
Kejadian siang ini benar-benar sangat melukaiku. Meskipun bapak terlihat biasa saja tapi aku sangat tau Bapak. Ibukku masih terlihat sangat syok, dengan lantangnya mereka dihina, dicaci maki didepan banyak warga. Aku benar-benar merasa tidak berguna, aku kira hubunganku akan berjalan lurus tanpa adanya perbandingan status. Aku memang orang tidak punya bahkan jauh diatas mereka. Tapi tidak sepantasnya mereka menghina orang yang lemah.
Wildan dan juga Tio masih setia menemani kami. Dia juga memberikan semangat kepada kedua orang tuaku. Dia tau bahwa Ibukku orang yang sangat pemikir. Ditambah dengan kedatangan orang tua Reza membuat kondisi Ibuku sedikit lemah. Aku masih meyakinkan kedua orang tuaku bahwa aku sudah tidak lagi mempunyai hubungan dengan Reza.
Awalnya Wildan, Tio, Bapak dan juga Ibuku terkejut dengan keputusan yang aku ambil. Kedua orang tua ku sebenarnya sudah merestui hubunganku dengan Reza. Tapi mereka tidak pernah tau kalau Mama Reza tidak merestuinya.
" Bapak dan Ibu tidak apa-apa nduk, kenapa kamu memutuskan nak Reza. Kasihan nak Reza jika nanti kamu putuskan. Biar, masalah Mama Reza Bapak dan ibu yang urus. Kamu tidak perlu mengakhiri buhunganmu ndok? Bapak tau kamu sangat mencintai nak Reza." Ucap Bapak.
" Tidak Pak, aku sudah yakin dengan keputusanku. Anggap saja Reza bukan jodohku toh ini hanya cinta anak sekolah Pak! Belum tentu juga kan gendok pacarannya sama Reza lima tahun kedepan. Udah pokoknya Bapak sama Ibu tenang saja, aku yakin Reza pasti mau mengerti kok Pak." ku paksakan tersenyum didepan mereka, aku terus meyakinkan kedua orang tuaku.
Disebrang tempat dudukku Wildan hanya melihat dan mendengar apa yang aku katakan kepada orang tuaku. Wildan dan Tio akhirnya berpamitan pulang dulu. Aku masih menampakkan senyum manusia didepan mereka. Meski aku tau mereka pasti sudah tau dibalik senyum itu, aku tidak mau terlihat lemah didepan semua orang. Tugasku sekarang untuk fokus belajar dan fokus untuk ujian kelas. Aku sangat berharap dikenaikan kelas ini aku tidak satu kelas dengan Reza. Karna jelas aku tidak akan bisa melupakannyaa jika masih bisa melihat dia dihadapanku.
Kurebahkan tubuhku ditempat ternyamanku, ku pandangi langit-langit kamar ku yang hanya beratapkan genting. Sudah sangat larut tapi kedua mataku tidak juga bisa ku pejamkan, ku ambil buku pelajaran dan aku mulai membacanya. Semoga dengan membaca buku rasa kantukku akan datang. Dan benar saja saat aku ingin membalikkan lembar halaman aku sudah tidak kuat lagi. Akhirnya aku tertidur dengan buku yang diatas dadaku. Ku harap dengan ku tidur semuanya akan kembali seperti sedia kala. Tak terhitung menit aku sudah berada dalam bawa sadarku.
***
Pukul setengah empat pagi aku terbangun dan bergegas menuju dapur. Keseharianku setiap hari pukul empat pagi aku sudah membantu Ibu yang memasak didapur. Dirumahku masih menggunakan tungku, kompor juga ada tapi hanya digunakan kalau malam hari saja. Paginya memasak ditungku, memasak diatas kompor denga memasak diatas tungku lebih enak ditungku. Bergelut dengan asap tidak membuatku meninggal, aku sangat suka memasak ditungku. Pernah suatu hari Bapak ingin membongkar tungku ini, aku menangis sejadi-jadinya aku tidak mau Bapak merusaknya. Karna, sebelum rumahku berdinding tembok tungku ini sudah ada.
Bukan hanya dirumahku saja yang masih ada tungkunya, beberapa rumah tetangga pun juga masih ada. Pagi hari kalau tidak ada bau-bau yang dihasilkan dari api tungku tidak afdol rasanya. Setelah semuanya selesai aku baru bergegas untuk mandi sebelum sarapan pagi. Bapak masih terlihat tertidur diruang tengah, sebelum aku menuju kamar ku selimuti tubuh yang hampir menua itu. Ku pandangi wajah gelap dan sedikit tampak kulitnya yang mulai keriput itu, tanpa terasa air mataku sudah meluncur deras dikedua pipiku. Masih kupandangi wajah itu dan ku cium lagi kening itu.
