Seperti Sampah

Seperti Sampah
Maaf part 2.


__ADS_3

Bu Merly menghampiri Suci di kamarnya. Mereka berdua turun ke dapur beriringan.


Prang !!! Tanpa sengaja seorang pelayan memecahkan gelas yang sedang dipegangnya. Matanya membulat sempurna menyaksikan nyonya besar sudah bisa berjalan-jalan anggun seperti biasanya.


"Nyonya sudah sembuh ? ini sungguh keajaiban !" matanya berbinar ketika majikannya menghampiri. Ia bahkan melupakan pecahan gelas yang masih berserakan di lantai.


Bu Merly hanya tersenyum pada pembantunya itu.


"Alhamdulillah mama baik-baik saja." Suci membantu menjawab dibumbui dengan senyuman juga. Tentu saja tidak menyinggung perihal kebohongan yang dilakukan ibu mertua.


"Alhamdulillah....saya ikut senang. Maaf nyonya, saking kagetnya saya jadi tidak sengaja memecahkan gelas ini." Sambil bergerak membersihkan pecahan-pecahannya.


"Tidak masalah, hati-hati nanti tanganmu terluka."


"Baik nyonya besar."


Suci dan ibu mertua sudah siap untuk memasak.


"Kamu mau makan apa ?" Bu Merly antusias bertanya.


"Terserah mama saja."


"Makanan favoritmu apa ?"


"Sebenarnya hampir semua makanan aku suka, tapi yang paling favorit itu rendang."


"Baiklah, kita coba membuatnya bersama."


Keduanya kompak saat menyiapkan bahan-bahan dan juga mengolahnya. Sudah seperti chef dan juga asistennya yang sibuk berkutat menyulap makanan menjadi penuh daya pikat.


Aroma dari bau harum rempah-rempah yang dipadu padan dengan daging sapi yang empuk, menyeruak sampai ke ruangan lain. Menggugah nafsu makan dan membuat perut mengamuk.


"Akhirnya selesai juga." Senyum kepuasan muncul di bibir mama Merly.


Makanan hasil buatannya dan menantu sudah ditaruh di atas meja makan. Sangat cantik dan seolah melambai ingin segera disantap. Selain rendang, mereka juga membuat sambal ijo, lalapan daun singkong dan lainnya.


Bu Merly dan Suci duduk bersebelahan.


"Jangan Suci, mama tidak mau pake nasi." Bu Merly menyembunyikan piringnya saat Suci berusaha memasukkan nasi ke dalamnya.


"Maaf ma. Mama yakin ? kurang enak rasanya makan rendang gak pake nasi." Akhirnya nasi untuk mama dimasukan ke dalam piring miliknya.


"Yakin ! kamu saja makan yang banyak ya !" Bu Merly tersenyum dan menaruh kembali piringnya di tempat semula.


Di piring milik Bu Merly hanya ada satu potong rendang, sedikit sambal dan juga dua lembar lalapan daun singkong. Sementara punya Suci sangat komplit dan hampir memenuhi piringnya. Sekepal nasi dengan dua potong rendang ditutupi banyak sambal dan dihiasi lalapan ditambahi dengan kerupuk udang sudah bertengger di sana.


Setelah mengucap doa keduanya mulai makan. Mama Merly dengan anggunnya menyantap makanan menggunakan garpu dan pisau. Sementara Suci makan dengan lahapnya menggunakan tangan.


Beberapa kali Bu Merly memperhatikan cara makan menantunya. Menurutnya cara makan dengan tangan seperti itu terlihat sangat tidak biasa baginya, namun jika melihat orang lain yang melakukannya malah terlihat bahwa makanan itu lebih lezat.

__ADS_1


Sepertinya makan dengan tangan seperti itu terlihat lebih nikmat.


Bu Merly akhirnya ikut-ikutan makan dengan tangan, tidak lupa dia juga menambahkan sedikit nasi ke dalam piringnya. Setelah satu suapan, terasa ada yang berbeda di lidahnya. Rasanya sudah pasti sama, namun sensasinya yang lebih menarik membuat nafsu makannya bertambah.


