Seperti Sampah

Seperti Sampah
Bab 16.


__ADS_3

Malam ini setelah berbuat dosa pada Andini, Yusuf sama sekali tak dapat memejamkan matanya. Pikirannya selalu tertuju pada gadis itu. Hatinya merasa sangat bersalah karena sudah menyentuh Andini secara lancang. Meski gadis itu tidak menolak, tetap saja dia merasa sangat berdosa.


Bagaimana pun juga Yusuflah yang bersalah. Jika dia tidak membiarkan pikirannya liar, jika dia mampu mengendalikan hasratnya, tentu saja dia tidak akan melecehkan gadis itu.


Cukup sampai di situ ! jangan sampai dia berbuat dosa lagi ! apapun caranya, dia tidak boleh lagi menyentuh gadis itu. Bahkan jangan sampai matanya menangkap sosok Andini lagi. Ya, semua berawal dari mata turun ke hati, dan salahnya malah naik ke otak yang ngeres.


Yusuf duduk bersila di atas ranjangnya. Tangannya mengacak-acak rambutnya sendiri. Dia benar-benar frustasi dengan kelakuan bejadnya. "Semua ini salahku. Aku harus minta maaf pada Andini !" mengambil ponsel dari nakas dan berniat menghubungi nomor gadis itu. Tangannya berhenti mengutak-atik ponsel. Dia mengurungkan rencana menelpon Andini. "Ini sudah lewat tengah malam. Mungkin dia sudah tidur. Jangan sampai aku mengganggunya hanya karena ingin minta maaf. Lebih baik besok saja aku menelponnya."


Drrrt drrrt !! ponsel yang digenggam Yusuf bergetar. Sebuah panggilan masuk dari nomor Riki, papanya. Panggilan terhubung.


"Halo jagoan ! apa kabarmu, kabar adik-adik dan Oma ?"


"Baik, pa. Semuanya sehat ! bagaimana kabar papa ? mama dan si kembar baik-baik saja kan ?!"


"Alhamdulillah kami semua baik. Kenapa belum tidur ? oh ya, mama kangen sekali padamu. Seharian dia terus menangis ingin pulang ke Indonesia. Tapi mau bagaimana lagi, papa masih sibuk di sini."


"Biarkan saja mama pulang kemari dengan Zidan dan Zein. Papa nanti saja jika sudah tidak sibuk."


"No no ! papa tidak mau membiarkan mama pergi tanpa suami yang akan selalu siap menjaganya. Tidak tega !"


Yusuf tertawa, "Bukan tidak tega, tapi papa memang takut ada laki-laki yang menggoda mama, benar kan ?!"


"Hey, son ! kamu nanti akan merasakannya jika nanti sudah menemukan belahan jiwamu. Kamu tidak akan pernah rela ada pria yang menatap, tersenyum ataupun berbincang dengan gadis yang kamu sukai. Kamu tidak akan membiarkan ada satu laki-laki pun yang dekat dengan gadis itu."


Yusuf terdiam. Mungkinkah hal itu juga akan dia rasakan ? bertingkah konyol seperti ayahnya ?


"Halo jagoan ! kenapa diam saja ? apa jangan-jangan kamu sudah merasakannya ? siapa gadis itu ?"


"Tidak, pa. Belum ! mana mama ? katanya kengen sama anak sulungnya !"


Obrolan berlanjut dengan mama Suci dan adik-adiknya. Hal itu sedikit mengobati rasa rindunya pada mereka. Di penghujung obrolan, Suci kembali memperingatkan anak pertamanya.


"Ingat nak, jangan pernah berpacaran atau melakukan kontak fisik dengan gadis manapun. Itu dosa ! jaga pandangan dan hatimu ! mama tidak mau putra kebanggaan mama, berbuat bejad dengan merusak anak orang."


"Baik, ma !" Yusuf merasa jadi pria pengecut. Dia sudah merusak kepercayaan orangtuanya. Dan kali ini, dia berani membohongi mereka. Anak macam apa Yusuf sebenarnya ?


"Ok, nak. Jaga dirimu, Khaira dan Khesya, juga Oma ! assalamualaikum !"


"Waalaikumussalam." Panggilan berakhir.


