Seperti Sampah

Seperti Sampah
Ulah pengantin baru part 2.


__ADS_3

"Permisi tuan." Seorang pelayan mengetuk pintu.


Riki memakai bajunya sebelum membuka pintu kamar.


"Ini makanan anda dan nona. Silahkan dinikmati." Menyodorkan nampan berisi makanan dan buah.


"Terima kasih." Langsung menutup pintu setelah mengambil alih nampan.


Tuan hari ini sangat ceria sekali. Ahhh pengantin baru kan memang seperti itu. Seharian berada di kamar, keluar-keluar mukanya mesem-mesem. Jadi ingat jaman dulu waktu masih muda.


Bi Fatma malah tersipu malu sendiri. Dia memegang kedua pipinya yang sudah merah. Lalu kembali ke bawah.


Sementara itu, Riki saat ini sedang menyuapi Suci. Bergantian menyuapi dirinya sendiri. Mereka duduk di sofa.


"Makan yang banyak, tenagamu kan pasti terkuras." Riki bicara dengan santainya.


Apa dia tidak malu mengatakannya ? aku saja yang mendengarnya merasa sangat malu begini. Ahhh mukaku pasti sudah masak.


Suci memegangi kedua pipinya.


"Kenapa ? malu ya ?" tersenyum nakal.


Suci tertunduk semakin malu.


Manis sekali sihhh kalau malu-malu begitu.


Riki menyuapi lagi makanan ke mulut Suci, bergantian ke mulutnya hingga habis. Setelah selesai mengisi perut, Riki kembali memeluk istrinya.


"Sebentar ya aku istirahat dulu sebentar. Kamu jangan minta lagi. Aku harus mengumpulkan tenaga dulu." Sekarang sudah tertidur di pangkuan Suci.


Siapa juga yang masih mau melakukan itu lagi ? aku sudah lelah !!


Suci ikut tertidur sambil duduk bersandar pada kursi. Setelah satu jam Riki bangun dan mendapati Suci sudah tidak ada.


"Kemana Suci ?" Riki sudah duduk.


Beberapa menit kemudian.


"Mas sudah bangun ?" Suci menghampiri.


"Kamu sudah mandi ? kenapa tidak mengajakku ?"


"Mas kan sedang istirahat, aku tidak mau mengganggu."


Masa ke kamar mandi juga mau ikut.


Riki menarik tangan Suci agar duduk di sebelahnya.


"Harum sekali rambutmu, habis keramas ya. Masih basah begini, aku suka. Kenapa tidak dikeringkan ? sengaja ya mau menggodaku lagi ?" senyum menyeringai. Tangannya melingkar di pinggang Suci.


"Tidak begitu hehe."


Sebenarnya aku tadi mau mengeringkan rambut tapi hair dryer nya hilang.


Riki mulai lagi mengecup area bawah hidung Suci dengan lembut sambil menggerayangi tubuh mungil itu.


Ahhh dia mulai lagi. Apa dia mau menyiksaku ? aku tidak mau jadi istri durhaka, tapi kalau terlalu berlebihan begini aku juga bisa gila !!!


Firasat Suci benar-benar terjadi. Rambutnya sudah acak-acakan karena diserang Riki. Kini dia sudah tertidur pulas karena kecapean. Riki memindahkannya ke atas tempat tidur dan ikut berbaring di dekatnya. Memeluk erat kembali tubuh yang lemas itu.


Riki mengecup lama kening Suci dan membelai rambutnya. Senyum bahagia muncul di bibir Riki.


Kasihan sekali istriku. Kamu pasti kewalahan menghadapi ku. Salahmu sihhh kenapa bisa semanis ini. Aku kan jadi selalu greget kalau dekat-dekat denganmu. Tapi hari ini sudah cukup, aku tidak akan lagi mengganggu. Tidurlah yang nyenyak. Mungkin kita akan lanjutkan lagi nanti malam.


Riki cengengesan dan akhirnya ikut terlelap. Andai Suci bisa mendengar bisikan hati Riki barusan, maka sudah pasti dia akan frustasi.

__ADS_1


Saat masuk waktu Dzuhur Riki bangun dan segera mandi. Bersiap melaksanakan kewajiban lima waktu. Setelah itu dia menghampiri Suci yang masih terlelap.


Dibelainya kembali rambut yang masih semrawut itu. Dikecup pelan bibir dan kening Suci hingga membuatnya terbangun.


"Apa yang mau mas lakukan ? sudah cukup mas, aku sudah lelah." Suci duduk dan menutupi bagian dadanya dengan bantal.


"Haha...kamu lucu ! aku tidak akan melakukan apa-apa. Untuk hari ini sudah cukup."


Syukurlahhhh....


Suci mengusap dadanya lega.


"Simpan tenagamu untuk nanti malam." Riki tersenyum nakal.


Apa ??? aku bisa gilaaaa !!!


Suci melorot lemas dan kembali meringkuk. Wajahnya ditutupi bantal. Bibirnya sudah monyong.


"Sayang, terima kasih banyak untuk hari ini. Aku sangat bahagia." Memeluk Suci yang wajahnya sudah merah lagi karena malu. Jika tidak dihalangi bantal maka pasti sudah terlihat jelas.


Tolong jangan katakan itu, aku malu mendengarnya !


"Sudah Dzuhur, kamu tidak mau mandi ?"


Astaghfirullah...aku kenapa bisa sampai lupa ?


Suci secepat kilat bangun dan masuk kamar mandi.


Lucu sekali...!


Riki tersenyum melihat kelakuan istrinya.


