SENYUM DIBALIK DUKA

SENYUM DIBALIK DUKA
SEDIKIT LEGA


__ADS_3

Queen tidak melihat bahu Vey bergetar. Tapi Queen tahu perasaan Vey bagaimana. Ingin rasanya Queen membujuk sang calon kakak untuk keluar sebentar. Queen kembali mengingat bagaimana upaya sang papa membujuk Vey keluar.


Karena lelah berdiri Queen memilih untuk duduk. Dipijatnya pelan dahinya dengan mata tertutup. Menangis tidak bisa membangunkan kakaknya dari tidur panjangnya. Kecelakaan itu membuat kepala Devano terbentur pagar beton dan kemudian membentur batu di samping pagar beton itu.


Wildan yang kala itu ikut Vey untuk menemaninya. Hanya mampu terdiam melihatnya. Siapa dia dalam hidup Vey sekarang. Hanya seorang sahabat yang selalu ada untuk Vey. Bukan lebih sahabat yang akan selalu setia menemaninya.


Queen menghela nafasnya dengan sedikit mendongakkan kepalanya. 


"Duduklah, Kak Wil. Kakimu pasti akan kram kalau berdiri terus!" tegur Queen yang semakin pusing melihatnya.


Wildan menuruti ucapan Queen untuk duduk. Wildan dan Queen sudah saling kenal dan dekat. Tidak heran kalau keduanya seperti adik dan kakak. Wildan baru menyandarkan tubuhnya. 


Terlihat dari ekor matanya dua orang dokter berlarian ke arahnya. Tidak sempat bertanya kedua dokter itu memasuki ruangan Devano. Queen dan jiga Wildan langsung berdiri. Beruntung, ada dinding kaca sehingga siapapun bisa melihat dari luar.


"Apa yang terjadi, Kak?" tanya Queen kepada Wildan.

__ADS_1


"Kita tunggu saja dulu, Queen. Yakin, kakakmu orang yang kuat," 


Dalam ketakutannya Queen memberikan kabar kepada kedua orang tuanya. Wildan terus memantau ke dalam. Terlihat Vey hanya berdiri menepi sambil terus melihat ke arah monitor.


Kedua tangannya mengepal erat. Rasanya Wildan ingin memecahkan kaca dihadapannya. Kalau saja tidak ingat dirinya di rumah sakit. Samar terdengar bunyi panjang sempat mengejutkan Queen, Wildan dan Vey yang berada di dalam.


"Bangunlah, Dev. Kamu harus kuat demi Vey. Vey sangat mencintaimu. Bangkitlah, kalau tidak aku akan membencimu," racau hati Wildan melihat garis lurus di monitor.


Tidak, sekali lagi Vey tidak menangis hanya tangannya menggenggam erat tangan kekasihnya. Menatap wajah dan berharap setelah itu kedua matanya akan terbuka. Vey tidak memperdulikan keringat yang membasahi telapak tangannya juga telapak tangan mas tampannya.


"Dev, aku ingin kamu kembali meski tidak sedikitpun namaku kamu ingat. Bukalah kedua matamu, Dev. Lihatlah, semua orang menangis melihatmu seperti ini. Ingat janjimu yang akan membuatku selalu tertawa. Dev, bangunlah!" ucapan Vey mampu membuat kedua dokter dan susternya kagum. Tidak sedikitpun Vey memalingkan wajahnya dari wajah pucat itu.


Sebwlum melanjutkan kegiatannya dokter Anton juga ingin menyemangati lasiennya. "Pak Dev, lihatlah wanita yang selalu disampingmu. Apakah Anda tidak ingin memeluknya lagi? Berusahalah untuk bangun pak Dev!?" celetuk dokter Anton yang seumuran dengan Devano. Kedua matanya memanas bersiap untuk menyemburkan sumbernya.


Sekuat tenaga Vey menahan buliran air itu agar tidak tumpah.

__ADS_1


Vey menatap sendu wajah tampan kekasihnya. Sedih yang sekarang menyelimuti benak Vey. Senyum itu Vey sangat takut kehilangan.


Kehangatan dan kenyamanan saat berada di sisi Devano sangat amat Vey rindukan. Pelukan perpisahan itu semoga bukan pelukan untuk yang terakhir kalinya.


Vey tetap menggenggam erat tangan kekasihnya. Ingin menjerit di telinga Devano tapi Vey tahan. Sempat untuk putus harapan melihat kondisi Devano yang semakin hari semakin buruk.


Akhirnya Vey melepaskan genggamannya dan sedikit memutar tubuhnya. Tetapi tidak disangka, langkahnya terhenti saat dirasa ada sesuatu yang mencekalnya.


Jari kelingkingnya tertahan dengan genggaman tangan Devano. Vey berbalik melihat ke bawah. Sungguh Vey langsung mendekat dan mengusap wajah pucat itu.


"Hey, bangunlah sayang. Aku tidak akan pergi. Aku akan tetap berada disisimu. Dok, baru saja jarinya bergerak dan menggenggam kelingkingku," sontak Vey melihat ke arah dokter yang masih berada di tempat.


Alat pacu jantung yang dibawanya segera diletakkan pada tempatnya. Salah satu dokter lainnya mengeluarkan stetoskopnya dan menempelkan pada dada Devano. Dokter Dandi tersenyum mendengar detak jantung pasiennya kembali normal.


"Alhamdulilah, oak Devano sudah melewati masa kritisnya. Kita semua hanya menunggu kapan waktu yang pas untuk beliau membuka kedua matanya. Anda berhasil nona Vey. Karena semangat Anda pak Devano masih ingin bertahan," ucap syukur dokter Anton.

__ADS_1


__ADS_2