Yusuf menyimpan kembali ponselnya di tempat semula. Rasa bersalahnya kian menumpuk melebihi tingginya gunung. Nasehat dari kedua orang tuanya semakin menampar pikirannya. Yusuf bertekad untuk menjaga jarak dari Andini mulai detik ini. Dia tidak mau kehilangan akal sehat dan berbuat tidak senonoh pada gadis itu.


***


Pagi yang cerah. Mentari bersinar tersenyum menyinari bumi. Langit biru dihiasi awan putih yang menari-nari. Burung-burung berkelompok terbang tinggi, melayang bebas bersenandung ria. Menghadirkan suasana penuh semangat dan ceria. Namun hal itu sama sekali tidak berlaku pada Yusuf. Dia malas keluar kamar seandainya tidak ada hal mendesak di Perusahaannya.


Tubuhnya lemas, selain karena semalaman tidak bisa tidur, pikirannya juga tidak bisa tenang. Selalu gusar memikirkan gadis itu. Kejadian memalukan yang sudah dia perbuat pada Andini, tidak akan pernah bisa hilang dari ingatannya.


Yusuf mencoba menghubungi lagi nomor Andini beberapa kali. Tapi tak ada jawaban karena nomornya tidak aktif. Mungkinkah gadis itu sengaja menonaktifkan ponsel bututnya ? bisa saja Andini ingin menghindarinya. Gadis itu pantas marah setelah diserangnya secara tiba-tiba.


Yusuf berjalan hendak menuju ruang makan. Saat di depan kamar Andini, Yusuf tak sengaja bertemu dengan gadis itu yang baru saja keluar kamar. Sejenak mata mereka bersirobok. Saling menatap dan terpaku. Andini buru-buru membalikkan badannya dan masuk lagi ke dalam kamarnya. Dia tak sengaja menutup pintu kamar dengan keras, membuat jantung Yusuf hampir copot.


Apa dia marah ? ya, tentu saja ! siapa gadis yang tak marah jika tiba-tiba dicium sembarangan oleh seorang pria yang bukan siapa-siapanya ? tapi, kenapa semalam dia tidak menolak ataupun berontak ? wanita memang sulit dimengerti !


Terlintas dalam pikirannya ingin meminta maaf sekarang saja. Namun, Yusuf terlalu malu jika harus bicara secara langsung. Dia sudah kehilangan wibawanya di mata Andini.


***


Andini memegangi dadanya yang kembali meletup-letup. Melihat wajah Yusuf membuatnya terkena serangan jantung mendadak. Dia menggelengkan kepalanya dengan cepat. Mencoba membuang memori semalam saat bersama pria itu.


Dadanya serasa sesak, adegan memalukan tapi indah itu masih segar dalam otaknya. Andini meraba-raba bibirnya. Seketika itu juga wajahnya merah merona.


Aaaaaaaaa ! kenapa aku tidak bisa melupakan kejadian semalam ? apa yang harus aku lakukan ? bersikap biasa saja, atau pura-pura hilang ingatan ? atau bersikap cuek ? senyum saja ? ahhhh pria itu membuatku gila !!!


Suara ketukan pintu membuyarkan semua pikirannya yang bertumpuk. Oma Merly menyuruhnya segera turun untuk sarapan.


"Baik, Oma !" Andini segera menjawab.


"Cepat ya, Oma tunggu !" Bu Merly pun berlalu.

__ADS_1


"Ya, Oma !" Bagaimana ini ? di bawah pasti ada Yusuf juga. Aku harus bagaimana ? jika tidak turun, oma pasti akan kecewa. Selain itu, aku juga sudah lapar !


Andini maju-mundur dengan keputusan yang akan dia ambil. Namun, lebih baik dia pergi untuk sarapan. Urusan Yusuf terserah nanti saja, yang penting saat ini dia tidak menyakiti perasaan oma.


Andini membuka pintu kamarnya. Perlahan dia melangkah menuruni anak tangga. Bergerak ke ruang makan. Di sana Oma Merly tersenyum sambil melambai.


Deg ! lagi-lagi gadis itu terkena serangan jantung dadakan. Hanya melihat punggung Yusuf saja, dirinya sudah deg-degan tak karuan. Tangannya gemetaran berkeringat dingin.


Tenang Andini ! jangan sampai Yusuf tahu jika kau sedang gugup.


