
Pukul sebelas malam, Andini membuka pintu utama. Para majikannya baru pulang dari pesta mewah mereka. Namun, bukan wajah gembira seperti tahun-tahun sebelumnya yang nampak. Ketiga orang itu sepertinya sedang sangat kesal. Dan gawatnya, sorot mata kemarahan itu tertuju pada Andini.
Yasmin tiba-tiba mendorong tubuh Dini hingga terjatuh di atas lantai. Gadis manja itu kecewa karena tuan Yusuf pergi begitu saja dari pesta ulang tahunnya. Dan yang sangat membuatnya murka adalah berita dari salah satu security yang mengatakan bahwa pria tampan itu tadi datang ke rumah ini. Bahkan juga memeluk Andini saat mati lampu. Security yang mengadu itu sungguh setia pada majikannya. Dia memberi informasi penting tanpa harus diperintah. Dia sengaja memonitor keadaan agar bisa memberi laporan pada atasannya. Itulah caranya untuk cari muka di hadapan Pak Daniel.
"Kau, memang wanita penggoda, tidak tahu malu ! bukankah kau sadar siapa dirimu itu ? jangan pernah bermimpi mendapatkan seorang pangeran !"
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan ?" Andini mendongak dengan wajah penuh kebingungan.
"Kau, sudah berani mendekati calon menantuku, tuan Yusuf." Bu Rahma berdiri di hadapannya.
Dini mengernyit. Kapan mereka bertunangan hingga nenek lampir menyebut pria itu calon menantunya ? bahkan aku yakin Yasmin baru mengenal Yusuf. Jangan-jangan nenek lampir dan nona manja hanya mengaku-ngaku !
"Dengar baik-baik ! kau jangan coba-coba merayu pria yang putriku cintai ! aku tahu di balik wajah so polosmu, ada rencana yang kau sembunyikan." Wanita paruh baya itu berjongkok dan mencengkram dagu Andini.
"Tidak Bu ! aku tidak punya niat apa-apa. Aku belum pernah merayu pria manapun.
Bu Rahma tergelak, "Sikapmu sama persis dengan ibumu. Pura-pura lugu tapi sebenarnya berbahaya. Ibumu adalah wanita tidak tahu diri yang suka menggoda pria yang sudah berkeluarga. Kau pasti tidak jauh berbeda dari ibumu yang murahan. Kalian sama-sama seperti sampah !" tangannya melepaskan dagu gadis itu dengan kasar.
"Cukup Bu, jangan bawa-bawa nama mendiang ibu saya dalam hal ini. Anda terlalu sering menghinanya. Bagaimanapun juga beliau adalah ibu yang melahirkan dan menyayangi anaknya. Saya tidak suka jika ada yang menghinanya." Dini berkaca-kaca dan menatap nyonya rumah dengan nanar.
"Jika kau tidak suka, lalu kau mau apa ? mau menamparku ?" Bu Rahma berdiri dan menyilangkan tangan di dadanya.
"Dia tidak akan berani berbuat begitu mom ! ibunya adalah wanita pengecut, pasti dia juga sama pengecutnya seperti ibunya yang rendahan itu." Yasmin tertawa penuh ejekan.
Dini berdiri dan menghampiri si nona manja. Tatapannya sangat tajam. Kata-kata yang keluar dari seorang gadis cantik kalangan berada seharusnya adalah perkataan yang sopan dan lembut. Tapi tidak dengan Yasmin. Wajah cantik dan bibir manisnya hanya mampu mengeluarkan bisa.
"Kalian sudah sangat keterlaluan ! sama sekali tidak punya perasaan. Masih saja suka menghina orang yang sudah tiada." Tangan Dini melayang ingin menyentuh keras wajah Yasmin dan ibunya. Tapi Pak Daniel mencengkram erat tangannya.
