SENYUM DIBALIK DUKA

SENYUM DIBALIK DUKA
MATA ITU TIDAK ASING


__ADS_3

Pukul 07.00 aku dan Mbak Asri sampai dirumah. Lampu depan masih menyala terang, menandakan orang rumah masih setia didepan tivi.


Aku menunggu Mbak Asri membayar angkot untuk kemudian kita berjalan masuk bersama-sama. Saat aku ingin mengetuk pintu, terlihat ada orang yang membuka pintu.


Mata ku bertemu dengan mata indah itu, mata itu sama seperti mata seseorang. Aku baru sadar waktu aku bertemu dengan dia, aku terlalu fokus saat bertemu dia.


Aku tersentak saat Mbak Asri menepuk punyaku. Mengalihkan pandanganku kearah Mbak Asri.


" Iya, ada apa Mbak," tengokku ke Mbak Asri.


" Ayok masuk dulu, nanti aja dilanjut tatap-tatapannya," goda Mbak Asri berbisik kepadaku.


Aku langsung melewatinya saja tanpa mau menyapa. Entah, sepintas mata itu tidak asing buatku apa karna hanya perasaan ku saja. Aku terus berjalan sambil membawa dua kantong plastik yang berisi martabak tadi.


Kedua Eyang masih fokus dengan tontonannya yang menayangkan program kesayangan para orang tua. Ludruk, kedua Eyangku sangat menyukai satu program tivi itu.


Ku dudukkan tubuhku disamping Eyang Kakung, perlahan ku buka bungkusan martabak itu. Sebelum, itu aku sudah mengambil piring untuk tempat martabaknya dan beberapa gelas buat minumannya.


" Serius, bener nontonnya sampai gak tau Vey sudah pulang," kataku sambil menata martabak yang aku bawa.


" Baru pulang Ndok. Eyang kira kamu masih lama disana," jawab Eyang.


" Iya Eyang, tadi mampir dulu kekedai martabak sama Mbak Asri," sambungku lagi


" Trus Mbak Asri kemana Ndok sekarang kok gak keliatan," tanya Eyang Putri


" Masih diluar mungkin Ti, sebentar aku samperin dulu yah," kataku beranjak kedepan rumah.


Dan benar saja Mbak Asri masih diluar dengan ditemani laki-laki yang bernama Fatih itu. Mereka terlihat sedang mengobrol, aku pelankan langkah kakiku.


Aku sengaja bersembunyi dibalik jendela yang mereka duduki. Ku sedikit menyingkirkan kelambu yang menutupi pandanganku.


Samar-samar telingaku mendengar nama Mas Fahmi disebut. Dan anehnya lagi Fatih tau semua isi tentang buku biru itu. Aku semakin tertarik untuk mendengarkan.

__ADS_1


Seperti ada sesuatu yang tercekat ditenggorokanku. Kedua telapak tanganku membungkam rapat-rapat bibir yang bergetar.


Apa aku tidak salah dengar tentang semua ini. Kenapa mereka semua menyembunyikan dari ku. Apa tidak ada yang ingin memberitauku langsung saat itu.


Aku masih tidak memindahkan posisiku saat ini. Aku masih ingin mendengarkan semuanya, mendengarkan apa yang belum aku tau.


Tubuhku semakin lama semakin merosot kebawah. Telapak tanganku masih membungkam akses suaraku agar isak tangisku tidak terdengar oleh semuanya.


Sampai akhirnya Mbak Asri berdiri dan berjalan masuk kerumah. Dengan gerakan cepat aku menghapus sisa-sisa air mataku dan merapikan kondisiku yang sangat kacau.


Ku coba menarik sudut bibirku sesempurna mungkin biar mereka semua tidak melihat kerapuhanku. Fatih pun tak lama mengikuti mbak Asri masuk kedalam.


Aku berlari kecil menghampiri mereka yang baru melangkah masuk. Ku melihat sebentar kearah Fatih dan kemudian aku melihat kearah Mbak Asri.


" Mbak, dari mana saja sih aku cariin dari tadi, ditungguin Eyang thu," ku menarik tangan Mbak Asri.


Aku menangkap rasa terkejut dari wajah mereka, tapi sebisa mungkin aku berpura-pura tidak melihatnya.


Sampai didepan tivi lagi aku tidak melihat program tiba yang tadi dilihat Eyang. Aku mengambil satu potongan dari martabak itu dan memasukkan kedalam mulutku.


Ku urungkan untuk mengambil minum, tanganku terulur untuk mengambil benda itu. Dahiku seketika memperlihatkan kerutan-kerutan tak berbentuk.


Kenapa kamu semisterius ini sih, padahal tidak ada yang beda dengan buku-buku lainnya. Yang membedakan hanya gembok kecil yang terkunci.


" Kung, bukunya kok ditaruh disini nanti kena tumpahan air lho," ucapku membolak balikan buku tersebut.


" Ndok, ada yang ingin Uti kasih tau sama kamu. Sebelumnya Uti mohon sama kamu untuk tetap bisa mengontrol emosimu. Uti tidak mau kamu jadi sakit lagi setelah mendengarkannya," jelas Eyang Putri.


