SENYUM DIBALIK DUKA

SENYUM DIBALIK DUKA
DIBALIK BATU


__ADS_3

🎀🎢🎢


Waktu terus berlalu


Tanpa kusadari yang ada hanya aku dan kenangan


Masih teringat jelas


Senyum terakhir yang kau beri untukku


Tak pernah 'ku mencoba


Dan tak ingin 'ku mengisi hatiku dengan cinta yang lain


'Kan kubiarkan ruang hampa di dalam hidupku


Bila aku harus mencintai


Dan berbagi hati itu hanya denganmu


Namun bila 'ku harus tanpamu


Akan tetap kuarungi hidup tanpa bercinta


Hanya dirimu yang pernah


Tenangkanku dalam pelukmu


Saat 'ku menangis


Bila aku harus mencintai


Dan berbagi hati itu hanya denganmu


Namun bila 'ku harus tanpamu


Akan tetap kuarungi hidup tanpa cinta


Bila aku harus mencintai


Dan berbagi hati itu hanya denganmu


Namun bila harus tanpamu


Akan tetap kuarungi hidup tanpa bercinta


Tak pernah 'ku mencoba


Dan tak ingin 'ku mengisi hatiku


Wildan menyanyikan lagu RAHASIA HATI yang dibawakan oleh band ELEMENT dengan penuh penghayatan. Para siswa dan siswi yang tadi bersorak kini mendengarkan dengan seksama.


Irene yang sedari tadi hanya duduk diam memperhatikan meneteskan air matanya. Salah, Irene sangat salah menyakiti orang yang benar-benar tulus mencintainya.


Iren terus menatap Wildan yang sedang bernyanyi. Menatap dengan perasaan yang sendu. Wildan tahu dari tadi Irene selalu memperhatikannya.Β 


Wildan selalu menghindari tatapan yang mungkin akan bertemu dengan Irene. Tatapannya selalu lurus kadang juga terpejam.


Vey, Sherly dan Tyo selalu memperhatikan gerak-gerik mereka berdua. Kali ini Vey tidak dapat menyatukan mereka kembali.


Vey salah dulu pernah mendukung Wildan dengan Irene. Tapi, Vey tidak ingin merusak persahabatan yang dia punya. Bukan karena tidak cinta, hanya saja Vey lebih memilih membuang jauh-jauh perasaan itu.


Jika, waktunya sudah tiba, dan sudah mengerti apa itu cinta. Mungkin Vey akan membuka hati untuk menyambut cintanya.


Sorak tepuk tangan mengagetkan Vey dari lamunannya. Ikut bertepuk tangan dan tersenyum sebisa mungkin. Agar tidak ada yang tahu perasaan nya saat ini.

__ADS_1


Mungkin, Vey kira memendam perasaan itu lebih baik daripada mengungkapkan jika akhirnya akan menjauh. Vey, tidak ingin berjauhan dengan Wildan maupun Tyo.


Setelah ini mungkin Vey akan merasa kehilangan momen yang pernah tercipta. Setelah, acara ini Vey akan berangkat ke kota S.


Tyo akan ke kota besar di J, Wildan pun akan pergi ke kota J. Irene, dia sempat bilang akan berada tetap di sini. Vey, berharap sejauh apapun terpisah mereka akan berkumpul di tempat yang sama.


Acara demi acara sudah terlaksana dengan sukses. Para guru, para wali murid dan semua siswa-siswi sangat bahagia. Sekarang saatnya penyerahan ijazah dan tropi untuk sang juara.


Pak kepala sekolah segera berjalan ke arah panggung untuk menyerahkan pada para siswa-siswi kelas 3. Dengan dibantu personil band FLANELLA, pak kepala sekolah menyerahkannya.


Perpisahan telah tiba, kenangan indah masa putih abu-abu akan menjadi kenangan yang tidak akan terlupakan. Momen saat kita saling memberi, saling membantu dalam ujian diadakan. Pasti menjadi momen yang sangat wajib dikenang.


Tidak ada ujian maka tidak akan ada gotong royong untuk saling memberi contekan. Cinta putih abu-abu banyak terjalin di masa nya. Pertengkaran, perpisahan, persahabatan tak pernah luput dari baju putih abu-abu itu.


Ada cerita tersendiri bagi setiap momen yang tercipta. Mereka akan kenang di setiap waktunya. Setelah menerima ijazah semua para wali murid dan para siswa di tuntun untuk ke meja dimana makanan sudah menunggu.


Sebelum makan ada acara potong tumpeng terlebih dahulu. Untuk masalah konsumsi ibu-ibu wali murid yang memasak. Masakan rumahan yang sederhana itu sudah lebih dari cukup bagi mereka.


Tidak perlu mengandalkan makanan catering yang mungkin akan terbuang sia-sia. Setiap mulut tidak akan pernah bisa merasakan makanan dari luar. Jika diingat kembali lingkungan yang sekarang Vey tinggali sangat berbeda.


Masyarakat yang lebih banyak sebagai buruh tani. Hanya segelintir orang yang memiliki kendaraan, sedangkan lainnya harus mengayuh sepeda. Yang tidak memiliki kendaraan bermotor kemanapun mereka pergi, mereka selalu mengandalkan sepeda kayuh yang biasa mereka sebut sepeda satria.


Lucu memang, tapi, mungkin dengan cara seperti itu mereka tidak pernah pusing untuk berlomba-lomba membeli kendaraan yang berjalan sendiri.


