SENYUM DIBALIK DUKA

SENYUM DIBALIK DUKA
SELAMAT TINGGAL PUTIH ABU-ABU


__ADS_3

Acaranya kembali dilanjutkan dengan menampilkan band papan atas yang di pertengahan sudah menyumbangkan lagunya.


Semuanya kembali ke tempat masing-masing. Untuk kembali mendengarkan suara sang vokalis.


Banyak apa murid yang sudah hafal dengan semua lirik lagu FLANELLA. Dengan suara lantang mereka menirukan sang vokalis yang bernyanyi.


Di tengah keramaian ada tiga orang yang tidak kembali. Yaitu, Wildan, irene dan Tyo. Sewaktu istirahat sejenak tadi, Irene mengajak Tyo ketaman belakang yang sering mereka kunjungi.


Disana Irene mengatakan semuanya yang dia juga rasakan. Tyo hanya mendengarnya tanpa mau memberikan saran.


"Aku tidak tahu, Ren. Apakah kali ini Wildan bisa di mendengarkanmu lagi. Ren, seharusnya dari awal kamu bilang kalau sebenarnya hatimu masih buat Reza."


Irene terdiam mendengar ucapan Tyo yang tidak memberikannya saran malah menyalahkan.


"Kamu kok jadi menyalahkan aku sih Yo! Aku juga tidak bermaksud menyakitinya Tyo. Aku kira dengan menerima Wildan aku sudah akan melupakan Reza. Selama ini aku juga sudah berusaha untuk menghilangkan perasaanku kepada Reza. Kamu dan Vey juga tahu itukan Yo?" nada putus asa Irene terdengar di pendengaran Wildan.


"Iya, tapi kamu tetap salah Ren? Cba saja kamu bilang dari awal dan jujur sama Wildan. Mungkin dia masih bisa menerimanya meskipun aku dan Vey tahu. Dia akn kembali terluka tapi, itu lebih baik Ren. Lebih baik terluka di depan. Semoga saja kamu tidak akan pernah merasakan apa yang Wildan rasakan sekarang. Aku dan Vey sebagai sahabatnya sangat tahu betapa Wildan sangat mencintaimu Ren."


Irene tertunduk sedih mendengar semua yang dikatakan Tyo itu semuanya benar.


"Kamu tahu Ren, sempat waktu itu Wildan mengutarakan perasaannya kepada Vey tapi ditolak oleh Vey. Karena, Vey tahu bahwa cinta dan hatinya tidak selamanya untuk Vey. Melainkan untukmu. Vey, sudah menganggap aku dan Wildan sebagai bagian dari hidupnya. Bukan hanya Wildan tapi, aku juga pernah menyatakan perasaanku langsung kepada Vey. Dan jawaban Vey masih sama seperti yang dulu Wildan dengar. Vey, sudah bersusah payah membangun rasa percaya diri dalam sir Wildan bangkit lagi Ren. Vey juga yang mengembalikan senyuman Wildan yang sudah kamu hapus. Aku kira kamu benar-benar tulus membalas cintanya Wildan. Tapi, aku baru tahu bahwasannya Wildan menjadi tempat pelarianmu semata. Aku kecewa Ren sama kamu."


Setelah mengatakan itu Tyo pergi meninggalkan Irene yang menangis tersedu-sedu. Wildan yang masih bersembunyi di balik batu itu mengintip Irene yang sudah terduduk di rerumputan dengan tangisannya yang pilu.


Wildan menegakkan tubuhnya melihat Irene dari kejauhan. Perlahan Wildan keluar dari persembunyiannya dan berjalan menghampiri Irene.


"Ren!" telapak tangannya memegang bahu Irene yang naik turun. Irene yang mendengar suara Wildan langsung menghapus air matanya.


"Wil, sejak kapan kamu disini," jawab Irene dengan menyembunyikan kesedihannya.


"Baru saja sampai," bohong Wildan.


"Ow, ya sudah! Aku mau kembali lagi yah."


Belum sempat Irene melangkah jauh Wildan memanggilnya.


