
Sepulangnya dari pantai aku dan Fatih langsung masuk kamar masing-masing. Tapi, sebelum itu aku menuju kamar orang tuaku.
Tok Tok Tok ,,,,
" Bunda, Vey boleh masuk gak," sapaku dari luar.
" Iya Nak, buka saja pintunya tidak dikunci," terdengar jawaban dari dalam. Setelah, diberi ijin aku langsung membuka pintu kamar Bunda, disana Bunda dan Papa sedang duduk santai ruang kamarnya.
Ku sunggingkan senyumku kepada kedua orang tuaku, senyum yang sedari tadi tidak pernah luntur. Ku cium pipi Bunda dan Papa ku, ku rangkulkan lenganku dileher Bunda. Hari ini aku sangat begitu lega, beban yang selama ini ku simpan sendiri kini telah pergi bersama tangisku.
" Ada apa ini, kok seneng banget kayaknya. Kamu tadi darimana kok Bunda ketuk kamarmu gak ada satuan dari dalam," tanya Bunda sambil mengelus kepalaku yang dibelakangnya.
Aku masih meluk Bunda dari arah belakang kemudian aku berpindah duduk disamping Papa dan Bundaku. Sedangkan Papaku hanya melihatku dan tersenyum-tersenyum.
" Emb ,,,, gak ada apa-apa kok Bun. Vey tadi kepantai maaf gak pamitan dulu tadi," kata ku sambil mengambil makanan ringan dimeja.
" Mbak Asri kemana Bun," tanyaku.
" Mbakmu ada dikamarnya, cobak kamu liat sana. Mbak mu kalau gak kamu ajak gak bakalan keluar dia," suruh Bunda. Aku mengiyakan dan beranjak keluar kamar Bunda untuk menuju kamar Mbak Asri disamping kamarku.
Terdengar dari luar suarabak Asri dan kedua Eyangku, kamar Mbak Asri tidak ditutup. Sehingga tawa mereka terdengar dari arah luar kamar. Aku langsung masuk tanpa memberi salam atau mengetuk pintu dulu. Saat ku mendengar obrolan mereka kaki ku mendadak berat untuk dilangkahkan.
" Ndok, apa kamu menyukai Nak Fahmi," tanya Eyang Kakung kepada Mbak Asri.
__ADS_1
Aku tertegun saat Kakung menanyakan perasaan Mbak Asri, karna selama ini aku sering melihat Mbak Asri diam-diam melihat Mas Fahmi dulu.
" Asri tidak tau Yang, Asri benar-benar suka atau hanya sekedar rasa kagum saja. Fahmi anaknya sangat baik, dia seperti penguat bagi semuanya. Terutama Vey, jika diperhatikan rasa sayang Fahmi bukan hanya sekedar rasa sayang kakak kepada adiknya. Aku takut salah mengartikan sukaku sama dia Eyang. Jadi, biar aku saja yang tau," ungkap Mbak Asri yang menambah keterkejutanku.
Sebegutu egoisnya diriku tidak pernah memikirkan orang-orang disekelilingku, Aku terlalu egois, aku sangat tidak peka dengan perasaan orang lain. Aku terlalu bahagia dengan kehidupanku sendiri. Ku berharap kali ini tidak ada air mata, aku harap air mataku tidak akan keluar lagi.
Tapi aku tidak bisa menahan semuanya, aku langsung berlari masuk dan memeluk Mbak Asri dari belakang. Posisi Mbak Asri saat itu duduk membelakangiku.
" Maafin Vey Mbak, Maafin Aku," tangisku pecah saat memeluk Mbak Asri.
Mbak Asri yang terkejut dengan kedatanganku hanya mematung, entah apa yang ada dipikiran Mbak Asri dan Eyang. Yang jelas saat ini aku sama terkejutnya seperti mereka. Mereka terkejut dengan kedatanganku tiba-tiba dan menangis histeris.
Terlihat Eyang Kakung berdiri untuk menutup pintu kamar. Karna, sedari tadi pintu kamar Mbak Asri dibiarkan terbuka.
" Vey, kenapa kamu meminta maaf, Memangnya kamu salah apa dek? Perasaan Mbak kamu gak ada salah apa-apa sama Mbak kok. Sudah dek, kita kesini kan untuk menenangkan kamu dan menghilangkan penat. Sini deh ikut Mbak yuk," ajak Mbak Asri pindah keranjangnya.
" Kenapa toh Ndok ku ini," ucap Eyang putri sambil mengelus rambutku.
" Vey, Vey sudah mendengar semuanya, Kenapabak Asri tidak pernah cerita sama Vey, kenapa jiga Mbak Asri tidak bilang sama Mas Fahmi saat dia masih hidup. Kenapa Mbak? Mbak Asri sudah aku anggap seperti kakakku juga begitupun dengan Mas Fahmi. Meskipun nantinya Mas Fahmi mengutarakan cintanya sama aku, aku tidak akan menerima. Karna, rasa sayangku cuman sekedar rasa sayang saja gak lebih dari itu," jelasku. Tampak mereka semua terdiam melihatku, kemudian Mbak Asri memelukku sangat erat. Dia menangis dan baru pertama ini Mbak Asri menangis karna cinta.
