Seperti Sampah

Seperti Sampah
Bab 33.


__ADS_3

Esok harinya.


Andini banyak termenung saat di ruang makan. Dia belum sempat mencicipi sarapannya. Nafsu makannya benar-benar musnah. Ketidak hadiran sosok pria yang selalu menempel padanya, membuat Dini tidak bersemangat. Biasanya Yusuf selalu duduk di sebelahnya, menyuapi atau meminta disuapi oleh Andini. Tapi kali ini, hanya kursi kosong yang dapat Andini lihat.


Oma tersenyum menatap Andini, "Dini, kamu merindukan Yusuf ? itu wajar, saat kita sudah terbiasa dengan kehadiran seseorang, maka kita akan merasa kehilangan ketika orang itu tidak ada. Tapi kamu tenang saja, besok juga Yusuf pasti pulang."


"Ya, Oma." Andini menatap wajah Oma dengan sendu.


"Ciehhhh, yang sedang merindu. Baru ditinggal sebentar saja sudah sedih begitu." Goda Khesya.


"Syuttt, kamu ini. Tidak mengerti sama sekali, merindukan seseorang itu rasanya tidak enak." Khaira berargumen.


"Memangnya kamu pernah merasakannya, Khai ? emmm, aku tahu. Pasti kamu merindukan Louis."


Khaira memelototi kembarannya, "Sya....kamu !" kata-katanya tidak dilanjut. Namun jelas mengatakan bahwa dia tidak ingin jika Khesya membocorkan rahasianya.


Oma Merly menghentikan perdebatan kecil antara kedua cucunya. "Sudah, jangan bertengkar lagi ! cepat habiskan sarapan kalian !"


Si kembar K melanjutkan makan mereka. Sedangkan Andini tidak terlalu mengikuti apa yang terjadi di sekelilingnya. Hati dan pikirannya hanya tertuju pada Yusuf.


***


Andini berangkat menuju sekolah diantar oleh sopir. Dalam perjalanan, dia memutuskan untuk menelpon suaminya.


Panggilan terhubung.


"Sayang, ada apa ?" suara di sebrang sana terdengar panik.


"Tidak ada apa-apa. Memang jika aku mau menelpon, harus dalam keadaan darurat saja ? aku hanya ingin mendengar suaramu, aku merindukanmu !" Entah kenapa sekarang Andini menjadi manja seperti itu ?


"Bukan begitu, aku mencemaskan keadaanmu. Aku juga sangat merindukan kamu, sayang. Jika hari ini pekerjaanku beres, aku akan langsung pulang. Tapi jika belum, mungkin baru besok aku pulang."


"Kenapa rasanya tersiksa begini, saat aku ingin cepat-cepat bertemu dengan suamiku sendiri ?"


"Sayang, aku juga sangat tersiksa karena jauh dari mu. Tidak bisa tidur nyenyak. Sayang, maaf. Aku harus buru-buru ke ruang meeting. Nanti kita bicara lagi, I love you !" Panggilan terputus.


Andini menatap ponselnya dengan muram. Baru saja sebentar mendengar suara Yusuf, suaminya itu cepat-cepat mengakhiri obrolan mereka. Padahal dia masih ingin kangen-kangenan.


Cittttt !!! Mobil yang Andini tumpangi mendadak berhenti.


"Astaga, tunggu sebentar nona ! sepertinya saya tidak sengaja menyerempet orang." Ucap sopir panik, dia segera turun.


"Apa ?" Andini membulatkan matanya. Dia juga ikut turun dari mobil untuk melihat si korban.


Seorang pria meringis kesakitan memegangi kakinya. "Awwww !!"


"Pak, bawa saja ke Rumah Sakit, saya takut dia kenapa-napa." Pinta Andini.


"Baik, nona." Pak sopir memapah pria itu dan membawanya ke dalam mobil, didudukkan di kursi depan.


***


Saat di Rumah Sakit.


Pria yang tadi keserempet, saat ini tengah berbaring di ranjang sebuah ruangan. Andini dan mang sopir berdiri di sebelahnya.


"Maaf, tuan. Saya benar-benar tidak sengaja." Ucap pria paruh baya dengan menundukkan wajahnya.


"Maafkan sopir saya. Saya yakin beliau tidak sengaja menabrak anda." Andini menimpali.


"Tidak apa-apa. Ini juga salah saya, kurang hati-hati saat menyebrang. Terima kasih banyak sudah membawa saya ke Rumah Sakit." Ucap pria itu.


