
Setelah tiga malam berada di hotel, tanpa keluar sedikit pun dari kamar, akhirnya pagi ini Yusuf dan Andini pulang. Mereka sudah duduk di kursi belakang mobil. Siapa sopirnya ? ya, tentu saja Willy. Asisten itu memang sengaja menjemput tuannya, agar setelah mengantar Andini ke rumah besar, mereka bisa langsung meluncur ke Perusahaan Angkasa Group.
Selama perjalanan, mata Yusuf tak beralih dari sosok cantik yang duduk di sampingnya. Senyum pun tak henti menghiasi bibirnya. Tangannya selalu memegang erat tangan Andini. "An, sebenarnya aku malas pergi ke kantor, aku masih ingin menghabiskan waktu dengan istriku yang menggemaskan ini." Dengan santainya, tiduran di pangkuan Dini. Sesekali mengecup tangan istrinya.
Wajah Andini sudah sangat merah padam menahan malu, dia tahu jika orang di balik kemudi, sedang memperhatikan mereka meskipun pura-pura acuh. "Bukankah kita masih banyak waktu untuk berduaan ? lagipula pekerjaanmu itu sangat penting, jangan sampai ditinggalkan." Nyengir sambil sesekali melirik ke depan, tidak enak pada sang asisten suaminya.
"Tapi aku lebih suka berdiam diri di kamar bersama dirimu. Itu jauh lebih menyenangkan daripada berada di kantor bersama Willy."
Telinga orang yang sedang dibicarakan itu mendadak membesar. Mendengar namanya disebut, pria itu sedikit terusik. Kenapa dirinya dibawa-bawa dalam kebucinan tuannya ?
"Apa aku batalkan saja pergi ke kantor ? biarkan saja Willy yang mengurus semuanya. Mendadak aku tidak enak badan, coba pegang keningku ! aku agak demam." Suaranya dibuat agak gemetar seperti orang yang panas dingin, tubuhnya tak luput dari sandiwara, digerakkan seolah sedang menggigil.
"Ah, biasa saja. Panas badanmu masih normal," menempelkan telapak tangannya di dahi Yusuf.
Willy mengembuskan napasnya kasar, Sejak kapan tuan jadi semanja ini ? sepertinya dia bukan sedang sakit, tapi demam cinta.
"Kamu ini, aku benar-benar tidak enak badan. Aku ingin istirahat di kamar sambil dipeluk oleh istriku, pasti akan langsung sembuh." Yusuf merengek-rengek.
Willy menaikkan sebelah alisnya, Dan tuan juga sekarang pintar modus !
Andini nyengir, "Yusuf, suamiku yang baik, jangan pura-pura seperti ini ! apa tidak malu, saat ini kita bukan sedang berdua saja ?" bisik-bisik agar orang di depan tidak mendengar.
"Kenapa ? aku sama sekali tidak terganggu dengan keberadaan Willy." Bicara lantang, lagi-lagi membuat telinga yang dibicarakan menjadi lebar.
Willy pura-pura tenang meski hatinya menggerutu, Tapi saya yang terganggu dengan kelakuan anda tuan ! baru kali ini saya merasa kesal pada anda, Maaf !
Andini melotot sambil menempelkan telunjuknya di bibir, "Syuttt ! kamu sama sekali tidak punya malu !" bisik-bisik lagi.
Yusuf hanya tersenyum sambil memeluk pinggang Andini.
Willy berdehem pelan, "Maaf tuan, nona, kita sudah sampai."
Andini mencolek-colek tubuh suaminya dengan cepat, "Ayo kita turun !"
Yusuf duduk dengan malas, "Sudah sampai ? cepat sekali ! Will, apa kau tadi menjalankan mobil ini dengan kecepatan di atas normal ?"
"Tidak tuan, seperti biasa saja." Mungkin anda yang sedang tidak normal. Memang benar apa kata orang, jika sedang bahagia, waktu terasa cepat berlalu !
Willy turun dari mobil lalu membukakan pintu untuk atasannya itu. Dia sangat shock melihat leher tuannya yang penuh bulatan lumayan besar, berwarna merah. Ada juga sedikit bekas cakaran di sana. "Anda kenapa tuan ? apa yang sudah terjadi ? siapa yang sudah kurang ajar menyerang anda ?" panik dan sudah naik pitam.
