Seperti Sampah

Seperti Sampah
Bab 36.


__ADS_3

Yusuf dan Willy masuk ke dalam mobil setelah keluar dari rumah kosong itu. Tak ada kata yang terucap dari mulut pria bermata sipit itu. Dia menangis frustasi dengan memegang kepalanya. Kemana lagi harus mencari istrinya ? Pikirannya seolah buntu. Terlalu dalam duka yang dia rasakan. An, dimana kamu sekarang ? Aku sangat merindukanmu !


Sang asisten menarik nafasnya panjang. Dia sangat mengerti jika tuannya sedang bersedih. Willy memutar otak agar mendapatkan cara untuk menemukan Andini secepatnya.


"Aaarghhh ! Perempuan itu seharusnya tidak boleh dibiarkan hidup. Gara-gara ulahnya, Andini menghilang. Istriku pasti menghindar setelah kejadian itu. Aku yakin Andini merasa sangat terpukul saat ini. Aku harus segera menemukan nya." Berteriak-teriak sambil meninju pintu mobil di sampingnya.


"Tuan, bagaimana jika kita menggunakan media untuk mencari nona ? Berita itu pasti akan tersebar dengan cepat. Semakin banyak orang yang tahu, maka semakin besar juga peluang untuk mendapat informasi tentang nona."


"Urus sekarang juga !" Yusuf ingin memakai berbagai cara untuk segera menemukan Andini. Siapa tahu saran dari Willy berhasil.


"Baik, tuan."


***


Siang hari ini Bu Vivian mengajak Andini ke supermarket. Berharap agar perempuan muda itu dapat sedikit melupakan kesedihannya. Sepanjang berbelanja, Dini hanya terdiam. Tatapannya kosong. Hati dan pikirannya masih kacau. Kejadian pahit itu belum bisa hilang dari ingatannya.


Air mata merembes pada kain masker yang menutupi sebagian wajahnya. Dini benar-benar merindukan suaminya. Tak tahan lagi dengan gumpalan sesak di dadanya, ia berlari ke kamar mandi. Menangis sepuasnya di dalam toilet.


Setelah sepuluh menit, barulah wanita itu keluar. Andini menghampiri seorang gadis belia yang sedang merapikan riasannya. "Maaf, dek. Boleh pinjam HP-nya sebentar ? Kakak mau menelpon seseorang."


"Ini, kak." Merogoh benda itu dari dalam tas kecilnya, menyodorkan pada Andini.


Tangan Andini bergetar saat mengambil ponsel lalu menekan nomor Yusuf. Apa benar yang dia lakukan ? Tapi, dia sungguh ingin mendengar suara suaminya.


Jantung Andini memacu cepat saat menunggu jawaban dari Yusuf.


"Halo !" Suara itulah yang ingin dia dengar.


Suamiku ! Andini sengaja tidak mengeluarkan suara, belum siap untuk menghadapi suaminya itu.


"Halo, siapa ini ? Cepat bicara !"


Aku merindukanmu, sayang ! Aku ingin memelukmu. Tapi aku tidak bisa melakukannya. Aku mencintaimu ! Air mata Andini bercucuran.


"Saya tidak punya waktu untuk meladeni orang iseng." Telpon ditutup.


Andini mengembalikan benda itu pada pemiliknya. Meskipun hanya sebentar, setidaknya dia sudah bisa mendengar suara yang dia rindukan.


"Terima kasih, dek." Berlalu pergi.


"Sama-sama, kak." Gadis itu menatap heran kakak yang meminjam ponselnya. Kenapa ingin menelpon tapi tidak bicara sepatah katapun ? Kenapa juga kakak itu menangis ? Ahhh, tapi itu sama sekali bukan urusannya.


***


Yusuf mendengus kesal. Di saat dia berharap ada seseorang yang memberi informasi penting tentang istrinya, dia malah terkena telpon iseng dari orang aneh. "Apa banyak orang yang pengangguran saat ini, sehingga punya banyak waktu untuk menjahili orang lain ?"


Andai saja yang menelpon tadi adalah Andini, aku pasti akan sangat bahagia. Tunggu, sial ! Apa jangan-jangan orang itu memang Andini ?


Yusuf menghubungi nomor yang barusan menelponnya.


"Halo, Andini ! Apa ini kamu ?"


"Halo, maaf saya bukan Andini."


Suara yang dia dengar memang berbeda. Bukan suara istrinya. "Maaf. Apakah anda yang tadi menelpon ke nomor saya ?"


"Bukan, kak. Tadi ada seorang perempuan yang meminjam HP saya, mungkin dia yang menghubungi kakak."


