
Sebulan berlalu setelah kejadian buruk yang menimpa Raisya.
Saat ini, dia tengah berada di Jepang bersama orangtuanya. Ingin menghabiskan banyak waktu dengan Bu Merly sekaligus liburan. Setelah mengalami syok, dia harus merelaksasikan pikirannya.
Sementara Riki dan Suci masih ada di kamar mereka. Duduk berdua sambil berpelukan. Malam itu mereka berbincang.
"Besok pagi kita berangkat ke suatu tempat."
"Kemana mas ?"
"Nanti kamu juga tahu." Riki tersenyum tanpa mau menjawab dengan jelas.
"Jangan main rahasia-rahasiaan. Memang mas mau mengajakku kemana ?" Suci melepas pelukannya.
"Pokoknya ke tempat yang indah. Kita kan, harus pergi untuk melancarkan bulan madu kita yang tertunda." Riki menggerakkan alisnya naik turun.
Bulan madu yang tertunda ? lalu selama ini kamu sebut apa kebersamaan kita ? kamu bahkan sering membuatku kurang tidur. Ahhh !
Suci terbaring miring membelakangi suaminya, ia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut dan hanya terlihat kepala saja.
"Bukan bulan madu, maksudku besok kita akan berlibur ke suatu tempat di luar kota." Riki ikut terbaring miring dan memeluk Suci dari belakang.
Sepertinya aku harus mengganti kata bulan madu menjadi liburan, agar Suci tidak tertekan.
Ada senyum geli di bibir Riki.
Modus. Aku tahu bahwa artinya sama saja. Mau liburan atau bulan madu, tetap saja aku yang kena.
"Heyyy kenapa diam ? apa kamu maunya liburan ke luar negri ? bilang saja mau ke negara mana ? ke Paris, Korea atau keliling monas saja ?" Riki sudah terbahak dengan leluconnya sendiri.
"Mas, kamu....!" Suci menghadap suaminya dan mengerucutkan bibir.
Tidak lucu !
Matanya mendelik pada Riki yang masih terkekeh-kekeh.
"Katakan kamu mau kita liburan kemana ?" Riki masih menahan tawanya.
"Tidak mau kemana-mana."
"Baiklah, mau di dalam kamar berapa lama pun tidak masalah. Itu malah mengasikan." Riki terus menggoda.
Senyum mencurigakan itu. Aku tahu apa maksudnya. Baiklah, dia benar. Mau diam di kamar selamanya pun aku malah semakin ringsek dilahap suamiku. Memang lebih baik pergi saja.
"Baiklah mas, tidak usah jauh-jauh ke luar negeri. Di Indonesia banyak sekali tempat yang indah." Akhirnya Suci pun mengalah.
Mau menolak atau tidak pun sama saja, dia yang kena. Jadi lebih baik let's go ! setidaknya dia bisa memanjakan matanya melihat pemandangan yang cantik.
"Baiklah sayang. Sekarang kita tidur." Riki tersenyum penuh kemenangan.
Pria itu memeluk dan membelai kepala istrinya hingga mereka terlelap. Tumben tidak berakhir di adegan final. Tentu saja karena itu sudah terjadi sebelum mereka berbincang. Riki tidak akan melewatkan semalam pun untuk berolahraga.
Esok paginya.
Mereka sudah on the way menggunakan mobil. Riki bisa duduk dan bermanja-manja pada istrinya di kursi belakang, karena ada sopir yang mengantar ke Bandara. Tujuan liburan mereka di luar kota namun masih berada di pulau Jawa.
Siang hari keduanya sudah berada di kamar hotel.
Suci terpukau melihat pemandangan yang bisa jelas terlihat dari kamarnya. Terasa lebih dekat dengan alam, lebih sejuk dan menenangkan hati.
Design kamar itu sederhana namun terlihat cantik. Fasilitas di dalamnya cukup lengkap. Bahkan ada juga mesin pembuat kopi.
Puas melihat-lihat isi kamar, Suci membersihkan badannya yang terasa lengket. Sementara Riki masih terbaring di tempat tidur sambil menelpon adiknya.
"Mas curang, liburannya pas aku tidak ada di sana." Suara kesal Raisya terdengar nyaring di telinga kakaknya.
"Jangan berkata begitu ! kamu kan juga sedang liburan di sana. Lagipula tidak akan seru jika mengajakmu juga. Nanti malah mengganggu lagi."
