
Raisya duduk di tengah-tengah ibu dan iparnya. Mereka berbincang ringan meski Suci hanya sedikit nimbrung karena masih canggung. Hanya tersenyum, mengangguk atau menggelengkan kepala.
"Mbak Suci ini selain baik juga pintar masak lho ma..." Raisya mencoba memberi celah agar kedua wanita di sampingnya bisa akrab.
"Oh ya ? apa kamu bisa membuat masakan Jepang ? Italia ? atau Mexico ?" Bu Merly bukan bertanya, dia bermaksud menantang.
"Belum pernah, tapi saya bisa mencoba belajar membuatnya."
"Kalau begitu, bisakah kamu membuatnya sekarang juga ? pilih salah satu menu dari setiap makanan khas dari ketiga negara tersebut. Saya akan mencicipinya sekarang juga."
Mama ini apa-apaan ? kenapa menyuruh mbak Suci yang aneh-aneh ?
"Ahhh mbak. Aku akan membantu, tenang saja." menepuk pundak. Padahal dia sendiri tidak becus dalam urusan dapur. Tapi mungkin setidaknya dia bisa membantu mencuci atau memotong sesuatu.
"Biarkan Suci melakukannya sendiri. Mama ingin membuktikan perkataanmu. Apa benar dia itu pintar memasak ?"
Maaf mbak ! kalau tahu begini aku tidak akan mengatakan itu.
Raisya merasa bersalah.
"Aku yakin mbak pasti bisa. Fighting !!!! aku bantu doa saja." Mengepalkan tangannya ke atas.
Saat di dapur. Suci membuka aplikasi dan mengamati tutorial memasak makanan yang diinginkan oleh mertuanya. Setelah itu menyiapkan segala bahannya.
Sangat tegang namun dia mencoba tenang agar bisa fokus.
Bismillah...kerjakan dengan sepenuh hati.
Setelah lama berkutat dengan ritual memasak, akhirnya semua makanan itu berhasil dibuat. Peluh sudah mengucur di seluruh badannya. Tapi tak mengapa karena dia cukup puas dengan usahanya menuruti kemauan sang ibu mertua.
Tiga jenis makanan khas dari tiga negara sudah disusun rapi di atas meja makan. Nyonya besar siap mencicipi dan memberi penilaian. Raisya juga ikut nyicip.
Suci ikut duduk menunggu komentar dari Bu Merly. Sungguh sangat menegangkan baginya. Pasrah saja karena dia sudah maksimal berusaha sebaik mungkin.
"Rasanya enak mbak. Tidak jauh berbeda dari yang pernah ku makan." Raisya makan dengan lahap, dia lupa bahwa saat sarapan pun sudah makan banyak. Program menjaga tubuhnya tetap ideal bisa dilupakannya begitu saja.
Setidaknya itu masih bisa dimakan oleh Raisya, berarti usahaku tidak sia-sia.
Bu Merly sudah mencicipi semuanya sedikit-sedikit. Tak ada ekspresi apapun.
__ADS_1
"Untuk ukuran pemula, lumayanlah...meski masih banyak kekurangannya." Akhirnya Bu Merly buka suara juga.
Aku tidak menyangka dia benar-benar bisa melakukannya dengan baik. Rasanya enak di lidah meski belum sempurna.
Bu Merly terlihat menikmati makanan itu. Suci bisa bernafas lega karena dia berhasil menyelesaikan tantangan dari ibu mertua.
Alhamdulillah...ibu mertua mau memakannya.
Bu Merly dan Raisya sudah selesai meski makanan masih tersisa di piring mereka. Raisya beranjak dari sana karena harus menerima telpon penting. Bu Merly masih duduk santai di sana memperhatikan Suci membereskan bekas makan.
Saat Suci mencuci peralatan makan, Bu Merly pergi ke atas. Dia sengaja mengacak-acak kamarnya.
"Ma..ini Suci buatkan minuman herbal." Suci menghampiri.
Kenapa kamarnya berantakan sekali ?
"Saya tidak sakit. Kenapa membuatkan itu ?" Bu Merly yang duduk di sofa menjawab tanpa menatap.
"Minuman ini bukan hanya untuk orang sakit, tapi juga untuk menjaga stamina agar terhindar dari penyakit." Suci tersenyum dan meletakkan minuman di atas meja.
Bu Merly tidak menggubris tapi dia mengambil cangkir itu dan membawanya ke luar kamar.
Saat Suci selesai dan keluar kamar, Bu Merly pura-pura baru tiba di sana.
"Ma..saya permisi mau ke kamar." Suci mengangguk sopan sambil tersenyum.
Wanita itu tidak menjawab perkataan menantunya. Dia langsung mengecek kamarnya.
Rajin juga dia !
***
Saat sudah masuk waktu Dzuhur, Bu Merly mampir di kamar Riki. Hendak memeriksa menantunya. Dia mencari-cari ternyata Suci sedang beribadah di mushola.
Akhirnya ibu mertua itu menunggu di sofa. Selang beberapa lama Suci menghampiri.
"Ma...mau ku ambilkan minum ?"
"Tidak usah, saya mau bicara."
__ADS_1
Suci duduk di sebelahnya.
"Riki itu sebenarnya anak angkat. Kami mengadopsinya sedari bayi. Ada seseorang yang memberikannya pada kami."
Suci diam meski sebenarnya syok.
"Semua aset milik kami atas nama Raisya karena dialah satu-satunya anak kandung kami. Saat ini kami akan kembali mengambil semua fasilitas dari Riki. Karena dia sudah bisa mandiri saat ini."
Suci belum merespon juga.
"Kami memang menyayangi Riki, tapi kami lebih sayang lagi pada anak kandung kami. Kami mau semua milik kami jadi milik Raisya."
"Apa mas Riki sudah mengetahui hal ini ?"
"Sudah."
Kasihan mas Riki....aku tidak menduga bahwa kisah hidupnya begitu menyedihkan.
"Saya mau titip Riki pada kamu."
"Tentu saja ma. Tanpa diminta pun saya pasti akan selalu menjaga dan mendukung mas Riki. Dia adalah suami saya, yang harus selalu saya hormati. Saya tidak akan pernah meninggalkan mas Riki meski sesulit apapun keadaanya."
"Baik, saya pegang janjimu."
"Saya yakin mas Riki bisa berlapang dada mengembalikan semua aset yang didapatnya dari mama dan papa. Terima kasih banyak karena selama ini kalian sudah sangat baik merawat dan menyayangi mas Riki. Tapi saya mohon, jangan juga mengambil kembali kasih sayang dan cinta kalian dari mas Riki. Dia pasti akan sangat hancur. Bolehkah dia tetap menganggap kalian sebagai orangtuanya sendiri ?" Suci sudah berkaca-kaca.
"Kami tidak akan mengambil apapun dari Riki. Entah itu kasih sayang juga aset akan tetap menjadi miliknya."
Kenapa mama bilang begitu ? sebenarnya apa maksudnya ?
"Riki dan Raisya adalah anak kandung kami. Saya tadi hanya bercanda saja." Bu Merly agak mesem.
"Bercanda ?"
Kenapa bercanda untuk hal seperti ini ? lagipula tidak lucu juga. Apa yang ada di pikiran ibu mertua sebenarnya ? anehh
"Saya sudah selesai bicara." Bu Merly beranjak dari sana meninggalkan menantunya yang masih bingung.
Bersiaplah untuk challenge berikutnya ! aku mau tahu bagaimana kualitasmu sebagai istri dari putra kesayanganku.
__ADS_1