"Baiklah, dimana dia sekarang ?"


"Tidak tahu, kakak itu sudah pergi."


"Saya akan mengirim fotonya, tolong ingat-ingat apakah perempuan yang meminjam ponselmu adalah orang yang ku cari ? Jika benar, beri tahu dimana posisimu saat ini !" menutup pembicaraan lalu mengirim pesan ke nomor yang sama.


Gadis itu segera membalas pesan setelah memperhatikan betul-betul foto Andini. Memberi tahu dimana dia bertemu kakak itu.


***


Setelah mengetahui jika Andini ada di sebuah Supermarket, dia langsung meluncur. Mencari sosok Andini di segala penjuru tempat, dengan bantuan anak buahnya. Tapi Yusuf belum beruntung, tak ada yang melihat istrinya.

__ADS_1


"Aku harus mengecek rekaman CCTV tempat ini !" Yusuf segera bergerak diikuti asistennya.


Setelah cukup lama ternyata sosok yang dia cari, tak nampak di CCTV itu. Mungkin Yusuf sudah salah mengira. Orang yang menelponnya mungkin bukan Andini.


***


Andini dan Bu Vivian duduk di kursi belakang mobil.


"Andini, nak. Jangan memikirkan itu lagi ! Semua adalah musibah yang merupakan ujian dalam hidupmu. Lupakan dan hadapilah semua dengan tabah !"


Andini hanya terdiam tak merespon. Dia pun ingin melakukan seperti yang dikatakan Bu Vivian, tapi tetap saja terasa berat.


Jedakkkk !!! Mobil yang mereka tumpangi bertabrakan dengan mobil di depannya. Untung saja benturannya tidak keras. Hanya menyebabkan kelecetan sedikit di badan mobil keduanya. Namun tetap saja penumpang mobil di depan, teriak marah-marah pada sopirnya. "Apa kau baru pertama kali menyetir ? Kenapa bisa seceroboh ini ? Kau tahu kan, jika aku tidak punya banyak waktu untuk mengurusi hal yang tidak penting seperti ini ?!"


Andini dan Bu Vivian beserta sopirnya turun dari mobil. "Maaf, tuan. Ini salah saya karena tidak terlalu fokus." Ucap sopir Bu Vivian.


Si sopir mobil satu lagi pun turun menghampiri. "Tidak apa-apa, Pak. Lain kali hati-hati ! Jika terjadi masalah karena kecelakaan ini, hubungi saya !" Menyodorkan sebuah kartu nama.


Andini terbelalak melihat pria di depannya ternyata adalah sang asisten. Berarti suaminya ada di dalam mobil itu. Jika saja keadaannya tidak seperti ini, dia pasti akan menghambur ke pelukan Yusuf.


"Jangan, tuan. Ini adalah kesalahan saya. Anda tidak harus bertanggung jawab. Sebaliknya, saya yang harus bertanggung jawab karena mobil anda lecet." Ucap mang sopir.


"Benar, tuan. Maafkan sopir saya, biar saya saja yang bertanggung jawab." Bu Vivian menimpali.


"Will, cepatlah ! Kita harus bergerak cepat untuk mencari istriku !" Yusuf nongol dari jendela mobil sambil teriak.


Deg ! Air mata Andini tumpah saat itu juga. Suara itu, ingin sekali dia menjawab dan berkata bahwa istri yang dicari pria itu adalah dirinya. Tapi tentu saja dia tak bisa melakukannya. Dini belum siap untuk menjelaskan apa yang sudah menimpanya.


"Maaf, saya harus masuk ke mobil. Permisi !" Sebelum pergi, Willy beberapa saat melihat pada wanita berkerudung yang memakai masker itu. Kenapa rasanya tidak asing di matanya ?


Andini menundukkan wajahnya saat asisten itu menatapnya. Meski penampilannya sangat berbeda tapi ada rasa was-was jika Willy akan mengenalinya.


Yusuf bersama asistennya meluncur melewati ketiga orang itu. Andini mendongak dan air matanya semakin deras saat melihat sosok yang dia rindukan itu duduk dalam mobil. Aku merindukan mu !


Bu Vivian memanggilnya agar segera masuk mobil. Perlahan dia menyeret kakinya yang terasa berat. Harusnya dia kini sedang berada di mobil itu bersama suaminya.


***


Bukannya dia tak mau memperjuangkan cintanya. Andini merasa tidak layak lagi mendampingi pria seperti Yusuf.


Di sela-sela tangisnya, pintu kamar diketuk. Bu Vivian memanggilnya agar datang ke ruang televisi. Andini menyeka air matanya lalu menuruti permintaan wanita berhati lembut itu.