" Maafin Mbak juga Dek, Mbak gak berani bilang karna Mbak takut patah hati lagi. Mbak Takut ngerasain itu lagi, karna sebelumnya Mbak pernah mencoba bilang kepada Fahmi dan dia bilang hatinya sudah diisi oleh hati lain yaitu kamu. Kamu ingat waktu itu Mbak Asri meminta keasrama sam Papa sama Bunda. Itu karna Mbak Asri ingin melupakan semuanya. Saat itu juga Mbak Asri putuskan agar fokus sama sekolah saja. Kamu gak salah kok Dek, Mbak yang salah karna sudah jatuh cinta sama orang yang tidak mencintai Mbak," ucap Mbak Asri mengelus sebelah pipiku.
" Sudah, sudah jangan pada sedih lagi, yuk turun kebawah yuk cari makan. Kamu tadi dari mana Ndok kok pagi-pagi ngilang," tanya Eyang Putri.
__ADS_1
" Vey dari pantai tadi dan disusul sama Fatih disana. Yang, apa benar yang dikatakan Fatih semuanya itu. Kenapa mereka bisa tidak kenal satu sama lain. Padahal dulu kan kita main bertiga. Apa ada masalah sama keluarga Mas Fahmi sama Fatih," jawabku. Aku juga menanyakan tentang keluarga mereka.
" Eyang tidak tau pasti Ndok, Eyang Kakungmu mempunyai kembaran lha kembarannya itu Kakek ***** mereka. Selanjutnya kami tidak mau ikut campur sayang, karna kita sudah memiliki keluarga masing-masing," jelas Eyang Putri.
Mendengar oenjelasan dari Eyang aku baru mengerti bahwa tidak semua urusan keluarga dipublikasikan atau disetiap masalah semua keluarga besar tau. Setiap keluarga pasti memiliki privasi sendiri-sendiri bukan.
Tak terasa liburanku akhirnya selesai, besok kita sudah kembali lagi pada rutinitas masing-masing. Rasa kangen dengan teman-temanku didesa sudah tidak bisa lagi tertahan. Wildan, Iren bagaimana kabarnya mereka, senangnya akhirnya mereka bisa bersama.
Sore hari kita semua memilih makan direstoran yang didekat pantai. Pantai yang aku dan Fatih datangi, sambil menikmati suasana sore hari aku mengajak semuanya untuk kejembatan kayu yang tadi.
" Bun, Pa,semuanya Vey mau ngomong sama kalian. Hari ini, ditempat ini dan dijam yang beda Vey melepaskan semua kesedihan, penderitaan, kekecewaan dan semua yang sudah Vey alami. Terima kasih kalian semua masih setia didekat Vey sampai saat ini. Dimana semua orang, sahabat bahkan teman dekat Vey menjauhi Vey. Ijinkan Vey untuk terakhir kalinya menangis, ijinkan Vey untuk terakhir kalinya untuk berteriak sekencangnya." kata ku yang menghadap kepada mereka yang dibelakangku. Ku lihat satu persatu mata dan wajah orang-orang yang sangat aku sayangi.
Bunda, Papa,kedua Eyangku, Mbak Asri dan tatapanku berhenti lama menatap Fatih. Bunda, Eyang Putri dan Mbak Asri terlihat menitikkan air matanya sedangkan dua laki-laki dihadapanku mencoba menahan air matanya. Hanya Fatih yang mengukir senyuman kearahku. Setelah, lama kita bertatapan Akhirnya mereka serempak menganggukkan kepalanya.
Ku kembali menghadap kehamparan air yang melimpah luas. Bertepatam dengan terbenamnya sang surya ku mulai teriak. Tak peduli orang-orang yang sedang menikmati sunset. Ku tutup kedua mataku sebentar lalu ku mulai menarik nafas dalam-dalam.
Hhhhhhhhhhaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhh,,,,,,,,,,,,,
"Selamat tinggal kenangan buruk, selamat tinggal Mas Fahmi, Ibu, Aya, selamat tinggal. Ku tinggalkan kalian semua dipantai ini. Ku lepaskan semuanya disini, terima kasih sudah mengajarkan semuanya padaku. Mengajarkan sebuah arti hidup yang indah. Terima kasiiiiiihhhhhhhhhhhh. Ku tinggalkan semuanya disiniiiii ditempat iniii. Selamat tinggal," ku hapus dengan kasar air mata yang meluncur. Entah berapa kali aku menangisi ini semua.
Kelegaan yang sekarang ku rasakan, tiada lagi kesedihan, tiada lagi air mata. Ku tinggalkan semuanya disini, ku hanyutkan semuanya disini. Ku berjalan mendekat ke keluargaku, ku tersenyum dengan penuh kelegaan. Kita semua berpelukan sebentar untuk kemudian kita kembali kerestoran yang tadi.
NB: THE MOST MEMORABLE LIFE LESSON IS SEPARATION. WHERE WE WILL UNDERSTAND WHAT THE WORD PERTING MEANS.
__ADS_1
Maaf jika masih banyak kesalahan😊.
LIKE, SARAN RARE dan VOTE😉