Plakkk ! tamparan keras mendarat di pipi bersih Andini. Gadis itu menatap ke arah si penampar sembari memegang pipinya yang sakit. Namun, kepedihan terdalam terletak di lubuk hatinya. Air matanya terurai menggenangi wajah seiring rasa sakitnya yang semakin membuncah.
Dia menatap tajam pada Pak Daniel. Pria itu pun masih menatapnya murka.
__ADS_1
"Ayah, sampai kapan kau akan menyakitiku ?"
Ya, Pak Daniel adalah ayah kandung Andini. Namun pria itu tak mau mengakui darah dagingnya sendiri, karena gadis itu terlahir akibat hubungan terlarangnya dengan seorang gadis dari kalangan bawah.
Pria hidung belang itu hanya ingin bersenang-senang dengan Lastri, ibunya Andini. Mereka berhubungan di saat rumah tangganya dengan Bu Rahma sedang ada masalah. Lastri adalah pembantu di rumah orangtuanya. Saat gadis polos itu hamil, Daniel tidak mau bertanggung jawab. Dia memutuskan hubungan secara sepihak. Bahkan tak pernah memberikan biaya sebagai tanggung jawabnya kerena telah menghamili Lastri.
Lastri pulang ke kampung halamannya untuk membesarkan Andini sendirian. Dia tak pernah menikah. Para tetangganya yang mencemooh pun tak pernah dia ambil pusing meskipun hatinya sangat sakit. Sampai akhirnya saat usia Andini tujuh tahun, Lastri meninggal dunia setelah terjatuh ke sungai. Semua kerabat dan keluarga tidak ada yang mau membantu membesarkan Dini. Mereka menganggap anak itu adalah anak haram yang akan membawa kesialan.
Akhirnya Andini kecil terpaksa dibawa ke rumah Pak Daniel oleh pamannya yang memang mengetahui seluk-beluk hubungan terlarang Lastri dengan pria itu.
"Tidak mas, aku tidak sudi anak hasil perselingkuhanmu tinggal di sini." Bu Rahma amuk-amukkan setelah mengetahui fakta mengejutkan dari suaminya.
"Sayang, jika kita tidak mau menampung anak ini, maka kakaknya Lastri akan memberi tahu papa tentang masalah ini. Dan jika itu terjadi, maka aku sudah pasti akan dicoret dari hak waris. Kamu tidak mau itu terjadi bukan ?!"
Bu Rahma terdiam. Pak Daniel kembali membujuknya.
"Aku juga tak pernah menginginkan anak itu. Anakku cuma Yasmin, yang lahir dari istri yang sangat aku cintai."
"Jangan pernah memanggilku ayah !" Pak Daniel semakin murka.
Andini masih menatapnya lekat. Air mata masih membanjiri wajahnya. Sekuat tenaga dia mengeluarkan suara meski dadanya sesak. "Itu juga yang anda katakan saat aku pertama kali datang ke rumah ini. Andini kecil berlari memelukmu, tapi anda sama sekali tak mau menatap mata anak kecil yang penuh kerinduan pada sosok ayahnya. Dimana letak hati anda tuan Daniel yang terhormat ? kenapa anda tidak pernah mau mengakui ku sebagai putri kandungmu ?"
"Diam ! aku tidak mau punya anak dari wanita kalangan rendah seperti ibumu."
"Jika begitu, kenapa anda mau melakukan hubungan terlarang dengan ibu saya ? bukankah di sini, anda juga bersalah ?" Andini berteriak tak kalah keras dari Pak Daniel.
Pria itu membisu. Perkataan Andini seolah menamparnya. Hati kecilnya mengakui bahwa gadis itu berkata benar. Jika dulu dia tidak jelalatan pada pembantu ibunya, maka tidak akan ada anak haram hasil perbuatan bejadnya.
Bu Rahma memelintir tangan Andini. Sementara Yasmin menjambak rambut gadis itu hingga meringis kesakitan.
