Seperti Sampah

Seperti Sampah
Kemesraan di kantor.


__ADS_3

Setelah mendapat peringatan keras dari Riki, Teni berusaha membujuk suaminya untuk meninggalkan kota Bandung dan tinggal bersama orangtua Teni di luar Jawa. Awalnya Doni bersikeras menolak namun Teni tetap merayunya.


"Mas...kehidupan kita akan jauh lebih terjamin di sana. Papa sudah menyiapkan rumah yang besar untuk kita. Dan baiknya lagi, papa sudah memberikan sebuah perusahaan untuk kamu kelola sendiri. Jadi karirmu di sana akan jauh lebih bagus dibanding hanya menjadi manager di sini. Bukankah dari dulu kamu mempunyai mimpi menjadi seorang pimpinan perusahaan ?"


Doni masih menimbang-nimbang.


"Dengar mas, Suci sudah bahagia dengan suami barunya. Jadi kamu jangan lagi mengusik mereka. Mas juga harus ingat bahwa aku sedang mengandung anakmu. Dia sangat membutuhkan perhatian ekstra dari ayahnya. Aku janji akan menjadi istri yang penurut dan lebih baik lagi. Aku ingin membuka lembaran baru hidup kita. Kita pasti bisa kembali bahagia dan harmonis. Aku yakin itu !" Teni menggenggam erat tangan Doni.


"Baiklah. Aku akan mencoba memberimu kesempatan untuk berubah. Aku juga ingin menjadi ayah yang baik untuk anak kita."


"Terima kasih mas. Aku bahagia mendengarnya." Teni memeluk tubuh Doni.


***


Malam ini semua barang-barang milik Suci sudah dipindahkan ke kamar Riki.


Kini Suci dan Riki sudah berbaring di tempat tidur.


"Mas, kenapa tidak dari awal saja kita tinggal sekamar ?" Suci menempelkan jemari dan memainkannya.


"Ohhh kamu dari awal memang sudah berharap ya.." Riki tersenyum nakal. Dia memiringkan badannya mengarah ke Suci yang posisinya terlentang.


"Bukan begitu mas. Kasihan para pekerja harus repot dua kali. Kalau aku sih, tidak masalah mau tidur di manapun juga." Masih bermain-main dengan jarinya.


"Aku hanya ingin kamu menenangkan diri dulu." Riki mengelus rambut Suci.


"Kamu sangat baik mas. Terima.." Bibir yang masih bicara itu disumpal oleh bibir Riki. Disentuh sebentar.


"Berterima kasih seperti tadi yang kamu lakukan di mobil. Lewat tindakan." Menatap lembut wajah gugup itu.


Suci kembali tak dapat menormalkan debaran jantungnya yang semakin mengguncang.


"Ya sudah kalau tidak mau, aku tidur !" Riki membelakangi tubuh Suci.


Apa mas Riki marah ?


Suci perlahan menggerakkan tangannya memeluk Riki. Dia akhirnya mengecup sebentar pipi kiri suaminya. Riki membalikkan badannya menghadap Suci dan memeluknya erat.


"Masih belum pergi juga tamu bulanan kamu ?"


"Belum." Suci nyengir.


"Hahhh ya sudahlah. Tapi setidaknya aku bisa mendapatkan lagi ciuman darimu kan ?! sedikit saja....jangan banyak-banyak !"


Suci memberi kecupan lagi pada kening dan bibir suaminya.


Riki mengelus kembali kepala Suci hingga akhirnya istrinya itu tertidur. Setelah yakin Suci sudah benar-benar lelap, Riki beranjak dari tempat tidur. Dia sama sekali tak dapat memejamkan matanya karena pikirannya selalu mengarah ke anu saat berdekatan dengan Suci.


Akhirnya Riki memutuskan untuk menghabiskan waktu di ruang kerjanya, sampai kantuknya datang.


***


Esoknya di perjalanan menuju kantor.


"Suci, apa sebaiknya kamu sekarang diam saja di rumah ? kita kan sudah menikah."


"Tidak boleh ya mas ? kalau aku kerja ?"

__ADS_1


"Boleh, tapi apa kamu tidak mau istirahat dulu di rumah ?"


"Aku kangen suasana kerja. Teman-teman ku baik semua. Tapi jika mas tidak mengijinkan maka aku akan resign."


"Aku tidak akan melarang kamu melakukan sesuatu yang kamu sukai. Lagipula seru juga kalau kamu tetap bekerja, kita kan bisa sering bertemu. Di rumah dan di kantor." Riki cengengesan.


"Tapi kita harus menjaga sikap di hadapan semua pegawai. Mereka kan tidak ada yang tahu bahwa kita sudah menikah. Kalau sikap kita mencurigakan maka akan pecah gossip yang akan membuat mas malu."


"Aku malah senang jika mereka semua mengetahui bahwa kamu istriku."


"Bukan begitu. Kalau mereka kira kita berpacaran atau berbuat tidak senonoh di kantor bagaimana ? aku tidak mau nama baik mas jadi rusak."


"Baiklah, kita bersikap seperti sebelumnya seolah kita belum menikah."


***


Di ruang OB.