Yusuf malah mesem memegang lehernya, "Jangan cemas ! ini adalah serangan paling indah dari orang spesial. Kau tidak akan mengerti." Melenggang pergi sembari meraih pundak istrinya itu yang sedari tadi menunduk malu.
Willy mengekor namun wajahnya masih bingung, Serangan terindah dari orang spesial ? apa dari nona Andini ? memangnya apa yang dia lakukan ? apa sebenarnya pengantin baru itu main cakar-cakaran atau apa ?
***
Di dalam rumah, di ruang keluarga. Kedua orang tua, Oma dan semua adik-adik Yusuf ada di sana. Mereka menunggu sang pengantin baru.
Andini sungkem pada mertua dan Oma. Si kembar cantik cipika-cipiki pada kakak iparnya. Zein dan Zidan pun tak mau kalah, mereka menghampiri Andini. Yusuf menghalangi Andini dengan badannya. "Mau apa kalian ?" judesnya keluar.
"Mau sungkem pada kakak ipar," jawab Zidan.
"Tidak boleh ! dilarang menatap atau bersentuhan dengan kakak ipar, apapun alasannya !"
Si kembar tampan melongo lalu saling tatap. "Kenapa ?" bertanya bersamaan sambil menatap wajah kakak pertama.
"Pokoknya tidak boleh !"
Andini menggoyangkan bahu suaminya agar berhenti bertindak konyol. "Biarkan saja, tidak masalah !" agak pelan bicaranya karena merasa tidak enak dengan yang lain.
Yusuf tidak menghiraukan kicauan istrinya itu. Dia tetap berdiri menghalangi tubuh Andini dari jangkauan kedua adik laki-lakinya. Akhirnya Zidan dan Zein menyerah, kembali duduk di sebelah Oma.
Suci berbisik di telinga suaminya, "Yusuf seperti siapa ya ?"
__ADS_1
Riki tergelak, "He's my son ! sudah sepantasnya dia mirip papanya," berkata dengan penuh kebanggaan.
Khaira dan Khesya yang duduk di sebelah ibunya ikut nimbrung. "Ya, papa benar. Kak Yusuf sekarang sikapnya sama seperti papa, konyol hihihi...." Khesya tertawa kecil diikuti kembarannya.
"Ingat tidak, saat waktu kecil aku pernah bilang, kak Yusuf itu tidak punya saudara kembar karena dia judes, tak ada yang mau menemaninya di dalam perut mama. Rupanya itu salah, kembarannya kakak pertama itu adalah papa." Khesya tertawa lebih kencang, diikuti Khaira.
Yusuf berdehem keras, "Kalian menertawakan aku ?"
Si kembar geleng-geleng kepala masih cekikikan. Suci mengalihkan perhatian anak sulungnya itu, "Yusuf, bawa Andini untuk sarapan, sekalian ajak Willy juga !"
Oh ya, asisten itu hampir terlupakan. Sebenarnya pria itu sedang berdiri di dekat pintu. Memperhatikan sekeliling, lebih banyak tatapannya tertuju pada Khesya. Sudah setahun ini, dirinya merasa tertarik pada gadis yang tidak ada kalem-kalemnya itu.
"Tidak usah, ma. Kami sudah sarapan tadi di hotel. Yusuf harus berangkat sekarang, titip Andini. Jangan sampai Zidan dan Zein menggangunya !"
Semua orang di sana tertawa, kecuali Andini dan si kembar tampan, beserta Willy.
Apa-apaan Yusuf ? apa itu tidak berlebihan ? Andini.
Kakak kenapa seperti itu ? memangnya apa yang akan aku lakukan pada kakak ipar ? tidak mungkin aku mengganggu kak Andini ! Zidan dan Zein.
Kekonyolan kesekian kalinya yang dilakukan tuan Yusuf. Ini tidak masuk akal rasanya ! Willy.
"Kenapa kalian tertawa ? aku serius !" Yusuf menatap mereka bergantian.
Riki berdiri lalu menepuk-nepuk pundak anaknya. "Tenang saja, jagoan ! kami akan menjaga menantu dengan baik."
Yusuf pun pamit pada mereka semua. Sebelum pergi, dia menetap lekat wajah istrinya itu, seolah akan pergi jauh selama bertahun-tahun. Menggenggam erat tangan Andini, "Aku berangkat. Jaga dirimu baik-baik !"
Dini mengangguk pelan sambil tersenyum. Khesya dan Khaira kembali cekikikan, kelakuan kakak mereka benar-benar menghibur.