"Ahhh mas ini. Jangan keseringan menerkam mbak Suci, kasihan !" Raisya kali ini cekikikan.
"Itu urusan mas. Bagaimana kabar mama dan papa ?" agak sedikit kesal bercampur malu di benak Riki. Dia mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Mereka baik. Saat ini........
........." Raisya terus nyerocos menjelaskan kabar dan aktivitas orangtuanya di Jepang.
Riki tidak mendengarkan sepenuhnya perkataan Raisya. Fokusnya berpindah pada wanita yang baru saja keluar dari kamar mandi. Riki langsung berganti posisi menjadi duduk.
Suci melepas handuk kecil yang melilit di rambutnya sambil berkaca. Dia menggosok-gosok rambut basah itu agar tidak bercucuran ke lantai.
"Halo mas ! kenapa diam saja ? mas tidak ketiduran kan ?!" Raisya terus berhalo-halo ria.
"Sudah dulu ya. Mas ada urusan penting." Riki langsung mengakhiri pembicaraan itu.
Dia segera menghampiri Suci.
"Hmmm wangi sekali istriku ini !" Riki memeluk tubuh Suci dari belakang. Dihirupnya aroma segar dari leher dan rambut yang masih basah itu.
__ADS_1
Mulai ! aku tahu apa yang kamu mau !
Suci sedikit mesem. Dia tahu persis apa yang ada di otak suaminya.
"Kenapa semakin hari kamu semakin menggemaskan ?" Riki semakin mengeratkan pelukannya, membuat Suci engap.
Mas Riki terlalu berlebihan, aku hanya perempuan dengan wajah yang biasa saja.
Riki memutar tubuh Suci agar berhadapan dengannya. Setelah menatap lekat-lekat wajah yang sudah memerah itu, dia melahap habis semua area favoritnya. Dan sudah dipastikan kelanjutannya seperti apa.
Handuk ? dimana handuk ?
Suci baru sadar bahwa kini tangannya sudah tidak memegang handuk kecil itu. Tenang saja, benda tidak terlalu penting itu kini sudah teronggok begitu saja entah dimana. Riki melemparkannya ke sembarang tempat.
***
Usai beristirahat dan membersihkan diri, keduanya turun untuk makan siang. Menu khas tanah air dipilih Suci untuk mengisi perutnya yang berdendang. Riki ngikut saja apa kata ibu negara.
Sebelumnya mereka mencicipi sedikit menu pembuka berupa lumpia basah dan goreng. Baru setelahnya menyantap hidangan utama.
Nasi goreng bakar sudah ada dihadapan mereka. Tidak lupa es cendol yang segar juga menemani.
Menu makanan khas Indonesia yang sederhana namun sudah mendunia itu, disantap sampai habis.
"Riki ? benar kan ? apa kabar ?" seorang gadis cantik dengan tubuh agak montok menghampiri meja mereka.
Riki belum sempat menghindar ketika gadis sexy itu cipika-cipiki dengannya. Dia terlalu kaget dengan kehadiran gadis itu yang tak pernah terduga.
Sementara itu Suci sudah menatap tajam pada keduanya. Lebih enek lagi melihat gadis itu seenaknya duduk di sebelah Riki tanpa permisi terlebih dulu.
"Rik, kamu tidak ingat padaku ? aku Alice. Sudah lama sekali ya, kita tidak bertemu."
Riki semakin tampan saja.
Alice tersenyum dan terus menatap pria yang memang sudah diincarnya sejak di bangku kuliah. Hatinya membuncah bahagia dengan pertemuan mereka.
"Ya, aku ingat." Riki tersenyum malas.
Tentu saja aku ingat pada perempuan genit sepertimu yang selalu saja mengejar-ngejarku dulu. Kenapa harus bertemu dengan perempuan badut ini sekarang ? mengganggu saja !
"Aku di sini sedang ada pemotretan. Kamu sendiri, apa ada urusan bisnis ?" tangannya merayap nakal pada paha Riki. Pria itu melotot dan menghempaskan tangan asing yang berani menyentuhnya.
"Ayo sayang, kita kembali ke kamar." Riki berdiri dan menghampiri Suci.
Suci dan Alice bersitatap tajam. Ada aroma permusuhan diantara mereka. Keduanya sama-sama merasa panas.
