
Selesai acara akikahan, semua tamu sudah meninggalkan kediaman keluarga Riki. Hanya Doni saja yang masih bertahan di sana. Ia sedang asik berbincang dengan sahabatnya yang sibuk menggendong bayi. Mereka berada di lantai bawah tempat acara tadi berlangsung.
Riki berdiri sambil mengayun-ayun tubuh mungil anaknya. Sementara Doni, ikut berdiri di sampingnya sembari memperhatikan semua gerak-gerik pria yang baru saja menjadi seorang ayah itu.
"Rik, anakmu lucu sekali ! aku ingin menggendongnya."
Riki menaikkan sebelah alisnya, lalu memindai seluruh bagian tubuh sahabatnya. Dia mencari tahu apakah tidak ada yang mencurigakan pada Doni ? setelah yakin bahwa pria di sebelahnya tidak akan mengancam keselamatan anaknya, dia menyerahkan baby Yusuf dengan perlahan. Kini bayi imut itu sudah ada di pangkuan om Doni.
"Lucu sekali, seperti ibunya !" perkataan Doni membuat Riki kesal. Pria itu masih saja cemburu pada mantan suami dari istrinya itu.
Pletak ! belakang kepala Doni dihadiahi jitakan cukup keras dari Riki.
"Isshh kau ini sensitif sekali !"Doni menggerutu kesal.
"Apa ?" Riki melotot sambil berkacak pinggang.
"Mudah-mudahan anak ini tidak menyebalkan seperti ayahnya. Ya nak !" Doni berpura-pura tidak melihat ekspresi wajah Riki yang semakin masam.
Doni tidak terganggu dengan kejudesan sahabatnya, dia sangat terhipnotis oleh keimutan bayi yang ada di pangkuannya. Andai saja bayi mungil dan tampan itu adalah anaknya sendiri. Pasti Doni akan sangat bahagia.
Riki tambah sebal melihat Doni mesem-mesem memperhatikan anaknya.
"Heyyy Don, jaga otakmu jangan sampai memikirkan hal yang aneh-aneh. Jangan bilang bahwa kau membayangkan anakku ini adalah anakmu !" Riki gerutu-gerutu kesal.
Kenapa Riki bisa menebak isi kepalaku saat ini ?
"Tentu saja tidak Riki. Aku hanya senang melihat anakmu ini, sangat tampan dan menggemaskan sepertimu." Doni sampai jijik mendengar kata-katanya sendiri.
"Aku ayahnya, pasti mirip denganku !" Riki berbicara penuh kebanggaan. Mungkin saat ini hidung mancungnya sudah terbang ke langit.
Narsis sekali kau !
Doni memutar bola matanya malas namun langsung mengalihkan pandangannya ke arah baby Yusuf lagi. Dia tersenyum melihat anak itu menggeliat dalam pangkuannya. Saking gemasnya, dia hendak mencium wajah imut sang bayi. Namun, Riki menggagalkan niat dan usaha Doni.
"Stop ! dilarang mencium bayiku ! kalau mau gendong ya gendong saja." Riki memblokir bibir Doni dengan tangannya.
"Ayolah Rik, anakmu ini sangat menggemaskan. Aku ingin......sekali saja, menciumnya." Wajah Doni memelas.
"Tidak bisa dan tidak perlu ! aku tahu kau itu hanya modus. Ada niat buruk dibalik keinginanmu itu." Riki memicingkan matanya.
Doni mengernyit, "Niat buruk apa ? aku tidak mengerti."
"Ckkkk ! jangan pura-pura ! kau ingin mencium bayiku karena kau ingin secara tidak langsung bersentuhan dengan bibir ibu dari anakku bukan ?!" Riki berkacak pinggang lagi sembari melotot.
Doni geleng-geleng kepala, "Kau terlalu jauh berpikir sampai sana, aku tidak berniat seperti itu."
"Ya, aku memang jenius karena bisa mengetahui akal bulusmu." Dengan pedenya, Riki membanggakan diri lagi.
Doni semakin pusing karena ulah pria aneh yang sialnya adalah sahabatnya itu.
Jenius atau malah terlihat konyol ? aku tidak menyangka bahwa dia akan berpikir seribet itu.