Suapan berikutnya malah semakin membuatnya ketagihan. Piringnya sudah tandas namun bibirnya masih ingin mengunyah, akhirnya Bu Merly mengisi ulang piringnya kembali.


Baru kali ini aku melihat mama makan banyak sekali seperti itu.


Suci keheranan namun diam-diam dia tersenyum memperhatikan gerak-gerik ibu mertua.


"Ahhh sudah stop ! perut mama rasanya mau meledak. Ini pertama kalinya seumur hidup, mama makan banyak seperti ini." Bu Merly bersandar pada sandaran kursi yang didudukinya sambil memegang perutnya yang kekenyangan.


Suci sama sekali tidak mengeluarkan komentar, hanya senyum-senyum sendiri melihat adegan langka dari mama mertua.


***


Sore ini Riki baru pulang dari kantor. Ia langsung bergegas menuju kamar ibunya. Bu Merly tengah asik mengobrol dengan Suci di sofa. Riki terkejut melihat pemandangan itu. Mulutnya nyaris menganga dan matanya terbelalak melihat ibunya sudah normal kembali.


"Mama sudah sehat ?" Riki menghampiri dan ikut duduk di samping ibunya.


Dia menggenggam tangan Bu Merly dan segera memeluknya. Ibunya hanya menjawab dengan anggukan.


"Aku sangat senang ma..." rona kebahagiaan terpancar di wajah putra satu-satunya itu.


Bu Merly menunduk merasa malu dan bersalah karena dia sudah pura-pura sakit.


Wajah cerah Riki berubah jadi penuh kebingungan. Dilepaskannya tangan yang melingkar di tubuh ibunya. Menatap dalam pada Bu Merly dengan banyak pertanyaan.


"Mama melakukannya hanya karena ingin..."


"Ma..." Suci memotong pembicaraan ibu mertua sambil menggelengkan kepalanya agar tidak memberi tahu semua pada Riki. Dia takut suaminya akan terusik.


Bu Merly mengalihkan pandangannya dari Suci, mengarah ke tatapan bingung milik anaknya.


"Ada apa sebenarnya ?" Riki menuntut ingin segera mendapat jawaban.


"Mama pura-pura sakit karena ingin menguji bagaimana sikap Suci pada mama, setelah sebelumnya dia selalu mama sakiti. Tapi ternyata, Suci sangat baik dan mempunyai hati yang tulus." Ucapan penuh sesal yang keluar dari mulut Bu Merly hanya ditanggapi Riki dengan gelengan.


Riki sungguh tidak mengerti dengan pola pikir ibunya. Jujur saat ini dirinya sudah mulai naik pitam.


"Kenapa mama melakukan hal yang konyol seperti itu ? mama sudah banyak membuang waktu dan membuat Suci kerepotan. Apa mama tahu ? selama ini Suci sudah merawat mama dengan tulus tanpa mempedulikan tubuhnya yang kelelahan." Tatapan tajam Riki membuat ibunya kembali menunduk. Meski nada bicaranya tidak meninggi namun telihat jelas amarah yang ada di matanya.


"Mas...aku tidak apa-apa, jangan memarahi mama !" Suci memeluk ibu mertua dan menatap memohon pada suaminya.


"Mama tahu bahwa mama sudah banyak membuat kebodohan pada Suci. Meski sebenarnya mama melakukan semua itu tidak bermaksud menyakiti hatinya, tapi mama merasa sangat bersalah. Mama minta maaf pada kalian. Mama sangat menyesal." Suaranya tersendat menahan tangis yang sebentar lagi akan pecah.


Riki tidak menggubris. Pandangannya dialihkan ke depan.


"Mas, maksud mama sebenarnya baik tapi caranya saja yang tidak tepat. Aku sudah memaafkan mama, jadi mas jangan marah lagi." Suci menatap lekat pada Riki sambil masih mengusap lembut punggung Bu Merly agar ibu mertuanya sedikit lebih tenang.

