
Selama perjalanan Vey hanya menatap keluar sambil mensmdengarkan musik. Dia terlihat melamun, tatapannya kosong seperti memikirkan sesuatu.
Mbak Asri mulai khawatir dengan diamnya Vey tuba-tiba. Berniat mengajak sang adik bersenang-senang tapi, pertemuan yang tidak diinginkan terjadi.
Orang yang sama saat Vey juga Mbak Asri kerumah Eyang waktu itu. Jika, diingat waktu
itu Vey dan Mbak Asri sedang membeli martabak kesukaan sang Eyang. kemudian dia bertemu dengan mantannya.
Kesal, pengen marah itu yabg Vey rasakan saat itu. Mengingat betapa rapuhnya dia saat itu. Membutuhkan sang kekasih yang menyuport dia untuk sembuh.
Tidak, dia tidak pernah lagi berniat untuk bertemu dan membantu Vey sembuh. Dia menjauh, menjauh dan seakan tak pernah kenal sedikitpun. Vey semakin hancur saat itu, tapi, sekarang sebelum dia merasakan semua itu kembali Vey sudah disambut berbagai kebahagiaan yang diberikan sahabat-sahabat barunya.
Wildan, Tio, Irene mencuri-curi pandang kearah Vey. Masih sama, Vey masih melihat atap dmrumah dan pepohonan yang seakan berjalan. Tidak ada suara merdu yang dia ciptakan.
Mulutnya terkunci rapat, telinga masih dia sumpal dengan headset. Fatih memperhatikan Vey dari kaca spion depan. Pikiran Fatih juga terganggu dengan diamnya Vey.
"Wil, sepi yah! Orang-orang pada tidur kalik yah,"
Irene langsung menengok kearah belakang dimana Tio dan Wildan duduk. Wildan memukul bahu Tio dan menutup mulut nya sendiri dengan satu jari. Tio menggerutu karena niatnya yang ingin menghapus keheningan dilarang Wildan.
"Ve, kamu baik-baik saja kan!" tanya Irene karena khawatir. Vey menoleh dan hanya memberikan senyuman. Kembali menengok kearah luar, menutup mata dan menghembuskan nafasnya kasar itu yang terlihat dari diri Vey.
Fatih menatao Vey lewat kaca spion didepannya dan melihat Asri tunangannya.
"Deg, memangnya siapa tadi." tanya Fatih pelan.
__ADS_1
"Gio, dulu dia teman Fahmi mas. Waktu itu Gjo meminta Fahmi untuk dikenalkan kepada Vey. Sesudah dekat mereka bahagia sekali. Saat kejadian Fahmi kecelakaan membuat pesikis dan mental Vey terguncang. Vey hanya meminta Gio, memanggil Gio. Papa dan Bunda berusaha menghubungi dan mendatangi sekolah tapi, ternyata Gio tidak ingin bertemu dengan Vey yang mereka anggap gila. Dari situ Vey semakin depresi dan sangat membenci Gio. Aku kasihan melihat adikku, kapan bahagia benar-benar datang kepada Vey." jelas Mbak Asri yang melihat Vey.
Fatih menepikan kendaraannya, menenangkan sang tunangan yang mulai sedikit terisak. Wildan, Irene dan juga Tio ikut merasakan kesedihannya Vey.
"Lho, kenapa berhenti Mas?" tanya Vey akhirnya membuka mulutnya.
Mbak Asri dan Irene segera menghapus air matanya yang terus mengalir.
"Em. . ., tadi Mbakmu, Mbakmu ingin beli itu Vey," tunjuk Fatih yang melihat tukang bakso dipinggir jalan.
Vey, yang mendengar ada orang yang berjualan bakso langsung mendogakkan kepalanya untuk melihat juga.
"Ayok," ajak Vey yang sangat antusias mendengar kata BAKSO.
Semuanya tampak mengukir senyman, karena BAKSO semangat Vey muncul kembali.
Tanpa menunggu semuanya Vey membuka pintu mobil terlebih dahulu. Vey, merenggangkan otot-otot ditubuhnya sebentar dan langsung pergi menyebrang jalan.
Dimana tukang BAKSO itu menjual makanan yang berbentuk bulat seperti bola itu. Vey berhenti dan menengok kearah mobil yang penumpangnya masih melihat Vey sudah didepan tempat bakso.
Vey, melambaikan tangannya barulah mereka sadar kalau Vey sudah tidak lagi didalam mobil.
"Yuk, cepetan Wil mumpung Vey belum berubah fikiran lahi," kata Tio menyuruh Wildan segera melipat tempat duduk didepannya.
Wildan menggelengkan kepalanya melihat Tio yang juga antusias seperti Vey. Tio keluar dulu mendahului Wildan dan lainnya. Benar yang dikatan Tio mumpung Vey kembali ceria lagi dengar kata bakso.
__ADS_1
jadi pengen ketawa sendiriπππππ
Satu persatu mereka turun dari mobil dan mulai berjalan menyusul Vey dan Tio. Vey begitu lahapnya menyantap bakso itu. Sampai-sampai sudah menghabiskan dua mangkok bakso.
"Vey, kamu itu yah badan kurus tapi makannya banyak. Dua mangkok bakso juga habis belum lagi es jeruknya dua juga. Kamu lapar apa kesambet Vey." ucap Tio heran melihat makanan Vey.
"Kamu kayak gak tau aku aja si Yo. Ini salah satu kejelakanku kalau sedang galau. Sekarang kalau aku ada masalah aku selalu lampiasin ke makanan," jawab Vey terkekeh.
"Bener itu Vey,mending gitu yah dilampiasin ke makanan. Aku setuju sama kamu Vey," kata Irene bertos ria dengan Vey yang didepannya.
Semuanya jadi tertawa melihat kelakuan Vey dan Irene. Jika, di fikirkan memang lebih baik melampiaskan kekesalan ke makanan dari pada nangis-nangis kayak orang gila.
"Iya, merusak suasana hatiku aja emang tuyul itu," kata Vey dengan tawa yang menguar diwarung bakso itu.Untungnya warung bakso itu sepi.
Sukses, alasan Fatih sangat sukses untuk mengembalikan tawa ceria Vey. Mbak Asri yang melihatnya berdoa dalam hatinya untuk adiknya. Semuanya kembali menyantap bakso.
Hari sudah hampir malam semuanya melanjutkan perjalanannya dengan perut kenyang. Mobil berjalan kembali setengah jam lagi mereka akan sampai rumah.
Vey dan ketiga temannya tertidur pulas didalam mobil tinggal Mbak Asri dan Fatih yang masih terjaga.
"Kamu kalau ngantuk tidur aja gak papa Dek nanti aku bangunin," suruh Fatih yang melihat tunangannya menguap lagi.
"Tidak, Mas nanti kamu gmtudak ada temen but ngobrol," tolak Mbak Asri. Fatih mengangguk saja dengan tetap fokus menyetir. Tidak berapa lama mereka semua telah sampai. Pertama Fatih mengantar Irene,kemudian berjalan kearah rumah Wildan dan Tio.
Vey masih mereka biarkan untuk tidur pulas, tidak ada yang mau membangunkannya. Semuanya sudah diantar kini gantian mereka yang menuju rumahnya. Vey terlihat sangat lelah sekali sehingga tidak sadar kalau Fatih mengangkat tubuhnya untuk dipindahkan kekamar.
__ADS_1
Setelah itu Fatih juga beristirahat di kamar nya sendiri. Mbak Asri pun juga langsung masuk kamar dan segera mandi.