
Waktu tidak mungkin akan berhenti meski kau menginginkannya. Ia akan berjalan bahkan mungkin tanpa disadari sebagian besar orang. Sehari, seminggu, setahun dan berpuluh tahun kadang terasa terlewati dengan sekejap mata.
Beberapa tahun berlalu dengan cepat. Kini Yusuf sudah duduk di bangku SMA. Khaira dan Khesya masih memakai seragam putih biru.
Siang itu sepulang dari sekolah, Khaira menangis tersedu di depan gerbang. Khesya menghampirinya. Mereka tidak keluar bersamaan karena beda kelas.
"Kenapa Khai ? kamu diganggu lagi sama si Louis ?" yang ditanya hanya menjawab dengan anggukan. Khesya menepuk-nepuk sebelah tangannya yang mengepal. "Sepertinya si brengsek itu harus diberi pelajaran."
Dan besoknya Khesya melancarkan rencananya. Dia bertukar posisi dengan Khaira. Sepulang sekolah Sya yang pura-pura menjadi Khai, sengaja melambatkan diri pergi dari kelas. Dia menunggu Louis untuk balas dendam. Saat sudah tak ada siapapun di sana, anak laki-laki itu menghampiri.
Louis menggebrak meja, "Mana jatahku ? hari ini aku mau traktir teman. Jadi kau harus memberiku dua kali lipat."
Sya sudah geram tapi dia kan sedang akting menjadi Khai dulu, jadi harus bersikap pendiam. "Kenapa tidak minta orangtuamu saja ? kenapa minta padaku ? aku tidak punya uang."
"Bohong, kau anak orang kaya. Tidak mungkin tidak punya uang." Louis berkacak pinggang sambil melotot.
"Yang kaya itu orangtuaku, bukan aku !" Sya tidak bisa lagi menahan amarah. Nada bicaranya meninggi. Tangannya terkepal erat.
"Kenapa kau sekarang mendadak berani membantah ?"
"Heyyy anak tidak waras ! kau disekolahkan selama beberapa tahun dalam hidupmu, tapi tak ada yang nyantol di otakmu sedikitpun. Anak sekolah harusnya punya sopan santun, bukan berlaga seperti preman ! bukankah ayah ibumu juga orang kaya ? kenapa tidak minta uang saja pada mereka ? lagipula jangan so ingin traktir teman jika mengandalkan uang jajan orang lain !" Sya mendekat dan menantang anak itu.
"Tunggu, kau bukan Khaira ! kau Khesya bukan ?! meski kalian kembar identik, tapi sikap kalian berbeda. Khaira tidak mungkin kasar dan songong sepertimu !"
"Aku memang Khesya. Mau apa kau ?jangan bilang kalau kau itu takut padaku !" gadis kecil itu berkacak pinggang.
"Aku sama sekali tidak takut." Louis bersiap meninju namun tangannya berhasil dicengkram dan dipelintir oleh Khesya.
"Awwww awww awww ! sakit ! kau mengataiku preman, kau sendiri juga seperti preman."
"Apa kau bilang ?" kali ini bagian perut Louis dihajar dengan siku kakinya.
"Aaaa...! kau !" sebelah tangannya memegang perut.
"Ada apa ini ? ikut bapak ke ruang BP !" mendadak pak Andi muncul. Guru sangar itu terlihat murka.
Kedua anak yang bersitegang itu lekas menghentikan perdebatan lalu mengekor pak Andi. Khesya yang ada di belakang Louis tak henti bermain-main dengan tinjunya. Seolah sedang benar-benar memberi bogem mentah pada anak laki-laki itu. Louis menoleh ke belakang sambil melotot. "Apa ?" dia bicara pelan tapi masih bisa didengar pak Andi.
"Apalagi ?" guru BP melotot lagi.
Kedua murid menggeleng bersamaan.
Di ruang BP. Khesya dan Louis duduk bersebelahan. Mata mereka saling mengintimidasi. Pak Andi berdehem keras, "Kenapa kalian berkelahi ?"
"Dia duluan pak !" Sya menunjuk Louis.
"Tidak ! dia yang mulai duluan memelintir tangan saya." Louis tak mau disalahkan.
"Itu karena dia berani malak saya dan juga ingin memukul saya pak !"
