Seperti Sampah

Seperti Sampah
Balas dendam Toso.


__ADS_3

"Nyonya bos semakin cantik saja." Barbie mencoba menggoda Suci saat di kantin. Di mulutnya masih terjejal gorengan.


"Biasa saja ah. Jangan panggil nyonya bos, seperti biasa saja. panggil mbak !" Suci tersenyum lalu menenggak air putih yang ada di hadapannya.


"Ibu bos, ternyata instingku benar. Antara anda dengan bos Riki, memang ada hubungan spesial." Arif berbicara formal namun dengan tujuan banyolan. Kepalanya mengangguk-angguk so serius.


"Kalau sudah jodoh ya mana mungkin bisa menghindar." Suci nyengir.


"Semoga mbak bos bisa selalu hidup bahagia bersama Pak Riki." Irfan dengan tulus mendoakan teman yang sudah dianggapnya seperti kakak sendiri.


"Aamiin. Terima kasih doanya. Semoga kamu, Barbi dan Arif juga segera dapat jodoh yang baik." Suci menyunggingkan senyum.


"Aamiin." Ketiganya berucap bersamaan.


Betapa beruntungnya Suci, selain mempunyai keluarga dan suami yang baik, dia juga dikelilingi oleh teman yang tulus menyayanginya.


"Terima kasih sudah mau jadi temanku."


"Kami senang bisa mengenal mbak bos." Irfan merespon dengan nada bangga.


"Sudah ku bilang, panggil seperti biasa saja. Jangan pake embel-embel bos. Mbak kan bukan bos di sini. Yang bos itu cuma pak suami, hehe."


"Siap mbak." Ketiganya begitu kompak berbicara.


***


Jam istirahat sudah usai, Setelah ke Mushola kantor, Suci kembali ke ruangan Riki. Tidak ada suaminya di sana. Dia memutuskan untuk duduk di kursi kebesaran milik Riki.


Seolah menjadi orang yang berwibawa dan kharismatik, kursi itu seperti memberi efek kepercayaan diri yang tinggi bagi yang duduk di atasnya.


Suci bermain-main dengan memutar kursi kesana-kemari. Dia cekikikan seperti bocah.


Pantas saja waktu itu mas Riki senyum-senyum saat melakukan ini. Ternyata memang menyenangkan.


Padahal praduga Suci tidaklah tepat. Saat itu Riki mesem-mesem sambil memainkan kursinya, karena memang sedang baper pada istrinya itu.


Tak berapa lama Riki muncul.


"Sedang apa ?" Riki menghampiri Suci.


"Mas, maaf. Kamu dari mana ?" Suci beranjak dari duduknya.


"Habis ibadah. Sini !" Riki menduduki kursi yang tadi dimain-mainkan oleh Suci. Dia menepuk pahanya agar Suci mau duduk di situ.


"Tidak, terima kasih. Aku mau pulang sekarang mas. Kamu lanjutkan pekerjaanmu. Aku tidak mau mengganggu." Suci mundur satu langkah sambil nyengir.


"Ckkkk, kalau begitu kiss dulu ! biar aku tenang." Riki mengetuk bibirnya dengan jari telunjuk.


Mas Riki ini ! baiklah, hanya cium kan ?!


Suci maju lagi dan mengecup sebentar kedua pipi, kening lalu bibir Riki. Namun pria itu tak mau istrinya melepaskan bibirnya begitu saja. Dia menarik Suci agar lebih dalam dan lama berada di pelukannya. Akhirnya kec***n itu berubah menjadi ci***n memabukkan. Untung saja tidak berakhir ke adegan final.


Aktivitas mereka harus terhenti karena tiba-tiba ponsel Riki bergetar. Awalnya dia tidak mau mempedulikan, namun karena Suci mencubit keras pinggang Riki, terpaksa dia menerima panggilan telpon itu.


"Ada apa Raisya ?" Riki bebicara dengan nada kesal.


"Mas galak sekali. Aku hanya ingin memberi tahu, ada mas Toso di rumah. Katanya ingin bertemu dengan mbak Suci. Aku mencoba menghubungi nomer mbak Suci, tapi tidak aktif." Raisya memang tidak tahu sama sekali bahwa pria yang bertamu di rumahnya itu adalah pria licik.


"Dengar Raisya, suruh pria itu pergi. Jangan biarkan dia ada di rumah kita. Kamu tidak boleh dekat-dekat dengannya !" Suara Riki berubah panik.


"Memang kenapa ? laki-laki itu kan adik iparnya mbak Suci, dia pasti orang baik."


"Tunggu sebentar, mas dan mbak Suci akan segera pulang." Riki langsung menutup panggilan telpon.

__ADS_1


Sementara itu, Raisya hanya terbingung-bingung tak mengerti apa maksud kakaknya.


"Ada apa mas ?" Suci penasaran.


