SENYUM DIBALIK DUKA

SENYUM DIBALIK DUKA
MENYESAL TIADA GUNA


__ADS_3

Pernah kah kalian tahu bagaimana rasanya melupakan nama seseorang yang melekat dihati kalian?


Move on bukanlah kata yang tepat untuk melupakan semuanya. Jangan melupakan kisah yang indah dan menguburnya dalam-dalam.


Petiklah sebuah pelajaran yang tanpa kalian sadari sudah mengajarkan bagaimana caranya melupakan tanpa membenci.


Pasti itu semua sulit untuk dijalankan tetapi, ada secercah cahaya terang yang akan menghapus secara perlahan. Hanya cukup percaya dan berjalan lah di jalan yang melintang panjang.


Cinta memang buta tapi cinta bukan membutakan hati maupun mata. Jika ada yang bilang itu bulsit. Cobalah, pahami dan renungkan cinta tidak salah.


Hanya saja, kita semua tidak pernah tahu memahami kesalahan yang kita perbuat. Jangan pernah menyalahkan cinta jika, tidak tahu makna sesungguhnya.


Getok diriku sendiri😂😂🤣🤣🤣.


Wildan Aditya Prasetyo dengan nama lain Setyo. Merantau ke kota untuk menutup lembaran yang pahit. Melarikan diri untuk menghapus jejak-jejak yang kelam.


Sukses menjadi penyanyi di sebuah cafe besar milik keluarga Devano. Wildan memperbaiki perekonomian keluarganya juga merubah dirinya menjadi seorang laki-laki pekerja keras.


Hidup dengan satu orang tua tidak membuat Wildan menjadi anak yang egois. Banyak orang yang menawarkan pendidikan tinggi Wildan selalu menolaknya.


Sayang kalau dipikir akan tetapi, Wildan berfikir untuk kebelakangnya. Tawaran itu hanya sebuah pendaftaran saja tidak untuk membiayai semuanya.


Wildan selalu menolak dengan sopan dan hati-hati. Tidak sedikit orang yang menawarkan Wildan menerimanya dengan ikhlas dan memahami Wildan.


Flashback on


"Halah, orang miskin saja belagu. Seharusnya kamu beruntung Wildan sudah saya tawarkan untuk kuliah. Bapakmu juga pasti setuju dengan tawaranku ini. Bodoh kamu menolak tawaranku ini," marah pak Joko kepada Wildan.


"Maaf pak sekali lagi, bukan maksud saya untuk menolaknya. Hanya saja saya tidak ingin merepotkan orang lain termasuk bapak. Kalau saya bisa kuliah dan meraih gelar sarjana. Saya ingin dengan usaha saya sendiri pak. Terima kasih bapak sudah memberikan tawaran itu kepada saya. Tetapi, alangkah baiknya bapak berikan kepada yang lainnya saja. Saya sudah mantap untuk bekerja di kota,"


"Sudah lah. sekali bodoh tetap bodoh. Dikasih enak kok gak mau. Brak,"


Flashback Off


Wildan tersenyum membayangkannya, salahkah jika ingin berusaha sendiri. Berdiri dengan kedua kaki yang masih bisa berusaha.


Duduk di tepian jendela kamarnya Wildan menatap dedauan yang tertiup angin. Rumah yang dulu hampir roboh kini sudah berganti dengan tembok yang kokoh.


Tetapi sayang belum sempat melihat rumahnya bagus ayah Wildan sudah pergi untuk selamanya. Rumah peninggalan kedua orang tuanya sengaja tidak disewakan.


Jaman semakin maju dan sawah yang luas sudah berganti bangunan yang kokoh. Di dekat rumah Wildan sudah berdiri rumah yang sangat besar. Rumah pak Joko yang dulu menawarkan kuliah.


Suara musik mengalun merdu di kamar Wildan. Menemani Wildan dalam sepinya.


Diambil sebuah gitar yang menggantung di tembok kamarnya. Bersiap-siap untuk memetik senar gitar yang dicat warna-warni.


...Engkaulah nafasku...

__ADS_1


...Yang menjaga di dalam hidupku...


...Kau ajarkan aku menjadi yang terbaik...


...Kau tak pernah lelah...


...Sebagai penopang dalam hidupku...


...Kau berikan aku semua yang terindah...


...Aku hanya memanggilmu ayah...


...Di saat ku kehilangan arah...


...Aku hanya mengingatmu ayah...


...Jika aku tlah jauh darimu...