__ADS_1


Riki mendengus kesal. Dadanya masih terbakar. Tapi perkataan Suci membuat amarahnya sedikit mereda. Hati kecilnya seolah berbisik bahwa dia harus memberi maaf pada Bu Merly. Bagaimana pun juga wanita itu adalah ibu kandungnya, yang selalu memberikan semua kasih sayang berlimpah untuknya.


Riki menghela nafasnya dalam-dalam.


"Karena mama adalah ibu kandungku, dan mama pun sudah menyadari kesalahan itu, maka aku akan memaafkan mama." Riki menatap ibunya dan kembali memegang tangannya erat.


"Terima kasih." Bu Merly akhirnya meneteskan air mata yang sedari tadi sudah ia tahan.


Suci tersenyum haru melihat kedua orang yang ia sayangi dan hormati bisa rukun kembali.


"Mama !" Raisya muncul dari balik pintu.


Menyadari kedatangan adiknya, Riki pindah duduk di sebelah istrinya. Raisya menempati tempat duduk Riki dan segera memeluk mama Merly.


"Aku sangat bahagia karena mama bisa sembuh kembali." Air mata haru membanjiri wajah gadis itu.


Suci, Riki dan Bu Merly tersenyum geli ke arah Raisya. Sadar bahwa dirinya diperlakukan seperti itu, Raisya pun melepas pelukannya.


"Kenapa ? aku tidak boleh menangis ?" Raisya mengerucutkan bibirnya. Tatapannya bergantian mengarah kepada ketiga orang yang sedang bersamanya.


Riki menceritakan semuanya tentang kepura-puraan Bu Merly tanpa mengemukakan alasan sebenarnya.


"Mama melakukan itu karena ingin mendapatkan perhatian ekstra dari menantunya." Riki mencari alasan lain.


"Mama ada-ada saja. Jika orang lain yang melakukan kebohongan ini, maka sudah ku penjarakan orang itu. Kasihan mbak Suci yang sudah sangat kerepotan karena ulah mama." Raisya agak kesal juga namun tidak semarah Riki. Dia sama sekali tidak tahu menahu soal ujian tersembunyi dari ibunya untuk Suci.


***


Suci dan Riki duduk di tepi ranjang saling bertatapan.


"Terima kasih banyak karena kamu sudah mau memaafkan mama." Tersenyum sembari mengusap wajah Suci.


"Tidak perlu berterima kasih begitu. Oh ya mas, mama mengajakku ke Butiknya Raisya besok. Katanya mau melihat-lihat bagaimana usaha yang dikelola oleh Raisya."


"Pergi saja, biar sekalian kamu jalan-jalan. Kamu kan jarang keluar rumah." Riki masih setia membelai-belai setiap lekuk wajah milik istrinya.


Riki sebenarnya sudah tahu tujuan ibunya membawa Suci ke Butik adiknya adalah untuk memilih baju-baju pengantin yang akan dikenakan pada saat peresmian pernikahannya nanti. Hal itu sudah direncanakan jauh-jauh hari sebelum ide gila pura-pura sakitnya Bu Merly muncul. Riki sendiri yang memintanya langsung pada mamanya.


"Kenapa mas senyum-senyum begitu ?"


"Aku akan memberikan hadiah spesial untukmu karena sudah menjadi istri dan menantu yang baik di rumah ini."


"Hadiah ?" kening Suci mengerut.


Riki sudah mengecup semua area wajah Suci dan memeluknya seerat mungkin.


Ahhhh apakah ini hadiah untukku ? selalu cari kesempatan !


Sungguh dia tidak mengharapkan imbalan apapun dari siapapun atas kebaikan yang dia lakukan. Terlebih dihadiahi nafkah batin dari suaminya. Itu sebenarnya adalah hadiah untuk Riki sendiri yang merupakan kewajiban dari Suci. Jadi, ya sudahlah pasrah saja !

__ADS_1


__ADS_2