
Seminggu sebelum pernikahan.
Yusuf dan Andini beserta Willy, telah ada di rumah Pak Lukman. Paman dari Andini memasang wajah bingung ketika melihat ketiga tamu tak terduga itu. Namun dia tahu persis jika mereka bukan orang biasa. Mobil mewah yang terparkir di depan rumah, penampilan orang-orang itu, jelas menunjukkan jika mereka berasal dari kalangan berada. Pertanyaannya adalah, siapa dan untuk apa mereka menemui Pak Lukman ?
"Silahkan masuk !" membungkuk sopan sambil tersenyum.
Andini masuk terlebih dahulu. Perlahan dia menginjakan kakinya di lantai keramik berwana merah itu. Matanya menelisik ke segala sudut ruangan. Rumah ini banyak perubahan semenjak terakhir dia dibawa ke sana. Selain menjadi lebih luas, rumah itu dirancang dengan model yang lebih modern. Untuk ukuran di kampung, rumah itu terbilang cukup besar dan mewah.
Yusuf mengikuti langkah kaki Andini, Willy mengekornya dari belakang. Pak Lukman tergesa masuk, setelah semua tamunya berada di dalam rumah.
"Silahkan duduk, tuan-tuan dan nona. Maaf, rumah saya berantakan begini. Biasalah, cucu-cucu saya pada bandel, semua diacak-acak." Nyengir sambil tangannya membereskan barang-barang yang amburadul.
Andini dan Yusuf duduk berdampingan, sedangkan Willy hanya berdiri. Dia mau membuat bokongnya bisa bernafas dengan leluasa, setelah satu setengah jam tadi duduk di kursi kemudi.
Pak Lukman ikut duduk di hadapan tamunya di sebuah sofa. "Bu, kemari sebentar ! ada tamu !" setengah berteriak memanggil istrinya yang sedang ada di dapur.
Tak lama berselang seorang wanita yang memakai daster dan rambut digelung, muncul dengan tergesa-gesa. Awalnya nyerocos kesal sembari berjalan, tapi setelah mengetahui ada tiga tamu asing dengan penampilan mewah, dia langsung terdiam. "Apa sih bapak ini, kebiasaan manggil-manggil ibu. Memangnya siapa tamu penting kita itu, paling cuma tetangga yang...."
Wanita itu melirik satu persatu tamunya. Jelas sekali mereka bukan berasal dari kampung ini. Penampilan seperti itu adalah gaya orang kota, orang kaya. Dia membungkuk hormat dan tersenyum. "Maaf, saya tidak tahu ada tamu. Sebentar ya, saya buatkan minuman dulu." Bergegas ke dapur dan dalam beberapa menit sudah kembali lagi, dengan membawa minuman.
"Silahkan. Aduhhh ibu lupa membawa camilan. Permisi !" Bu Lukman pergi lagi setelah menyimpan minuman di atas meja.
Yusuf dan Willy sedikit merasa terusik dengan sikap istri Pak Lukman. Terlihat tidak tulus dan menjilat. Sedangkan Andini masih terlarut dalam kenangan masa kecilnya di rumah itu. Dia pernah dua kali berkunjung ke rumah ini. Sekali waktu bersama mendiang ibunya, dan terakhir kali saat dirinya bersiap untuk diserahkan kepada ayah kandungnya. Satu hal yang kental di ingatannya adalah, setiap kali ke rumah itu, dia selalu dicerca hinaan dari paman dan bibinya.
Bu Lukman ikut duduk di samping suaminya setelah meletakkan camilan. Dia memasang wajah yang ramah. Pak Lukman buka suara karena sedari tadi tamunya itu tidak ada yang memulai pembicaraan. "Maaf, kalian siapa dan ada perlu apa menemui kami ?"
"Anda jelas tidak akan mengenali saya dan tuan Yusuf. Tapi, kenapa anda tidak mengenali nona ?" Willy menatap tajam ke arah Pak Lukman. Dia sedari tadi sudah kesal dengan sikap pria itu. Harusnya sebagai seorang paman, Pak Lukman bisa mengenali keponakannya sendiri.
Pria itu mengernyitkan keningnya, "Maksud anda ? maaf, tuan. Saya benar-benar tidak tahu siapa nona ?" usai bicara, pria itu menunduk karena Willy semakin menajamkan tatapannya.