"Mbak Suci kemarin kemana ? kok gak kerja sih ? apa sakit lagi ?" Barbi menghampiri Suci yang tengah duduk.


"Tidak sakit sih cuma ijin saja karena ada urusan keluarga yang penting." Suci nyengir.


"Tapi kenapa bisa bersamaan dengan Bos ? Kemarin dia juga tidak ke kantor."


"Kebetulan sekali ya hehe." Suci menggaruk sebelah alisnya.


Astaghfirullah aku terpaksa ! tidak mungkin ku bilang bahwa kemarin kami memang pergi bersama. Belum saatnya ada yang tahu tentang hubungan kami yang sebenarnya. Apalagi pernikahan kami itu sangat mendadak. Benar-benar di luar rencana.


"Suci, kamu dipanggil Bos ke ruangannya. Bawakan dia teh hangat." Pak Juned tiba-tiba muncul.


"Baik pak."


Apa yang sedang dia lakukan ? mas Riki baik-baik saja kan ?!


Suci berdehem membuat Riki kaget. Riki kembali menormalkan posisi duduknya.


Apa tadi Suci melihat ku senyum-senyum sendiri ?


"Ini teh nya pak." Suci meletakkan minuman itu.


"Terima kasih sayang..." Riki cengengesan.


"Syuttt kalau ada yang mendengar bagaimana ?" Suci sudah panik, celingukan.


"Biarkan saja, aku tidak peduli." Masih tersenyum nakal.


"Kita kan sudah sepakat mau menjaga sikap saat di sini. Bapak lupa ?"


"Bantu aku minum biar ingatanku bagus." Riki sudah membuka mulutnya.


Suci merengek sambil menggelengkan kepalanya.


"Ayo cepat sebentar saja sebelum ada yang datang." Membuka mulut lagi.


Manja tapi tidak kenal tempat. Merepotkan juga kalau begini.


Cepat-cepat Suci mengambil gelas dan membantu suaminya minum.

__ADS_1


"Ahhh enak sekali rasanya."


"Sudah ya pak, saya harus kembali ke bawah."


"Tunggu !" Riki berdiri dan menghampiri Suci.


Dipeluknya tubuh mungil Suci.


"Nanti ada yang lihat." Suci panik lagi.


"Terima kasih sudah membuatkan teh ini." Riki mengecup pipi kiri Suci.


"Terima kasih sudah membantuku meminumnya juga." Mengecup pipi kanan.


"Terima kasih sudah mau menerimaku sebagai suamimu." Beralih mengecup kening.


Apa ini tidak berlebihan mas ?


"Terima kasih sudah hadir di hidupku dan membuatku bahagia." Pindah ke bagian bibir.


Hati Suci berdesir menerima kecupan sepagi itu. Wajahnya sudah seperti tomat masak. Senyum kebahagiaan bercampur dengan malu.


"Pak suami, saya permisi." Berkata pelan dan langsung kabur.


Manis sekali bibirmu saat mengatakan itu. Semakin menggemaskan saja !


Riki kembali duduk dan bermain-main dengan kursinya. Senyum kembali menghiasi wajah tampannya.


Sementara itu, Suci pun tak henti mesem-mesem saat menuju lantai bawah. Dia menyembunyikan senyumnya di balik nampan.


Saat di ruang OB.


Suci masih tersenyum saat mengingat kejadian tadi di ruang Dirut.


"Ada apa mbak ? aku perhatikan dari habis mengantar teh pada si Bos, mbak mesem-mesem saja. Memang apa yang sudah terjadi ?" Barbi menyelidik.


Suci hanya menggeleng cepat namun senyumnya masih terlihat meski berusaha ditutupi.


"Ehh mbak coba sini lihat ! perasaan kok cincin yang mbak pakai sama dengan yang si Bos pakai. Sebentar !" mencoba mengingat-ingat.


Apa yang sedang Barbi pikirkan ya ? jangan sampai dia curiga.


"Kemarin-kemarin mbak dan Bos sama-sama tidak pakai cincin dan sama-sama tidak kerja. Hari ini kalian barengan masuk kerja lagi dan sama-sama juga memakai cincin yang sama."


Kenapa Barbi bisa memperhatikan sedetail itu ?


"Sebenarnya apa yang sudah terjadi kemarin ? apa hubungan kalian sebenarnya ?" terus mengintrogasi.


"Itu...hanya perasaanmu saja. Mungkin hanya kebetulan saja." Suci gelagapan.


"Mencurigakan sekali. Apa kalian sudah bertunangan atau jangan-jangan kalian sudah menikah diam-diam ?" Barbi berbicara penuh penekanan.


"Tidak seperti itu. Kamu jangan memikirkan hal yang aneh-aneh." Suci nyengir.


"Benarkah ?" Barbi merasa tidak puas dengan jawaban Suci.


"Ehhh Syarif hari ini bekerja di Butik." Mencoba mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Aku juga sudah tahu mbak. Ehhh tapi, apa kabarnya babang Syarif ? apa dia masih jomblo ? tolong bantu aku buat dekat dengan adik mbak yang ganteng kalem itu."


Akhirnya Barbi terpancing juga. Dia hanya fokus membahas Syarif. Suci kali ini bisa selamat.


__ADS_2