"Toso ada di rumah. Aku takut pria brengsek itu akan berbuat ulah." Riki bergegas memakai jasnya.


Suci ikut panik, dia tahu betul karakter adik iparnya itu. Toso termasuk pria yang nekat dan juga licik. Apalagi setelah mengetahui bahwa laki-laki itu mencoba mempengaruhi Riki untuk meninggalkannya. Toso memang pria berbahaya.


Akhirnya Suci dan Riki bergegas pulang. Mereka harap Toso tidak berbuat macam-macam.


***


Raisya entah kenapa tiba-tiba malas bekerja siang itu. Dia sengaja pulang dari butiknya. Dan tiba di rumah dia dikejutkan dengan kehadiran seorang pria yang merupakan adik ipar dari Suci.


Raisya menyambutnya dengan ramah. Sama sekali tak menaruh curiga pada Toso karena Raisya pikir pria itu pria yang waras. Dia bahkan membuatkan sendiri minuman untuk Toso. Dan di dapurlah Raisya menelpon Riki untuk memberi tahukan keberadaan pria itu di rumahnya.


"Mas, mbak Suci sedang ada di kantornya mas Riki. Tunggu saja di sini." Raisya duduk berhadapan dengan tamu tak diundang.


"Baiklah. Saya memang mau membicarakan hal penting dengan kakak ipar." Toso menampilkan senyum manis penuh duri.


"Kalau begitu aku mau ke atas dulu. Mas santai saja di sini, anggap rumah sendiri." Raisya tersenyum dan segera beranjak ke kamarnya.


Toso hanya manggut-manggut meski pikirannya jalan-jalan. Dari tadi dia sebenarnya memperhatikan setiap lekuk tubuh Raisya.


Gadis itu sangat cantik dan menarik. Sepertinya boleh juga. Tak ada Suci, Raisya pun jadi. Balas dendam itu tidak perlu menyerang langsung pada orangnya. Akan sangat menyenangkan jika melihat Suci dan Riki terpukul karena melihat adik mereka tersakiti. Bahkan sepasang suami istri itu akan merasa sangat bersalah karena sudah tidak becus menjaga Raisya. Bukankah rasa penyesalan itu jauh lebih menyakitkan daripada dipenjara ?


Toso menyeringai. Rencana licik kembali menghampiri otak ngeresnya. Pria itu tidak tahu jika Raisya sudah menghubungi Riki untuk memberi tahu keberadaannya di rumah ini.


Toso celingukan dan segera naik ke lantai atas. Dia memasuki sebuah kamar yang pintunya tidak terkunci. Dia yakin sudah ada di kamar Raisya, karena di dindingnya banyak terpampang foto-foto gadis cantik itu. Segera dikuncinya kamar itu.


Raisya memang benar-benar wanita yang menarik. Cantik dan menggoda !


Toso mengelus-elus dagunya sambil terus menatap gambar Raisya yang tengah berpose sexy memakai baju serba mini. Otak laki-laki itu semakin berfantasi liar.


Ia masih memakai jubah mandi. Rambutnya yang masih basah digulung oleh handuk kecil. Tubuhnya gemetaran melihat pria asing ada di kamarnya dan menatapnya lapar. Raisya sudah tak enak hati.


Apa yang dimaksud mas Riki adalah ini ? aku seharusnya menyuruh dia pulang. Ternyata laki-laki ini memang tidak tahu sopan santun.


"Pergi dari kamarku sekarang juga ! atau...aku akan panggil polisi !" Raisya sudah mengambil ponselnya dari nakas. Dia segera menekan tombol darurat untuk menghubungi pihak berwenang.


"Halo ! halo !" suaranya gemetaran.


"Aku tidak akan menyakitimu sayang. Aku hanya ingin memberikanmu kesenangan. Jangan membuatku terlihat seperti penjahat." Toso semakin mendekat dan senyumnya sangat menakutkan.


"Halo ! tolong saya ! ada seorang penjahat di kamar saya !" Raisya terus mencoba berbicara meski belum ada yang merespon.


Toso merebut ponsel itu dan melemparnya ke atas lantai. Namun untung saja benda itu jatuh pada karpet dan panggilan darurat itu masih aktif. Namun Toso tak menyadarinya karena fokusnya hanya pada mangsa yang ada di depannya.


Dengan tatapan liar seolah ingin menerkam, Toso terus mendekat.


"Minggir brengsek ! jangan berani menyentuhku !" Raisya berteriak meski suaranya masih bergetar.


Toso tak peduli. Raisya akhirnya menendang bagian inti pria itu dengan siku kakinya. Dia segera berlari ke arah pintu. Sial ! pintunya terkunci. Dan kunci itu sudah ada di genggaman Toso.


Toso menggeram kesakitan, matanya merah menyala penuh amarah. Menatap tajam pada Raisya.