"Ini memang kewajiban kami," ucap Andini.


"Nona, maaf. Apakah saya boleh menumpang lagi di mobil anda ? Saya sebenarnya tadi akan pulang ke rumah. Tapi, mobil saya ada di bengkel. Saya menyeberang jalan untuk menunggu taksi. Tapi, ya beginilah sekarang. Karena kecerobohan saya, jadi saya terbaring di sini. Saya tidak punya saudara, atau teman untuk dihubungi. Saya baru pindah ke kota ini."


Andini mengiyakan saja, dia merasa kasihan pada pria itu. Akhirnya setelah menyelesaikan administrasi, mereka pun masuk ke dalam mobil.


Ponsel Andini berbunyi. Dia segera menjawab panggilan telpon yang masuk.

__ADS_1


"Andini, kamu sedang ada dimana ? kenapa hari ini bolos ?"


"Meta, aku sudah berangkat, tapi karena ada sedikit kecelakaan tadi, makanya aku belum sampai di sana. Mungkin hari ini aku tidak bisa masuk ke sekolah. Urusanku belum selesai, lagipula ini sudah terlambat."


"Katakan, kamu ada dimana saat ini ?" Meta benar-benar cemas.


"Aku sedang di...."


Tiba-tiba pria di depan meringis kesakitan. "Awww, kepalaku sakit !"


Andini sekilas meliriknya. "Meta, nanti aku hubungi lagi." Menutup pembicaraan.


"Anda kenapa ?" tanya Andini pada si pria asing.


"Saya hanya sedikit pusing, nona."


"Tenang, sabarlah tuan. Kita akan segera sampai di rumah anda." Pak sopir menenangkan.


Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di sebuah rumah mewah. Mang sopir memapah pria itu, Andini mengekor di belakang.


Andini menekan bel pintu. Tak lama berselang, seorang pelayan menyambut mereka. "Tuan Alex, anda kenapa ?" panik.


"Hanya sedikit kecelakaan tadi. Jangan cemas, bi !"


Semuanya masuk ke dalam rumah. Alex didudukkan di kursi ruang tamu. Andini dan sopirnya masih berdiri, hendak pergi dari sana. Namun, Alex mencegah mereka.


"Nona, silahkan duduk dulu ! Setidaknya biarkan saya berterima kasih pada kalian."


Untuk menghargai pria itu, Andini duduk di hadapannya. Sedangkan mang sopir berdiri di samping majikannya.


"Bi, tolong buatkan minuman untuk mereka !" perintah Alex.


"Tidak usah, kami sebentar lagi akan pulang." Tolak Andini.


Alex bersikukuh, pelayan itu pun melakukan perintah tuannya. Pergi ke dapur dan kembali dengan membawa tiga gelas teh hangat. Setelah meletakkannya, dia kembali lagi ke dapur.


Mamang sopir tiba-tiba kebelet ingin ke kamar mandi, terpaksa dia numpang ke toilet di rumah itu.


Masih di dalam kamar mandi, tiba-tiba ponselnya bergetar. Segera dia menerima panggilan masuk tersebut.


"......."


"Kami sedang ada di Titan Regency, di jalan bla..bla..bla... nomor rumahnya sekian sekian." Jelas Pak Yadi pada seseorang di telpon.


"......"


"Baik, nona ! Saya akan segera membawa nona Andini pulang ke rumah." Pembicaraan berakhir.


Pak Yadi menyimpan ponselnya di saku celana. Saat keluar dari kamar mandi, tiba-tiba tubuhnya ambruk. Pria paruh baya itu memegang belakang kepalanya yang telah mengeluarkan cairan merah pekat. Kesadarannya sepenuhnya sudah hilang.


***


Andini mengerjap-ngerjapkan matanya yang semakin buram. Tangannya memegang pelipis. Kepalanya sangat sakit dan berputar-putar. Dia harus segera pergi dari sana. Perasaannya tiba-tiba tidak enak. Pak Yadi ? Andini harus mencari sopirnya dulu.


Dini mencoba berdiri meski sekitarnya seperti sedang diguncang gempa. Alex menatapnya lekat, "Kenapa, nona ? Anda baik-baik saja ?"


"Dimana sopir saya ? Saya harus mengajaknya pulang !" Masih kuat berbicara meski tubuhnya makin lemas.