***


Saat makan malam Suci dan Riki baru menampakkan hidung. Mereka jalan bersama menuruni anak tangga sambil berpegangan tangan. Sesekali Riki mencium tangan yang dipegangnya, namun Suci malah tak nyaman karena malu pada Raisya.


"Pengantin baru kan memang butuh waktu untuk berduaan saja." Riki menjawab santai.


Suci semakin malu saja. Dia tidak berani menegakkan wajahnya.


"Ya sihhh tapi masa harus seharian kalian menghabiskan waktu di dalam kamar ? mas dan kakak ipar tidak ke kantor kan ?!"


"Suci harus banyak istirahat karena dia terlalu kecapean. Lihat saja wajahnya pucat begitu !" Riki tersenyum menggoda sambil mengunyah makanan.


"Aahhh ya benar, apa mbak sakit ?"


"Tidak ! cuma lelah saja seharian terkurung di dalam kamar."


Upss !


"Terkurung ? apa yang mas lakukan pada mbak Suci ?" sudah panik.


"Tidak ada. Kami hanya bermain-main saja. Kamu tidak mungkin tidak tahu Raisya. Permainan macam apa yang dilakukan pengantin baru." Riki mesem.


Aku memang tahu sihhh tapi aku kan belum pernah praktek. Dan sama sekali tidak terpikir ke arah sana. Aku kira ada hal lain kenapa kalian mengurung diri seharian.


Suci pura-pura tidak mendengar percakapan memalukan itu.


Aku tidak menyangka suasana pernikahanku yang kedua akan seperti ini. Sangat berbeda dengan sebelumnya, yang terkesan lebih banyak serius dan juga berakhir luka.


Suci senyum-senyum. Ia larut dalam pikirannya sendiri. Pernikahannya dengan Riki lebih berkesan dan membuatnya lebih bahagia. Meski berawal dari hal memalukan dan menyakitkan namun hubungannya dengan Riki kini membuatnya merasa lebih dicintai dan dihargai.


Makan malam selesai dan pengantin baru masuk kandang lagi. Mengobrol di tempat tidur dan kembali beraksi.


Riki sudah memeluk erat tubuh Suci dan mengecup bibirnya.

__ADS_1


Ya ampunnn kode lagi. Tidak cape apa ?


Suci sudah ngedumel dalam hati. Apa daya dia tidak bisa menolak. Wajib ! dan di sudut hatinya yang lain dia pun menginginkannya.


Dan akhirnya itu terus berlangsung sampai beberapa hari ke depan hingga Suci dan Riki bolos kerja lagi. Dan masuk pada hari Seninnya.


***


Di tempat kerja di ruang OB.


Suci duduk lesu di bangku. Barbi menghampiri dan ikut duduk.


"Mbak kemana saja beberapa hari tidak kerja ? apa sakit lagi, mbak pucat sekali ?" memonitor wajah Suci.


"Mbak kecapean seharian lembur di rumah. Pekerjaan cuma satu tapi sering diulang-ulang. Mbak lelah !" Bicara pelan dan menyeruput kopi.


"Aku sama sekali tidak mengerti apa yang mbak maksud." Barbi menggaruk kepalanya.


"Pokoknya mbak letih." Suci bersandar pada kursi yang didudukinya.


Anehh ! memang pekerjaan apa yang hanya satu macam dan dilakukan berulang-ulang ? gak nyampe otakku. Pusing !!


***


Suci makan siang di kantin dengan rekan kerjanya. Riki makan di luar dengan rekan bisnisnya. Namun setelah urusan Riki selesai, dia menyuruh Suci masuk ke ruangannya.


Mereka sudah duduk di sofa.


"Tidak ada laki-laki yang mengganggumu kan ?!" bicara sambil mengelus kepala Suci.


Suci menggeleng.


"Maaf aku tadi makan dengan orang lain."


"Tidak masalah mas, aku juga sekali-kali ingin makan di kantin dengan yang lain. Biar mereka tidak curiga."


"Apa kamu bahagia menjadi istriku ?" menatap lembut.


"Aku bahagia mas. Terima kasih sudah mencintaiku dengan tulus." Tersenyum manis.


Riki menyosor lagi mulut yang barusan berkata manis.


Jangan pernah mengucapakan terima kasih atau aku harus menebusnya dengan perbuatan.


Riki berdiri dan menarik tangan Suci agar mengikutinya ke sebuah ruangan yang masih berada di ruang kerja Riki.


"Di sini ada kamar ? untuk apa ?" Suci terbelalak dan langsung tidak enak hati.


"Ini kamar khusus untuk aku tidur jika tidak sempat pulang ke rumah karena sibuk di kantor."


"Benarkah ? memang mas suka lembur juga ?"


"Dulu sih tapi sekarang sudah tidak. Sebenarnya bukan karena lembur tapi malas pulang ke rumah."


Gawatttt dia sudah menutup dan mengunci pintunya.


"Mas ini kan masih jam kerja. Aku harus kembali ke bawah."


"Aku sudah menyuruh semua karyawan pulang, jadi jangan khawatir." Riki sudah memeluk erat tubuh Suci.


Apa ??? Kode keras ! sudah pasti dia menginginkan aku sekarang !


Riki menyisir semua area wajah Suci. Mendekapnya lebih erat agar tidak lepas.


Aaahh tahu begini aku tidak akan masuk kerja lagi !!!

__ADS_1


Tapi percayalah Suci, meski kau bolos kerja pun suamimu akan selalu menemani. Di rumah atau di kantor pun tetap sama. Bersabarlah !


__ADS_2