Yusuf menatap kedua orang di depannya, lebih runcing dari tatapan asistennya. Pak Lukman dan istrinya semakin menunduk, sesekali mereka melirik pada gadis yang disebut nona itu. Sekeras apapun mereka mengingat, tetap saja gadis itu terasa asing.
"Apa kabar paman dan bibi ? sudah lama sekali kita tidak bertemu. Kalian benar-benar tidak mengenali ku ?" Andini tersenyum kelu.
Kedua orang itu mendongak. Sekali lagi mereka memperhatikan gadis yang barusan berbicara. "Kami baik-baik saja. Maaf, nona. Orang seperti kami tidak mungkin mengenal orang kaya seperti anda." Bu Lukman nyengir.
Pak Lukman semakin penasaran, "Maaf, sebenarnya nona ini siapa ?"
Yusuf menghembuskan nafasnya kasar. "Aneh sekali, kalian tidak mengenali keponakan kalian sendiri."
Deg ! keponakan ? mereka tidak punya keponakan orang kaya ! lagi-lagi Pak Lukman dan istrinya, memindai sosok gadis yang ada di hadapan mereka.
Andini yakin kedua orang itu tidak akan mengingat keberadaannya di dunia ini. Sepertinya dia sendiri yang harus mengumumkan jika dia adalah anak dari Lastri Maryati, adik Pak Lukman. "Saya adalah Andini Wiranata, si anak haram yang akan membawa kesialan bagi orang di dekatnya." Dini saat ini benar-benar marah. Kedua orang itulah salah satu yang menyebabkan dirinya harus hidup menderita di rumah ayah kandungnya sendiri. Jika saja mereka dulu berbaik hati menampungnya, mungkin saja dirinya akan hidup lebih baik meskipun tinggal di kampung.
Pak Lukman dan istrinya tercengang. Tidak pernah menyangka sedikitpun jika mereka akan bertemu dengan Andini. Bagi keduanya, Andini itu tidak pernah ada. Setelah gadis itu diberikan pada Pak Daniel, mereka tidak mau tahu bagaimana nasib Dini. Dan kini, si anak haram itu malah datang menemui mereka. Apa yang harus mereka lakukan ?
"Maaf, nak. Kami tidak tahu jika kamu adalah Andini." Bu Lukman memasang wajah sedih.
"Bagaimana kabarmu ? kamu pasti bahagia tinggal bersama ayah kandungmu !" Pak Lukman memecah kecanggungan.
"Jika paman sekali saja, mencari tahu bagaimana keadaanku tinggal bersama ayah kandung yang jahat itu, paman pasti tahu bahwa aku menderita hidup di sana."
__ADS_1
Pak Lukman terdiam. Perkataan keponakannya itu seolah menampar egonya. Harusnya dia memang peduli pada gadis itu. Bagaimana pun juga Andini adalah anak dari adiknya sendiri. "Maafkan paman." Lirih pria itu berkata sambil menunduk.
Andini terdiam, belum siap menerima permintaan maaf yang mendadak.
Yusuf angkat bicara, "Kami kemari untuk memberi tahu anda, bahwa sebentar lagi saya dan Andini akan menikah." Dia enggan membahas hal yang akan membuat Andini bersedih.
Willy maju beberapa langkah dan menyimpan satu buah kartu undangan di atas meja. Setelah itu, dia kembali berdiri di samping Yusuf. Pak Lukman meraih kartu itu dan langsung membukanya.
"Jika kalian berkenan hadir di acara pernikahan kami, maka saya akan menyuruh orang untuk menjemput kalian dan keluarga Andini yang lain. Setidaknya berbaik hatilah, keponakan kalian mungkin akan merasa dihargai jika keluarganya bisa hadir menyaksikan momen penting dalam hidupnya." Yusuf masih menatap mereka dengan tajam.
"Baik, tuan. Saya akan mengajak seluruh keluarga untuk hadir di pernikahan kalian. Terima kasih atas undangannya." Bu Lukman tersenyum cerah. Ini kesempatan untuk menghadiri pesta mewah orang kaya. Dia juga bisa pamer pada teman dan tetangganya nanti.
Yusuf melonggarkan dasinya, dia mulai gerah berada di tempat itu. Willy dapat mengerti jika tuannya itu tidak mau berlama-lama melihat wajah orang yang menjahati Andini.
"Urusan kami sudah selesai. Tuan Yusuf dan nona harus segera pulang, banyak hal yang harus dipersiapkan untuk pernikahan mereka."