"Diam semuanya ! baru kali ini ada siswa berkelahi dengan seorang siswi. Khaira, bukankah kamu itu anak yang pendiam ? kenapa sekarang jadi brutal ?"
"Saya... sebenarnya bukan Khaira, saya Khesya."
"Tuh kan pak, sudah jelas dia ingin melakukan hal buruk pada saya. Sampai sengaja menyamar jadi kembarannya."
"Bukan pak ! itu karena saya ingin memberinya pelajaran. Louis selalu mengganggu saudara kembar saya."
Pak Andi menggebrak meja. "Kalian sama-sama salah. Kamu Louis, harusnya jangan bersikap kasar pada anak perempuan. Dan kamu Khesya, jika mau memberi pelajaran pada Louis, harusnya kamu laporkan saja pada bapak tentang kenakalannya."
Kedua siswa itu tertunduk. Mereka pun sebenarnya mengetahui bahwa kelakuannya salah.
"Kalian akan diskors selama tiga hari."
__ADS_1
"Apa ?" Louis berteriak. Sementara Khesya kalem saja. Dia malah senang jika harus tidak pergi ke sekolah selama tiga hari. Berarti dia bisa bermalas-malasan di rumah.
"Tapi tentu saja akan ada banyak tugas yang harus kalian kerjakan."
"Apa ?" kini giliran Khesya berteriak. Lamunannya untuk tidur seharian pun sirna.
"Kenapa ? kamu tidak mau diberi tugas ? baiklah, kamu dibebaskan dari semua tugas sekolah selama tiga hari, tapi bapak akan memanggil walimu ke sekolah. Selain itu juga dengan senang hati saya akan mengeluarkan kamu dari sekolah ini !" sorot mata pak Andi tertuju pada Khesya.
"Baik pak, saya siap mengerjakan semua tugas asalkan jangan beritahu mereka. Saya juga tidak mau dikeluarkan dari sekolah tercinta ini." Sya pura-pura memelas.
"Jika begitu, maka mulai sekarang kalian jangan buat masalah lagi !" Pak Andi berteriak-teriak hingga air liurnya muncrat.
"Baik pak !" keduanya menjawab serempak sambil menutupi wajah agar tidak tersiram hujan liurnya guru BP.
***
Detik jam terus bergulir. Hari ini adalah hari perpisahan sekolah Yusuf. Suci dan Riki hadir di sana.
Orangtua atau wali dari siswa paling berprestasi dipersilahkan memberi sepatah dua patah kata di atas panggung. Karena Yusuflah anak paling terbaik di sekolah itu, maka Riki yang akan sedikit berpidato.
Pria yang masih gagah itu beranjak dari duduknya. Dia mengulurkan tangannya ke arah Suci. Istrinya itu tentu saja keheranan. "Apa ?" sebenarnya Suci merasakan firasat yang aneh. Sepertinya akan ada hal memalukan yang akan segera menimpanya.
Riki tersenyum, "Temani aku naik ke atas sana."
Benar saja apa yang ku pikirkan ! dasar suami aneh !
Suci menggelengkan kepalanya cepat.
"Cepat sayang, pegang tanganku ! atau kamu mau ku gendong ? jika kamu terus diam seperti ini, maka aku benar-benar akan melakukannya."
Hah ? gila apa ? umur semakin tua tapi kelakuannya belum berubah. Dia pikir masih pantas memamerkan kemesraan di depan publik ?
Riki berdehem. Akhirnya Suci mengalah. Mereka jalan bersama bergandengan tangan. Saat di atas panggung pun Riki terus setia memegang tangan istrinya.
"Saya sangat bangga pada anak saya. Dia memang anak yang hebat. Itu juga karena ada seorang ibu yang sudah sangat mendukungnya. Istri saya tidak kalah hebat. Dia sudah memberi banyak cinta untuk saya dan juga anak-anak." Dan akhirnya pidato Riki lebih banyak mengagungkan nama istrinya.
Pembicaraan yang awalnya harus singkat, kini sudah memakan waktu lebih panjang. Penanggung jawab acara membiarkan saja salah satu ayah dari murid untuk terus berceloteh. Mereka menikmati hiburan yang dijamin tidak akan pernah terjadi di acara perpisahan sekolah lain.