" Semoga Bapak selalu diberi kesabaran dan kekuatan. Semoga Bapak dan Ibu bisa melihat gendok sampai menjadi orang sukses. Terima kasih untuk kalian." ku cium lagi kening hitam itu dan kemudian aku berdiri mengambil seragam sekolahku.
Kamar mandiku tidak berada didalam kamarku, letak kamar mandik disampingku dapur agak jauh dari tungku. Seketika yang sudah ku siramkan ketubuhku membuat kulutku menjadi tampak segar. Seperti bunga yang tersiram air maka akan menunjukkan kesegarannya. Terdengar suara dari luar yang memanggil namaku. Ku pakai satu persatu pakaianku dan segera menuju kedepan melihat siapa yang datang.
Wildan, Vey dan Tio sedang duduk dikunci depan rumahku. Senyum Vey sama seperti biasanya sangat manis dan pastinya sangat indah. Setelah aku menyuruh mereka menunggu aku masuk kedalam untuk sarapan sebentar dan mengambil tasku. Hari ini aku harus fokus dengan ujian dan sekolahku agar kelak aku bisa membahagiakan kedua orang tuaku. Tak begitu lama menunggu kita semua segera berangkat menuju sekolah. Banyolan yang diberikan oleh Tio dan juga Vey sangat menghiburku. Kulirik Wildan yang sedari tadi melihatku.
__ADS_1
" Wil, ada apa?" heran ku. Karna sedari tadiWildan terus saja melihatku. Wildan yang sadar menjadi salah tingkah.
" Ti-tidak apa-apa Ren, gimana Ibu dan Bapak." gugup Wildan yang kepergok seperti kucing yang emncuri ikan.
"Yah, sempet kawatir Wil orang tua mana yang tidak sedih jika melihat anaknya dihina-hina seperti itu. Tapi udah meyakinkan mereka kok kamu tenang saja." ucapku tersenyum kepada Wildan.
" Apa kamu yakin Ren dengan keputusanmu. Lebih baik dibicarain pelan-pelan Ren, aku tau kamu sangat menyukai Reza dari dulu. Meskipun kamu tidak pernah cerita kepadaku dan juga Tio." sambung Wildan.
"Eh, Wil gimana kamu kemaren ngerjain soalnya, aku lihat kamu serius banget kemaren sampek gak sadar aku disampingku." alihku.
Wildan hanya tersenyum dan mengangguk kepalanya.
Aku sengaja mengalihkan pembicaraan Wildan, aku tidak mau hatiku goyah. Aku sudah cukup yakin untuk mengakhirinya. Jika memang benar Reza akan pindah aku akan sangar bersyukur biar mudah aku bisa cepat melupakan dia. Ini hanya cinta monyet atau cinta sesaat.
Tak lama kita sudah sampai sekolah dan menuju ruang masing-masing. Kelas masing terlihat tidak terlalu ramai mungkin masih ada lima orang termasuk aku. Ku dudukkan tubuhku dibangku yang menjadi tempatku dan ku ambil mata pelajaran yang akan dikerjakan nanti. Sedang fokus membaca tiba-tiba Reza sudah duduk didepanku. Dia duduk menghadapku melipat kedua tanganmu diatas meja melihatku dengan senyuman.
" Hehe, maaf." jawabku cengengesan.
"Kamu gk belajar lagi Za!" tanyaku.
" Egak, liat soalnya aja aku udah bisa tanpa mikir" gurau Reza sekenanya. Memang Reza terbilang anak yang cerdas dikelas, dia juga tidak segan-segan membantu temannya yang kesulitan. Hal seperti itu yang membuatku tambah kagum. Tapi hari ini aku harus mengalir semuanya, ku hrmarap dia bisa mengerti dan mau menerima.
Obrolan kita terputus karna lonceng sudah berbunyi tandanya ujian akan segera dimulai. Reza berjalan keluar kelas setelah mengacak rambutku. Sebentar lagi aku tidak akan pernah melihat senyuman itu. Sebentar lagi aku tidak akan wajah itu. Aku harus ikhlas, jika kita memang berjodoh suatu saat nanti pasti dipertemukan. Kupusatkan pandanganku kepada lembaran putih bertinta hitam. Terjejer kalimat demi kalimat disetiap lembarannya.
