
"Tio," teriak Vey mengejutkan Devano dan Irene. Lupa dengan Drvano yang sejak tadi disampingnya.
Vey berlari ingin menghampiri sahabat laki-lakinya itu. Irene yang melihat itu menutup wajahnya malu dengan sedikit melihat reaksi Devano. Tunangan sahabatnya yang melirik Irene.
"Vey, kok tetap pecicilan sih," gumam Irene.
"Dev, maaf yah. Tunanganmu sering kali khilaf seperti itu, hee hee,"
"Haa haa haa, sudah biasa. Ayo," ajak Devano.
Di tengah jalan Vey langsung memeluk Tio yang juga membalasnya. Satu pemuda lagi disamping Tio hanya melihatnya dengan senyum samarnya.
'Masih saja tidak berubah,' batinnya.
"Tio, kenapa tidak bilang kalau mau datang kesini?" panggil Irene yang berjalan santai dengan Devano.
Mendengar dan melihat sahabaat datang dengan tunangannya. Vey langsung cepat-cepat melepaskan pelukannya. Tio pun melepaskan dengan sedikit mengusap pucuk kepala Vey.
"Hay. Ren!" sapa Tio mengulurkan tangannya dan menjabat tangan sahabatnya. "Bagaimana kabarmu?" imbuhnya.
"Alhamdulilah, baik. Kabar kamu sendiri bagaimana?" tanya balik Irene.
Vey menundukkan kepalanya ketika tatapan Devano kearahnya. Pemuda yang ikut datang bersama Tio hanya melihat kearah Vey dan Devano bergantian.
__ADS_1
Pelan-pelan Vey berganti tempat di samping tunangannya. Dengan cengirannya Vey mencoba merayu Devano.
"Dasar," gerutu Devano mengecup singkat pucuk kepala Vey.
"Hee hee, maaf yah lupa kalau sudah ada yang mengikat,"
Diusaknya rambut pirang Vey dengan begitu gemas. Melupakan ketiga orang yang melihat ke arah keduanya. Vey dan Devano saling pukul dan saling cubit.
"Iya tahu, kita cuma ngontrak di dunia ini," sindir Irene yang membuat Vey dan Devano langsung berhenti.
"Iri, bilang boss!" sahut Vey yang membuat Tio tertawa keras.
"Haa haa haa, kebanyakan lihat tiktok kamu. Tidak berubah yah, masih saja," ujar Tio.
"Hee hee. Eh, Tio kenalkan ini Devano tunanganku,"
Sejenak, suasana yang tadinya ramai dengan suara bising kendaraan. Kini yang terdengar hanya klakson dan suara kenalpot sepeda motor dan betor(becak motor).
Irene merasa ada rasa terkejut di wajah Tio dan temannya. Dengan topi hitam dan kacamata hitamnya Irene tidak bisa melihat siapa pemuda bertopi itu.
Melihat ada kecanggungan yang tercipta Devano memutar otak untuk mengembalikan suasana riang tadi.
"Uhuk, uhuk, uhuk," Devano terbatuk-batuk ketika mau membuka mulutnya.
__ADS_1
Vey langsung sigap menepuk tengkuk Devano.
"Dev, kamu kenapa?" tanya Irene yang ikut panik. Devano hanya mampu melambaikan telapak tangannya.
"Ayo, lebih baik kita ke warungku. Ayo," ajak Irene menggandeng tangan Tio.
Belum sempat langkah mereka mendekat ke warung Irene. Hujan turun dengan begitu lebatnya. Devano dan pemuda bertopi itu dengan cepat melepas jaketnya.
Bersamaan itu dua jaket berada diatas kepala Vey. Begitu cepat dan tepat sasaran. Jaket pemuda bertopi lebih dulu menutupi kepala Vey. Dengan diatasnya tangan Devano yang juga mengangkat ke atas kepala Vey.
Ada rasa yang asing tercipta diketiganya. Melupakan tetesan air yang membasahi kedua pemuda iyu. Demi satu wanita yang sama dan mungkin dengan perasaan yang sama.
'siapa dia?' batin Vey melihat ke kacamata hitam yang menutupi mata elang di dalamnya.
'Tatapannya juga masih sama. Hangat dan lebih tenang,' batin pemuda bertopi.
'Kenapa Setyo melihat Vey seperti itu?' batin Devano.
Wildan Aditya Prasetyo nama pemuda bertopi itu. Datang dengan penampilan yang berbeda namun, perasaannya tetap sama untuk satu wanita yaitu Vey.
Melihat ada drama di guyuran hujan. Tio dan Irene menepuk dahinya bersamaan.
"Tidak bisa dibiarkan! Woy, sampai kapan kalian bertiga disitu. Kayak drama india saja," teriak Tio membuyarkan lamunan ketiganya.
__ADS_1
Tidak ingin kedinginan di tepi jalan bertiga. Akhirnya, Devano dengan sigap menarik pergelangan Vey untuk berlari di tengah hujan. Kedua tangan Wildan yang dikenal dengan nama lain Setyo.
Tetap terangkat dengan jaket yang perlahan jatuh. Tubuhnya sudah basah kuyup dengan ujung topi yang menyamarkan raut wajahnya.