Semua orang dari awal sudah cekikikan dan terbahak melihat kelakuan konyol Riki. Yusuf saking malunya langsung pergi ke toilet.
Tahu begini aku harusnya meminta opa saja untuk kemari. Papa benar-benar membuatku malu !
Dan hari itu akan terus dikenang oleh semua orang. Terlebih bagi Suci dan putra pertamanya. Mereka tidak akan pernah lupa akan perbuatan Riki yang sangat konyol.
***
Beberapa tahun berganti.
Usai merampungkan kuliah, Yusuf memutuskan membangun sendiri perusahannya. Dia tidak ingin mengganggu posisi Syarif. Sebuah perusahaan bernama Angkasa Group berhasil masuk jajaran sepuluh besar sebagai perusahaan terbesar di Indonesia, hanya dalam waktu singkat.
Angkasa Group yang awalnya hanya bergerak di bidang media, kini sudah merambah bidang finansial, properti dan juga sumber daya alam. Itu semua berkat ketangguhan Yusuf sebagai CEO perusahaan tersebut. Namun dia juga tak serta merta bisa melakukannya sendiri. Ada seorang asistennya yang setia mendampingi, Willy.
Willy selalu sigap melakukan segala perintah dari atasannya. Entah itu menyangkut perusahaan ataupun masalah pribadi. Mungkin itu terlalu berlebihan, tapi baginya itu adalah sebuah pengabdian. Dengan senang hati dia akan mengutamakan kepentingan Yusuf di atas kepentingannya sendiri.
Dan saat ini tengah dilakukan meeting dengan salah satu perusahaan yang ingin mengajukan kerja sama. CEO perusahaan itu tengah melakukan presentasi. Entah kenapa, dia begitu gugup tidak seperti biasanya. Melihat tatapan tajam dari CEO Angkasa Group membuatnya gemetaran. Suaranya bahkan agak tersendat.
Mungkin karena gosip yang beredar tentang Yusuf sudah sangat kuat di telinga para pengusaha. Konon katanya, Yusuf adalah jenis pengusaha yang keras. Tidak mudah untuk meyakinkan agar dia bisa menerima kerja sama. Dan dia bisa dengan jeli mencium kecurangan sekecil apapun yang dilakukan orang sekitarnya.
"Kami mempunyai banyak persediaan tembaga dengan....dengan..." pria itu mengelap dahinya dengan tangan. Entah kenapa dia melupakan kata yang harus dia ucapkan.
Yusuf terlihat masih bergeming. Memperhatikan pergerakan pria itu.
"Tembaga dengan...kualitas super bagus dengan harga..."
__ADS_1
Yusuf menghembuskan nafasnya kasar. Sudut matanya melirik ke arah Willy. Memerintahkan untuk mengakhiri meeting yang tidak berbobot itu.
"Baiklah pak Irwan. Saya rasa meeting kita harus dihentikan. Kita mungkin bisa melakukannya lagi jika anda sudah bisa lancar berbicara." Willy angkat bicara. Setelah itu dia mengikuti langkah atasannya keluar dari ruangan.
Yusuf berbicara di tengah derap langkahnya yang masih terdengar. "Will, pak Irwan bukanlah rekan yang tepat untuk kerja sama. Bicara saja dia tidak mampu, apalagi jika harus mengurus beberapa proyek yang besar."
Willy menunduk hormat, "Saya mengerti. Saya akan..." ponselnya bergetar. Dia segera merogoh saku celananya. "Maaf tuan, nona Khesya menelpon."
Yusuf menghentikan langkahnya. "Berikan padaku !" mengulurkan tangan. Dengan sigap asistennya itu memberi benda yang masih bergetar itu.
"Sya, ada apa ?"
"Kak Yusuf ? dari tadi aku mencoba menghubungi nomer kakak, tapi tetap saja tidak aktif. Khai, dia kabur dari rumah !"
"Apa ? kamu jangan takut, coba hubungi semua temannya. Kakak akan segera menyuruh orang untuk mencarinya."
Panggilan diakhiri. Ponsel diserahkan kembali pada yang punya.
"Will, suruh orang-orang kita mencari keberadaan Khaira, dia kabur dari rumah !"
Willy mengangguk. Dia segera menghubungi beberapa bawahannya.
