
Hari sudah menjelang akan magrib, Mbak Asri mengajak ku segera pulang. Hari ini aku tidak jadi untuk kemakam lagi.
Berat meninggalkan tempat indah ini. Tapi, takut orang rumah khawatir. Seperti biasa sebelum pulang aku selalu meminta Mbak Asri untuk membeli sesuatu.
Martabak tidak boleh ketinggalan, karna makanan itu camilan favorit keluarga kami. Aku memesan dua martabak, martabak telur buat kedua Eyangku sedangkan martabak manisnya buat yang muda-muda.
Aku sebenarnya masih memikirkan buku gembok itu. Dan juga nama laki-laki yang berada dirumah Eyang. Eyang Putri menyebutnya Fatih. Karna aku penasaran akhirnya ku beranikan diri untuk bertanya pada Mbak Asri.
Diperjalanan menuju jalan besar aku membuyarkan lamunan Mbak Asri.
" Hey, ngelamun aja kamu Mbak. Lagi lihat apa sih serius amat. Eh, Mbak Asri tau gak siapa sih laki-laki yang mirip Mas Fahmi itu." tanyaku kepada Mbak Asri.
Mbak Asri seketika tersenyum kepadaku.
" Namanya Fatih dek, kan tadi Uti bilang pas Adek nanyak Akung tadi." jawab Mbak Asri.
" Oh ...! Kenapa dia disini Mbak. Aku pernah ketemu dia di alun-alun kota waktu itu Mbak. Dia sama ceweknya saat itu. Dan dia sudah bikin aku histeris lagi." ceritaku kepada Mbak Asri sambil mengingat kejadian waktu itu.
" Mbak juga gak tau Dek, tapi kata Eyang sih dia memang sering berkunjung kesini. Mbak sih cuman diceritain gitu sama Uti Dek. Pantesan waktu kamu ketemu sama dia kayak terkejut gitu." jelas Mbak Asri.
Aku hanya manggut-manggut saja mendengar penjelasan Mbak Asri. Sudah lah biar nanti ku tanyakan kepada Eyang. Setelah menunggu cukup lama akhirnya angkotnya muncul juga.
Kali ini sepertinya aku dan Mbak Asri harus sedikit berdesak-desakan. Mengingat sekarang jam lima sore waktunya para pekerja pulang. Bau solar dan bau keringat menjadi satu angkutan.
Sedikit pusing kepalaku rasanya, tapi aku tahan. Toh sebentar lagi juga sudah hampir sampai. Mbak Asri sesekali terlihat mengusap-ngusap hidungnya. Aku hanya bisa menahan tawa melihatnya.
Tempat dudukku dengan Mbak Asri terpisah, aku duduk didepan menghadap kebelakang sedangkan Mbak Asri duduk menyamping. Jadi aku bisa melihat jelas kerisian Mbak Asri.
Satu persatu penumpangnya turun sehingga lumayan longgar tempatnya. Aku menyuruh Mbak Asri untuk pindah tempat didepanku menghadap kearahku. Disamping Mbak Asri ada ibu-ibu yang sedang hamil besar.
Aku mengetok atap angkut itu untuk berhenti didepan pasar kliwon. Pasarnya terlihat tutup tapi dipinggiran ada orang yang berjualan jajanan ringan.
Aku dan Mbak Asri terus berjalan mencari orang jualan martabak. Langit sudah berganti cerahnya dengan awan yang gelap. Bukan mendung, tapi waktu sudah menunjukkan hampir malam.
Kita masih berkeliling mencari mang martabak itu. Aku yang sedikit takut dengan keramaian menggenggam erat lengan Mbak Asri. Mbak Asri juga tidak melepaskan tangannya dari tanganku.
__ADS_1
Baru kali ini aku ketempat seramai ini, waktu di alun-alun tidak begitu banyak orang. Tapi beda halnya kalau disebuah pusat perbelanjaan atau pasar tradisional.
Mbak Asri berhenti saat sudah menemukan orang yang berjualan martabak. Tempatnya lumayan besar, jadi setidaknya aku dan Mbak Asri bisa mengistirahatkan tubuh kita. Mbak Asri pergi kedepan untuk memesankan martabak dan minuman.
Sedangkan aku duduk santai sambil memainkan ponselku. Saat aku buka ponselku banyak notif pesan dan beberapa panggilan dari Iren, Wildan dan Tio.
Ada juga nomer yang tidak aku kenal berkali-kali menelfon. Aku membuka satu persatu pesan dari sahabat-sahabat baruku. Ada rasa rindu saat aku membuka grup desa yang Wildan buat.
Saat aku sedang fokus membalas pesan dari mereka, pundakku ditepuk dari arah belakang. Spontan aku terkejut dang menengok kearah kanan dan kiriku.
" Ah mungkin orang asing aja yang mengganggu." ku angkat kedua bahuku sambil kembali fokus keponselku.
" Vey." senggol Mbak Asri dan memanggil namaku pelan. Aku yang terpanggil seketika memutar leherku ke Mbak Asri.
" Ada apa Mbak." tanyaku heran. Tidak biasanya Mbak Asri wajahnya seperti itu. Tanpa menunggu jawaban Mbak Asri ku menatap kearah depanku.
Deg Deg
Jantungku terasa berhenti berdetak seketika saat aku tau siapa orang didepanku. Berarti yang menepuk punyaku dari belakang itu dia.