"Kembalikan anakku !" Riki masih saja judes.
"Ya, galak sekali kau !" Doni menyerahkan kembali bayi mungil itu kepada Riki.
"Kalau begitu, aku pamit sekarang. Salam untuk semua keluargamu." Doni menyentuh bahu Riki sambil tersenyum.
"Hemmm. Aku akan sampaikan kepada mereka semua, kecuali istriku ! kau tidak boleh menitip salam padanya."
Doni tertawa kecil karena tingkah pria aneh itu.
"Kau ini seperti bocah saja. Terserahlah, aku pulang sekarang. Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam." Diam-diam Riki menatap lekat punggung Doni yang semakin lama menghilang di balik pintu.
Bagaimanapun juga mereka adalah sahabat. Meski kadang masih suka bertengkar ringan, tapi keduanya tetap saling menyayangi.
"Mas Doni mana ?" Suci menghampiri Riki, ia celingukan mencari sosok pria yang kini sudah tak ada lagi di sana.
"Sudah pulang." Riki menjawab agak jutek.
"Mmmm. Sini mas, aku kangen sama Yusuf." Suci mengambil alih untuk menggendong bayinya. Ia tak mau ambil pusing kenapa suaminya judes begitu.
"Tidak kangen sama ayahnya juga ?"
Suci mengangkat bahu acuh. Riki segera mencium keningnya.
"Tapi aku kangen sama kamu." Riki nyengir.
Mama Merly berdehem keras ketika menghampiri keduanya.
"Riki, kamu harus ingat untuk menjaga jarak dengan Suci. Menantu mama ini kan baru seminggu habis lahiran, kamu jangan berpikir untuk menggodanya !" Bu Merly menyilangkan tangan di dadanya.
"Masa cium saja tidak boleh ?!" Riki protes.
"No ! jangan dekat-dekat dulu dengan istrimu ! nanti jika usia Yusuf sudah satu tahun, baru kamu boleh kembali bermesraan dengan Suci."
Suci hanya mesem karena dia tahu bahwa mertuanya hanya ingin iseng. Sementara itu, Riki sudah berteriak protes.
"Apa ? tidak mungkin selama itu. Aku tahu bahwa waktunya hanya sampai empat puluh hari. Mama hanya melebih-lebihkan." Raut wajahnya sudah agak tertekan.
__ADS_1
"Kamu memang pintar Riki, tapi ingat bahwa kamu harus membiarkan istrimu pulih luar dalam setidaknya sampai tiga bulan ke depan. Kasihan Suci." Bu Merly mengusap kepala menantunya.
Mendengar kata kasihan membuat Riki mengalah. Meski mungkin akan terasa berat, tapi dia akan berusaha untuk menahan otak ngeresnya agar tidak menjalar ke seluruh tubuh.
"Fuhhhh, baiklah. Aku adalah suami yang baik, jadi aku tidak mau mengganggu kesehatan juga ketenangan istriku."
Riki akhirnya pergi ke lantai atas untuk membersihkan badan dan juga pikirannya. Suci dan mama mertua cekikikan bersama saat melihat Riki menyugar rambutnya dengan kasar, ketika menaiki tangga.
***
Saat malam hari di kamar Suci. Suasana sangat ramai tak seperti biasanya. Semua ladies ada di sana untuk menemani Suci tidur. Riki merasa shock dengan kehadiran mereka yang mendadak.
Ada apa ini ? kenapa para nona ada di kamarku ?
Riki yang saat itu berdiri di balik pintu saat baru masuk ke kamarnya. Pria itu sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya.
Dia menatap semuanya satu persatu. Dan mereka hanya nyengir saat bersitatap dengan sang tuan pemilik kamar.
Raisya menghampiri, "Halo mas ! kami semua akan tidur di kamar ini sampai tiga bulan ke depan. Kasihan mbak Suci harus ada yang membantu menjaga Yusuf. Biar mbak Suci tidak kesepian dan terkena baby blues."
Riki mendelik tajam kepada adiknya, "Kalian sengaja mau menyiksaku ?" berkata pelan agar hanya Raisya yang mendengar.
