SENYUM DIBALIK DUKA

SENYUM DIBALIK DUKA
INGINKAN LEBIH DARI ITU (WILDAN)


__ADS_3

Aku sangat senang melihat Vey kembali sehat lagi, mengingat kondisinya yang kadang masih belum stabil. Depresi yang membuatnya dijauhi teman dan sahabatnya membuat psikologi Vey semakin terganggu. Miris aku mendengar cerita itu, tapi aku sangat salut dengan kesabaran kedua orang tua Vey dan juga mbg Asri.


Meski mereka harus berpindah tempat untuk kesembuhan sang putri, mereka rela beradaptasi ditempat lain. Bahkan mereka pindah didesa yang lumayan jauh dari keramaian. Sangat sulit ku temukan keluarga yang seperti keluarga Vey. Mereka saling mendukung satu sama lain, mereka selalu ada saat dibutuhkan dan mereka juga saling terbuka. Keramah tamahan mereka saat pertama kali berada didesa sangat diterima dengan lapang oleh warga desaku, juga warga desa sebelah.


Keluarga mereka terkenal dengan kesopanan dam keramah tamahannya. Aku yang mengenal Vey dan keluarganya pun, sangat senang dan sangat bangga berada ditebgah tengah keluarga yang harmonis ini. Banyak doa yang warga panjatkan untuk keluarga itu. Vey, anak yang baik dan itu terlihat dari kesopanan kedua orang tuanya. Terlahir dari seorang angkatan tidak membuat Vey menjadi anak yang pemilih dalam berteman. Vey sangat humbel kepada semua teman sekolah dan teman kampung.


Sehingga, saat Vey mengalami suatu depresi mereka sangat menyayangkan hal itu. Ternyata dibalik keceriaan dan senyum itu ada banyak duka yang dia simpan. Ditambah lagi saat mereka mendengarkan cerita bahwa semua orang menjauhi Vey secara terang terangan. Aku merasa mereka tidak benar benar tulus berteman dengan Vey.


Pagi yang indah membuat suasana hatiku kembali seperti dulu. Perjalanan kesekolah aku tenpuh dengan jalan kaki, dipertengahan jalan aku melihat Tio yang menungguku. Kita berangkat sekolah bersama dengan berjalan kaki. Aku lebih memilih berjalan kaki ketimbang menaiki sepeda kayuh atau sepeda motor.Selain menyehatkan, kita bisa membantu mengurangi pencemaran udara.


kembali ke awal cerita๐Ÿ˜Š


Wildan dan Tio masih terus berjalan kaki dengan santai. Mereka berdua menghentikan langkahnya. Saat didepan mata mereka melihat ada segerumbulan teman temannya sedang mengerubungi seseorang. Wildan dan Tio berlari kecil menghampiri segeromoblan itu. Terlihat papa Vey yang masih berada disana, melihat putrinya disambut oleh teman temannya. Terlihat, mata orang tua itu berkaca kaca, aku dan Tio memberi salam kepada Papa Vey.

__ADS_1


Dari arah depanku, ku lihat Vey yang masih dipeluk oleh Tio. Selepas pelukan dengan Tio, mata itu melihat kearahku. Tatapan itu sangat tulus dan sejuk, senyuman yang indah membuat hatiku terasa menghangat. Suara teman teman menyadarkan tatapan itu. Dengan senyum malu malu aku memberanikan diri untuk menanyakan kabarnya saat ini.


Aku ikut senang melihat senyum itu kembali lagi dan berharap senyum itu tidak akan pernah hilang lagi. Saat jam pelajaran dimulai senyum itu tidak pernah hilang. Dia masih tersenyum, mungkin dia senang karna bisa sekolah lagi. Aku yang sengaja melihatnya pun, jadi ikut senyum senyum sendiri. Vey, menengok melihatku yang masih terpaku dengan senyumannya. Hah, terasa aurah panas yang ku rasakan disuruh wajahku. Tersenyum untuk menghilangkan rasa terkejutku. Ditatap seperti itu membuat ku seperti ketangkap sedang mencuri.