Sepeda kayuh yang memiliki lonceng berwarna emas sudah menjadi harta yang paling berharga bagi mereka semua. Setidaknya, mereka masih mampu untuk membelinya dibanding harga motor yang mencekik biaya hidup mereka.


Upah sebagai buruh tani tidaklah banyak. Hanya cukup untuk sekali makan dan membeli mie instan. Jadi, kebanyakan masyarakat di desa Vey lebih mementingkan pendidikan anak-anaknya dari pada membeli besi yang akan berkarat.


Ada saatnya keinginan itu semua terbeli sendiri. Keinginan untuk memiliki pasti ada disetiap orang. Hanya saja orang cerdas lebih memikirkan yang lebih perlu.


Saat makan Vey dipanggil Tyo, Tyo mengajak Vey untuk menghibur orang-orang yang sedang menikmati hidangannya.


"Vey, nyanyi yuk. Biar gak sepi," ajak Tyo.


"Bentar, tinggal satu suap," jawab Vey yang sengaja melambat-lambatkan kunyahan nya. Tyo yang sudah hafal betul sifat Vey, langsung merebut piring yang masih di pangkuan Vey.


Tyo sengaja memilih lagu MUNDUR ALON-ALON. Sengaja memang untuk membuat Wildan kesal. Vey yang tahu maksud Tyo langsung juga ikut mengambil satu mikrofon yang nganggur.


"Selamat menikmati hidangannya yang sudah tersedia kan semuanya. Sambil menyantap hidangannya saya Tyo dan teman jahil saya Vey akan membawa kan satu lagu!" ucap Tyo sebelum bernyanyi


Boleh kita lambai kan tangannya Murid-murid semuanya.


Yang hafal lagunya


Kita boleh nyanyi bareng-bareng lagi!


Satu lagu cukup menyayat di hati!


🎀🎀🎢🎢


Aku ngalah dudu mergo aku wis ra sayang


(Lebih keras!) Teriak Tyo.


Aku mundur dudu mergo tresnoku wis ilang


Nanging aku iki ngerteni


Yen dirimu lebih sayang arek kae


"Suaranya di kompakkan!" timpali Vey.


Aku mundur alon-alon mergo sadar aku sopo


Mung digoleki pas atimu perih

__ADS_1


Aku mundur alon-alon mergo sadar aku sopo


Mung dibutuhno pas atimu loro


Β 


Aku ngalah dudu mergo aku wis ra sayang


Aku mundur dudu mergo tresnoku wis ilang


Nanging aku iki ngerteni


Yen dirimu lebih sayang arek kae


T/V: Aku mundur alon-alon mergo sadar aku sopo


Mung digoleki pas atimu perih


Aku mundur alon-alon mergo sadar aku sopo


Mung dibutuhno pas atimu loro


Aku ngalah dudu mergo aku wis ra sayang


Aku mundur dudu mergo tresnoku wis ilang


Nanging aku iki ngerteni


Yen dirimu lebih sayang, siapa? Teriak Vey


(Arek kae)


"Sakno, sakno!" kata Vey


Aku mundur alon-alon mergo sadar aku sopo


Mung digoleki pas atimu perih


Tangane, "E-hak e-hak e-hak e-hak e-hak e-hak e. Teriak Tyo


Mung dibutuhno pas atimu loro.


Semua murid yang tadinya sedang menikmati makanannya langsung serempak meletakkan piring dan langsung berlari ke depan panggung.


Wildan yang masih asyik menikmati makanannya bersama Bapaknya seketika berhenti. Sang Bapak hanya tertawa melihat Wildan yang disindir lewat lagu.


Wildan menaruh mangkok baksonya ingin menghampiri kedua orang yang asyik berjoget. Tetapi, Bapaknya langsung menghentikan pergerakannya.


"Sudah, Le! Biarkan saja buktinya semua temanmu juga menikmati lagunya!" cegah Pak Yono kepada anaknya. Dengan sedikit kesal Wildan menuruti ucapan Bapaknya.


Tengok kanan kiri mencari seseorang yang Wildan rindukan. Terakhir Wildan tahu dia saat Wildan sedang bernyanyi. Sesudahnya, tidak tahu lagi dia pergi kemana.


"Pak, Wildan permisi ke toilet sebentar. Bapak tunggu disini dulu."Β 


Bisikan wildan hanya diangguki oleh Pak Yono yang menikmati nyanyian Vey dan Tyo.Β 


Meninggalkan keramaian sejenak Wildan menuju basecamp yang biasanya mereka datangi. Terasa pendengaran nya langsung plong. Memilih duduk di batu besar yang ditumbuhi pohon beringin di belakang nya.


Menghadap ke belakang sehingga memunggungi pohon lainnya. Angin semilir berhembus pelan, menggoyangkan dedauanan yang rindang.


Daun yang kering berjatuhan terkena terpaan angin. Sepoi-sepoi Wildan rasakan, sehingga membuat dirinya terlena memejamkan kedua matanya.


Menyandarkan punggungnya di dahan pohon. Menutup kedua matanya dengan satu lengan. Belum sepenuhnya tertidur, pendengaran Wildan mendengar suara langkah kaki yang mendekat.


Dengan segera Wildan bangun bersembunyi di balik batu yang dia tiduri. Dari belakang batu besar itu Wildan mendengar suara yang dia kenal. Mengintip dibalik batu, wajah Wildan langsung berubah tidak memiliki ekspresi.

__ADS_1


Dor. . . . Hayo? Apa yang dilihat Wildan sampai tidak berekspresi.πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ€£πŸ€£πŸ€£


__ADS_2