Seperti Sampah

Seperti Sampah
Bersama Raisya.


__ADS_3

"Mas berangkat." Mas Doni mencium keningku sebelum pergi.


"Hati-hati di jalan mas." Ku balas mencium tangannya.


"Assalamualaikum." Mas Doni belum beranjak.


"Waalaikumussalam." Aku memberikan sebuah senyuman manis padanya.


Barulah suamiku itu melangkah dengan membalas senyuman. Mas Doni pun berlalu bersama mobilnya.


Saat itu mobil lain pun muncul dan berhenti di depan gerbang. Pak Mul membuka gerbang yang baru saja ditutup tadi. Mobil pun masuk. Seseorang turun dari sana, Raisya.


Pantas saja Pak Mul langsung membuka gerbang tanpa menyelidik dulu. Raisya dan Riki memang bukan orang asing bagi mas Doni, jadi pasti Pak Mul akan mengenali mobil mereka.


"Morning mbak." Raisya menyapa lengkap dengan lengkungan di bibir merahnya.


"Morning, assalamualaikum." Bukan mau so sholehah, tapi sesama muslim memang sebaiknya memberi salam karena isinya bukan hanya sapaan tapi juga berupa doa keselamatan bagi orang yang diberi salam.


"Waalaikumussalam." Raisya menjawab sambil nyengir garuk-garuk kepala.


"Ayo masuk."


Raisya mengekor ku yang sudah berjalan duluan di depannya. Dia duduk di kursi tamu.


"Mau minum apa ?"


"Gak usah mbak. Cuma sebentar kok. Mbak duduk aja di sini. Aku mau ngobrol sama mbak. Sebentar aja...aku juga kan harus ke kantor." Raisya menepuk tempat kosong menyuruhku mengisinya.


Aku pun ikut duduk di sebelahnya.


"Mbak."


Panggilan mbak untukku tak jadi masalah meski umurku lebih muda darinya. Aku tahu Raisya ingin lebih menghormatiku sebagai istri dari pria yang sudah dia anggap sebagai kakak kandungnya sendiri. Dan sebenarnya aku agak tidak nyaman hanya memanggil namanya saja, tapi itu memang permintaannya. Pernah sekali aku memanggilnya mbak, dia menolak karena katanya terkesan tua.


"Mbak, aku kasih nomer mbak ke mas Riki. Aku lupa gak bilang dulu ke mbak, habis mas Riki maksa banget."


Malas rasanya jika membahas hal yang berhubungan dengan kakaknya Raisya. Aku memang juga agak kesal pada gadis di sampingku ini. Tapi dia sepertinya sangat menyesal. Jadi ya sudahlah aku akan menepis semua kekesalanku.


"Maaf mbak. Mbak marah ya ? apa mas Riki ganggu mbak ?"


"Lain kali sebelum kasih nomer seseorang kamu harus ijin dulu sama orangnya. Bukan cuma sama mbak aja." Aku mencoba menasehatinya secara halus.


"Ya aku ngerti. Maaf ya ?! tapi kakakku gak ganggu mbak kan ?!"


"Gak." Sebenarnya Riki sudah mengusikku tapi tidak mungkin juga aku bilang pada adiknya.


"Mbak cuma membatasi diri saja dengan laki-laki yang bukan muhrim. Meski Mas Doni dan mas Riki itu sahabat tapi kan mbak gak mau terlalu dekat dengan pria lain. Takut timbul fitnah."

__ADS_1


"Berarti mbak maafin aku dong."


"Ya tentu saja."


Raisya girang dan langsung memelukku.


"Makasih mbak. Aku pamit sekarang ya." Raisya cipika-cipiki dulu padaku. Kebiasaan lebay para wanita.


Raisya beranjak dari duduknya dan melangkah pergi. Namun baru beberapa langkah dia berhenti dan berbalik badan.


"Assalamualaikum." Raisya mengucap salam sambil tersenyum.


"Waalaikumussalam." Setelah ku jawab salamnya lengkap dengan senyuman, Raisya pun pergi sambil melambaikan tangan.


Kadang aku merasa Raisya itu sikapnya agak kekanakan pantas dia tidak mau ku panggil mbak. Tapi sejauh ini aku melihat dia memang wanita yang baik.


"Mbak." Raisya nongol lagi di depan pintu.


"Kenapa ?"