"Duduklah, nak !" menepuk kursi kosong di sebelahnya.


Perlahan Andini duduk tapi matanya tak lepas dari televisi di depannya. Suara pengisi acara yang ditonton Bu Vivian, telah menyita perhatiannya. Tidak asing di telinganya.


"Pemilik stasiun TV swasta ini sekaligus CEO termuda di kota kita, sebentar lagi ingin menyampaikan pengumuman penting." Ucap Bu Vivian.


Andini membuntang karena ternyata orang yang dimaksud Bu Vivian adalah Yusuf. Dalam TV yang besar itu, sosok suaminya begitu jelas terlihat. Sangat tampan meskipun wajahnya agak kusut dan sendu.


Matanya berkaca-kaca. Terharu karena bisa melihat lagi wajah itu. Namun, rasa rindunya malah makin menggunung.


"Andini, dimana pun kamu berada, pulanglah, aku sangat merindukanmu ! Hidupku berantakan jika tanpamu." Yusuf berurai air mata, tak peduli jika kini ada berjuta pasang mata yang menyaksikannya.


"Sepertinya anda sangat mencintainya. Jika seandainya istri anda sedang menonton acara ini, apa yang akan anda katakan ?" tanya pembawa acara.


"Aku tahu kamu saat ini sedang ada di suatu tempat. Kamu sebenarnya juga merindukan ku. Aku akan terus berusaha menemukanmu. Aku sangat mencintaimu, Andini."


Andini menangis sesenggukan. Dia benar-benar tidak tega melihat kesedihan di mata suaminya. Maaf ! Maafkan aku !


Bu Vivian menatapnya dalam-dalam. Apakah yang dimaksud pria dalam TV itu adalah wanita muda yang duduk bersamanya ?


"Nona Andini, suami anda begitu sangat mencintai anda. Saya harap dimana pun nona berada, semoga dalam keadaan baik-baik saja. Dan segera bertemu kembali dengan tuan Yusuf Hadi Wijaya. Untuk anda yang melihat foto ini, segera hubungi tim kami ! Mohon bantuannya dan juga doa untuk pasangan ini."


Bu Vivian mengusap punggung perempuan yang sedang tersedu itu. Kini dia yakin jika Andini memang istri yang dicari tuan Yusuf. "Dia sangat mencintaimu, nak. Ibu yakin suamimu akan bersedia menerima keadaanmu yang sekarang. Sudah saatnya kamu menemuinya. Dia berhak tahu !"


"Aku belum yakin, Bu. Aku takut jika ini akan membuatnya terluka dan kecewa."


"Tapi cepat atau lambat dia pasti akan mengetahuinya. Kamu harus berani menghadapinya !"

__ADS_1


Entahlah, Dini masih ragu. Dia belum siap menjelaskan semuanya.


***


Pagi ini Andini pergi ke apotek untuk membeli obat Bu Vivian. Saat baru keluar dari tempat itu, dia tak sengaja menabrak seorang pria yang berjalan tergesa-gesa. Bungkusan plastik obat terjatuh ke bawah. Pria itu segera membantunya. "Maaf," Ucapnya.


Andini mendongak, lagi-lagi dia dipertemukan dengan suaminya dengan cara tak terduga.


Andini tak berani bersuara, itu akan membuat Yusuf mengenalinya. Dia segera berdiri.


"Maaf, apa anda pernah melihat perempuan ini ? Dia adalah istri saya. Sudah beberapa hari ini dia menghilang. Coba perhatikan baik-baik, mungkin saja anda pernah bertemu dengannya !" Yusuf menunjukkan foto Andini yang ada di ponselnya.


Air mata itu kembali tumpah tanpa seijinnya. Membasahi masker yang menempel di hidung sampai dagunya. Dia semakin bersalah pada Yusuf. Ingin sekali dia memeluk pria itu detik ini juga. Mengatakan jika dialah Andini. Namun, rasa rendah dirinya mengalahkan rasa rindunya. Sekuat tenaga bertahan agar tangan kotornya tak menyentuh Yusuf.


"Nona, katakan apa anda pernah melihatnya ?!"


Andini menggeleng lalu berjalan melewatinya.


"Andini, aku sangat mencintaimu." Perkataan Yusuf membuat langkah perempuan itu terhenti. Apakah suaminya itu bisa mengenali dirinya ? Apa yang harus dia lakukan saat ini ?


"Andini, jangan pergi ! Aku sangat merindukanmu, sayang !"