Yusuf masuk ke mobil diikuti asistennya. Dia duduk di kursi belakang. Willy melajukan kendaraan itu menuju rumah besar. Sepanjang perjalanan, Yusuf terlihat gusar. Air mukanya sangat tegang. Beberapa kali dia membuang nafasnya berat. Yusuf merasa sangat bersalah dengan kepergian Khaira. Adiknya itu kabur pasti karena ingin menemui Dev, pacarnya.
Yusuf selama ini menentang hubungan mereka. Dia ingin melindungi adik-adiknya agar tidak terjerumus dalam hubungan sesat atas nama pacaran. Baginya kehormatan Khaira dan Khesya adalah tanggung jawabnya. Dia takut hanya karena cinta buta, adik-adiknya akan menyerahkan begitu saja kehormatan pada seorang pria.
"Will, apa aku salah karena melarang Khai menemui pria itu ?"
"Anda tidak salah tuan. Anda hanya ingin melindungi adik-adik anda. Dan nona Khaira juga tidak sepenuhnya salah, mungkin nona belum menyadari saja."
"Sebentar tuan, ada telpon penting." Willy memulai pembicaraan dengan seseorang masih dalam posisi menyetir.
".........."
"Bagus. Share lokasinya sekarang juga !"
"......."
Panggilan telpon berakhir.
"Tuan, nona Khaira sudah ditemukan. Anak buah saya akan mengirim lokasinya."
"Cepat jalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Aku takut terjadi sesuatu dengannya."
"Sebentar tuan." Willy mengecek ponselnya. "Saya sudah tahu posisi nona Khaira. Kita akan berangkat sekarang juga !"
Malam hari mereka tiba di sebuah rumah kecil. Suasana sangat sepi meski ada beberapa anak buah yang berjaga. Yusuf masuk diikuti Willy. Di ruang tengah, seorang pria duduk dengan tangan terikat di kursi. Wajahnya sudah bonyok tapi Yusuf sangat mengenali wajahnya.
"Kau ! sudah ku bilang agar menjauhi adikku ! tapi kau malah bertindak lebih jauh. Kau pantas mendapatkan hukuman." Yusuf melayangkan tinjunya ke perut dan wajah Dev.
Saat Yusuf semakin tak terkendali, Willy berdiri di hadapan Dev agar atasannya itu tidak sampai menghilangkan nyawa orang. "Cukup tuan, dia bisa mati dan anda akan terkena masalah. Biarkan saja dia mendapat hukumannya di penjara."
Yusuf terpaksa menurut. Perkataan Willy memang benar. "Dimana Khaira saat ini ?" nafasnya masih tersengal-sengal.
"Nona masih ada di sini. Mereka bilang nona Khaira tidak ingin pulang jika tidak diantar anda. Dia ada di kamar atas."
Yusuf segera menemui adiknya. Di dalam sana, Khaira sedang menangis tersedu memeluk lututnya. Dia sangat menyesal bisa terbujuk rayuan Dev untuk kabur bersama. Dia tak pernah mengira bahwa pacarnya itu menginginkan kehormatannya. Saat dia menolak, Dev tetap saja memaksa. Bahkan pria itu berani menamparnya karena terus mendapat penolakan. Untung saja anak buah kakaknya muncul di saat yang tepat. Dev diserang habis-habisan dan diikat di kursi itu.
Yusuf duduk di sebelahnya dan memeluk erat Khaira. Tangis adiknya makin pecah. "Maafkan aku. Kakak benar, Dev adalah pria yang jahat. Aku kira dia tulus mencintaiku. Tapi ternyata dia hanya menginginkan tubuhku."
"Syukurlah jika kamu bisa sadar. Kakak harap kamu bisa ambil pelajaran dari semua kejadian ini. Pakai lagi kerudungmu ! perempuan itu wajib menutupi auratnya. Lihatlah mama, beliau selalu berpakaian tertutup dan sederhana. Dan mulai saat ini, jangan lagi berhubungan dengan pria manapun. Jaga selalu kesucianmu untuk suamimu kelak !"
Khaira mengangguk. Dia berjanji dalam hati, tidak akan lagi bodoh tergoda rayuan gombal dari seorang pria.
__ADS_1