
Aku dan Alisya memutuskan untuk istrihata sebentar di warung bakso pinggir jalan. Kemana pun dan dimana pun berada makanan yang aku suka harus bakso.
"Sya, makanan favorit kamu apa," tanya ku pada Alisya.
"Aku tidak pemilih kalau soal makanan. Pertama sih aku merasa aneh sama makanan sini. Tapi, sekarang yang paling aku suka itu rujak cingur nya. Apalagi rujak cingur yang kemarin sempat viral itu," jelas Alisya.
"Lha, kok aku tidak tahu yah kalau ada cingur yang viral, ha ha ha," ujar Vey sambil tertawa.
"Vey, bukan cingurnya yang viral tapi rujaknya? Ih, jamu ini, he he he bisa aja," Alisya juga ikut tertawa.
Tawa mereka berdua terdengar oleh Pakle tukang baksonya.
"Waduh Neng, kalau makan jangan ketawa nanti keselek," Pakle bakso mengingatkan Veyo dan Alisya.
"he he he, iya Pakle terima kasih diingatkan. Habisnya temen saya ada-ada saja masak ada cingur yang viral," jelas Alisya yang tertawa lagi.
"Ha ha ha, Neg dua ini ada-ada saja sih. Memangnya, cingur apa yang lagi Viral Neng?" tanya Pakle bakso ikut nimbrung juga.
"Itu temen saya katanya suka sama rujak cingur yang lagi viral itu, Pakle. Pakle tahu rujak yang lagi viral itu," jelas Vey dan bertanya juga.
__ADS_1
"Oh, rujak cingur itu to, Neng. Tahu Neng, meskipun mahal tapi rasanya menjamin Neng. Memangnya Neng, belum nyoba," tanya si Pakle.
"Kalau aku sudah Pakle," jawab Alisya.
"Wah berarti hanya aku saja yang belum,"sesal Vey
"Coba Vey cepet," suruh Alisya yang mengompori temannya.
Pakle tukang bakso, Vey dan juga Alisya tertawa bersama lagi. Matahari sudah mulai memberikan kehangatan di kulit Vey dan Alisya.
Setengah kilo meter lagi mereka sampai ditempat yang dituju. Pertama datang kesini Vey sulit untuk bersosialisasi dengan semua teman kampusnya. Banyak yang menyebut si cantik yang sombong.
Veyo juga menuntun sepedanya membawa kemana Alisya tunjuk. Di depan danau ada sebuah bangku kayu berwarna-warni. Alisya menyandarkan sepedanya di pohon diikuti Veyo.
Alisya memilih duduk di rerumputan yang tidak jauh dari pohon yang berbuah sepedaðŸ¤. Vey duduk di kursi kayu meluruskan kedua kakinya.
Kedua Tangannya dia angkat tinggi-tinggi. Merekatkan telapak satu dengan telapak tangan satunya. Membuat bentuk seperti saling bersalaman.
kepalanya dia geleng-gelengkan ke kanan dan ke kiri. Kakinya terasa sangat pegal, betisnya terasa sangat kaku. Sudah sangat lama sekali Vey tidak berolah raga sepeda.
__ADS_1
Mengingat sekarang jadwalnya lebih padat ketimbang saat SMA dulu. Alisya yang duduk di rerumputan mendongakkan kepalanya ke arah Vey yang duduk terpejam di kursi kayu.
Alisya bersyukur di perantauan dirinya di pertemukan dengan teman yang asyik seperti Vey. Meskipun banyak yang bilang Vey pernah gila.
Alisya mengkerutkan dahinya saat melihat Vey yang ingin merebahkan tubuhnya.
"Vey, kamu mau ngapain?" tanya Alisya saat tubuh Vey tinggal sedikit menempel di kursi kayu.
"Mau makan kursi kayunya," kata Vey sambil terkekeh. Vey sangat suka sekali menggoda Alisya.
"Vey, jangan gila deh kamu. Memangnya gigimu kuat ngunyah kursi kayu itu," ejek Alisya yang sudah tahu sifat Vey.
"Cobak kamu tanyakan pada mereka," tunjuk Vey pada deretan giginya yang putih rapi itu.
"Gigimu nangis Vey," ujar Alisya yang langsung membuat keduanya tertawa terbahak-bahak.
Alun-alun kota S hari ini sangat ramai. Sampai sore hari menjelang malam Alun-alun kota ini tidak pernah surut dari kata pelancong.
Ada warga negara asing yang juga ikut menikmati suasana di Alun-alun. Dari berbagai macam orang semuanya menjadi satu di alun-alun.
__ADS_1