
Siang itu di ruang kerja Yusuf di perusahaannya. Pria itu tengah duduk sembari membolak-balik sebuah proposal. Willy berdiri menghadap. "Tuan, nona Khesya dan nona ingin menemui anda. Mereka menunggu di depan."
"Sya dengan siapa ?" matanya belum beralih dari proposal yang dipegangnya.
"Nona Khesya bersama dengan nona anda !"
Yusuf mendongak, dahinya mengerut. "Bicara yang jelas ! nona anda, siapa maksudmu ?"
"Nona Andini. Maaf, tuan. Saya terpaksa harus menyebut namanya agar anda mengerti." Willy membungkuk hormat, seperti sudah melakukan kesalahan fatal.
Yusuf langsung sumringah, dia bahkan menutup proposal yang ada di tangannya. Menyimpannya di atas meja. "Dia ada di sini ? suruh mereka masuk !"
Willy mengangguk sopan kemudian berlalu. Tak lama berselang, dua sosok gadis cantik masuk ke ruangan itu. Willy mengekor di belakang. Yusuf pura-pura menatap laptopnya.
"Halo kakak pertama ! boleh kami duduk ?" Khesya bicara dengan suara keras.
"Hemmm." Matanya masih tertuju pada benda di hadapannya. Sesekali melirik ke arah Andini dengan sudut matanya.
"Ok, ayo kak Dini, kita duduk di sini saja !" Khesya duduk di sofa panjang diikuti Andini. Gadis yang terlihat canggung itu menyimpan sebuah kotak makanan di atas meja.
"Kak, kami ke sini karena Oma menyuruh membawakan makanan ini. Beliau sangat cemas, tadi pagi kan kakak belum sarapan."
"Hemmm."
"Kak, dari tadi hemmm hemmm terus. Bicara yang jelas !" Sya berdiri sambil berkacak pinggang. Gadis itu kadang mudah marah.
Andini menarik tangan Sya agar gadis di sebelahnya kembali duduk dengan tenang dan tidak mencari ribut.
Yusuf membuang nafasnya kasar. Anak itu ! harusnya dia tidak usah ikut, bikin pusing saja !
"Ya, bilang terima kasih pada Oma !" nyengir yang dipaksakan.
Adiknya itu masih kesal, dia nyerocos tanpa henti. Dalam hal ini, Andini yang harus jadi korban. Dia terpaksa mendengar ocehan gadis itu yang suaranya seperti kaleng rombeng.
Yusuf mengambil ponselnya lalu mengetikkan pesan pada nomor Willy. Padahal orangnya masih berdiri di depannya. Jika ada urusan, tinggal bicara saja. Namun, ini bukan sembarang urusan, ada rencana nakal yang ingin Yusuf kemukakan pada asisten pribadinya itu.
[Will, cepat bawa Khesya keluar dari ruangan ini ! ajak dia kemanapun yang kau mau]
Pesan terkirim. Tak lama berselang, Willy merogoh saku celananya untuk mengambil benda yang bergetar. Ada notifikasi pesan yang masuk dari atasannya. Willy sekilas menatap bosnya itu yang tengah berdehem keras, mungkin itu kode agar asistennya segera membaca pesan yang dia kirim. Willy mengernyitkan keningnya setelah mengetahui isi pesan konyol dan tak penting itu. Haruskah dia menurutinya ?
Apa yang akan anda lakukan pada gadis itu, tuan ? kenapa anda sampai tega berencana mengusir adik kandung anda sendiri ?
[Kenapa tuan ? anda tidak akan berbuat konyol dan memalukan, bukan]
Yusuf mencebik, dia membalas pesan dari Willy dengan setengah geram.
[Kau pikir aku akan melakukan apa ? aku ingin bicara penting pada Andini. Adikku dan kau pun tidak boleh mendengarnya]
[Baik, tuan. Saya percaya jika anda adalah orang cerdas yang tidak mungkin bertingkah di luar norma yang berlaku]
Willy menyimpan kembali ponselnya. Dia menghampiri nona Khesya. "Nona, mari ikut saya ! bukankah anda pernah bilang ingin melihat-lihat setiap ruangan di gedung ini ? sekalian saya akan traktir anda makan cilok di kantin."
Khesya berdiri dengan semangat. Tanpa pikir panjang lagi, gadis itu mengiyakan ajakan asisten kakaknya. "Tentu saja. Tapi bagaimana dengan kak Dini ? bolehkan dia diajak juga ?"