Aku dan Tio mengajak Vey keatas gedung sekolah. Sengaja aku mengajak Vey kesana, agar dia bisa melihat pemandangan dari atap sekolah. Kita bertiga sudah sampai dan benar dugaaanku. Vey sangat menyukai pemandangan hijau itu, gemericik suara air sungai menambah kesejukan yang melihatnya. Aku melihat dia merentangkan kedua tangannya dan menengadahkan kepalanya. Menghirup udara dalam dalam dan menghembuskannya pelan.


Dengan menatap Tio, dia mengerti apa arti dari tatapanku. Dia menganggukkan kepalanya sebagai meyakinkan ku. Pertama tama aku mencoba untuk berbasa basi seperti biasa. Dan kemudian aku dan Tio menanyakan awal mulanya depresi itu kambuh lagi. Diam, dan pandangannya lurus kedepan. Lama kita menunggu akhirnya Vey menceritakan semuanya. Bukan maksutku dan Tio membuat dia sedih kembali, atau mengingat ngingatnya lagi. Papa dan Bunda Vey menyuruh aku dan Tio untuk membujuk Vey mau bercerita.


Vey menatap aku dan Tio bergantian, dia terlihat mencoba tersenyum, buliran air mata itu kembali aku lihat. Aki dan Tio memberi kekuatan dengan cara mengelus pundak Vey. Ku biarkan dia menangis, mungkin dengan menangis bisa mengurangi kesedihan yang dia pendam seorang diri. Tangisan itu tidak terlalu lama hingga dia melanjutkan ceritanya. Aku dan Tio masih menjadi pendengar setia tiap kesedihan itu. Menumpahkan segala kesedihan dengan bercerita kepada teman atau orang tua bisa membuat hati lega.


***


Dipelajaran kedua dan ketiga mendadak menjadi free. Semua kelas juga kosong tidak ada pelajaran, ketua kelas mencoba keruangan kepala sekolah untuk menanyakan ketidak hadiran para guru. Vey, kini tampak begitu lega setelah mencurahkan kesedihan kepada kita. Terlihat senyum itu masih mengukir indah diwajah cantiknya itu.

__ADS_1


Anak anak menghampiri Vey, mengajak dia ngobrol dan bercerita. Tampak tawa itu ikut meramaikan suasana kelas.


"Vey, ada yang ingin aku omongin sama kamu. Bisa kita keluar bentar". Ajak Wildan pada Vey yang berada ditengah tengah temannya. Menengok dan kemudian menganggukkan kepala.


Berdiri dan berjalan keluar kelas, memandang setiap kelas yang murid muridnya keluar masuk kelas.


"Ada apa yah Wil" duduk dibangku depan kelas.


"Ijinkan aku selalu berada didekatmu" Terkejut ktu yang aku tangkap dari wajah cantik didepanku. Diam tidak ada kata yang dia keluarkan. Menatap kedepan dan tersenyum.


"Wil, sebelumnya aku sangat berterima kasih kepadamu dan teman teman lainnya. Aku juga meminta maaf, kalau sudah merepotkan kalian semua. Kalian dengan tangan terbuka mau menerimaku, aku sangat sangat merasakan kebahagiaanku kembali. Kamu tau Wil, sebelumnya sahabat dan teman temanku menjauhiku. Mengataiku gila dan menjauhiku" Ucap Vey.


"Hah, sudah ku duga akan keluar lagi kata kata itu." Batin Wildan. Hening, terduduk berdampingan dan tidak ada lagi yang bisa aku ucapkan.

__ADS_1


Mulutku berasa keluh, dan tidak bisa berkata kata lagi. Hatiku sebenarnya masih belum bisa melupakan satu nama itu. Tapi aku mencoba untuk kembali menata hati yang hampa ini. Aku memberanikan diri kembali untuk mengungkapkan semua itu. Kita sama sama diam menikmati awan yang berwarna biru itu.


Aku kembali lagi nih, maaf yah aku baru up lagi.Jangan lupa Like, Saran dan Rate aja lha dulu๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š.


__ADS_2