"Riki, aku tinggal di kamar C. Jika kamu ada perlu denganku, aku dengan senang hati membuka pintu untukmu." Alice menatap penuh goda pada Riki, namun pria itu sama sekali tidak perduli.
"Ayo sayang." Riki membantu Suci untuk berdiri. Dia menggandeng istrinya itu dengan mesra.
Kamu mau pamer ya ? kenapa seleramu rendah sekali Riki ? aku jauh lebih menarik dari wanita itu.
Sorot kebencian terpancar dari mata bening milik model kelas teri itu. Tidak terima jika dia yang menurutnya lebih cantik dari Suci, malah selalu ditolak oleh Riki.
Alice adalah teman kuliah Riki. Bertahun-tahun dia mengejar pria tampan itu, namun tak pernah berhasil. Riki selalu cuek dan tak perduli padanya. Akhirnya dia pun menyerah.
Kini setelah bertemu lagi dengan incaran hatinya, terlebih melihat pria itu menjadi semakin menarik, hasrat untuk memilikinya pun bangkit kembali.
Riki sudah punya istri, itu tidak masalah. Aku akan mencoba lagi untuk memilikinya.
Alice tersenyum menyeringai.
***
Suci telungkup di atas kasur. Semenjak kedatangan Alice, dia belum membuka suara. Dadanya sangat sesak dan matanya sudah membendung air.
"Kamu marah ? maaf, aku tidak tahu jika perempuan itu akan muncul." Riki duduk di samping Suci dan mengusap punggungnya dengan pelan.
Suci masih bungkam.
"Dia Alice, teman kuliahku dulu. Kami tidak ada hubungan apa-apa."
"Teman ? kenapa kalian mesra sekali ? mas juga diam saja saat wanita itu menyentuhmu." Suci bangkit dan duduk menghadap suaminya.
"Maaf, aku tidak menyangka wanita itu akan menyerangku tiba-tiba." Riki memegang kedua tangan Suci.
"Apa dia mantan pacar mas ?" Suci mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Dengar sayang, dia bukan siapa-siapa. Meski dari dulu dia selalu mendekati, tapi aku sama sekali tidak tertarik padanya. Dia itu gadis yang sangat agresif, aku tidak suka."
"Jadi kalau dia itu kalem, mas akan menyukainya ?" Suci sudah setengah berteriak. Tangannya dilepas paksa dari genggaman Riki.
"Tidak, bukan begitu ! dengar, mau sebaik atau secantik apapun para wanita di luar sana, aku tidak akan pernah tertarik pada mereka. Hatiku hanya milik kamu." Riki mengelus kepala istrinya namun Suci menghindar. Ia kembali terbaring membelakangi.
"Kamu cemburu ?" Riki berbisik di telinga Suci, tangannya sudah melingkar di pinggang mungil milik istrinya.
__ADS_1
Suci tidak menjawab, air matanya sudah berderai. Meski tanpa bersuara, Riki dapat mengetahui jika istrinya tengah menangis.
Riki membalikkan tubuh Suci agar berhadapan dengannya. Dia menyeka bulir-bulir bening yang berjatuhan di wajah sendu wanita itu.
"Kenapa menangis ? maaf jika aku tidak sengaja menyakiti perasaanmu. Aku berjanji akan selalu menjaga pernikahan kita. Aku hanya mencintai kamu." Riki mengecup lama kening istrinya.
Riki merasa senang atas kecemburuan istrinya. Tapi dia juga tidak mau melihat Suci menangis.
Aneh, biasanya Suci bisa mengontrol perasaannya. Dia bahkan bersikap tenang saat bertanya mengenai kedekatanku dengan Lena. Tapi kali ini dia begitu marah dan sampai menangis.
"Mas, aku tidak mau kehilangan lagi orang yang ku cintai. Jangan pernah meninggalkanku." Suci memeluk erat tubuh Riki. Tangisnya semakin pecah.
"Aku janji akan selalu setia padamu. Kamu jangan takut. Percaya padaku !"
Bukan hanya Riki, bahkan Suci pun bisa menyadari bahwa kini dia lebih sensitif. Namun dia belum bisa mengontrol perasaannya.
***
Jam 10 malam.
Suci sudah terlelap di atas tempat tidur. Sementara Riki duduk di sebelahnya, masih sibuk berbicara di telepon dengan rekan kerjanya.
Tiba-tiba pintu diketuk. Awalnya Riki tidak mempedulikan, namun si tamu yang tak diinginkan itu terus saja menggedor pintu.