Andini duduk di kursi yang semalam dia tempati, di sebelah Bu Merly. Sekilas dia melihat pria di hadapannya. Yusuf fokus makan tanpa melirik kesana-kemari. Laki-laki itu menghindari matanya agar tidak menatap gadis yang semalam dia serang secara mendadak. Tidak mau jika matanya meracuni hati dan pikirannya seperti semalam.


Andini sedikit heran karena Yusuf terlihat acuh padanya. Tidak seperti kemarin yang selalu menatapnya dalam-dalam. Ada rasa sakit dan terusik dalam benak Andini. Merasa dicampakkan setelah dirinya berhasil dicicipi. Serendah itukah dirinya ?


Sampai selesai sarapan, tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Yusuf. Bahkan tak sedikit pun pria itu menoleh apalagi menyapa Andini. Ketika pamit pada Omanya, Yusuf bersikap acuh seperti tidak ada gadis bernama Andini ada di ruangan itu.


Sombong sekali dia ! enak saja bersikap acuh begitu setelah apa yang dia lakukan semalam ! memang dia pikir aku ini apa ? seenaknya dia sentuh, seenaknya juga dia tidak pedulikan ! Yusuf, kau benar-benar menyebalkan !


"Dini, kenapa cemberut begitu ? ada masalah dengan cucu oma ? apa Yusuf mengganggumu ?" Bu Merly menepuk bahu Andini.


"Tidak, Oma ! Andini hanya sedikit bosan saja. Mungkin karena biasanya sering beres-beres rumah, jadi saat sekarang tidak punya kerjaan, rasanya tidak enak. Badan juga sering pegal."


"Kalau begitu, bagaimana jika kamu memijat Oma ? tapi maaf, bukannya Oma mau seenaknya menyuruh kamu, badan Oma agak sakit dan pegal. Apalagi di bagian punggung."


"Baik, Oma. Saya sangat senang bisa melakukan sesuatu untuk Oma !"


Keduanya pergi menuju kamar Bu Merly. Oma telungkup di atas tempat tidur, sedangkan Andini memijit punggung juga bahunya memakai balsem.


Mereka berbincang. Kebanyakan Bu Merly yang bertanya mengenai kehidupan Andini. Gadis itu hanya memberi tahu jika dirinya berasal dari kalangan bawah. Sudah yatim piatu dan tidak punya keluarga lagi. Tak mau menceritakan kisah pilu ataupun kemalangan nasibnya. Andini juga ingin mengubur kisah penolakan Pak Daniel yang tidak mau menerimanya sebagai anak kandung. Itu merupakan aib keluarga.


"Dini, bagaimana kamu bisa mengenal Yusuf ?"


Untuk hal ini Andini menceritakan secara jujur pada Bu Merly. Oma hanya tersenyum sedikit. "Pertemuan kalian sangat unik. Andini, apa kamu menyukai cucu oma ?"


"Saya menyukai Yusuf karena dia baik." Andini sampai merinding mendengar perkataannya sendiri.


Wajah gadis itu sudah matang menahan malu. Dia tidak mengetahui perasaanya sudah sejauh itu atau belum ? lagipula cinta itu yang seperti apa, Andini sama sekali tidak pernah merasakannya.


"Oma seperti Tante Raisya, bertanya hal aneh padaku." Andini nyengir sambil tangannya masih jalan-jalan di punggung Oma Merly.


"Memang Raisya bertanya apa saja padamu ?"


"Banyak, salah satunya seperti yang Oma tanyakan barusan."


"Lalu jawabanmu ? oma juga penasaran. Soalnya Oma lihat Yusuf sepertinya memperhatikan mu secara khusus. Dia belum pernah dekat dengan seorang gadis manapun sebelumnya. Itu berarti, kamu satu-satunya perempuan yang mampu menarik perhatiannya. Mungkin bisa saja Yusuf menaruh perasaan padamu. Nah, sekarang bagaimana perasaanmu terhadapnya ?"


"Saya belum tahu. Saya juga tidak mau kepedean, Oma."


Ada rasa tersanjung dalam hati Andini. Dia merasa beruntung bisa menjadi wanita pertama yang dekat dengan Yusuf. Tapi, bagaimana jika itu hanyalah kebohongan ? dia percaya pada Oma Merly. Lalu bagaimana dengan cucunya ? bisa saja diam-diam pria itu punya banyak kekasih. Dia kan laki-laki super tampan dan juga kaya raya. Tidak mungkin tak ada perempuan yang berusaha mengejarnya.