"Maaf, nona. Sebaiknya nona Andini diam saja di sini. Nona, saya titip tuan Yusuf. Jangan sampai ada yang mengganggunya." Willy membungkuk hormat di hadapan Andini. Gadis itu hanya nyengir pura-pura ramah. Padahal hatinya gedeg juga. Memangnya dia bayi, harus selalu ditemani ? bukankah pria itu juga mampu menjaga dirinya sendiri ?
"Ah, benar kak. Kakak di sini saja temani kakak pertama. Nanti jika ikut denganku, mungkin kaki kak Dini akan sakit dan bengkak. Tidak akan lama kok. Ayo Willy, kita let's go !" gadis itu benar-benar antusias ingin mengelilingi gedung Angkasa Group. Rasa senangnya melebihi anak TK yang diajak jalan-jalan ke kebun binatang. Dia tak peduli jika harus berjalan selama sebulan untuk menjelajahi seluruh ruangan gedung itu.
__ADS_1
Khesya pergi diikuti Willy. Hanya ada dua orang yang sama-sama deg-degan di dalam sana. Perlahan Yusuf turun dari kursinya lalu duduk di sebelah Andini. Gadis itu sedikit demi sedikit beringsut hingga posisinya sudah mentok di ujung sofa.
Andini meremas erat jemarinya. Dia menundukkan kepalanya. Bibir bawahnya digigit agak kuat karena menahan rasa gugup. Yusuf mendengus kesal. Tiap kali melihat gadis di sebelahnya bertingkah begitu, otaknya selalu konslet. Apakah dia harus memukul kepalanya sendiri yang sudah sangat nakal ?
"An, berhenti menggigit bibirmu seperti itu ! mata dan otakku selalu terganggu jika melihatnya." Yusuf bicara sambil mengambil kotak makanan di atas meja.
Gadis itu mendelik. Dasar aneh ! bilang saja jika kau benci melihatku !
Yusuf sedikit melonggarkan dasinya. Saat ini dadanya terasa sesak. Dia bahkan melepas jasnya dan menyimpannya di sebelah Andini. Kemejanya digulung hingga ke siku tangan. Panas sekali udaranya jika ada gadis itu di dekatnya.
"Kau mau ? makanan ini terlalu banyak untuk dimakan sendirian. Jika mau, ambil saja !" memasukkan satu buah dimsum ke mulutnya. Tatapannya masih mengindari gadis itu.
"Tidak, aku masih kenyang." Suaranya terdengar kesal.
"Aku sudah terlalu baik padamu. Aku sudah mengijinkanmu tinggal di rumahku. Tapi aku lupa untuk menerapkan peraturan untukmu."
Andini menoleh, wajahnya dipenuhi tanda tanya. "Peraturan apa ? apa aku harus membersihkan seluruh rumahmu setiap hari ? atau memasak juga ? mencuci dan lain sebagainya ? itu tidak masalah. Dari awal aku memang tidak berniat untuk tinggal secara gratis di sana." Menundukkan kembali wajahnya karena merasa malu dan tak enak hati sudah merepotkan Yusuf dan Oma.
"Bukan itu maksudku. Aku sama sekali tidak keberatan jika kau tinggal di rumahku. Aku hanya mau kau mengikuti peraturan yang akan ku berikan. Aturan pertama, jangan pernah bicara, menyapa, tersenyum, saling bertatapan, apalagi bersentuhan dengan pria manapun !"
Andini menoleh, "Tunggu, itu bukan hanya satu, tapi lima aturan. Tapi, kenapa aku harus melakukan itu ?"
"Ya, pokoknya intinya kau tidak boleh melakukan kontak fisik dengan pria manapun. Itu karena kau tinggal bersamaku, jadi otomatis kau juga adalah tanggung jawabku sekarang. Jika terjadi hal buruk padamu, aku juga yang akan disalahkan. Benar kan ?!" Yusuf mengedarkan pandangannya ke arah lain, menyembunyikan kebohongan dari wajahnya.
"Baiklah, aku tidak keberatan. Bagaimana jika kau sendiri yang menyentuhku ?" menundukkan kepalanya. Hatinya berdebar hebat mendengar perkataannya sendiri.
