SENYUM DIBALIK DUKA

SENYUM DIBALIK DUKA
SAMPAI WAKTU YANG TEPAT


__ADS_3

Cinta yang tulus belum tentu dibalas sama. Ada masanya dimana tulus itu akan terbalas dengan rasa yang pantas di dapatkan. Rasa sakit ataukah rasa yang membahagiakan.


Ketulusan bukan hanya dari sebuah hubungan semata. Banyak ketulusan yang dapat kita temui dalam sebuah pertemanan. Sedikit, dan hanya beberapa yang dapat terlihat benar-benar tulus.


Mata dan hati tidak bisa melihat bagaimana wujud dari sebuah ketulusan. Melingkar, atau kotak. Tidak akan pernah ada yang tahu. Hanya sebuah rasa dan perasaan yang dapat menilai seberapa tulus seseorang itu.


Panas matahari siang membakar seluruh alam. Di tempat yang rindang nan sejuk. Seseorang berdiri memandang jejeran padi meliuk-liuk tertiup angin.


Menikmati teriknya matahari disiang hari tanpa satu penghala g di atas kepalanya. Bagi lelaki itu tempat yang paling tepat menghibur hatinya adalah sawah.


Ditengah-tengah sawah yang sudah menguning dan siap di giling. Dibawah pohon rindang atau bisa disingkat DPR. Wildan menatap lurus hamparan padi yang setengah hijau dan setengah menguning.


Semilir angin di sawah membiatnya merasa tenang. Sekejap, bisa membuat Wildan melupakan semua beban yang di pikulnya.


Apa yang dapat Wildan perbuat. Kehadirannya kembali ke desanya tidak cukup membuatnya bahagia. Melainkan, Wildan harus di ingatkan oleh sebuah luka dan kenyataan.


Dimana orang yang dicintainya akan menjadi istri sahabatnya. Devano sudah banyak membantunya ketika baru pertama kali dirinya pergi ke kota untuk bekerja.


Devano juga yang mengizinkan dirinya untuk bernyanyi di kafe milik keluarganya. Apakah Wildan tega menghancurkan semuanya demi cintanya ke pada Vey?.


"Kenapa waktu dan takdir tidak pernah berpihak kepadaku?" bisik Wildan pada dirinya sendiri.


Tangannya menampar beberapa padi di depannya. Padi yang tidak tahu apa-apa menjadi tempat sasaran Wildan meluapkan perasaannya.


Haruskah Wildan berkorban untuk orang lain. Ketika Wildan menyadari cintanya kepada Vey sudah setinggi gunung Arjuna. Merasa tidak mendapat jawaban apa-apa dari padi dan angin.


Wildan berbalik berniat duduk di bawah pohon mangga yang tidak begitu tinggi namun lebat daunnya. Menyandarkan kepalanya ke belakang. Bodoh, jika Wildan baru menyesal dan menyadari semuanya.


Hati dan cinta sebenarnya bukanlah untuk Irene. Melainkan untuk Vey yang sama halnya menyimpan rasa. Kedua tangannya terangkat dan mencengkeram rambutnya kuat-kuat.


Semilir angin membuat Wildan merasa sedikit tenang. Setelah mengeluh dengan penyesalannya. Selang beberapa waktu terdengar suara merdu dari saku celananya.


Rasa malas dan terlalu dalam merenung membuat Wildan tidak menggubris nyanyian yang berasal dari ponselnya. Sedetik kemudian tidak terdengar lagi. Berganti getaran yang menandakan ada pesan masuk lewat aplikasi hijau.


Sama, Wildan juga tidak berniat untuk mengambil ponselnya dan melihat pesan yang masuk.


"Apa aku harus merelakanmu Vey? Apa rasa cintamu itu sudah tidak ada untukku?" sendu Wildan menitikkan air matanya.


Hatinya begitu sakit dan perih mengingat Vey bergandengan dengan Devano.


"Aku mundur alon-alon. Jreng, jreng, jreng. . . ,"


Wildan langsung terperanjat berdiri dan menghapus sisa-sisa air matanya. Menengok ke belakang sudah bersandar manusia resek yang selalu mengganggu.


"Ah, ganggu saja kami Yo? Ngapain sih kamu kesini, gak bosa apa biarin aku sendiri?" kesal Wildan menjitak kepala Tyo namun, tidak sampai kena.