"Mas ini, kami justru mau membantu mas juga. Agar mas bisa fokus pada kerjaan. Untuk masalah mbak Suci dan dede Yusuf, biar kami yang urus. Jadi mas tidak akan kerepotan." Raisya berkilah dengan suara yang lantang.
"Ya nak, maaf. Dulu waktu ibu setiap habis lahiran, pasti keluarga akan menginap dan menemani. Suasana jadi rame. Ada yang menghibur dan membantu menjaga bayi." Bu Ayu menambahkan.
Riki tersenyum menatap ibu mertuanya. Dia tidak mungkin akan membantah bukan ?!
Bu Merly ikut nimbrung, "Kami juga mau menjaga dan melindungi Suci. Siapa tahu nanti ada nyamuk nakal yang ingin menggigitnya."
Riki nyengir terpaksa pada mamanya.
Jadi mama mengganggap aku ini sebagai nyamuk nakal ?! ayolah...aku tidak segila itu ! aku tidak akan menerkam istriku yang masih dalam masa pemulihan. Aku hanya ingin memeluknya saja dan sedikit menciumnya.
Riki menatap ke arah Suci yang kala itu tengah tersenyum penuh arti, seperti mengatakan "Maaf mas, ini semua bukan ideku !"
Akhirnya terpaksa pria itu mengalah pada semua wanita yang ada di sana. Sebelum pergi lagi dari kamar itu, Riki menghampiri Indah yang sedang menggendong Yusuf. Adik iparnya lantas memberikan bayi imut itu pada ayahnya.
Riki tersenyum bahagia saat memperhatikan anaknya. Bayi mungil itu sedang mengerjapkan matanya, seolah ingin menatap juga pada sosok ayahnya. Riki nyaris saja meneteskan air mata haru jika saja dia tidak ingat bahwa banyak orang di sana.
Anakku !
Berulang kali dikecupnya wajah Yusuf. Bayi itu seperti simbol ketulusan cintanya bersama Suci. Kebahagiaannya bertambah setiap detiknya disebabkan kehadiran anak itu.
Setelah puas mencium Yusuf, Riki duduk di tepi ranjang berdekatan dengan istrinya. Bayi itu lalu diserahkan pada ibunya.
Riki menatap kedua makhluk lembut itu dengan haru. Suci dan anaknya adalah sumber kekuatan dan kebahagiaan bagi Riki.
"Aku sangat mencintai dan menyayangi kalian." Riki mengusap lembut kepala anaknya. Sebelah tangannya merangkul tubuh Suci. Dia pun mendaratkan ciuman di kening istrinya. Itu adalah ungkapan perasaan tulus dari Riki, bukan nafsu !
Beberapa menit kemudian, Riki meninggalkan kamarnya. Ia akan menghabiskan waktu di ruang kerjanya. Hal itu berlangsung sampai benar-benar tiga bulan ke depan.
***
Tiga bulan sudah para ladies menginap di kamar Suci. Malam ini untuk pertama kalinya, Riki bisa kembali tidur di kamarnya. Tidak bisa dibayangkan bagaimana bahagianya pria itu saat ini. Sementara Suci, dia memang merindukan suaminya. Namun, ada juga keresahan dalam benaknya. Merasa terancam dan deg-degan.
Suci pura-pura tidur dengan membelakangi suaminya. Jantungnya seolah mengamuk ingin mendobrak dadanya, saat tangan Riki melingkar di pinggangnya. Nafasnya sudah tidak beraturan. Entahlah, dia merasa sangat gugup dan juga takut jika disentuh oleh suaminya. Hal itu mungkin karena masih ada perasaan ngilu dalam ingatannya setelah lahiran.
"Sayang, aku tahu kamu belum tidur. Tubuhmu agak gemetaran dan bahumu naik turun seperti sedang ketakutan." Suara Riki di telinganya semakin membuat merinding.
Suci sama sekali tidak bisa berucap. Banyak ketakutan yang muncul dalam otaknya.
Riki membalikan badan Suci agar menghadapnya. Istrinya itu masih pura-pura terpejam. Dengan nakalnya Riki segera melahap bagian bawah hidung dengan lembut, sesekali menggigitnya agak keras hingga Suci refleks mendorong tubuhnya.