"Nanti minggu temenin aku jalan ya. Please....itung-itung sebagai permintaan maaf, aku bakalan traktir mbak apapun yang mbak mau." Raisya masih berdiri di sana dengan wajah memelas. Kedua tangannya ditangkupkan.


"In shaa Allah. Mbak minta ijin dulu sama mas Doni."


"Ok." Raisya pergi.


"Waalaikumussalam."


Apa Raisya akan balik lagi ? sepertinya sekarang dia benar-benar pergi.


"Siapa tadi ?" ibu baru turun dari kamar dan segera menghampiri.


"Raisya, adik mas Riki sahabat mas Doni. Hubungan mereka memang sudah seperti saudara kandung."


Aku mengajak ibu duduk agar lebih nyaman saat bicara.


"Raisya ngajak jalan Suci nanti hari minggu."


"Minta ijin dulu sama suamimu." Nasehat ibu.


"Tapi sebaiknya aku tolak saja ajakan Raisya, kalo aku jalan sama dia nanti ibu di rumah gak ada temen."


"Kalo Doni mengijinkan, kamu pergi saja. Setiap hari kan kamu di rumah terus, sekali-kali kan tidak masalah kalo mau mengusir kejenuhan. Asal jangan pergi dengan pria yang bukan mahram."


"Tapi ibu kesepian nanti." Ucapku.


"Jangan pikirin ibu, orang kamu cuma pergi jalan, bukan mau ninggalin ibu kemana....gitu. Jangan terlalu khawatir." Ibu menepuk pelan pundak ku.

__ADS_1


"Nanti Suci ijin dulu sama mas Doni kalo gitu."


***


Aku dan mas Doni berbaring di atas tempat tidur.


"Mas, boleh gak kalo aku jalan sama Raisya nanti minggu ?


"Jalan kemana ?"


"Belum tahu, paling ke mall atau ke kafe mungkin."


"Kalo kamu mau, pergi saja. Mas gak akan larang. Raisya itu gadis yang baik dia tidak akan membahayakan istriku ini." Mas Doni mencubit pelan kedua pipiku.


"Berarti boleh ya. Tapi kasihan ibu gak ada temen."


"Kan ada aku yang nemenin ibu."


"Makasih mas."


Hari minggu yang cerah sepertinya mendukung rencanaku dan Raisya untuk jalan-jalan. Aku dijemput Raisya dengan mobilnya. Dia membawaku ke sebuah mall.


Raisya menarikku untuk mengikutinya memilih beberapa pakaian. Banyak sekali baju-baju yang dia pilih.


"Pilih juga baju buat mbak, jangan bengong aja liatin aku. Ntar aku yang bayar."


"Gak usah."


"Mbak ini, ayo ikut !" Raisya kembali menarik tanganku.


Tempat ini memang menyediakan pakaian lengkap mulai dari pakaian bayi sampai dewasa dengan berbagai modelnya, pakaian muslimah pun banyak tersedia di sini.


Raisya menyuruhku memilih beberapa baju sementara dia mau mencoba dulu baju pilihannya tadi. Sebenarnya aku tidak nyaman jika harus membeli baju dengan uang Raisya. Tapi...


"Kalo mbak gak mau aku beliin baju-baju ini, berarti mbak belum maafin kesalahanku kemarin." Itulah yang Raisya katakan.


Aku memilih gamis yang biasa saja modelnya, lengkap dengan hijabnya berwarna abu muda.


"Gimana mbak ? aku cantik gak ?" Raisya mencoba baju pilihannya.


"Cantik." Tapi aku tidak bisa bilang kalo bajunya itu terlalu terbuka. Takut dia tersinggung.


Raisya tersenyum dan masuk lagi ke kamar ganti mencoba bajunya yang lain. Dia keluar lagi dan meminta pendapatku. Begitu seterusnya sampai sepuluh kali....wahhhh.


Semua bajunya menampakkan aurat. Tapi aku tidak berani menasehatinya. Aku yakin sebagai seorang muslim dia juga tahu bahwa sesungguhnya wanita itu harus menutup auratnya sempurna. Namun sepertinya hatinya belum merasa bahwa dia sudah melakukan dosa dengan mengumbar aurat. Aku harap suatu saat Raisya mendapat hidayah.


Bukan so benar, tapi aku akan sangat bahagia jika orang di sekelilingku bisa hidup lebih baik.

__ADS_1


__ADS_2