***


Di dalam mobil saat perjalanan menuju Perusahaan Angkasa Group. Yusuf menutup matanya sambil duduk bersandar di kursi belakang. Bukan ketiduran, melainkan membayangkan kembali adegan semalam bersama Andini. Benar-benar indah tapi itu adalah suatu kebodohan dan juga kesalahan, yang harusnya tidak perlu terjadi. Sungguh saat ini Yusuf sangat menyesal.


Willy tahu betul jika tuannya tidak sedang terlelap meski matanya tertutup. Dia paham jika Yusuf sedang bimbang. Tapi, entah apa yang membuat bosnya itu gusar ?


Willy tidak mau mengganggu Yusuf, tapi ada hal penting yang harus dia sampaikan saat ini. "Maaf, tuan. Saya sudah berhasil mengumpulkan semua bukti mengenai kecurangan Pak Daniel."


"Bagus, pria itu harus dipecat hari ini juga ! kau saja yang urus, aku tidak sudi melihat wajah pria culas seperti dia." Masih menutup matanya meskipun berbicara. "Lalu bagaimana dengan informasi tentang Andini ?"


"Belum, tuan. Mungkin besok atau paling telat lusa."


Yusuf membuka matanya sambil mencebik, "Lama sekali, apa orang suruhanmu itu tidak becus menjalankan tugas ?"


"Maaf, tuan. Sebentar lagi semuanya beres."


Yusuf di belakang sana masih mengumpat kesal. Dia ingin segera mendapatkan informasi itu. Banyak tanda tanya mengenai Andini. Keluarga, masa kecilnya dan alasan gadis itu berada di rumah Daniel.


Mungkin Willy pikir bisa saja Yusuf bertanya langsung pada orangnya. Namun, Andini tidak akan mungkin memberi tahu semuanya.

__ADS_1


***


Pak Daniel duduk berhadapan dengan Willy. Dari tadi pria bertubuh agak gemuk itu menjadi pusat tatapan runcing milik asisten CEO. Dia menunduk takut, bagaimanapun juga pria di depannya adalah kaki tangan Pimpinan Perusahaan tempatnya bekerja. Dia harus hormat dan patuh sama seperti pada Yusuf.


"Ada apa tuan memanggil saya ?" Pak Daniel membuka suara lebih dulu.


Willy mengeluarkan satu buah amplop dan meletakkannya di atas meja. Pak Daniel mengerti jika itu ditujukan untuknya. Perlahan dia mengambil, membuka dan membaca surat yang ada di dalamnya secara detail.


Matanya terbelalak ketika mengetahui bahwa surat itu adalah surat pemecatan dirinya. Pria itu mendongak. "Maksudnya apa ? kenapa saya dipecat ?"


Willy menyeringai, "Anda pasti sudah tahu apa kesalahan fatal yang sudah anda lakukan hingga merugikan perusahaan ini ! jangan sampai saya mengeluarkan bukti-buktinya di hadapan anda ! bukankah itu akan sangat memalukan ?!"


Pria itu mendadak menggigil. Tubuhnya gemetaran. Harusnya sebelum menggelapkan uang perusahaan, pria itu memikirkan akibatnya baik-baik. Yusuf dan pria di depannya sudah pasti akan segera tahu.


Ini semua gara-gara istri dan anakku yang selalu saja menghamburkan uang ! kasih sayangku yang berlebihan, malah membuatku terjerumus dalam masalah besar. Jika sudah begini, apa yang harus aku perbuat ? Yasmin yang aku rencanakan akan menjadi penyelamat pun tidak bisa diharapkan. Anak manja itu tidak becus merayu tuan Yusuf.


"Tuan, bisakah saya bertemu dengan tuan Yusuf ? mungkin beliau akan memberi saya kesempatan." Pak Daniel memelas.


"Jika saya yang berada di hadapan anda, itu artinya tuan Yusuf tidak bersedia menemui anda. Tolong jangan memaksa, ini lebih baik untuk anda dibanding harus menatap kemarahan pada mata tuan Yusuf secara langsung. Silahkan keluar dari ruangan ini !" Willy menunjuk ke arah pintu dengan gerakan matanya.