"Tapi, kalian belum lama berada di sini. Setidaknya minum atau makan dulu sesuatu. Andini, kalian menginap saja di rumah bibi." Bu Lukman cari-cari muka.
Yusuf meruncingkan tatapannya pada wanita itu. Bu Lukman menundukkan wajahnya.
"Kami harus pulang sekarang." Andini beranjak dari duduknya.
Yusuf ikut berdiri dan menggandeng tangan Andini. Keduanya melangkah meninggalkan orang-orang yang masih sedikit shock itu.
Willy mengekor di belakang tuannya. Tapi sebelum pergi, pria itu berbicara, "Jaga sikap kalian saat nanti menghadiri pesta pernikahan tuan Yusuf dan nona Andini ! permisi !"
Bu Lukman dan Pak Lukman sama-sama menundukkan kepalanya. Sepertinya posisi Andini saat ini sangat berharga. Itu artinya mereka harus bersikap baik padanya.
***
Semua orang tertuju pada sang calon mempelai wanita, ketika masuk ke ruangan itu. Andini dengan kebaya modern berwarna putih, telah memukau mata yang melihat. Perlahan wanita itu berjalan digandeng Oma Merly dan juga Suci.
Jantung kedua calon pengantin itu terasa kacau, saat mereka duduk berdampingan. Andini menunduk dan tak berani menoleh pada pria di sebelahnya. Sedangkan Yusuf, sesekali melirik dengan sudut matanya. Dilihat sedikit saja dari samping, calon istrinya itu sangat cantik.
Rangkaian acara terus berganti. Kini saatnya melakukan ijab kabul. Yusuf berjabatan tangan dengan sang penghulu. Sebelum mengeluarkan suara, dia menarik nafasnya panjang. Berdoa dalam hati agar tak salah ucap. Andini meremas jemarinya karena gugup. Dia ikut tegang saat ini, takut jika Yusuf melakukan kesalahan.
Suasana hening dan tegang saat menunggu sang calon pengantin pria berucap. Namun semua berubah riuh bahagia saat para saksi mengucapkan kata SAH ! Yusuf berhasil merapalkan ijab kabul dengan lancar dan mantap.
Yusuf bisa lega karena saat ini dirinya telah resmi menjadikan Andini sebagai istri. Dadanya kembali bergemuruh saat punggung tangannya dikecup Andini. Yusuf mendaratkan bibirnya di kening istrinya itu, dengan lembut. Rasa bahagia tak terkira menyelimuti hati mereka.
Jodoh memang tak terduga. Pertemuan konyol di makam saat itu merupakan pertemuan dua hati yang telah dipilih Tuhan untuk bersama dalam hubungan sakral bernama pernikahan.
***
Yusuf dan Andini duduk di pelaminan. Tapi keduanya berdiri saat ada tamu yang menghampiri. Dengan pakaian pengantin berwarna pink soft, Andini terlihat lebih cantik dan bercahaya. Yusuf sampai dibuat melongo saat ini.
Andini berdiri, "Itu ada tamu." Mencolek lengan pria yang masih duduk menatapnya.
Yusuf beranjak dengan malas. Kenapa banyak gangguan ? baru sebentar melihat wajah istriku, sudah ada lagi yang datang. Tahu begini, aku tidak akan mengundang mereka. Cukup keluarga besar saja.
Tamu-tamu terus berdatangan hingga pengantin tak sempat duduk. Hanya saat sesi pemotretan saja, para tamu itu tak menghampiri.
__ADS_1
Seorang fotografer mengabadikan momen indah pengantin. Sesekali dirinya mengarahkan kedua pengantin agar mendapat gambar yang bagus.
Yusuf memeluk Andini dari belakang. Kepalanya bersandar di bahu istrinya. Jantung mereka lagi-lagi mengamuk. Dada keduanya berjingkrak-jingkrak cepat.
"Jika saja saat ini kita hanya berdua, maka kamu sudah habis ku makan hidup-hidup, Andini !" berbisik tepat di telinga istrinya.
Andini merinding, hembusan nafas pria itu membuatnya semakin gemetaran. Gaya berganti, kini kedua pengantin berpelukan sambil menempelkan kening mereka. Yusuf menatap lapar bibir merah milik wanita itu. "Apa kita harus mengusir mereka semua ? aku ingin segera berduaan saja denganmu. Bibirmu membuat aku kehausan."