"Lha kamu dewek, ngapain merem, nanges ndek pohon mangga iki? Wes ta Wil, ikhlasno ra usah mbok getuni. Mungkin dia bukan jodohmu," sahut Tyo yang berdiri di hadapan sahabatnya.


"Sulit, Yo. Tidak segampang itu melupakan Vey dan perasaan ini. Kamu pasti tahu kan bagaimana rasanya. Kamu kan juga pernah menyimpan rasa sama Vey?"


"Lha, yang dibahas kamu kenapa aku ikut mbok bahas. Gendeng, kowe Wil," Tyo beringsut duduk dengan beralaskan sandal yang dilepasnya.


Diikuti dengan Wildan yang duduk tanpa beralaskan apa-apa. Tyo tetap memainkan gitarnya sembari menutup kedua matanya. Wildan melamun dengan kaki yang di tekuk satu dan satunya berselonjor lepas.


"Saat ini bukan waktu yang tepat untuk menyesali semuanya. Tidak ada gunanya juga kita menyesalinya, Wil. Memang, dulu aku juga pernah menyukai Vey. Tapi, rasa suka ku bukan rasa cinta melainkan hanya sekedar sebuah rasa yang kosong. Meskipun Vey menolakku, aku tidak merasakan sakit hati yang begitu lama. Jadi, mendengar kabar Vey bertunangan aku ikut senang. Akhirnya Vey, sahabat kita bisa menemukan seseorang yang akan membuatnya bahagia,"


"Kamu benar, Vey pantas mendapatlan Devano. Devano orang yang sangat baik begitupun dengan keluarganya. Akan tetapi, aku tidak bisa membohongi perasaanku. Aku sangat mencintai dia Tyo dan, , , ,"


"Tapi takdir tidak berpihak kepadamu, Wil. Sudah lah, kembalilah dengan Irene. Sepertinya dia saat ini benar-benar mencintaimu. Dia juga sudah menyesal!"


"Lihat saja,"


Sejam kemudian terdengar lagi suara lagu dari ponsel yang masih tersimpan di tempatnya.


Kucoba 'tuk bertahan

__ADS_1


Dalam kisah ini


Tak bisakah sejenak


Kau jangan pergi


"Lha, lagunya lima menit," ejek Tyo saat mendengar lagu dari ponsel Wildan.


"Ck, Five minutes bego. Sudah diam," sungut Wildan berdiri untuk menerima telfon dari seseorang.


Lima langkah di drpan Tyo Wilda berdiri sambil memandang hamparan padi. Tanpa melihat siapa yang menelfonnya. Wildan langsung menekan tombol hijau dan menempelkannya di telinganya.


Tertegun, ketika seseorang tersebut menitipkan belahan jiwanya kepadanya. Ada rasa bahagia karena bisa dekat lagi dengan separuh hatinya.


Belum sempat menjawab sambungan telfon itu sudah terputus. Berbalik dan melangkah jauh meninggalkan Tyo yang terheran.


"Woy, Wil kamu kemana? Tunggu?" teriak Tyo berlari mengejar Wildan yang sudah terlampau jauh.


Pedesaan yang dulu belum penuh dengan rumah. Kini di setiap jalan dekat persawahan sudah ada beberapa rumah yang berdiri tegak.


Wilfan terus berlari menuju rumah kediaman Vey. Disana sudah berkumpul keluarga Vey yang akan mengantarkan Devano. Saat sampai di depan pagar rumah Vey.


Wildan melihat Vey, Devano, bunda dan keluarga lainnya di depan pintu. Mobil yang sudah disewa papa Candra menunggu di halaman rumah Vey.


Devano yang hendak masuk ke dalam mobil melihat Wildan. Berhenti dan mengurungkan niatnya untuk masuk.


"Hey, Bro," panggil Devano melambaikan tangannya. Wildan yang terpanggil berjalan maju untuk menghampiri Devano.


"Dev, kamu mau kemana?" tanya Wildan yang sempat terputus karena Devano menutup telfonnya.


Devano tersenyum dan menepuk bahu Wildan. Di depan keluarga Vey Devano mengucapkan pesan yang membuat Vey tercengang.


"Aku titipkan Vey, tunanganku, pujaan hatiku dan cintaku kepadamu, Wil. Tolong jaga cintaku ini!"


Devano mengucapkan itu dengan menatap ke arah Vey yang terkejut. Devano tahu jelas ucapannya membuat Vey terkejut. Semuanya sudah Devano pikirkan.


