
Riki Pov.
Aku tak pernah menduga akan bertemu seseorang saat menghadiri pernikahan sahabatku Doni. Istri Doni sangat mirip dengan wanita yang dulu pernah mengisi kesepianku.
Aku terus memperhatikan dia. Apa dia adalah wanita yang sama yang pernah ku temui atau memang orang lain ? benar-benar mirip, hanya saja berbeda penampilan.
Suci sangat tertutup sedangkan wanita itu begitu terbuka pakaiannya.
Aku tak bisa mengalihkan pandanganku dari Suci saat bertemu dengannya. Dan aku tahu pasti dia merasa tidak nyaman.
Semakin ku perhatikan Suci dan wanita itu mungkin saja orang yang sama. Aku harus meyakinkan lagi diriku sendiri.
Hari ini kebetulan Doni sudah mulai masuk kerja. Aku akan mencari cara supaya bisa menemui Suci.
"Assalamualaikum maaf menganggu. Saya mau bertemu Doni. Apa dia ada di rumah ?" saat ini aku sudah berada di rumah Doni.
Aku pura-pura tidak tahu bahwa Doni sebenarnya sudah kembali bekerja.
"Waalaikumussalam. Maaf, mas Doni sedang tidak ada di rumah." Suci menjawab meski dengan pandangan tertunduk.
"Ohhh sudah mulai kerja ya ? maaf saya kira masih cuti."
"Ada yang penting ya mas ? nanti saya kasih tahu ke mas Doni."
"Nanti saja biar aku dan Doni bicarakan langsung."
Sebenarnya kedatanganku ke sini hanya untuk memastikan bahwa penglihatanku ini tidak bermasalah.
"Kalau begitu saya permisi ya Suci."
Segera ku tinggalkan tempat itu karena keraguanku sudah terjawab. Aku semakin yakin, sangat yakin seyakin-yakinnya bahwa Suci adalah benar-benar wanita itu, wanita dari masa laluku.
Wanita yang pernah sangat dekat denganku meski hanya sesaat.
Sepertinya aku akan sering menemui Suci. Dengan atau pun tanpa ada Doni di sisinya.
__ADS_1
Suci Pov.
Pagi ini aku dikejutkan dengan kehadiran Riki di rumah. Dia bilang ingin bertemu mas Doni.
Sebenarnya bukan karena pria itu ingin bertamu, namun Riki selalu saja menatapku saat kami bertemu, itulah yang membuatku merasa enggan untuk menemuinya.
Untung saja laki-laki itu hanya sebentar berada di rumah ini. Aku pun melanjutkan pekerjaanku, memijat kaki ibu.
"Siapa yang datang ?" tanya ibu.
"Temannya mas Doni. Katanya mau ada yang dibicarakan." Seraya memijat kaki ibu, aku pun menjawab pertanyaan beliau.
"Meski dia teman suamimu tapi kamu tetap harus jaga jarak dengan laki-laki itu. Biar bagaimanapun dia itu bukan mahram, takut timbul fitnah."
"Ya Bu. Tapi sepertinya Suci pernah bertemu dengan mas Riki. Tapi dimana ya ?" aku mencoba memutar otak untuk mengingat.
"Mungkin cuma perasaanmu."
Ibu benar itu cuma perasaanku, mungkin.
***
Sebelum masuk waktu ashar aku pergi ke kamar mandi. Membersihkan keringat dari seluruh badanku sambil sekalian mengambil wudhu.
Selesai ganti baju dan memakai mukena aku duduk di atas hamparan sajadah. Tak lama kemudian adzan yang kutunggu pun berkumandang.
Ku jawab setiap kalimat adzan itu dan melafadkan doa setelah selesai. Barulah aku sholat sunat qabliyah empat rekaat sebelum sholat wajib. Setelahnya ku dirikan sholat ashar empat rekaat.
Selepas sholat, dzikir dan sholawat tak lupa aku memanjat doa.
Ku rapikan dan ku simpan kembali mukena dan sajadah pada tempatnya.
"Assalamualaikum." Mas Doni menghampiriku yang tengah menyisir rambut.
"Waalaikumussalam." Ku simpan sisir dan segera berdiri. Ku cium tangan suamiku.
__ADS_1
"Capeku hilang setelah melihat istriku yang cantik ini." Mas Doni melingkarkan tangannya di pinggangku dan mengecup kening ini.
"Mas mandi dulu, aku sekarang mau siapin makan buat mas."
"Mandiin dong, mas pengen dimanja." Mas Doni bergelayut padaku.
"Mas kan udah gede, masa mau dimandiin. Ihh geli mas, aku gak sanggup membayangkannya." Aku terkekeh.
"Gak usah dibayangin, langsung praktek aja, ayo..." mas Doni menarik tanganku menuju kamar mandi.
"Mas nakal ya...kan aku mau siapin makan kamu." Ku lepas tanganku dari tangan mas Doni.
Dia tak mau kalah, sekarang tubuhku malah diangkat oleh suamiku dan dibawa masuk kamar mandi. Dengan segera mas Doni mengunci pintunya dan kembali memelukku erat.
"Mas, aku mau siapin..mm" mulutku dibungkam dengan bibir mas Doni.
"Kan ada bi Ayi yang siapin makanan buat kita semua. Sekarang kamu nurut aja sama suamimu ini." Mas Doni kembali menyerang bibirku dengan ciumannya.
"Sekarang mandiin aku." Mas Doni telah melepas semua pakaiannya tanpa malu.
Segera ku tutup wajahku dengan kedua tangan agar tak melihat semua itu.
"Ngapain tutup mata ? kan udah tahu..." mas Doni menyingkirkan tanganku pada wajah ini.
"Tetep aja mas kalo lihat kayak gitu aku geli."
Mas Doni terkekeh. Ya sudahlah...akan ku mandikan suamiku ini sampai bersih ke otak-otaknya sekalian. Biar gak ngeres.Tapi gak apa-apa kan kalo suamiku selalu berpikiran seperti itu pada istrinya sendiri.
Aduhhh aku tak bisa fokus membersihkan badan mas Doni karena dia terus saja menghujaniku dengan ciuman.
"Mas, jangan bermesraan saat di kamar mandi. Tidak boleh !"
"Ini cuma pemanasan saja, kita akan lanjutkan di tempat tidur."
Ya ampun suamiku ini gak cape apa, baru pulang kerja masih mau lembur di rumah. Tapi tetap saja aku tidak boleh menolak. Ini adalah salah satu kewajiban seorang istri.
__ADS_1