"I..itu...aku akui itu adalah salahku. Aku minta maaf dan tidak ingin mengulanginya kembali." Yusuf merasakan jantungnya kembali memacu kencang. Jika membahas hal memalukan itu lagi, pikirannya pasti akan kembali terbayang adegan mesum bersama Andini.
Yusuf menggertakkan giginya, menahan hasrat yang kembali bangkit. Ruangan ber-AC itu semakin panas. Otaknya lagi-lagi menyuruh melakukan hal nakal. Yusuf bangkit lalu duduk di kursi kebesarannya. Sebanyak mungkin dia minum air, agar otak kotornya jadi bersih.
Andini menoleh. Ada apa dengannya ? terlihat gusar seperti cacing kepanasan !
"Will, cepat kembali ke ruanganku ! jika tidak, aku akan semakin tidak waras !"
"Baik, tuan !"
Panggilan terputus.
Yusuf menyesal karena mengusir Khesya dari sana. Berduaan dengan Andini membuatnya hilang akal. Harusnya dia bisa mengendalikan keinginannya untuk selalu berdekatan dengan gadis itu.
Mendadak pria itu jadi orang bodoh. Kenapa dia tidak pergi dari ruangannya saja, agar hasratnya bisa hilang ? tapi, dia memang tidak mau meninggalkan gadis itu sendirian. Lebih memilih tersiksa menahan hasrat yang liar.
***
Khesya terlihat bersemangat menyusuri jalan menuju kantin. Sejak dulu jika datang ke perusahaan milik kakaknya, dia tak pernah melewatkan tempat ini.
Kini Sya duduk berhadapan dengan Willy di sebuah kursi. Pelayan baru saja membawakan cilok pesanan gadis itu. Willy duduk dengan tenang dan diam-diam memperhatikan nona manis yang duduk bersamanya.
Sya benar-benar gadis berbeda. Dia sama sekali tidak malu jika makan lahap dan belepotan di hadapan seorang pria. Gadis itu cuek saja. Dengan mulut penuh saus kacang dan cilok, gadis itu berbicara, "Kau tidak mau mencobanya ? ini enak sekali ! lebih enak daripada makan pizza !"
Willy menggeleng. Dia menyembunyikan senyumnya. Tingkah gadis di hadapannya benar-benar seperti tontonan menarik buatnya. Terlihat menggemaskan !
Tiba-tiba ponselnya bergetar. Tuan Yusuf menelponnya, memintanya segera kembali ke ruangan CEO. Yang membuatnya cemas adalah perkataan Yusuf yang menyebutkan, jika dirinya tak cepat datang, maka tuannya itu akan menjadi gila !
Apa yang sudah dilakukan gadis itu hingga membuat tuan Yusuf menjadi gila ?
Willy beranjak dari duduknya. "Nona, saya harus menemui tuan Yusuf. Beliau membutuhkan saya. Silahkan habiskan makanan anda, setelah itu langsung ke ruangan tuan. Jangan pergi kemana-mana lagi !"
__ADS_1
"Ehhh, tunggu ! aku juga mencemaskan kak Yusuf, dan aku tidak mau makan sendirian ! aku ikut, tapi tunggu dulu ! aku mau membungkus makananku. Ciloknya masih banyak." Sya bicara dengan mulut masih mengunyah.
Sementara itu di ruangan CEO.
Yusuf memegangi kepalanya yang terasa sakit. Ternyata menahan hasrat ingin menyerang seorang gadis itu benar-benar sangat menyiksa. Andini mendekati pria itu karena cemas. Dia berniat memijit kepala dan pundak Yusuf, tapi laki-laki itu menolak. "Hentikan, An. Jika kau terus menyentuhku maka aku akan lebih tersiksa. Menjauhlah !" agak berteriak membuat gadis itu nyaris kehilangan jantungnya.
Andini mundur beberapa langkah. Dia berdiri di sana sambil terus memperhatikan pria yang meringis kesakitan itu. Hatinya ikut merasakan sakit, Andini sangat khawatir. Apa yang harus dia lakukan ?
Yusuf mengutuki dirinya sendiri. Kenapa dia begitu bodoh dan lemah ? hanya berduaan dengan Andini saja membuatnya seperti orang gila. Apa cinta serumit ini ? atau memang Yusuf yang terlalu aneh dan konyol ?
Willy datang tergesa-gesa ke ruangan itu. Dia segera berdiri di depan Andini, di sebelah tuannya. Sementara Khesya berdiri di sisi lain kakaknya.