****
__ADS_1
Akhirnya setelah beberapa hari bergelut dengan soal-soal yang sedikit rumit, murid-murid semuanya menjadi lega. Tidak ada pelajaran setelah ujian, guru-guru sengaja memberi para muridnya untuk refresing berjamaah. Dikelasku begitu gaduh begitupun kelas lainnya sama gaduhnya. Hari ini aku tidak melihat Reza masuk kelas padahal hati ini juga aku mau ngomong sama dia. Aku tanya kepada Danu dan lainnya, dia juga tidak tau dan tidak biasanya juga Reza bermain kerumah teman-temannya. Tidak mendapat jawaban tentang keberadaan Reza, aku memutuskan untuk kedepan kelas.
Dari kejauhan aku menangkap orang yang sedang aku cari. Dia baru keluar dari ruang kepala sekolah bersama dengan kedua orang tuanya. Dia berjalan dibelekang orang tuanya dengan wajah yang sangat lesuh. Aku masih saja melihat dia dari atas, tampak Mamanya yang sedang memberi ocehan kepada Reza. Mereka terus saja berdebat, aku tidak tau aoa yang Reza dan Mamanya perdebatkan. Ayahnya terlihat menengahi istri dan anaknya itu tapi tidak dihiraukan.
Saat aku memandang kearah mereka Reza melihatku dan segera berlari menuju tangga ingin menghampiriku. Aku masih diam ditempatku tanpa pergerakan ingin menghindar. Aku biarkan dia menghampiriku karna aku juga ingin bicara dengan dia. Hembusan nafas Reza tersengal-sengal saat sudah sampai didepanku. Aku masuk kedalam kelas untuk mengambil air minum yang biasanya aku bawa. Aku berikan minuman itu kepada Reza, aku tau berlari ditangga sangat melelahkan.
"Huft, sebentar Ren." Reza masih terlihat ngos-ngosan dan dengan penuh keringat. Aku usap kening Reza yang sudah banjir dengan keringat dia tersenyum.
" Kenapa tidak masuk kelas dan kenapa kamu tadi keluar dari ruangan kepala sekolah!" tanyaku kepada Reza. Yang ditanya memalingkan wajahnya dan berjalan menghadap kearah lain. Masih diam dan sesekali terdengar hembusan nafas frustasi Reza. Aku masih setia menunggu dia bicara. Aku melihat kearah langit yang sedikit mendung, seperti hatiku saat ini.
Ku tengadahkan kepalaku dengan kedua mataku yang terpejam. Begitu lega rasanya saat ku tengadahkan kepala. Aku tidak sadar jika Reza melihat kearah ku, dia tampak bingung antara mau bicara atau tidak. Ku usap pundak sebelah kanan Reza dan mencoba tersenyum.
" Omongin saja Za,aku tidak apa-apa kok. Ada apa." ucapku tersenyum.
" Ren, aku tau Mamaku kemaren kerumahmu. Aku minta maaf Ren Mamaku sudah mempermalukan kedua orang tuamu. Aku minta maaf karna aku kamu jadi menderita dengan semua omongan Mamaku. Tidak seharusnya Mamaku bersikap seperti itu." sesal Reza
" Ren, apa kamu akan membenciku setelah sikap Mamaku kepadamu dan keluargamu. Aku tidak mau putus denganmu Ren. Aku masih ingin menjalani hubungan ini." mohon Reza menggenggam tangan Iren.
" Za, jujur aku tidak apa-apa jika Mamamu menghinaku tapi aku tidak bisa melihat kedua orang tuaku bersedih. Aku tau, aku hanya anak seorang buruh tani. Memiliki rumah yang sederhana tapi sangat nyaman dan damai. Aku ingin kita berteman saja Za. aku tidak mau menambah masalah lagi buat kedua orang tuaku. Aku seharusnya tidak memiliki perasaan suka kepadamu. aku dan kamu seperti Bulan dan Matahari. Aku hanya mendung malam yang menunggu cahaya dari Bulan. Ku minta maaf, aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini." ucapku menatap wajah tampan ini.
Mulutku memang berkata PUTUS tapi lain halnya dengan hatiku. Reza masih menggenggam tanganku tanpa mau melepaskan. Tatapannya sulit ku artikan, mungkin dia terkejut dengan apa yang aku katakan. Aku palingkan wajahku menghadap ketempat lain. Aku benar-benar tidak sanggup nika harus menatap mata itu.
NOTES: AKAN ADA MASANYA CINTA ITU KEMBALI.
WOW, panjang sekaliπππ
__ADS_1
Sabar yah Reza, sekolah saja dulu yang bener turutin dulu kemauan orang tuamu. Iren akan baik-baik saja.