Seperti Sampah

Seperti Sampah
Tinggal serumah.


__ADS_3

Selesai pernikahan dadakan di kantor RW, Suci dan Riki beserta ibu dan adiknya pulang ke rumah Bu Ayu.


"Bu maafkan Suci karena sudah membuat ibu malu. Tapi meskipun tidak sadar, aku yakin bahwa kami tidak melakukan itu." Suci menggenggam erat tangan ibunya seraya berderai air mata.


"Ibu percaya pada kalian. Tapi ini semua sudah terjadi. Kita tidak bisa menghindari." Bu Ayu membelai kepala Suci.


"Tapi mbak sekarang jadi bahan gunjingan orang sekampung. Aku tidak mau mereka menjelek-jelekkan mbak terus." Syarif sangat marah, terlebih pada dirinya sendiri karena tidak mampu membela kakaknya.


"Suci, Syarif, dan ibu. Tolong maafkan saya. Seandainya saja hari ini saya tidak datang ke rumah ini, mungkin semua tidak akan pernah terjadi." Riki menundukkan wajahnya.


"Bapak tidak perlu minta maaf. Hati ibu mengatakan bahwa Pak Riki memang tidak melakukan hal senonoh pada Suci. Sekarang kita terima saja semua ini dengan ikhlas. Mungkin kalian memang berjodoh."


Suci dan Riki bersitatap. Mendengar kata berjodoh membuat hati mereka berdesir.


Tidak bisa aku pungkiri bahwa aku juga bahagia bisa menjadi suami Suci yang sah. Tapi aku akan tetap mencari tahu alasan sebenarnya. Kenapa aku dan Suci bisa tiba-tiba tidak sadarkan diri dan berada di dalam kamar itu tanpa pakaian.


Tiba-tiba pintu digedor keras. Syarif membukanya. Pak RW dan beberapa warga sudah berdiri di depan.


"Ada apalagi pak ?" tanya Syarif malas.


"Mana kakakmu ? apa dia masih di sini ?" pak RW balik bertanya.


"Ada di dalam memangnya kenapa ? bukankah urusan ini sudah selesai ?" mulai kesal.


"Para warga mendesak saya agar menyuruh Suci segera angkat kaki dari kampung ini."


"Apa kalian belum cukup puas menghina kakak saya ? kenapa kalian harus mengusirnya juga ?" bicara setengah berteriak.


"Maaf Syarif kami tidak mau tinggal sekampung dengan wanita seperti Suci." Seorang pria bicara lantang.


"Kami tidak mau melihatnya lagi." Tambah yang lain.


"Ada apa lagi ini ?" Riki menghampiri mereka.


"Tolong bawa Suci pergi dari kampung ini. Kami tidak mau lagi melihat dia berseliweran di sini."


"Bawa dia sekarang juga atau kami bakar rumah ini. Tempat yang kalian pakai berzina."


"Hey, bukankah kalian sudah membicarakannya tadi di kantor RW ? kenapa kalian repot-repot begini ? saya juga tidak tuli. Saya akan membawa Suci ke rumah saya agar kalian tidak bisa lagi mengusiknya. Dengar semuanya ! jika ada yang berani menyakiti Suci dan keluarganya lagi, maka saya tidak akan membiarkan orang itu begitu saja."


Pak RW dan warga pun pergi. Riki dan Syarif kembali ke dalam. Setelah berunding akhirnya mereka sepakat bahwa Suci akan ikut tinggal bersama Riki. Meski berat namun itu adalah keputusan yang terbaik karena biar bagaimanapun, Suci sudah sah menjadi istri Riki.


"Lebih baik ibu dan Syarif juga ikut tinggal bersama kami." Riki memberi penawaran.


"Tidak nak, ibu mau tinggal di sini saja dengan Syarif." Bu Ayu menolak lembut.

__ADS_1


"Ya mas, kami tidak mau merepotkan mas." Syarif menimpali.


"Saya sama sekali tidak keberatan jika kalian mau tinggal bersama kami. Tapi saya juga tidak mau memaksa. Pintu rumah saya selalu terbuka untuk kalian." Riki tersenyum penuh arti.


Setelah peluk dan cium perpisahan, akhirnya Suci dan Riki pamit.


Sepanjang perjalanan mereka membisu. Tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Kasihan Pak Riki terpaksa harus menikahi wanita sepertiku. Dia terlalu baik. Suci.


Kamu pasti sangat bersedih karena peristiwa tadi. Aku akan berusaha membuat namamu menjadi baik kembali. Riki.


Sampai di rumah. Raisya begitu syok melihat kakaknya pulang membawa Suci. Dia terus bertanya namun hanya dijawab sebagian saja.


"Apa ? kalian sudah menikah ? kenapa mendadak sekali ?"


"Nanti mas pasti jelaskan. Sekarang mas mau mandi dulu setelah mengantar Suci ke kamarnya."


Suci dan Riki naik ke lantai atas meninggalkan Raisya yang masih bergelut dengan pikirannya sendiri. Ada banyak kamar di lantai atas. Setelah disuruh, barulah Suci memilih kamarnya. Sebenarnya dia tidak masalah mau ditempatkan dimana pun.