Kenapa harus Wildan, kenapa bukan Tyo atau Irene pikir Vey. Bunda yang mengerti, mengelus bahu Vey sehingga membuat Vey menoleh. Senyum palsu yang terlihat jelas di wajah ayu Vey.


Mbak Asri melepas tangannya yang sejak tadi melingkar di tangan suaminya. Dan berpindah tempat untuk menghampiri bunda juga adik tercintanya.


"Jangan berfikir yang tidak-tidak dulu, Dek? Mungkin, Devano tidak ingin kamu kenapa-kenapa saat ditinggal Devano pergi," ucap mbak Asri mencoba memberikan pikiran positif.


Vey hanya mengangguk dan tetap tersenyum meski canggung. Hatinya ingin berteriak untuk menolak. Hanya saja Vey tidak ingin membuat kepergian tunangannya menjadi gelisah memikirkannya.


Devano berbalik dan sekali lagi menghampiri Vey. Terlihat jelas kedua mata Vey sudah menyinarkan anak mata air yang jika berkedip akan jatuh.


Devano dan Vey saling tatap dan mencoba untuk saling memberikan ketenangan. Tidqk, Vey tidak akan tenang dan senang. Berjauhan dengan Devano membuat Vey tidak yakin akan baik-baik saja.


Bibirnya sudah sedikit bergetar ketika telapak tangan Devano mengusap sebelah pipinya. Vey ingin, waktu berjalan sangat lambat agar bisa menghentikan Devano untuk pergi.


"Jangan manja, jangan cengeng, jangan rindu," ucap Devano tersenyum simpul.


"Tidak ada seseorang yang tidak rindu jika ditinggalkan kekasihnya. Mbak Asri saja sering rindu ke kak Fatih. Kenapa aku tidak boleh merindukan tunanganku?" Vey tidak terima ketika Devano memintanya agar tidak merindukannya.


"Kata Dylan kepada Milea begitu Vey. Aku tidak ingin kamu sakit karena merindukan tunanganmu yang tampan ini," goda Devano mentoel ujung hidung Vey.


Tidak tahan untuk tidak menangis. Vey berhambur memeluk tubuh kekar Devano. Tersedu-sedu Vey menangis di dada Devano. Apakah kuat Vey menahan kerinduannya delama setahun kedepan?


Kenapa Vey diingatkan akan suatu kejadian yang membuatnya takut kehilangan lagi. Dimana perpisahan ini pernah terjadi sebelumnya.


Vey semakin mengeratkan tangannya. Tangisan yang tersedu semakin menjadi-jadi. Mbak Asri tidak bisa menahan rasa sedih ketika melihat Vey menangis kejer.


Fatih menghampiri sang istri juga mencoba memberikan pengertian kepada Vey. Fatih paham dengan pikiran Vey yang membuatnya menahan Devano untuk pergi.


"Dek, sudahlah. Devano pergi untuk mengurus semuanya dan Devano juga tidak akan lama," ujar Fatih menenangkan adik iparnya.

__ADS_1


"Iya, sayang. Mas mu akan kembali untuk menjemputmu," timpal papa Candra mengusap punggung anaknya.


"Satu tahun bukan waktu yang sebentar. Mas Fahmi, jangan tinggalkan Vey,"


Semua orang terhenyak mendengar penuturan yang keluar dari mulut Vey. Devano memandang setiap mata yang sama tak kalah tersentak.


Melihat itu bunda segera melepaskan tangan Vey yang melingkar di belakang tubuh Devano. Dan bunda membawa Vey ke dalam pelukannya.


"Sayang, jangan ingat-ingat beliau lagi, Nak. Mas mu sudah tenang disana. Vey, lihat bunda sayang?" pinta Bunda mengangkat wajah basah putrinya.


"Vey, dia lelaki yang tadi kamu peluk. Lelaki yang tadi kamu tahan bukanlah mas Fahmi. Melainkan Devano, Devano tunanganmu. Devano mas tampanmu, Sayang?"


Tangisan Vey terhent ketika sang bunda menjelaskan kesalahan yang tidak Vey sadari. Diputarnya lehernya ke belakang. Di sana Devano tersenyum lebar dan mengangguk.


Vey langsung melepaskan pelukannya di tubuh bundanya. Menghapus air mata yang masih mengalir di kedua pipinya. Sesekali menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan.