***
Seluruh karyawan cekikikan saat bos besar berjalan melewati mereka. Leher penuh tanda merah itu menjadi pusat perhatian semua orang. Pria itu cuek saja, namun asistennya yang malah panik. Karyawan yang berani menertawakan tuannya, mendapat tatapan runcing dari Willy.
"Maaf, tuan. Sebaiknya leher anda harus ditutupi ! sepertinya para karyawan menertawakan anda gara-gara tanda merah itu."
"Biarkan saja, aku tidak peduli ! mereka belum tentu tahu betapa bahagianya aku saat ini," masih mengelus leher kebanggaannya.
"Tapi justru karena itu, anda jadi terlihat, maaf tuan. Anda terlihat konyol. Mereka menertawakan anda, itu artinya kewibawaan anda merosot di mata para karyawan. Saya tidak suka saat anda direndahkan seperti tadi."
Yusuf menoleh ke belakang, "Biarkan mereka mendapat sedikit hiburan, itu tidak akan membuat harga diriku jatuh. Lagipula aku sama sekali tidak terusik dengan sikap mereka."
Pintu lift terbuka. Yusuf melangkah mantap dengan berbinar-binar. Sepertinya seluruh ruangan yang dia lewati terlihat dipenuhi bunga-bunga segar. Membuat wajahnya makin berseri-seri, menyemburkan kebahagiaan.
Sekretaris membungkuk hormat, "Selamat pagi, pak !"
"Pagi !" tersenyum setelah menghentikan langkahnya.
"Anda terlihat sangat cerah ceria pagi ini, pak !" sang sekretaris tersenyum ramah. Tiba-tiba matanya tertuju pada leher si bos. Wowww ! sedahsyat apakah malam pertama si bos ? lehernya sampai penuh bekas gigitan dan cakaran.
"Kau sudah menikah kan, Eli ?"
"Ya, pak. Beberapa bulan yang lalu, anda sudah tahu, bukan ?!"
"Bagus, berarti kau sudah paham !" langsung pergi ke ruangannya diikuti Willy.
Eli menunduk malu. Dia mesem-mesem sendiri membayangkan adegan apa yang sudah dilakoni bos besarnya itu. Apakah sama dengan yang dulu dia lakukan dengan suaminya di malam pengantin ?
Ahhh, manis sekali ! Sekretaris itu menepuk-nepuk pipinya sendiri. Setelah itu kembali duduk di kursi kerjanya. Tumpukan tugas tidak akan mungkin beres dengan sendirinya, bukan ?!
***
Usai makan malam, Yusuf menyeret istrinya ke dalam kamar. Setelah yakin pintu sudah dikunci, dia mendorong tubuh Andini hingga punggung istrinya itu menempel dengan pintu. Menyeringai menatap wajah tegang perempuan itu.
__ADS_1
Andini menahan nafasnya saat kening mereka bertabrakan. Mata elang itu tak lepas dari bibirnya. Dini meremas jemarinya sembari menggigit bibir bawahnya.
"Kamu sengaja menggoda ku ? aku pernah bilang, jangan lakukan ini ! aku selalu gila saat melihat kamu menggigit bibirmu sendiri."
Andini menggeleng. Dia tidak berniat begitu, itu memang kadang refleks dia lakukan saat sedang gugup. Namun, hal itu tak mampu dia jelaskan. Saat ini mendadak mulutnya terkunci.
Yusuf meraup wajah Andini dan langsung melahap area yang menggoda itu. Tangan istrinya melingkar di pinggangnya. Lama sekali keduanya saling menyentuh di sana. Hingga hasrat mereka semakin liar, Yusuf membawa tubuh Andini ke atas kasur. Dengan tatapan sama-sama sayu, mereka melihat ekspresi masing-masing. Ada cinta, hasrat dan kenikmatan yang muncul di mata keduanya.
Andini terpejam ketika area wajahnya kembali ditelusuri oleh hidung dan bibir suaminya. Gesekan lembut yang mengalirkan ketegangan, namun membuat tubuhnya lemas. Sentuhan pria itu benar-benar membuatnya gila.
Dadanya naik turun saat bibir itu jalan-jalan di leher dan menggambar bulatan kecil berwarna merah di sana. Andini sudah kehilangan akal saat ini. Tangannya mencengkram erat rambut Yusuf. Tapi pria itu tak sedikitpun kesakitan.