Suara itu terdengar erotis di telinga Andini. Sungguh saat ini otaknya berkeliaran ke fantasi liar. Dia tak sanggup berbicara. Tubuhnya seolah membeku. Tatapan mata suaminya benar-benar menghanyutkan.
***
Akhirnya acara pesta pernikahan itu pun selesai. Kedua pengantin kini ada di suite room hotel. Yusuf baru keluar dari kamar mandi. Andini masih duduk di sofa, diam mematung. Dia belum melakukan apapun, selain terdiam. Terlalu gugup hingga tak tahu harus berbuat apa.
Yusuf menghampiri dan berdiri di depannya. Andini melotot melihat pria itu bertelanjang dada. Dia bahkan nyaris meneteskan air liurnya karena terpesona melihat keindahan suaminya. Dia tak menyangka jika pria di depannya itu ternyata lebih sexy dari bayangannya. Apa dia sengaja menggodaku ?
Yusuf tergelak, "Berkediplah ! jangan memelototi aku seperti itu ! mulai saat ini kamu harus terbiasa dengan tubuh sexy ini."
Andini memalingkan wajahnya ke arah lain. Jantungnya ingin lepas dari tempatnya. Yusuf berjongkok dan meraup wajah Andini, tatapan mereka beradu. Debaran itu makin menggila.
Yusuf perlahan mengecup bibir yang terdiam itu. Membuat Andini menutup matanya. Dadanya naik turun merasakan kelembutan dan harum aroma mint dari mulut pria yang menciumnya.
Yusuf melepaskan tangannya dan kembali berdiri. "An, kamu tidak mau mandi dulu ? atau...ingin cepat-cepat melakukan tugas mulia sebagai seorang istri ?" senyum menyeringai.
Andini mendongak, "Aku...mau mandi. Kamu silahkan ganti baju !" nyengir menutupi rasa malunya.
Yusuf menaikkan alisnya. "Baiklah, mandi yang bersih ! setelah kamu ganti baju, kita makan. Setelah makan, kita akan melanjutkan yang barusan." Yusuf melenggang ke ruang ganti setelah mengedipkan sebelah matanya.
Andini memegang dadanya yang semakin mengamuk. Dia berdiri dan melangkahkan kakinya ke dalam kamar mandi.
"Ahhh, bagaimana ? susah sekali melepas baju ini ?" tangannya meraih resleting yang macet di bagian punggung.
Berusaha sekuat tenaga namun tetap saja gagal. Apa dia harus meminta bantuan Yusuf ? mau tidak mau memang itu satu-satunya cara agar dia terbebas dari baju itu.
Kepala Andini menyembul di balik pintu kamar mandi, "Yusuf ! maaf, bisa kemari sebentar ?" suaranya terdengar ragu.
Yusuf secepat kilat mendekat. "Kenapa ? kamu ingin melakukannya sekarang juga ?" tersenyum nakal.
Andini sepenuhnya keluar dari kamar mandi. Dia mendelik, "Aku tidak semesum itu ! aku kesusahan melepas bajuku, resletingnya macet."
Yusuf membalikkan badan Andini dan meraih resleting itu. "Emmm, kamu mungkin terlalu terburu-buru saat membukanya. Ini macet karena kainnya kejepit."
Saat tangan Yusuf bergerak di punggungnya, ada desiran aneh menjalar ke tubuh Andini. Ada sengatan listrik saat tangan nakal suaminya mengelus punggung yang kini terbuka itu. "Kamu sengaja mau menggoda suamimu ini ya ?!" hidungnya bergerilya di area punggung naik ke bahu.
Andini menggigit bibir bawahnya karena tak tahan dengan gelenjar aneh yang menghantam tubuhnya. Mereka kini saling berhadapan, beradu pandang sangat dalam.
Haruskah melakukannya saat ini juga ? tidak ! Andini harus mandi dulu, dia tidak mau aroma tubuhnya mengeluarkan bau tak sedap yang akan mengganggu indera penciuman suaminya.
"Aku mau mandi, badanku lengket !" setelah nyengir langsung masuk lagi ke kamar mandi.
Yusuf menggaruk kepalanya dan tersenyum malu. Kenapa dirinya tidak sabaran ? akhirnya dia memutuskan untuk duduk di sofa. Semoga saja istrinya itu tidak terlalu lama di dalam sana.
__ADS_1