Setelah mencoba tenang dan mencoba melepaskan kepergian Devano. Vey mengangguk dan menampakkan deretan gigi putihnya. Bukan senyum pepsoden atau ciptaden yang Vey berikan.


Melainkan, senyum yang terlihat masih berat namun, mencoba untuk ikhlas.


"Maafkan aku, Dev. Aku tidak bermaksud mengganti namamu. Aku hanya-,"


"Sudah, seperti ini mau menikah. Wong belum apa-apa saja sudah menangis seperti anak kecil," ejek Devano melangkah dan dikecupnya dahi Vey dengan sangat lama.


Wildan, seseorang yang masih berdiri di belakang. Melihat semua kejadian yang membuatnya harus menahan rasa cemburu juga sakit. Bukan dilupakan atau terlupakan, Wildan sengaja sedikit memberi ruang untuk keluarga Vey.


Terutama untuk Vey yang dirasa tidak ingin ada perpisahan di keduanya. Wildan hatus sadar posisinya hanya sahabat. Dan terus akan menjadi sahabat untuk Vey atau Devano.


Mengingat ada yang terlupa Devano melihat ke belakang. Wildan mematung dan melihat semuanya dengan wajah khasnya.


"Wil, kenapa kamu menjadi patung disitu. Sini, apa kamu sudah lupa dengan mereka semua? Sini!"


"Iya nih Wildan. Apa kamu tidak kangen dengan kami. Nak?" tanya papa Candra sedikit berteriak.


Akhirnya Wildan berjalan lebih dekat. Kedua tangan papa Candra merentang lebar untuk menerima tubuh Wildan. Dengan senang hatu Wildan menerima pelukan laki-laki yang sudah cukup membantunya ketika meninggalkan ayahnya seorang diri.


"Pastinya. Wildan sangat merindukan bapak. Terima kasih, Pak sudah menjaga ayah saya Wildan selama ini," ucap Wildan kepada papa Candra.


"Sudah lah, siapapun kalian. Kami semua sudah menganggap semua orang di desa ini keluarga kita. Tidak ada orang lain dalam keluarga kita Wil," sambung bunda.


"Papa Candra dan bunda tidak pernah berubah. Pantas keluarga kalian mendapat julukan keluarga dermawan,"


"Bukan, kami hanya pelantara dari yang diatas dan kami sama seperti yang lainnya. Hanya manusia biasa, hanya orang biasa yang yah, seperti kalian,"


Kehangatan itu masih Wildan rasakan dalam keluarga Vey. Wildan merasa sedikit tenang meskipun, ada sedikit luka yang mungkin, berdarah di dalam.


Pak supir mendekat dan berkata. "Maaf, apa jadi kita berangkat sekarang, Mas?"


"Astaghfirullah, iya pak maaf. Kita jadi berangkat," jawab Devano dan membuat semuanya sadar.


"Yasudah, Wil tolong jaga Vey selama aku tidak disini. Vey, aku pergi dulu," terakhir Devano mengecup dahi Vey lagi dan dibalas Vey mencium punggung Devano.


Keduanya tersenyum lepas dengan pelukan yang tidak lama. Devano juga berpamitan dan berpelukan dengan calon keluarganya.


Dengan dibantu Wildan Devano membuka pintu mobil. Sebelum masuk, Devano melambaikan tangan dan memberikan ciuman jauh untuk semuanya.


Rasanya sangat berat untuk Devano pergi. Akan tetapi, ini semua sudah menjadi keputusan dan rencananya. Devano ingin melihat kalau benar Vey sudah menerima dan mencintainya.


Devano akan mendengar sebuah permintaan yang akan menyuruh Devano kembali.


"Sampai waktu yang tepat aku akan kembali untukmu Vey," gumam Devano melihat ke belakang dan melambaikan tangannya.


Mobil yang berwarna hitam bergerak keluar halaman rumah Vey. Bunda, Papa dan lainnya masuk ke dalam. Hanya tersisa Vey dan Wildan yang masih menatap bak mobil belakang sampai benar-benar menghilang di tembok pagar rumah Vey.


"Setahun, setahun aku akan menunggunya kembali. Selama setahun aku harus menahan rindu. Sebentar waktu yang kamu berikan, Dev," bisik Vey kepada hatinya.

__ADS_1


NOTES: TIDAK ADA YANG MENGINGINKAN SEBUAH PERPISAHAN WALAU HANYA SEBENTAR.


__ADS_2