"Sakit !" Suci memegang bibirnya dan mendelik ke arah Riki. Suaminya itu hanya tertawa.
"Maaf, makanya jangan akting pura-pura tidur. Aku tidak suka diacuhkan." Riki menangkup wajah Suci. Dia mengecup bagian yang tadi digigitnya.
"Mas, tidak bisakah kita tidur saja malam ini ? jangan ada aktivitas lain." Suci memelas.
Riki tertawa kecil, "Akan ku usahakan."
Suci membenamkan wajah di dada suaminya. Dan Riki mengusap lembut rambut Suci. Entah karena kelelahan, pria itu tertidur. Namun, istrinya masih membuka mata.
Suci mendongak dan memperhatikan setiap inchi dari wajah suaminya. Dia mengusap lembut semua lekuknya. Hatinya berdesir. Ada senyum yang muncul dari sudut bibirnya.
Kenapa dia terlihat lebih tampan ? jika dipikir-pikir, aku hampir tidak percaya. Wanita biasa sepertiku bisa mempunyai suami setampan dan sebaik mas Riki. Aku sangat beruntung !
Perlahan Suci mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Riki. Dia mengecup kening dan bibir sexy itu. Entah kenapa perasaan takutnya tadi menguap begitu saja.
Heyyy apa aku sudah gila ? ini bukannya disebut nyosor ya ?!
Namun otaknya tidak sejalan dengan hatinya. Dia ingin lagi menyentuh bagian manis dari wajah suaminya. Kembali dia mengecup bibir Riki perlahan. Tanpa diduga ada respon dari pria yang tadi sudah terlelap itu. Dengan sigap dipeluknya wanita yang tengah bermain-main dengan bibirnya itu.
"Mas bukannya tidur ?" Suci gelagapan bicara.
"Kau nakal ! bukankah tadi takut saat aku menyentuhmu ?! tapi sekarang malah kamu duluan yang menggodaku." Riki tersenyum tak kalah nakal.
"I..tu...aku.." Riki menyetop mulut Suci dengan bibirnya.
Akhirnya adegan itu berlanjut ke arah yang lebih serius lagi. Dengan lembut dan perlahan mereka kembali menyatukan diri.
__ADS_1
***
Setahun berlalu.
Hari ini Riki sengaja membawa David, salah satu rekan bisnisnya ke rumah. Tujuannya adalah memperkenalkan pada Raisya. Siapa tahu mereka cocok.
Sekarang mereka sudah duduk berhadapan di ruang tamu. Saat itu Suci muncul membawakan minuman untuk semua orang. Dia pun duduk bersebelahan dengan suaminya.
David begitu terpana melihat sosok sederhana namun manis itu ada di depannya. Senyumnya mengembang.
Apa mungkin dia yang namanya Raisya ? cantik dan manis !
"Apa kabar ? saya David." Pria itu dengan beraninya memperkenalkan diri dan hendak berjabat tangan.
"Maaf." Suci menangkupkan kedua telapak tangannya sembari tersenyum.
Riki tentu saja terganggu dengan sikap David. Dia segera merangkul tubuh Suci.
"David, ini Suci, istriku !" nada bicaranya penuh penekanan.
"Ohhh maaf. Aku kira dia adalah gadis yang ingin dikenalkan padaku."
Riki menatap tajam pada David. Sementara Suci hanya diam saja meskipun agak tidak enak hati.
"Mas, kenapa memanggilku ?" Raisya saat itu muncul.
"Duduk, mas ingin kenalkan kamu pada teman." Riki menunjuk dengan matanya.
Raisya menurut dan ikut duduk di sebelah Suci.
Siapa pria itu ?
Raisya menoleh pada David dengan acuh. Dia sama sekali tidak tertarik pada pria itu.
David pun hanya sekilas melihat gadis yang baru saja muncul itu. Dia lebih tertarik memandangi istri Riki.
"Ini David, rekan bisnis mas. David, ini adikku Raisya." Riki angkat bicara.
Raisya dan David hanya mengangguk dan tersenyum sedikit. Keduanya merasa kurang nyaman jika harus diperlakukan seperti itu.
Apa-apaan, mas Riki mau menjodohkan ku dengan pria ini ? dia bahkan tidak lebih menarik dari Syarif.