"Kamar ini ya ? baiklah jika kamu menyukainya. Berarti kamar kita berdekatan. Kalau perlu sesuatu bicara saja padaku. Aku mau mandi. Kamu sekarang lebih baik istirahat saja biar nanti pembantu yang membereskan kamar dan barang-barang." Riki masuk ke kamarnya.


Suci melihat-lihat kamar. Sungguh jauh berbeda dengan miliknya. Bahkan dibanding kamar Doni pun ini mungkin dua kali lipat dari punya Doni. Namun yang paling nyaman hanyalah kamar di rumah sempitnya. Karena di sana ada ibu dan adiknya.


Suci tersenyum getir.


"Permisi nona boleh saya masuk ?" seorang wanita mengetuk pintu.


"Silahkan masuk."


"Perkenalkan nona, saya Bi Fatma yang akan mengurus semua keperluan anda. Apa anda mau mandi sekarang ? biar saya siapkan air hangatnya."


"Biar saya kerjakan sendiri. Bibi silahkan saja mengurus pekerjaan yang lain. Saya bisa kok mengurus diri saya sendiri."


"Tidak bisa nona. Ini sudah perintah dari tuan. Permisi !" bi Fatma masuk ke kamar mandi dan melaksanakan tugasnya.


Sambil menunggu, Suci mengeluarkan semua pakaian dari kopernya. Memasukan bajunya ke dalam lemari.


"Apa yang sedang anda lakukan nona ? biar saya yang membereskan semuanya. Silahkan anda mandi dulu." Bi Fatma mengambil alih pakaian itu.


"Tapi....saya bisa sendiri."


"Sudah nona. Ini tugas saya." Bersikeras hingga akhirnya Suci menurut saja.


Dia masuk kamar mandi dan segera membersihkan tubuhnya. Sementara itu bi Fatma segera membereskan pakaian dan juga kamar itu agar terlihat lebih rapi dan nyaman.

__ADS_1


Sebenarnya kamar itu masih bersih karena setiap hari dirawat meski tak berpenghuni. Namun karena ada orang yang spesial yang akan menempatinya maka harus dirapikan secantik mungkin. Namun karena bi Fatma sangat cekatan dan lihai maka pekerjaan itu beres bersamaan dengan Suci keluar dari kamar mandi.


"Sudah selesai nona. Semoga anda nyaman. Saya permisi." Bi Fatma pergi.


"Ya terima kasih." Entah didengar atau tidak oleh bi Fatma yang jalannya sangat cepat.


Suci segera berpakaian dan mematut diri di depan cermin. Memakai riasan tipis.


Untuk apa aku berhias ? Suci baru sadar dan segera dihapus make up itu padahal tidak kelihatan menonjol di wajahnya.


Sudah adzan isya. Namun Suci sengaja tidak mengambil wudhu karena dia sedang datang bulan. Suci hanya merapal dzikir dan shalawat. Dia kembali teringat kejadian hari ini.


Mungkin ini semua adalah teguran karena aku sudah terlalu dekat dengan Pak Riki. Meskipun tidak ada kontak fisik diantara kami, tapi harusnya aku menjaga jarak karena dia bukan muhrim. Aku memang sudah salah ! tapi saat ini kami sudah resmi menjadi suami istri meskipun hanya menikah secara agama.


"Mbak ini aku. Boleh masuk ?"


"Silahkan Raisya."


Raisya menghampiri Suci.


"Mas Riki sudah cerita semuanya. Aku percaya pada kalian. Mbak yang sabar ya ?! aku yakin ada hikmah di balik semua kejadian ini. Mungkin kalian memang berjodoh." Raisya tersenyum.


Aku senang mas Riki akhirnya bisa menikahi wanita yang dicintainya meskipun dengan cara yang tidak pernah terduga. Aku harap mbak Suci dan kakakku bisa hidup bahagia.


Suci hanya terdiam menanggapi pendapat Raisya.


"Kita ke bawah yuk mbak. Mas Riki sudah menunggu kita untuk makan malam."


Suci mengangguk. Perutnya memang sudah mengaung dari tadi.


Riki menatap kedatangan Suci tanpa berkedip. Dia melihat wanita itu seperti ditaburi cahaya bintang. Jantungnya berdetak kencang.


*A*ku seperti sedang bermimpi, dia benar-benar ada di rumah ini sebagai istriku.


Suci duduk berhadapan dengan Riki. Acara makan malam pun dimulai. Meski agak malu-malu dan masih canggung namun Suci makan dengan lahap tapi tidak sampai kekenyangan. Apalagi Riki, nafsu makannya semakin bertambah karena bersemangat.


Makan malam dengan istriku sendiri. Ahhhh istriku !!!!


Andai tidak ada orang maka Riki sudah cengar-cengir sendiri.


Note.


Terima kasih banyak pada kalian semua yang sudah mampir dan menyimak cerita ini. Makasih juga sudah support author.


Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan bagi yang menjalankannya.

__ADS_1


__ADS_2