Aku memandang semua yang berada diruangan ini. Ku tatap mereka satu persatu dan mataku berhenti pada manik mata yang menyejukkan itu.


Pemilik kedua mata itu juga menatap ku dengan penuh kehangatan.


" Apa yang akan kalian jelaskan tentang buku ini. Aku akan mendengarkannya," kataku tersenyum kearah mereka semua.

__ADS_1


" Semoga mereka tidak mengetahui wajah rapuhku saat ini," batinku


Eyang mulai menceritakan semuanya saatAs Fahmi datang kerumah terakhir kalinya. Dia datang dengan membawa bungkusan yang berukuran besar tertutup kertas kado.


Mas Fahmi meminta ijin untuk menaruh kado itu didalam kamarku. Dia juga meminta ijin untuk memasangnya tepat ditembok depan ranjangku.


Kado itu adalah sebuah foto yang memang sengaja dicetak berukuran besar. Didalam vigura terdapat dua gambar yang tampak sangat bahagia. Gambar laki-laki dan anak perempuan yang tersenyum manis sambil memegang lengan laki-laki disampingnya.


Mereka menjelaskan secara bergantian, tidak ku tampak kan wajah sedihku sedikitpun didepan mereka.


"Vey, coba kamu liat Fatih Ndok. Eyang tahu setiap kamu menatap mata itu kamu seperti menemukan Masmu lagi kan. Apa kamu merasakan itu Ndok," suruh Eyang Kakung kepadaku.


Aku masih terdiam menatap dua bola mata itu. Aku benar-benar terkejut dengan apa yang Akung aku bilang. Memang benar aku seperti melihat Mas Fahmi dimata itu. Mulutku tak bergeming sama sekali.


" Vey, kamu harus tau Ndok. Sebenarnya didalam buku ini ada beberapa pesan yang Masmu tulis untukmu. Terutama tentang Fatih saat ini. Kamu ingin tau dari mulut Eyang apa kamu baca sendiri isi buku itu," Tanya Eyang Akung.


" Terserah Eyang saja, jika aku membaca semua isi buku itu aku takut tidak bisa mengontrol emosiku Kung. Lebih baik Akung kasih tau sekarang saja apa maksud semua ini," pintaku yang masih melihat Fatih didepanku.


Tak ada kata yang keluar dari mulut Fatih. Dia masih memilih untuk diam dulu. Entah, apa yang sekarang ini ada dipikirkannya. Wajahnya sangat terlihat datar dan tidak bisa ditebak.


" Deg, sebenarnya Masmu sebelum terjadi kecelakaan itu sudah membicarakan kepada kita semua. Jika, suatu hari nanti terjadi apa-apa dengan dia, Masmu akan mendonorkan kornea matanya pada sepupunya. Saat mengetahui itu kami semua terkejut dengan apa yang diucapkan Masmu. Ayah, Ibu, Bunda Dan juga Papamu tidak mengerti dengan ucapan Masmu saat itu. Ingat tidak, saat kamu meminta Eyang putri untuk menemani tidur. Saat itu juga Masmu berbicara tentang keinginan yang membantu sepupunya Fatih. Fatih sebelumnya mengalami kecelakaan dan mengakibatkan dia tidak bisa melihat. Masmu merasa kasihan melihat Fatih harus kehilangan cita-citanya. Masmu juga menuliskan surat untuk diberikan kepadamu. Sebelum kecelakaan itu terjadi Masmu sudah meminta Pamanmu untuk membantunya. Ayah dan Ibumu juga setuju dengan apa yang diminta Masmu," tutur Mbak Asri.


Penjelasannya sudah cukup membuatku syok seketika. Aku tidak menyangka jika mata itu adalah mata yang selama ini aku rindukan. Kini aku mulai tidak bisa lagi menahan gejolak yang rasanya ingin keluar.


Dadaku terasa sangat sesak, sepeeri ada benda berat yang menghimpit tubuhku. Aku terisak-isak mendengar penuturan dari Eyang Kakung dan Mbak Asri. Ku tutup wajahku dengan kedua telapak tanganku.


Mereka semua yang berada disitu pun tidak bisa lagi menahan kesedihan yang aku rasakan. Aku menangis sejadi-jadinya, saat aku masih menutup mukaku ada tangan yang merangkulku.


NOTES: LEBIH BAIK SAKIT DIDEPAN DARIPADA HARUS TAHU SAAT SEMUANYA TELAH PERGI.


Doain yah author lagi ngajuin kontrak nih semoga cepat diACC yah. Juga kalau sampai part ini banyak kesalahan kata atau ucapan harap dimaafkan yah karna masih mencari cari pengetahuan lagi😊😎


Pokoknya jangan lupa LIKE, SARAN, BINTANG 5 NYA kalau bersedia VOTE juga boleh.

__ADS_1


Oh yah buat yang sering kali ngajak aku mampir kekaryanya maaf yah tidak lgsung mampir😊. Aku akan mampir satu persatu kok,tapi meskipun aku tidak mampu aku selalu memberikan rate 5ku kokπŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜šπŸ˜šπŸ˜šπŸ˜š


__ADS_2