Dengan kesal dan berat hati, laki-laki itu pergi. Dia terus menggerutu dalam hati, tidak rela kehilangan pekerjaan yang cukup penting di perusahaan itu.


Pak Daniel seharusnya bersyukur karena dia hanya dipecat tanpa dijebloskan ke dalam penjara. Itu adalah kelonggaran yang Yusuf berikan karena pria itu adalah pekerja keras, mungkin jika Pak Daniel punya sikap jujur, saat ini dirinya sudah naik jabatan tanpa harus repot menjadikan putrinya sebagai umpan.


***


Saat perjalanan pulang ke rumah, Yusuf menyempatkan untuk pergi ke toko handphone. Dia bisa saja menyuruh Willy tanpa harus repot. Tapi dia ingin memilih sendiri ponsel bagaimana yang akan dia beli untuk Andini.


Yusuf memesan handphone keluaran terbaru yang harganya jauh lebih mahal dari yang dia pakai. Itu bukan masalah, yang penting Andini menyukai barang pemberiannya.


Sampai di rumah, Yusuf langsung masuk ke kamarnya lalu membersihkan diri. Setelah berpakaian, pria itu bergegas menemui Andini.


Tok tok !!! Yusuf mengetuk pintu, tak lama berselang gadis yang ada di dalam sana membuka pintu.


Deggg ! jantung mereka berdebar hebat ketika bertatapan satu sama lain.


Ingat Yusuf, kau kemari untuk apa ? bukan untuk berbuat mesum lagi !


Yusuf menarik nafasnya panjang. Dia harus fokus dengan tujuannya menemui Andini !


Dia mau apa ? kenapa kembali menatapku begitu ? padahal tadi pagi sikapnya sangat acuh ! apa orang ini suka makan bunglon ? sikapnya berubah-ubah.


Andini menundukkan kepalanya. Dia masih sangat malu dan aneh ketika melihat wajah Yusuf, apalagi jika melihat bibir sexy milik pria tampan itu. Dia akan kembali teringat akan kejadian paling memalukan dalam hidupnya.


"An, ambil ! simpan dan pakailah benda ini baik-baik ! kau pasti akan membutuhkannya. Jangan menolak apalagi membuangnya !" Yusuf memberikan satu buah ponsel yang dibelinya tadi.


Andini mengernyit, "Kenapa aku harus menerimanya ? aku kan masih punya meskipun jadul."


"Buang saja yang itu ! kau ini kan hidup di jaman sekarang, bukan di jaman purba !"


Di jaman purba tidak ada handphone, tuan ! dasar aneh !


"Dengar, perhatikan dan praktekan nanti !" Yusuf memberikan contoh cara memakai handphone itu.


Andini diam-diam memperhatikan. Dia juga penasaran ingin mengetahui cara mengutak-atik ponsel bagus.


"Ambil ! kau sudah paham kan bagaimana cara menggunakannya ?! atau harus ku panggil guru privat khusus untuk mengajarkan cara memakai ponsel ?!" bersikukuh memberikan benda itu.


Andini mendelik, "Mana ada guru privat khusus mengajarkan cara memakai ponsel ? aku tidak sebodoh itu ! tapi aku tidak mau mengambilnya."


"Bandel, pokoknya ambil ! jika tidak, aku akan... melahap bibirmu saat ini juga !" menatap tajam sembari tangannya masih menyodorkan ponsel.


"Ah, ya ! aku akan memakainya. Terima kasih banyak !" buru-buru menyabet benda dari tangan Yusuf, kemudian masuk lagi ke kamar.


Pintu tak sengaja terbanting keras, membuat Yusuf memegangi dadanya yang seolah longsor. Gadis itu ! aku sudah deg-degan dari tadi, ditambah kaget dengan suara pintu. Untung saja jantungku masih ada di tempatnya !


Yusuf kembali ke kamarnya. Sementara Andini, dia kini memegangi dadanya yang naik turun. Nafasnya tersengal-sengal seperti habis lari keliling kota.


Sebenarnya dia tidak mau menerima ponsel itu karena tidak enak hati. Namun, Yusuf terus memaksa dan mengancam akan menciumnya lagi. Itu membuat Dini sangat malu. Tubuhnya bahkan masih gemetaran. Bagaimana jika pria itu benar-benar melakukannya lagi ? memikirkannya saja membuat dirinya susah bernafas.

__ADS_1


__ADS_2