" Ekhem." aku mencoba menyambunyikan keterkejutan dan kegugupanku dengan cara berdehem. Aku pura-pura tidak mengenal orang itu dan kembali menyenggol paha Mbak Asri dengan pahaku.
Sebenarnya aku malas menyebutkan nama dia lagi, tapi demi kalian semua aku terpaksa menyebutkannya.
Dia Dhani sanjaya kakak kelasku waktu aku sekolah di sekolah lamaku. Saat itu aku baru masuk sekolah itu dan saat itu pula aku masih dikelas 1. Dia teman sekelas Mas Fahmi dulu.
Singkat cerita dari awal aku masuk sekolah aku sudah tertarik dengan Dhani kakak kelas yang merangkap sebagai ketua OSIS. Saat itu aku sedang duduk menunggu Mas Fahmi yang ikut ekskul basket.
Dia sering menanyakan tentangku kepada Mas Fahmi. Dia juga meminta Mas Fahmi untuk didekatkan denganku. Waktu iti Mas Fahmi mengajak dia untuk kekantin bareng. Aku yang memang orangnya masih malu-malu meongโบ hanya diam saja.
Aku hanya dekat dengan Mas Fahmi, kemanapun Mas Fahmi pergi dia selalu menjemputku kekelas. Mbak Asri tidak satu sekolah denganku, dia sekolah di sekolah negri yang lumayan jauh dari rumah dinas Papa.
Sebenarnya Mbak Asri tidak mau meneruskan sekolahnya lagi. Karna niatnya dadi awal dia bekerja dirumahku. Tapi, bukan Papa dan Bunda namanya jika tidak memaksa Mbak Asri agar mau sekolah lagi.
Kembali ke Dhani.
__ADS_1
Lambat laun akhirnya aku mulai memiliki perasaan dengan Dhani. Dan Mas Fahmi mengijinkannya, asal tidak melewati batas sekolah dan tidak mengganggu pelajaram disekolah.
Sampai akhirnya kejadian tragis itu terjadi dan aku mulai mengalami depresi berat atas kepergian Mas Fahmi beserta kedua orang tuanya. Dan saat itu pula orang yang aku butuhkan tiba-tiba menjauhiku. Tidak ada sedikitpun rasa dia untuk menjengukku.
Sampai akhirnya Papa memutuskan untuk pindah rumah dan pindah dinas. Jadi aku waktu itu pindah sekolah pas masih kelas 1. selama itu aku belajar dirumah tidak berani keluar rumah.
Aku masih mengikuti pelajaran disekolah lamaku, karna Papa belum sempat mengurus surat kepindahan sekolahku. Yang penting saat itu adalah menjauhkan ku dari orang-orang yang semakin membuat aku bertambah down.
Seperti itu awalnya aku bertemu laki-laki yang berada didepan ku. Kemana dia saat aku dulu membutuhkannya. Kemana dia saat aku dulu sedang terguncang hebat karna kepergian keluargaku.
Jika mengingat masa itu membuat hatiku sakit. Tukang martabak mengantarkan pesanan ku, dua kantong plastik yang berisi dua martabak dan satu kantong plastik satunya minuman yang dipesan Mbak Asri tadi.
Ku mengajak Mbak Asri untuk segera bangkit dari duduknya. Aku sudah tidak ingin terlalu lama ditempat ini. Dia dan temannya masih memandang ku.
Aku dan Mbak Asri berjalan kearah kasir depan untuk membayar pesanan tadi. Saat aku sudah selesai membayar, terdengar suara Dhani memanggilku.
Mbak Asri mencoba melirik kearah belakang. Dan benar saja Dhani sudah ada tepat dibelakang kita. Aku dan Mbak Asri menunggu angkot didepan kedai martabak ini.
" Kamu Veyo kan? Hey." sapanya memegang lenganku. Aku masih saja mengacuhkannya. Aku benar-benar sudah tidak ingin bertatap muka dengannya.
" Ayok Mbak, itu ada angkot kita kesana aja yuk. Kelamaan kalau nunggu disini." kataku mengalihkan sapaannya. Mbak Asri menarik pelan pergelangan tanganku menuruti permintaanku untuk menghampiri angkot itu.
Dhani dan teman ceweknya berusaha membuntutiku. Aku dan Mbag Asri segera memilih duduk didepan. Bukan karna apa kalau aku duduk dibelakang sudah jelas dia juga pasti akan ikut masuk.
Tak menunggu waktu lama angkot yang aku tumpangi berangkat. Menyelamatkanku dari kejaran Dhani. Ku hembuskan nafasku bersamaan dengan Mbak Asri.
" Hah, harus berterima kasih sama tukang angkotnya nih Mbak." bisikku pelan ke Mbak Asri. Mbak Asri yang mengerti maksutku tertawa kecil.
NOTES: JIKA HATI SUDAH TERLUKA, SANGAT SULIT UNTUK MENGOBATINYA.
WAH,,,,,,,Panjang bener nih๐๐๐sampai panas nih tangan๐๐๐.
Jangan lupa LIKE, SARAN, RATE atau VOTE yah. Siapin tisue yah readers๐คง๐คง๐คง.
part berikutnya akan menguras hati dan air mata.๐๐๐๐๐
__ADS_1
maafken aku yah kakak-kakak๐๐๐๐.
Sampai sini dulu yah๐