Dengan terpaksa, Riki mengakhiri pembicaraannya di telpon. Ia segera beranjak ke arah pintu. Setelah diintip, ternyata orang yang sudah menggangunya itu adalah Alice.
Biarkan saja dia terus berdiri di luar sampai kakinya bengkak.
Riki membalikan badannya.
"Rik, jika kamu tidak membiarkanku masuk maka aku akan teriak !" dan wanita itu benar-benar melakukannya.
Wanita gila !
Riki akhirnya membuka pintu. Bukan karena takut dengan ancaman Alice, dia hanya ingin memberi wanita itu pelajaran.
"Hai, Rik !" Alice tersenyum so sensual.
Riki memutar bola matanya malas.
"Aku masuk ya." Dengan pedenya Alice melenggang ingin ke kamar Riki, namun tentu saja dihalangi.
"Pergi saja ke kamarmu sendiri. Aku tidak mau kau mengganggu tidur istriku."
"Kamu galak sekali, sama seperti dulu, tapi sekarang malah lebih seram. Tapi aku suka ! ohhh atau kamu yang mau ke kamarku ?" Alice mendekatkan wajahnya ke wajah Riki.
"Hey, kau tidak punya harga diri ya ? cepat pergi !" Riki mendorong keras pundak wanita itu hingga terjengkang.
"Awww." Alice meringis kesakitan.
"Ada apa mas ?" Suci sudah berdiri di belakang Riki.
"Kamu kasar sekali Riki. Sakit tahu !" Alice berdiri dan meringis semakin kencang agar Suci bisa mendengarnya.
"Kau !" Riki melotot tajam pada Alice.
"Maaf nona. Ada perlu apa anda ke kamar kami malam-malam begini ?" Suci mendekati Alice dan menatapnya penuh tantangan.
"Emmmm aku memang ingin menemui Riki."
Dasar wanita gila !
Riki geleng-geleng kepala. Pusing juga dengan kelakuan Alice yang sudah sangat mengganggunya.
"Apa anda tidak pernah sekolah, tidak tahu tata krama ? sebaiknya anda tidak lagi mengganggu kami. Apa anda tidak tahu bahwa kami ini masih pengantin baru ? jadi sebaiknya anda tahu diri. Atau saya akan panggil pihak keamanan." Suci nyerosos penuh kesal membuat harga diri Alice anjlok. Dia tak bisa membela diri.
"Permisi mbak Alice, kami mau bersenang-senang. Silahkan saja jika masih betah berdiri di sini. Tapi jangan mengganggu !" Suci tersenyum sarkas dan berlalu dengan menggandeng mesra suaminya.
Brakkk ! pintu ditutup sangat keras oleh Suci. Dia langsung menguncinya.
So sekali perempuan itu !
Alice terpaksa pergi ke kamarnya dengan menggerutu kesal.
Wahhh tidak kusangka, ternyata istriku ini pemberani juga ! tadinya aku yang akan memberi pelajaran pada wanita badut itu.
Riki tersenyum bangga. Dia hendak mencium pipi Suci namun dihalangi oleh tangan dari istrinya itu.
"Diam mas, kamu tidur di sofa, aku tidak mau diganggu." Suci mengerucutkan bibirnya.
Ia naik ke atas kasur dan bersembunyi di balik selimut. Riki ikut berbaring dan menghadapnya.
"Kenapa kamu jadi galak begini ? bukannya tadi kamu bilang kita akan bersenang-senang di depan wanita gila itu ?" Riki mencolek-colek pinggang Suci.
"Diam mas ! tidur sendiri di sofa, ini hukuman karena kamu sudah membukakan pintu untuk wanita itu." Suci berbicara namun masih tidak mau bersitatap.
Suci benar-benar marah. Lebih baik aku menurut saja. Kenapa sikapnya jadi galak begini ?
Riki akhirnya tidur terpisah untuk mengindari peperangan. Entah kenapa mood istrinya itu kini mudah panas, apakah Suci sudah tertular oleh sikap posesif Riki ?
__ADS_1
Note:
Mohon maaf sekali karena author baru bisa update malam ini. Hari ini saya lebih sibuk daripada biasanya. Tapi tetap diusahakan membuat episode baru meskipun menahan kantuk. Ini semua demi kalian para pembaca yang selalu setia menunggu lanjutan cerita ini.