"Kau anak yang tidak tahu diri. Sudah untung kami menampung dan memberi makan kau di rumah ini. Tapi kau malah menyalahkan suamiku ! yang salah adalah ibumu. Jika dia tidak meladeni suamiku saat dulu, pasti kau tidak akan pernah ada di dunia ini. Ibumu itu memang seperti sampah."
__ADS_1
"Dasar tidak berguna !" Yasmin ikut menghina.
Di tengah menahan sakit, Andini berusaha bicara. "Bunuh saja aku sekalian agar kalian puas ! aku juga tidak mau tinggal bersama iblis seperti kalian !"
"Kurang ajar ! kalau begitu angkat kaki saat ini juga dari rumah ini." Yasmin berkoar lebih semangat. Ini kesempatan yang dia tunggu-tunggu. Ingin sekali menyingkirkan Andini dari rumahnya.
"Pergi kau dari rumahku ! bawa sekalian barang-barang bututmu, jangan sampai ada yang tertinggal. Aku tidak mau rumah mewahku tercemari !" Bu Rahma melepas cengkraman tangannya.
Yasmin mendorong tubuh Andini dengan keras hingga tersungkur. Andini berbalik menghadap keduanya. Dia bangkit, "Baikah, aku juga tidak mau tinggal di sini lagi. Lebih baik aku tinggal di kolong jembatan daripada harus terus berada dalam rumah menyedihkan ini."
Yasmin dan ibunya tertawa terbahak-bahak. Mereka sangat bahagia karena telah berhasil menyingkirkan parasit dari rumah itu.
"Harusnya kita melakukan ini sejak dulu momy !" Yasmin masih tertawa.
Pak Daniel pergi ke kamarnya. Dia sama sekali tidak peduli jika Andini diusir. Baginya, gadis itu sampai kapanpun tidak akan menjadi bagian dari keluarga ini.
***
Andini mengepak semua baju bututnya yang hanya beberapa stel itu, ke dalam tas ranselnya. Air mata masih bercucuran di wajahnya. Sakit, sungguh hatinya sangat sakit. Perlakuan dari Yasmin dan Bu Rahma itu tidak seberapa. Justru sikap Pak Daniel yang membuat hatinya tersayat. Pria paruh baya itu sama sekali tidak peduli saat dirinya disakiti. Mungkin ayahnya itu malah bahagia jika Dini diusir dari rumah ini.
Harapan dan usaha untuk meluluhkan hati ayahnya pun sia-sia. Pak Daniel tetap tidak mau mengakuinya sebagai anak.
Andini terduduk lesu di dekat lemari pakaian. Dia semakin terisak mengingat semua kepedihan yang menimpanya. Tak pernah ada kebahagiaan sejak ibunya meninggal. Bahkan satu-satunya orang yang memberinya kasih sayang pun, ikut pergi menghadap Sang Kuasa.
"Aku rindu ibu, aku rindu bi Juju. Kenapa kalian pergi meninggalkanku sendiri ?"
"Dini, kau bilang akan pergi dari rumah ini. Tapi kenapa malah menangis ? kau ingin membuat kami merasa kasihan dan menyuruhmu untuk jangan pergi ?" Yasmin menghampiri dan berdiri dengan sombong di hadapan Andini.
Tanpa berkata, Andini bangkit dan segera menyeret kakinya. Yasmin tersenyum penuh kepuasan. Tidak ada lagi gadis yang dia benci di sana.
Andini menyisir ke segala arah setiap melewati ruangan menuju pintu utama. Tak ada siapapun. Dia mendongak ke arah lantai atas. Berharap sosok ayah kandungnya berada di sana untuk menatap kepergiannya. Namun, harapan bodohnya itu tidak terwujud. Pak Daniel tak muncul untuk melihatnya yang terakhir kali.
__ADS_1
Gadis itu semakin terpuruk. Dia merasa menjadi anak paling dibenci di dunia ini.