Andini berjalan tergopoh-gopoh, mencari mamang sopir. "Pak Yadi, ayo kita pulang !" Berteriak sebisanya. Namun, pria yang dicarinya itu tak kunjung muncul.


Alex memapah tubuhnya. "Mau kemana nona ? Anda tidak akan lagi melihat sopir itu. Mungkin dia sedang tidur saat ini. Biar saya tunjukkan dimana sopir anda berada."


Andini tak mampu berpikir cermat. Dia menuruti saja perkataan si pria asing. Dia bahkan tak menyadari keanehan pria itu, yang tiba-tiba mampu berjalan dengan tegap tanpa kesakitan. Perlahan Andini dipapah menaiki anak tangga. Alex membawanya ke sebuah kamar.


Andini celingukan, meski dengan pandangan yang kabur, dia mencari sosok sopir itu. "Mana Pak Yadi ?"


Alex menyeringai, "Untuk apa mencari sopir anda ? lebih baik manfaatkan saja pria di dekatmu ini, nona !"


Andini menoleh pada pria di belakangnya. "Dimana Pak Yadi ? Katakan !" Suaranya begitu lemah. Dia masih memegang kepalanya yang makin pusing.

__ADS_1


Andini tak mengerti dengan apa yang terjadi. Namun hatinya menyuruh untuk segera meninggalkan tempat itu. Sekuat tenaga dia menyeret kakinya. Aku harus menjauhi pria ini ! Perasaanku tidak enak !


Alex menghadangnya. Pria itu membopong lalu menghempaskan tubuh Andini ke atas kasur. Sekuat tenaga, perempuan itu berontak dan berteriak. Namun, dia terlalu lemah saat ini. Pukulan dari tangan lemahnya terasa seperti colekan bagi pria itu. Andini benar-benar ada dalam situasi genting. Di saat tak berdaya seperti itu, hanya wajah suaminya yang dia harapkan muncul di sana untuk menolongnya.


***


Meta benar-benar gusar setelah menelpon Pak Yadi. Perasaannya makin tidak enak, begitu mencemaskan keadaan Andini. Perempuan itu bukan hanya teman bagi Meta, Dini adalah seseorang yang harus dia jaga dengan baik. Tuan Yusuf sudah memberinya kepercayaan agar selalu memastikan Andini tidak terusik oleh apapun atau siapapun, saat berada di sekolah. Tapi, meskipun saat ini Andini tidak berada di lingkungan sekolah, Meta merasa bertanggung jawab atas keselamatannya.


Semua berawal dari kecemasan Yusuf saat membiarkan istrinya sekolah lagi. Dia takut ada yang mengganggu Andini. Secara kebetulan, Meta yang merupakan adik dari salah satu temannya juga menempuh pendidikan persamaan di sekolah yang sama dengan Andini. Terjadilah perjanjian itu. Meta akan diberi imbalan besar untuk menjaga dan menemani Andini. Kenapa Yusuf memilihnya ? itu karena Meta adalah perempuan yang ramah dan jago bela diri. Kenapa tidak menyuruh seorang bodyguard sekalian ? Itu terlalu mencolok dan akan membuat istrinya tidak nyaman.


***


Meta mencari alasan agar dapat ijin untuk pulang lebih awal dari sekolah. Dia segera melajukan mobilnya ke alamat yang diberikan Pak Yadi.


"Aku harap Andini baik-baik saja." Dia benar-benar khawatir, bukan karena telah dibayar oleh Yusuf atas usahanya menjaga Andini. Meta memang merasa sudah klop berteman dengan istri dari tuan Yusuf itu.


Di sela-sela menyetir, Meta mengubungi nomor Yusuf, tapi tak ada jawaban. Nomor Willy pun sulit dihubungi. Mungkin mereka sama-sama sedang sibuk.


"Tenang Meta, tetap fokus ! kau pasti bisa mengatasi semuanya." Menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


Meta melajukan mobilnya lebih cepat. Dalam beberapa menit, dia telah sampai di sebuah rumah mewah. Segera turun tergesa-gesa dari mobil karena sang sekuriti tak mau membukakan gerbang.


"Siapa anda ? Tuan Alex tidak mau menerima tamu hari ini." Ucap sekuriti itu.


"Tolong biarkan saya masuk. Ada teman saya di dalam. Mungkin dia sedang dalam bahaya."


"Tidak ada tamu satupun di dalam. Sebaiknya anda pulang saja !"