Ya Tuhan tolong aku !


Raisya sudah semakin lesu dan gemetaran. Pria itu memaksakan berjalan menghampiri gadis itu. Amarahnya lebih besar daripada rasa sakitnya pada area yang diserang Raisya.


Dengan kasar Toso menyeret handuk kecil yang menggulung rambut Raisya hingga gadis itu terpaksa mengekornya. Bahkan handuk itu sampai terlepas dari rambut basah Raisya, dan teronggok begitu saja di lantai.


Raisya meringis kesakitan karena pria itu sama sekali tak melepaskannya. Dia benar-benar marah.

__ADS_1


Sakit hati pada penolakan Suci, amarah pada Riki yang sudah menjatuhkan harga dirinya. Kali ini ditambah dengan perlawanan keras yang dilakuan Raisya terhadapnya, semakin membuatnya kehilangan akal. Toso benar-benar sudah kalap dan tidak bisa berpikir jernih.


Toso berpikir bahwa balas dendamnya akan ditumpahkan semua pada adik dari musuhnya ini.


"Tolong lepaskan. Kita baru saja kenal, aku tidak pernah berbuat salah padamu." Raisya memelas bahkan air matanya sudah bercucuran.


Toso tidak mau bersimpati. Dia terus melancarkan aksi bejatnya. Raisya didorong agar terlentang di atas lantai. Pria itu segera mengukungnya.


Pintu digedor keras dari luar. Suci dan Riki sudah ada di depan kamar Raisya. Mereka berteriak-teriak.


"Raisya buka pintunya !" Riki bertambah panik.


"Raisya apa yang terjadi di dalam ?" Suci tak kalah panik.


Tak ada jawaban dari sana karena mulut Raisya sudah dibekap.


"Suci, ambil kunci cadangan di kamar kita !" Riki bicara sambil masih berusaha mendobrak pintu. Dia berharap pintu berhasil dibuka secepatnya.


Suci menurut. Dengan gemetaran tangannya mencari benda yang diminta Riki. Karena panik, dia tidak melihat kunci itu sudah tergeletak di atas lantai karena tak sengaja jatuh olehnya.


Astagfirullah....tenang dan fokus !


Saat Suci bergeser kakinya menginjak benda yang dia cari. Ia segera mengambilnya lalu berlari menghampiri Riki.


"Mas." Kunci disodorkan.


Riki segera mengambil dan mencoba salah satu kunci untuk membuka pintu kamar adiknya. Tangannya gemetaran panik.


"Aarghhhh ! yang mana kuncinya ? terlalu banyak kunci yang disatukan !" Riki berteriak frustasi.


"Mas tenang, cobalah fokus !" sebenarnya Suci pun masih panik.


Tolong kami ya Tuhan !


Riki akhirnya berhasil membuka pintunya. Dia segera berlari masuk ke kamar.


"Brengsekkkk ! beraninya kau menyentuh adikku !" Riki menendang tubuh Toso hingga pria itu menghentikan aksi bejadnya.


Suci membenarkan jubah mandi Raisya yang sudah melorot. Dia membantu adik iparnya untuk berdiri.


Sementara itu, Riki terus menghajar wajah dan perut Toso habis-habisan. Dia tak membiarkan pria brengsek itu untuk melawan. Riki meninjunya tanpa jeda.


"Kau sangat menjijikan Toso ! aku tidak akan melepaskanmu kali ini !" Riki menendang sekeras mungkin bagian kaki Toso.


"Ampun mas ! ampun !" Toso memegangi perutnya yang sakit.


"Mas sudah ! jangan sampai kamu menjadi pembunuh gara-gara dia. Lebih baik kita bawa ke kantor polisi." Suci berteriak histeris sambil mengusap punggung Raisya.


Dia menangis ketakutan suaminya akan menghadapi masalah yang lebih rumit jika sampai menghilangkan nyawa orang.


Raisya hanya menangis di bahu Suci, dia benar-benar syok.


Tak berapa lama beberapa orang polisi datang dan segera membawa Toso pergi. Pria tak berakhlak itu harus mempertanggung jawabkan semua perbuatannya.


Riki sudah agak lega karena dia sempat menghajar habis-habisan pria brengsek itu.


"Mas ke kantor polisi dulu untuk memberi kesaksian." Riki mengusap lembut rambut adiknya yang acak-acakan.


Raisya tidak menjawab, dia masih syok dan menangis tak hentinya.


"Hati-hati mas. Aku akan membawa Raisya ke Rumah Sakit."


Riki mengangguk dan segera pergi. Dia percaya bahwa istrinya akan menjaga adik satu-satunya dengan sangat baik. Namun kejadian mengerikan ini membuatnya merasa gagal menjadi seorang kakak. Dia tidak bisa menjaga dan melindungi Raisya dengan baik.

__ADS_1


__ADS_2