
Menjadi sosok manusia yang pengertian itu sulit-sulit gampang. Karena apa, dimana kita berusaha untuk mengerti disitulah pasti ada beberapa omongan yang menyakitkan telinga.
Jaman semakin maju dan tahun pun terus berganti tahun. Roda kehidupan terus berputar. Tidak cukup untuk tetap diam ditempat yang sama.
Dalam suasana hati yang tenang dan damai. Iren memutuskan untuk mengubur semuanya dalam-dalam. Vey fan keluarganya ikut senang melihat perubahan Iren yang semakin hari semakin maju.
Senyum ceria yang dulu sempat hilang kini, terlihat damai dan tenang. Di ujung jalan raya Irene memulai harinya drngan berjualan.
Yah, perekonomian keluarga Irene tidak sama dengan teman lainnya. Kalau lainnya bisa menikmati upah kedua orang tuanya. Irene hanya mampu menyimpan angan itu untuk menghabiskan upah yang bukan jerih payahnya.
Vey, Devano dan keluarga lainnya berjalan kearah Irene. Terlihat sekali Irene sibuk melayani pembeli. Tidak ingin mengganggu Vey meminta keluarganya untuk menunggu sampai terlihat sepi.
"Sabar yah," ucap Irene kepada beberapa pembeli yang masih kecil-kecil.
Vey tersenyum melihat kesabaran Irene yang membungkus minuman yang dipesan.
"Pa, Bun. Vey izin bantu Irene yah," pamit Vey langsung pergi. Papa Vey dan bunda hanya bisa tersenyum dengan menggelengkan kepala.
Sampai saat ini Vey masoh tetap menganggap Irene sebagai sahabatnya. Mengingat di awal masuk sekolah barunya teman perempuan yang Vey kenal pertama adalah Irene.
"Ren, aku bantu yah," Vey menepuk bahu Irene yang sibuk mengikat tali ke plastik.
"Lho, Vey. Sama siapa kamu?" kejut Irene tidak menyangka Vey datang tiba-tiba.
__ADS_1
"Nanti saja aku tunjukin. Sekarang, apa yang bisa aku bantu," jawab Vey dan Irene pun tersenyum.
Tanpa banyak bicara lagi Irene menunjukkan ke toples besar yang berisi cairan coklat dengan es kecil dengan jumlah banyak. Dengan cekatan Vey mengambil plastik es dan mengambil es kopi itu untuk dimasukkan ke plastik.
Tidakenunggu waktu lama Vey dan Irene selesai melayani pembeli yang membeludak itu. Devano mengajak keluarga Vey untuk menghampiri dua perempuan itu.
"Assalamualaikum," salam Devano dan dibalas dengan sopan oleh Vey dan Irene.
Keduanya langsung berdiri menyambut kedatangan keluarga Vey. Vey berhambut memeluk sang bunda dan diusap kepalanya oleh papanya.
"Irene, bagaimana kabarmu, Nak?" tanya bunda.
"Alhamdulilah, kabar Irene baik bunda. Terima kasih, berkat kalian Irene sadar kalau dunia ini lebar dwn keras. Irene kudu kuat dan terus maju untuk menghadapi ujian yang mungkin menunggu Irene di kemudian hari," jawab Irene dan disambut rentangan tangan oleh papa Candra dan bunda Vey.
Devano ikut senang melihat semuanya kembali meskipun, Devano tidak begitu tahu awal ceritanya. Vey tersenyum simpul ke arah Devano yang tidak berhenti tersenyum ke arahnya.
Irene menjamu keluarga Vey di warung kecil miliknya. Waktu perlahan berjalan begitu sangat cepat. Belum sampai puas berbincangnya suara gemuruh terdengar dipendengaran mereka.
"Bun, pulang yuk. Sepertinya mau turun hujan," ajak papa Candra.
"Wah, iya tidak sadar sudah mau hujan saja. Nak Irene, kami semuanya pamit pulang dulu yah,"
"Lho, kok buru-buru padahal masih siang loh,"
__ADS_1
"Hu'um, bun sebentar lagi saja yah. Vey masih ingin disini dulu,"
"Mulai manjanya datang. Devano, kamu masih mau disini sama Vey apa ikut pulang sama papa dan bunda?"
"Devano disini saja dulu bun, pa,"
"Ok! Irene, kami pamit dulu yah. Kapan-kapan papa dan bunda kesini lagi,"
"Iya, terima kasih bunda, papa Candra. Hati-hati dijalan,"
Vey, Devano juga Irene melihat kedua orang tuanya yang perlahan menjauh. Tepat di gang arah kerumah Irene. Terlihat ada dua pemuda yang baru saja turun dari angkutan umum.
Ketiga orang yang sudah kembali duduk tidak melihat dua pemuda itu. Ekor mata Devano tidak segaja melihat seseorang yang seperti familiar dan tampak asing dipenglihatannya.
Devano berdiri dengan bibir yang mengembang sempurna. Vey dan Irene melihatnya sampai termangu.
"Vey, itu senyum apa emotikon hpmu?" tanya Irene yang tidak bisa mengalihkan tatapannya.
Vey yang melihat sahabatnya menatap calon imamnya begitu intens langsung cemberut.
"Ren, kalau kamu lupa siapa lelaki tampan yang kamu lihat ini," tegur Vey meraup wajah sahabatnya dengan telapak tangannya.
"Haa haa, maaf," ucap Irene berdiri dan diikuti Vey.
__ADS_1
bergelayut manja di lengan Irene Vey ikut menatap dua pemuda yang berjalan ke arah warung Irene. Kepala Vey yang tadinya menyandar di bahu Irene. Spontan terangkat dikala kedua matanya melihat lelaki dengan penampilan yang modis.
Hay hay maaf yah kalau hiatusnya lama banget๐๐.....tetap sayangi Vey dan lainnya yah๐