Lagu yang selalu Wildan nyanyikan dikala sedang merasakan rindu kepada kedua orang tuanya. Terutama sang ayah yang selama ini menemaninya.


Pahlawan yang sudah dengan sabar membimbingnya untuk menjadi laki-laki yang tangguh dan tidak lemah. Selalu menyuport apapun keinginannya. Lagu AYAH yang dinyanyikan oleh band terkenal yang kini hanya tersisa sang vokalis.


Petikan jarinya di setiap tarikan senar gitarnya Wildan bernyanyi sambil menutup kedua matanya. Menahan sesuatu yang akan meluncur ketika mata itu dibuka.


Terselip pesan yang disampaikan sang ayah sebelum menutup kedua matanya selamanya. Tetap maju dan terus berkarya. Sandarkan bahu yang lelah pada tiang yang kokoh.


"Lah dalah, disini to kamu," kata Tio.


"Ada apa?" tanya Wildan berdiri dan berpindah tempat di lantai.


Duduk bersila dan memainkan gitarnya lagi. Tio mengikuti Wildan dan duduk bersila juga. Suara gitar yang dipetik Wildan begitu merdu. Tio menikmatinya dengan menutup kedua mata.


"Wil, pelas teri dong!" ujar Tio yang membuat Wildan berhenti dan menatapnya dengan alis yang menyatu.


"Aku tidak masak Tio. Beli saja di bu Eko!" jawab Wildan.


"Lah, memangnya ibuku tidak bisa membuatnya," sewot Tio.


"Ya sudah kenapa kamu menyuruhku untuk membuat pelas teri dodol," balas Wildan.


"Yang dodol itu kamu. Begini nih kelamaan di negara orang. Sudah sok dengan musik sendiri, Sini gitarnya," Tio merebut gitar yang masik di pegang Wildan dengan kesal.


Jreng, Jreng, Jreng.


"Pelas teri dibuntel godong, seng tak tresnani disaot uwong-,"


"Bugh. sini gitarku!" rebut Wildan. Tio yang sedang asyik memetik senar gitar tergores sedikit ujung jarinya.

__ADS_1


"Ah, Wil, kowe kok tego tenan neng aku. Loro Wil, ya allah ampuni sahabatku Wildan ini. Berikan hidayahmu untuk dia-,"


Wildan mengangkat gitarnya dan hendak dipukulkan ke kepala Tio. Dengan sigap dan takut menghindar dengan menutup kepalanya degan lengan tangannya.


"Apa sih Wil, orang nyanyi malah mau dipukul," oceh Tio kembali duduk dekat temannya sedikit menjauh tepatnya.


"Kamu yang apa, nyanyi kok ngawor. Bikin lirik sendiri kamu?"


Wildan hang belum mendengarkan lagu yang dinyanyikan Tio menuduh Tio merubah lirik lagu. Tio menggeleng melihat temannya yang katanya artis kafe tidak hafal semua lagu.


"Dengerin, buka telingamu lebar-lebar. Hem, buka kupingmu!"


...Pelas teri dibuntel godong...


...Sing tak tresnani disaot uwong...


...Mana janjimu, mana sumpahmu...


...Yang kau ucapkan dulu...


...Kapesan tresnaku...


...Ternyata koe tego ngapusi awak ku...


...Kok cepet tresnomu ilang...


...Moro moro koe kok uwis pindah tangan...


...Opo salahku opo kurangku...


...Koe tego, tego menghianatiku...


Wildan mendengarkannya dengan diam. Mencoba memahami makna di lirik lagunya. Wajahnya terasa panas seperti di tusuk lagu yang di dengarnya.


"Kenapa wajahmu, Wil?" tanya Tio mengejek.


"Apa sih, tutup musiknya. Lagu apa sih itu?"


"Halah, bilang saja tersindir. Haa haa haa. Salah sendiri minggat ke planet mars. Sakit gak tuh, pasti sakit lah. Haa haa haa rasain,"


"Tio, matiin gak musiknya!"


"Serah aku dong, ponsel-ponsel aku. Wek, haa haa haa,"


Wildan berdiri dan ingin memukul Tio. Melihat sahabatnya berdiri ke arahnya Tio langsung bangun dan berlari. Mereka berdua memutari tempat tidur, keluar pintu kamar kemudian kembali lagi masuk ke kemar.


Persis seperti Tom and Jerry yang berebut ikan asin. Dengan teriak memanggil nama Tio Wildan terus mengejarnya.

__ADS_1


__ADS_2