Meta menatapnya garang. "Aku akan memaksa jika begitu." Secepat kilat menaiki gerbang. Sekuriti itu melongo, baru kali ini dia melihat seorang wanita selincah itu.


"Heyyy, jangan harap kau bisa masuk !" Mencengkram erat tangan Meta, namun perempuan itu memberinya tinjuan dari siku kaki tepat di perut buncitnya. Tak hanya itu, bogem mentah juga dia hadiahkan pada bagian yang masih sakit itu. Satu lagi tendangan ditujukan pada bagian inti pria itu hingga tubuhnya tumbang.


Meta segera berlari ke dalam rumah. Di ruang tamu dia bertemu dengan pelayan yang menatapnya panik. "Siapa anda ? Mau apa kemari ?"


"Bi, apa di rumah ini ada tamu seorang wanita dua puluh tahunan, beserta sopirnya ?"


"Tidak ada, tidak ada siapa-siapa di sini." Menjawab tapi memalingkan muka.


Meta tersenyum sinis. Dia tahu benar ekspresi yang ditunjukkan wanita di depannya menandakan kebohongan. Dia melihat ke lantai atas, firasatnya berkata jika Andini ada di salah satu kamar di sana.


Meta melangkah cepat. Wanita pelayan itu mengambil vase bunga dan bersiap melayangkannya ke kepala Meta. Namun, insting membuat Meta menoleh dan menghindar sebelum benda itu menimpanya.


Wajah pelayan itu menjadi pucat. Tubuhnya gemetaran. Tatapan membunuh milik Meta membuatnya ciut. "Maaf, Bi. Saya hanya akan bersikap sopan pada orang tua yang pantas dihargai."


Meta memelintir tangan si pelayan hingga wanita itu kesakitan. "Kau dan sekuriti di depan tidak akan bersikap mencurigakan begini jika tidak ada yang terjadi di rumah ini. Katakan, jika benar temanku ada di sini, dimana dia sekarang ?"


"Ti....tidak tahu !"


Meta mengeratkan lagi pelintiran tangannya. "Aku tahu kau berbohong ! Katakan yang benar, jika kau tidak mau masuk penjara !"


"Di kamar atas, paling kanan. Itu kamar tuan Alex, pasti wanita itu ada di sana."


Akhirnya Meta melepaskan wanita itu. Tapi si bibi pelayan harus diberi pelajaran lagi karena sudah membantu tuannya melakukan kejahatan.


Plakkk !! Satu tamparan saja yang keras, telah mengambrukkan wanita itu. Meta segera naik ke atas menuju kamar yang dimaksud. Telinganya dirapatkan ke daun pintu. Terdengar suara lemah Andini meminta tolong.


Sial, Pintu dikunci ! Tok tok tok !!!


"Tuan, gawat ! Ada perempuan asing yang memaksa menerobos masuk ke rumah ini." Meta memang tidak bisa meniru suara bibi pelayan. Dia hanya ingin memancing agar orang itu membuka pintu.


Alex yang tengah mengungkung tubuh Andini, segera turun dari ranjang. Berjalan tergesa menghampiri pintu. "Ada apa ? Apa kau dan sekuriti bodoh itu tak dapat mengatasinya ?" Saking dipenuhi nafsu birahi dan amarah, pria itu sama sekali tak menyadari jika suara yang memanggilnya adalah suara asing.


Ceklek ! Pintu terbuka. Mata pria itu membelalak, mengetahui ada wanita asing berdiri di hadapannya. "Siapa kau ?"


Meta meninjunya berkali-kali hingga Alex tersungkur. "Tidak perlu tahu siapa aku, brengsek !"


Alex bangkit dan hendak menampar wajah wanita itu, namun Meta mencengkram tangannya dengan kuat. Langsung menendang bagian sensitif dari ************ pria itu. Tak cukup hanya begitu, Meta mengambil botol minuman kosong yang ada di atas meja, dipukulkan ke kepala Alex. Akhirnya pria itu tumbang.


Meta menghampiri Andini, "Andini, kita harus segera pergi dari sini !"

__ADS_1


Namun tubuh Meta tiba-tiba ambruk di bibir kasur. Seseorang telah memukul belakang kepalanya dengan vase bunga. Sementara itu, kesadaran Andini mulai hilang. Dia bahkan belum sempat melihat siapa orang yang menyerang Meta.


__ADS_2