"Ren, dari awal sebenarnya aku sudah merasakannya." tubuh Irene langsung membeku di tempat. "Hanya saja, aku ingin menguji kejujuranku sampai mana kamu akan bertahan dengan cinta palsumu. Dan, disaat yang sangat pas kamu memperlihatkan nya lewat sebuah lagu. Mungkin semua orang tidak tahu maksud dengan lagu yang kamu bawakan. Ren, seperti yang Tyo katakan barusan, andai saja kamu bicara lebih awal mungkin aku tidak akan sesakit ini."


Wildan melihat pundak Irene bergerak-gerak naik turun. Sudah sangat dipastikan kalau Irene kembali menangis. Pelan, Wildan menghampiri Irene dan berdiri tepat di belakangnya.ย 


"Meskipun, aku terluka. Ku akan tetap menerimanya sebagai pelajaran agar tidak gampang-gampang menyatakan perasaanku lagi. Sudah lah, kamu tidak menangisi semuanya. Sekarang, yang terpenting kamu bisa bahagia bersama Reza."


Mendengar kata terakhir Wildan, Irene langsung menghadap ke belakang. Isakannya sudah tidak terdengar tetapi, air matanya masih mengalir deras. Dengan punggung telapak tangannya Wildan menghapus air mata Irene.


Isakan Irene terdengar kembali sembari berhambur memeluk tubuh Wildan erat. Wildan tidak membalas pelukan Irene yang tiba-tiba menubruk tubuhnya. Untuk saja tubuh Wildan mampu menahan goncangan tubuh Irene.


"Maafkan aku Wil, maafkan aku yang tidak jujur sama kamu. Kamu boleh benci aku, kamu boleh menjauhiku selama kamu mau. Maafkan aku," kata Irene masih dalam isakan tangisannya.


"Akan aku coba, Ren,"jawab Wildan dan melonggarkan pelukan Irene.


"Terima kasih, Wil. Aku yakin kamu bisa mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dari ku."


Ucapan Irene hanya di angguki oleh Wildan.ย 

__ADS_1


"Jika, kamu ingin kembali duluan saja. Aku masih mau disini dulu."


Ucapan Wildan menjadi ucapan terakhir yang akan Irene dengar. Setelah acara ini Wildan akan segera meninggalkan desa yang sudah menjadi saksi bisu percintaannya.


Irene menatap lama punggung Wildan yang terus berjalan menjauh didepannya. Berdiri di samping batu besar dengan memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Pose terakhir juga yang akan Irene lihat.


Samar-samar terdengar suara band FLANELLA terdengar. Wildan menikmatinya dengan kedua mata terpejam. Kedua tangannya masih dia masuk kan kedalam saku celana hitamnya.


"Andai rasa ini tidak ada dalam hatiku. Mungkin, saat ini aku tidak akan terluka untuk yang kedua kalinya." gumam Wildan dengan kepala yang tertunduk dalam.


Menghembuskan nafasnya sebentar sebelum akhirnya Wildan mengikuti jejak Irene dan Tyo. Berjalan sesantai mungkin dengan mengenang semua yang dia lalui di sekolah ini.


Kenangan putih abu-abu ini tidak akan pernah hilang. Meskipun waktu berusaha menghapusnya. Tepat di tempat acara lagi nama Wildan kembali dipanggil sang vokalis. Kali ini Kidnep ingin mengajak Wildan berduet.


Wildan berjalan dengan tangan yang sudah lepas dari sakunya. Vey yang melihat mimik wajah Wildan, merasa ada yang dia pikirkan. Tyo dan Irene juga tidak melepaskan tatapannya ke arah Wildan yang sudah menaiki tangga kecil menuju panggung.


Sorak ramai kembali terdengar saat artis sekolah berduet dengan artis sungguhan. Tepuk tangan terdengar riuh memenuhi lapangan sekolah.


๐ŸŽต๐ŸŽถ๐ŸŽค๐ŸŽค


Sepiku tak pernah berujung


Saat kau, tak biasa


Sendiri menjalani waktu


Sulitnya ada suka yang pernah ada perih


Ku tak mampu mencari lagi


Dan aku sangat menyadari


Betapa besar dirimu, aku kehilanganmu


Saat kau jauh dari hatiku


Kau nyata arti di hidup


Melupakanmu adalah hal tersulit bagiku


Karena kau terukir dalam di hatiku


Meski ku pernah bosan mengingatkanmu


Selama ini


Kemana entah kau kemana


Kenyataan yang ada


Aku pun tak ingin begini


Sendiri dalam sepi

__ADS_1


Yang tak pernah bertepi


Saat kau jauh dari hatiku


Kau nyata arti di hidupku


Di benakku. . .