Sampai saat ini Raisya memang masih menyimpan perasaan pada adiknya Suci, meski Syarif masih belum merespon.
"Maaf, mbak. Mbak Suci aslinya orang mana ya ?" David sembarangan bertanya hanya untuk mengobrol dengan Suci.
Riki semakin mengeratkan pelukannya dan menyandarkan kepala Suci di bahunya.
"Kenapa bertanya pada istriku ? ajak bicara adikku saja !" Riki sudah menaikkan nada bicaranya.
David garuk-garuk tengkuknya. Sementara Raisya hanya tertawa kecil melihat mereka.
"Raisya, kenapa kamu tidak berhijab saja ? perempuan yang menutup auratnya itu, jauh lebih anggun." David bicara pada Raisya tapi tatapannya masih tertuju pada Suci.
Suci tidak bisa melihat jika dia sedang diperhatikan oleh si tamu. Wajahnya ditutupi oleh tangan posesif milik suaminya.
Sebentar lagi kena kau oleh kecemburuan mas Riki !
Raisya tersenyum puas pada David. Dia seolah bisa memprediksi akan seperti apa nasib dari tamunya Riki yang sudah lancang mengganggu Suci.
"David, sepertinya rencanaku untuk membawamu ke rumah ini sangat tidak tepat. Aku menarik lagi kesempatan untukmu menjadi bagian dari keluargaku. Kau itu sangat menyebalkan !" Riki semakin menatap tajam pria itu.
"Memang kenapa ? tapi aku sebenarnya juga tidak tertarik pada adikmu." David memang pria yang agak berani menyuarakan pendapatnya.
Riki semakin murka, kali ini dia sudah berdiri berkacak pinggang. Sementara David curi-curi pandang pada Suci.
"Heyyy kau ! kau sudah lancang menatap dan mengajak istriku bicara. Sekarang pergi sana ! jangan lagi datang ke rumah ini !"
David masih bergeming dan menatap asik pada wanita berhijab yang ada di depannya.Dan Suci saat itu segera melarikan diri dari sana. Dia lebih memilih kembali ke kamar Bu Merly dan menemui Yusuf. Sementara Raisya masih anteng duduk ingin tahu apa yang akan dilakukan kakaknya pada pria tak tahu malu itu.
"Heyyy kau ! pergi sekarang sebelum aku hajar !" Riki mengeluarkan bogemnya, bersiap melayangkannya jika pria itu masih duduk di sana.
"Tenang Rik. Aku akan pergi sekarang. Salam untuk mbak Suci." David berdiri dan segera kabur karena melihat ekspresi Riki semakin menyeramkan.
Riki melepas sebelah sepatunya dan menimpuk kepala David dengan benda itu. Sialnya meleset. Dia mencoba lagi membuka sebelah lagi sepatunya dan kembali menimpuk kepala pria yang tengah berjalan cepat itu. Dan berhasil.
David memegang belakang kepalanya dan menoleh ke belakang sejenak.
Awwww sakit sekali ! Riki benar-benar !
David kali ini berlari meninggalkan tempat itu. Riki berteriak-teriak, "Aku akan membatalkan kerja sama kita David ! dasar pria brengsekkkk !"
Raisya tertawa terbahak-bahak melihat perdebatan kakaknya dengan pria itu. Dia bahkan memegangi perutnya yang geli.
Kakakku ini memang agak konyol ! tapi dia adalah suami yang baik. Aku ingin seperti mbak Suci yang dicintai begitu besar oleh suaminya.
Dan pikiran Raisya teralihkan pada sosok pria yang selalu cuek padanya. Entah sampai kapan dia akan menunggu Syarif ?
Sementara Riki masih saja nyerocos mengumpat kesal. Sampai kapanpun dia tidak akan rela jika ada pria lain yang dekat atau pun hanya sekedar menatap dan tersenyum pada Suci.
Note:
__ADS_1
Terima kasih banyak sudah support author. Jangan lupa untuk mampir di novel terbaruku berjudul "Suamiku Gay".
Meski terlambat tapi saya tetap ingin mengatakan, Minal aidzin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin untuk kalian semua🤗🤗🤗