Andini menoleh pada pria yang tengah menangisi fotonya. Yusuf bahkan memeluk dan menciumi gambar Andini yang ada dalam ponselnya. Ternyata Yusuf belum menyadari jika istrinya sedang berdiri menatapnya.


Andini lagi-lagi menangis. Hatinya terkoyak melihat pria itu begitu berantakan. Wajahnya pucat dan sendu. Rambutnya acak-acakan. Bahkan pria itu masih memakai baju yang sama saat ada dalam acara semalam. Suaminya itu terlihat seperti orang yang tidak waras. Bahkan orang yang lalu lalang melewatinya, menatapnya dengan aneh. Tanpa malu menangis dengan terus menatap layar ponsel.


"Andini, kamu ada dimana ?" Tubuhnya bertumpu pada lututnya.


Maaf !!!


Andini menjerit dalam hati. Dia tidak mau melihat suaminya menderita seperti itu. Tapi lagi-lagi rasa rendah diri mencegahnya untuk menemui Yusuf.


"Astaga, tuan. Saya mencari-cari anda, ternyata anda ada di sini. Mari kita pulang dulu, tuan. Anda belum makan sejak siang kemarin. Saya tidak mau anda sakit." Willy membantunya berdiri.


Andini berbalik dan membelakangi lagi kedua pria itu. Perasaannya makin gusar. Ternyata seorang Yusuf jauh lebih menderita dibanding yang dia pikir.


"Biarkan aku sakit, mungkin jika begitu Andini akan ada di sampingku." Tersenyum kelu.


Willy segera membawanya ke dalam mobil. Sedangkan Andini diam-diam berbalik dan menatap kepergian suaminya dengan pilu.


***


Yusuf berada di rumah keluarganya. Duduk termenung di ruang tamu. Oma dan adik-adiknya sudah membujuk agar dia mau makan dan istirahat. Tapi pria itu menolak. Willy pun tak berhasil membujuknya.


Yusuf terus menghubungi pihak TV yang menangani acaranya semalam. Berharap ada seseorang yang memberi informasi mengenai Andini. Ada beberapa orang yang mengaku melihat istrinya itu tapi ternyata hanyalah kebohongan.


"Arggghhh !" Yusuf nyaris membanting ponselnya karena kesal tak kunjung menemukan Andini. Tapi niat itu dia urungkan setelah ingat jika benda tersebut menyimpan foto-foto istrinya. "Andini, aku merindukanmu !" memeluk dan mencium gambar Dini.


Semua orang menitikkan air mata, melihat Yusuf yang sudah seperti hilang akal. Oma memeluk cucu pertamanya itu. "Yusuf, kamu tidak boleh lemah begini ! Kamu harus kuat agar dapat mencari istrimu dengan maksimal."


Ting nong ! Bel rumah berbunyi. Seseorang datang bertamu ke rumah itu. Berjalan perlahan menghampiri para pemilik rumah, setelah pintu terbuka.


Pria itu mengucap salam dan tersenyum ramah. Oma mempersilahkannya duduk berhadapan.


"Maaf, anda siapa ?" tanya Oma.


Sementara Yusuf tak mempedulikan jika ada orang yang datang. Dia masih menangisi foto istrinya.


Pria itu sekilas melihat kepada Yusuf, lalu mengalihkan pandangannya pada Oma. "Maaf jika saya mengganggu, nama saya Nino. Saya kemari ingin memberi informasi mengenai keberadaan Andini. Sudah beberapa hari ini dia tinggal di rumah saya."


Yusuf langsung berdiri dan menghampiri pria itu. Menatapnya dengan tajam. Mencengkram kuat kerah kemeja Nino dengan kuat hingga pria itu ikut berdiri.


"Kenapa istriku ada di rumahmu ? Apa kau sudah menculiknya ? Apa saja yang sudah kau lakukan padanya ?"


"Tidak begitu tuan. Saya juga awalnya tidak tahu jika Andini ada di rumah saya. Ibu saya yang membawanya." Menjawab dengan tenang.


"Tuan, kendalikan diri anda ! Dengarkan dia berbicara, bukankah anda ingin segera bertemu nona ?!" Ucap Willy yang langsung membuat Yusuf melepaskan Nino.


"Andini sebenarnya belum siap untuk menemui anda. Tapi saya tidak tega melihat dia selalu bersedih setiap hari. Dan saat tadi malam saya melihat acara TV itu, saya berniat untuk mempertemukan anda dengannya. Jika anda tidak percaya, mari ikut saya ke rumah !"

__ADS_1


Yusuf menatap asistennya, memberi isyarat jika mereka akan mengikuti perkataan Nino. Akhirnya mereka bertiga pun meluncur ke rumah itu.


__ADS_2