Yusuf menghentikan aktivitas asyiknya itu. Sejenak dia melihat ke sosok perempuan yang ada di bawahnya dengan tersenyum. "Aku mencintaimu, sayang."
Entahlah, perkataan itu membuat Andini merinding. Mungkin karena Yusuf mengatakannya dengan tatapan lapar, dan nafas yang terengah-engah.
"Aku juga mencintaimu, suamiku." Kalimat itu begitu saja terlontar ringan dari mulutnya, mewakili perasaannya kini.
Yusuf melebarkan senyumnya, lalu melanjutkan kembali kegiatan yang baru saja dijeda itu. Mereka hanyut dalam dunia itu lagi. Dunia milik berdua tanpa ada gangguan.
***
Yusuf berbaring di samping Andini setelah pergulatan hebat itu selesai. Tersenyum membelai rambut yang acak-acakan milik istrinya. "Sayang, apa kamu ingin sekolah lagi ?"
Andini terbelalak, "Aku sekolah lagi ? maksudmu sekolah persamaan, begitu ? apa tidak masalah ?"
"Tentu tidak. Jika kamu bersedia, aku akan mengurusnya."
"Aku mau ! aku ingin memantaskan diri sebagai istrimu. Kamu itu kan berpendidikan tinggi, masa punya istri lulusan SMP."
"Bukan begitu maksudku. Aku tidak malu dengan latar belakang pendidikanmu. Aku hanya ingin mewujudkan impian istriku, bukankah kamu ingin kuliah ?"
"Aku mau, sangat mau melanjutkan pendidikanku. Terima kasih banyak, suamiku yang tampan dan baik ! aku semakin mencintaimu !" mencium seluruh wajah Yusuf.
"Jangan berterima kasih, kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga. Tapi tolong jangan menghujaniku dengan banyak kecupan, apalagi di bibir. Apa kamu mau tanggung jawab jika otakku kembali miring ?" menggerakkan alisnya ke atas ke bawah.
"Ah, ya...ya. Ayo kita tidur !"
"Telat, kamu sudah membangunkan lagi bagian yang baru saja akan tidur. Tanggung jawab, sayang !" memegang tengkuk Andini.
"Hey, heyyyy tenanglah ! masa segitu saja membuat otakmu miring !" nyengir kuda. Apa dia sudah gila ? baru saja yang tadi selesai, dia sudah mau tambah lagi. Apa tidak cape, ya ?! jangan-jangan dia bukan manusia !
"Aku kecanduan sekarang !" usai bicara, segera menyerang bibir pink itu dengan lembut dulu, semakin lama semakin buas.
Andini dibuat tak berkutik. Pria itu benar-benar mengunci tubuhnya hingga tak dapat menghindar. Anehnya, Andini malah menyukai diperlakukan seperti itu. Mungkin dia juga sudah tidak waras. Atau memang Yusuf pintar membangkitkan gairah istrinya itu.
Ronde dua pun dilewati dengan khidmat tanpa perlawanan. Berakhir dengan seri, sama-sama menang meskipun badan mereka nyaris remuk.
Yusuf kembali terbaring lesu di samping istrinya. Andini tersenyum geli sambil memukul pelan bahu suaminya. "Yusuf, apa kita sudah sama-sama gila ? sudah dua kali kita melakukan ini hanya dalam waktu satu jam saja."
Yusuf terkekeh, "Biarkan saja, kita pasangan yang hebat, bukan ?! yang penting kita tidak merugikan siapapun. Dan yang paling utama, kita adalah pasangan suami-istri yang sah di mata hukum agama dan negara. Bukan masalah, kan ?!"
"Ya, benar sekali." Memeluk erat suaminya.
"Jangan merayuku lagi, sayang ! setidaknya beri aku waktu untuk beristirahat sebentar. Baru kita bisa lanjut ke ronde 3."
"Ckkk, siapa yang merayu ? kamu saja yang sensitif. Dicolek sedikit saja bisa langsung tegang."
"Itu karena kamu punya magnet yang sangat kuat. Entahlah, tiap berdekatan dengan mu, pikiranku selalu konslet."
"Ahh, terserahlah ! ayo kita tidur ! aku benar-benar ngantuk !" Membenamkan wajahnya di dada Yusuf.
Mungkin karena kelelahan, keduanya pun terlelap. Entahlah, apakah ronde 3 itu akan terlaksana atau tidak ?
__ADS_1