Melupakanmu adalah hal tersulit bagiku. . .


Karena kau terukir dalam di hatiku


Meski ku pernah bosan menenangkanmu


Selama ini


Oh-ho-woo


Meski ku pernah bosan mengingatkanmu


Selama ini


Kidnep sang vokalis mengajak Wildan untuk menyanyikan satu lagu lagi yang berjudul HAL TERSULIT. Mungkin suatu kebetulan atau hanya sekedar menyanyikan saja.


Satu temabng terakhir yang grub band FLANELLAย  dan Wildan nyanyikan lagu terakhir yang dinyanyikan.ย 


Vey menatap Wildan untuk terakhir kalinya. Hatinya sangat sedih jika harus meninggalkan sahabat dan lingkungan yang sudah akrab dengannya. Wildan, cinta pertama tapi terpendam Vey lah yang membuatnya berat untuk pergi.


Cinta dalam diam yang sengaja Vey tutupi serapat mungkin. Andai semuanya bisa diputar kembali. Dimana masa itu akan terekam dengan sangat indah.


"Sayang," panggil sang Bunda yang tahu betul kediaman anaknya itu.


Dengan mata yang sudah berkaca-kaca Vey langsung merangsek pelan ke tubuh Bundanya. Isakannya Vey tahan agar tidak pecah terdengar semuanya.


Wildan yang tidak sengaja melihat momen itu terus memandang ke arah Vey yang memeluk Bundanya. Bunda menutup wajah Vey dengan telapak tangannya yang sengaja dia taruh di dekat telinga Vey.


Bunda tersenyum mengangguk ke arah Wildan. Memberikan keyakinan nika Vey baik-baik saja. Bunda tidak ingin Wildan mengetahui Vey yang menangis. Pandangan Wildan menyapu setiap penglihatannya yang masih memandang semua orang di depannya.


"Sebentar lagi, aku akan meninggalkan kehidupanku disini. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah melupakan semuanya," batin Wildan berkata.


Prook, Prook, Prook. . .ย 


Tepukan terakhir yang sangat lama terdengar di pendengaran Wildan . Sampai membuyarkan lamunannya. Bersama dengan semua personil FLANELLA Wildan membungkukkan badannya sebagai tanda terima kasih.


Acara berjalan sangat lancar dan paling berkesan. Kelulusan tahun ajaran ini begitu sangat ramai. Meski tidak memakai kebaya semuanya sudah cukup bahagia.


Semuanya akan menjalani hidupnya masing-masing. Vey, akan ikut dengan saudara ibunya yang berada di luar kota. Tyo juga diminta kakak dari ayahnya untuk dikuliahkan di kita besar. Wildan, sengaja meninggalkan desa kelahirannya karena ingin mencari biaya hidupnya. Irene berencana untuk tetap berada di desanya. Membuka usaha kecil-kecilan untuk membantu kedua orang tuanya.


NOTES: KITA DIAJARKAN UNTUK TIDAK MELUPAKAN SEMUA KEJADIAN YANG TERJADI. DARI KECIL KITA SUDAH DIAJARKAN UNTUK SELALU MENGENANG. MENGENANG SESUATU YANG BISA DIKENANG DAN MELUPAKAN KENANGAN YANG PATUT KITA BUANG.


Tauk lah bingung sendiri๐Ÿคฏ๐Ÿคช๐Ÿคช๐Ÿคญ๐Ÿคญ๐Ÿคญ๐Ÿคญ๐Ÿคญ๐Ÿคญ๐Ÿคญ๐Ÿคญ๐Ÿคญ


๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Šhah, capek juga ternyata nahan nangis. Inget jaman putih abu-abu ku dulu yang penuh dengan kata bullying๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚.

__ADS_1


Sudahlah jangan lupa VOTE, RATE yang sayangku๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2