacarnya.
"Alhamdulillah, tidak ada soal yang tidak aku jawab kok Ren. Semuanya terjawab dengan mudah," jawab Wildan santai.
Aku melihat Wildan dan Irene yang sedari tadi berpegangan tangan. Mereka tampak sangat serasi, memiliki pasangan satu sekolah menjadi semangat tersendiri bagi mereka.
Tio masih terlihat lesuh, karna ada 1 soal yang tak terjawab. Ku tepuk pundak Tio untuk memberikan semangat.
"Sudah, besok kan masih ada lagi. Nanti kita belajar bareng lagi gimana?" ucapku memberi ide.
"Noleh Vey, boleh jam berapa kerumahmu kan belajarnya?" ucap Tio antusias.
"Seneng bener, memangnya sesulit apa sih soalnya sampai-sampai kamu kayak orang frustasi saja. Pdahal kan cuman ada 1 yang tidak terjawab," kata Wildan.
"Yeyy, gak gitu juga Wil. Kamu kan tau sendiri aku paling bingung kalau sudah masuk dalam soal perbankkan. Aku tidak sepintar kamu yah yang hanya lihat langsung selesai. Ini kan ujian terakhir Wil, ujian terakhir biasanya kan poinnya lumayan toh," cecar Tio kembali frustasi lagi.
"Sudah, sudah Tio? Jangan hadapi Ujian dengan rasa tegang, anggap aja kita lagi nulis dikertas yang kosong. cuman kertas kosong itu didalamnya ada impian-impian kita. Jadi semuanya akan terasa mudah kalau kita mengwrjakannya dengan hati tenang dan pikiran yang tenang juga. Soal ujian tidak sesulit yang kamu pikirkan lagi deh kalau kek gitu. Coba deh," saranku kepada Tio
Aku yang melihat perdepatan mereka hanya
tersenyum-senyum sendiri. Ini yang aku rindukan dari mereka, seribut apapun mereka tidak sampai saling pukul.
Berada jauh sehari dari mereka rasanya sangat tidak nyaman. Apalagi Tio, yang paling bisa mencairkan suasana. Entah itu menggoda WiRen(Wildan dan Irene), atau tanpa disengaja dia berpura-pura kesakitan.
Seperti halnya sekarang ini, dia clingak clinguk mencari orang yang akan menjadi korbannya. Dia melihat kearah samping, depan, belakang tidak tampak ada orang lain. Jarak kita dengan teman yang lain sudah cukup jauh.
Alhasil, korban kekonyolan Tio akhirnya jatuh pada Wildan yang sedang asyik berpacaran. Wildan dan Irene tidak menyadari apa yang akan terjadi. Mereka berdua asyik mengobrol tanpa menyadari masih ada aku dan Tio.
"Woy ada satpol Pp thu, lari!" ucap Tio sambil menarik tanganku untuk lari ikut dengannya. Sedangkan Wildan dan Irene masih terlihat bingung dengan keterkejutannya.
Wildan dan Irene menoleh kekanan dan kekiri memastikan apa yang dibilang Tio benar. Dan, Tio berhasil mengerjai mereka berdua. Aku dan Tio sudah berlari tunggan langgang, menghindari murkanya Wildan dan Irene.
__ADS_1
NOTE: SEBERAPA PINTAR SESEORANG JIKA TIDAK BERPENGARUH KEPADA NILAINYA. ORANG YANG TERLIHAT PINTAR BELUM TENTU MEMBANTU DIRINYA SENDIRI.