"Tuan, anda baik-baik saja ? saya akan panggilkan Dokter Alya kemari."
Yusuf menggeleng, kini pria itu menegakkan wajahnya seperti semula. Keberadaan asisten dan adiknya di sana sangat membantu Yusuf untuk membunuh pikiran mesumnya.
"Kakak kenapa ? sakit ? mau ku pijit ?" tangan Sya bersiap memegang kepala Yusuf, tapi kakaknya itu menghindar. "Aku sudah sembuh. Terima kasih sudah datang tepat waktu. Jika tidak, maka akan ada satu korban di ruangan ini."
Semua orang mengernyitkan dahi. Perkataan Yusuf sangat sulit dicerna.
Andini mencebik kesal, dia sudah berniat baik membantu pria itu. Tapi, perkataan Yusuf tadi malah terkesan memojokkannya. Apa maksudnya ? jika mereka tidak datang kemari, akan ada korban ? apa dia pikir aku ini monster yang akan menyerangnya ? kenapa tidak lari saja sekalian dari ruangan ini ? kenapa malah diam dan meringis kesakitan memegangi kepala, membuat orang panik.
"Dasar stress !" Andini menggerutu pelan. Tahu begini dia akan mencari alasan untuk menolak perintah Oma datang kemari. Ehhh, tapi bukankah dia sendiri yang meminta ijin ingin ikut mengantar makanan ini untuk Yusuf ? payahhh !!
"Sya, kau pulang saja sekarang ! katakan pada Oma, aku sangat menyukai makanan yang Oma buat."
"Itu kak Dini yang membuatnya. Bilang saja langsung pada orangnya !"
Yusuf menoleh sekilas pada gadis yang berdiri dan menunduk itu. "Terima kasih !"
Andini menjawab pelan, "Sama-sama."
"Kalau begitu, aku pamit. Willy, tolong jaga kakak pertama !" Khesya tersenyum manis.
Willy mengangguk, meski tidak membalas dengan senyuman, tapi aura wajah pria itu terlihat ramah dan tulus.
"Kak Dini, ayo kita pulang ! tapi sebelum itu, kita nongkrong dulu di kedai kopi. Sudah lama aku tidak ke sana." Khesya menghampiri Andini.
Yusuf mendelik kesal ke arah adiknya, "Tidak boleh ! kalian tidak boleh pergi kemanapun ! di tempat itu banyak pria yang akan mengganggu kalian."
Khesya menginjak-injak lantai dengan keras. "Kakak, sebentar saja !" uring-uringan seperti bocah.
"Tidak boleh ! kalau masih bandel, kakak akan adukan kelakuan nakalmu kepada mama dan papa ! kau masih ingat saat berkelahi dengan teman kuliahmu dan membuatnya masuk rumah sakit, bukan ?! jika mama papa tahu, pasti mereka akan memarahi mu."
"Ok, aku tidak akan mengajak kak Dini ke kedai kopi. Kami akan langsung pulang." Khesya mengerucutkan bibirnya.
"Bagus, anak baik ! kakak akan berikan uang jajan lebih untukmu !" nyengir kuda.
Tatapannya kini beralih pada Andini. "An, ingat ! jika berduaan denganku, kau harus memakai masker ! wajahmu itu mengganggu konsentrasiku."
Andini mendelik murka. Menyebalkan !
Sementara Willy dan Khesya saling beradu pandang. Sama-sama tidak mengerti dengan kekonyolan Yusuf.
Andini melangkah lebih dulu dengan secepat kilat. Khesya bahkan kewalahan mengejarnya. "Kak, tunggu ! kenapa aku ditinggal ?" gadis itu teriak-teriak.
Willy menyusul Khesya untuk menyodorkan bungkusan plastik berisi cilok milik gadis itu. "Nona, tunggu ! anda melupakan ini." Khesya segera menyabet makanan itu lalu secepat mungkin mengejar Andini.
__ADS_1
Wahhhh dia sepertinya marah ! apa aku salah bicara ?
Yusuf menggaruk sebelah alisnya. Mungkin dia sedikit keterlaluan. Harusnya dia bisa berkata lebih manis agar gadis itu tidak salah paham. Jangan sampai gengsinya malah membuat dia melukai hati Andini. Tugas selanjutnya adalah dia harus kembali meminta maaf pada gadis itu. Semoga Andini bersedia lagi memaafkannya.