
Suci tak dapat berkata apapun di hadapan Riki. Namun matanya yang terbelalak mengisyaratkan bahwa dia memang terkejut dangan pertemuan tak terduga ini. Garis takdir kembali membuatnya terlibat dengan pria itu. Entah maksudnya apa dan akan bagaimana ke depannya hanya Tuhan yang tahu.
"Aku benar-benar senang melihatmu di sini. Sama sekali tak pernah ku duga bahwa karyawan baru itu adalah kamu. Apa kabar ?" Riki mengulurkan tangan namun ditarik kembali karena baru sadar bahwa wanita di hadapannya ini tidak akan mau bersalaman dengan pria non mahram.
"Saya baik. Saya permisi mau ambilkan makan siang bapak." Masih canggung.
Riki terus menatap Suci hingga akhirnya menghilang dari pelupuk matanya. Senyum tersungging di bibir pria itu. Tubuhnya seolah mendapat aliran energi yang sangat besar hingga membuatnya lebih bersemangat berlipat-lipat.
Pertemuan yang tak direncanakan dan tak pernah terduga. Apa aku bisa berharap bahwa kami memang jodoh ?
Riki terus menerus tersenyum hingga akhirnya Suci sudah kembali ke ruangannya. Bahkan sekilas terlihat oleh sudut mata Suci.
Kenapa dia senyum-senyum sendiri ? apa bisnisnya sedang bagus ?
"Ini pesanan bapak. Sekarang saya permisi dulu."
"Tunggu !"
Langkah Suci terhenti dan dia membalikkan badannya kembali.
"Ada apa pak ? apa ada yang harus saya kerjakan lagi ?"
"Terima kasih banyak karena kamu sudah bekerja dengan baik." Memberi senyuman penuh pesona yang memikat semua wanita. Namun tidak mempan pada Suci.
"Itu sudah menjadi tugas saya jadi bapak jangan berterima kasih." Mengangguk hormat dan melangkah meninggalkan tempat itu.
Terima kasih karena sudah muncul dalam hidupku.
Senyum itu lagi-lagi menghiasi wajah tampannya.
Nafsu makannya semakin bertambah setelah bertemu Suci. Secepat kilat dihabiskannya makanan dan minuman itu.
Aku pasti sudah gila...dari tadi aku hanya senyum-senyum sendiri. Apa sebahagia ini aku melihatnya ? mulai saat ini hari-hari ku akan sangat menyenangkan. Aku tidak pernah sesemangat ini saat di kantor. Dunia sangat indah ternyata....
Saatnya pulang kerja....seperti hari sebelumnya Suci berbarengan dengan Barbi dan juga Irfan. Di depan sudah ada pria berhelem tengah menunggu Suci sedari tadi.
"Hai Syarif apa kabar ?" Barbi so akrab menyapa.
"Baik Alhamdulillah."
Ya Tuhan senyuman itu mengalihkan duniaku dan melelehkan hatiku. Babang Syarif....andai senyum manismu juga mampu melelehkan setiap lemak di tubuhku...aku pasti akan terlihat lebih sexy.
"Woyyy Barbi !" Irfan setengah berteriak.
"Sitiiii !" belum juga merespon.
"Ifahhhh !!" barulah Barbi sadar dari lamunannya.
__ADS_1
"Fan ngagetin aja ahhh kau sudah merusak dunia imajinasiku. Ehhh babang Syarif kok udah ngilang aja ?" celingak-celinguk.
"Bukan ngilang tapi kamu yang tiba-tiba terbang entah ke dunia mana sampai-sampai gak sadar mbak Suci dan adiknya udah pamit. Parrahhh !!"
"Benarkah ? babang Syarif memang benar-benar sudah mengalihkan duniaku." Matanya berbinar.
"Awas hati-hati nanti malah otakmu yang beralih menuju kegilaan !" jengah melihat Barbi memeluk dirinya sendiri.
Si Barbi kena virus cinta ini mah. Emang gitu ya kalau orang lagi jatuh cinta kayak orang stress. Amit-amit....!
***
Di perjalanan Suci tidak mengeluarkan sepatah katapun.
"Mbak kenapa ? ada masalah kerjaan ya ?" Syarif khawatir dan mencoba mencari tahu sambil terus mengemudikan motornya.
"Gak kok kerjaan mbak semuanya beres dan lancar hari ini."
"Terus kenapa diem aja dari tadi gak ngomong-ngomong ?"
"Sekali-kali kamu yang berceloteh bukan mbak terus yang ngomong biar gak bosen." Nyengir kuda mencoba menutupi kegusarannya.
"Syukurlah kalau begitu. Mbak maaf ya sampai hari ini aku belum berhasil mendapatkan pekerjaan."
"Gak usah minta maaf. Kamu yang sabar aja mudah-mudahan nanti kamu segera mendapatkannya."
Untuk mengantisipasi agar tidak terlambat lagi Suci berangkat lebih pagi. Suasana masih sepi di Perusahaan XZ karena karyawan yang datang baru beberapa orang.
"Syarif hati-hati di jalan jangan ngebut dan tetap fokus. Mbak doakan supaya kamu berhasil hari ini."
"Aamiin. Mbak juga semangat kerjanya. Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
Suci diantar sama siapa ? tidak mungkin itu Doni.
Rupanya Riki mengamati dari kejauhan. Dia sudah lebih dulu berada di sana. Sengaja ingin melihat Suci sepagi mungkin.
Riki bergerak menuju ruang kerjanya saat melihat Suci melangkahkan kakinya ke dalam gedung.
Setelah memakai seragam Suci duduk dulu di sebuah kursi di ruang OB.
Hari itu dia merasa berat melangkahkan kakinya untuk bekerja. Bukan karena malas tapi merasa sedikit tidak nyaman setelah tahu bahwa dia harus bekerja untuk Riki.
Kenapa harus dia yang jadi Bos ku ? dunia sesempit ini ternyata. Berkali-kali bertemu dengannya tanpa sengaja. Tapi aku harus tetap semangat bekerja demi ibu dan Syarif. Selama perlakuannya baik aku akan bertahan di tempat ini.
Setelah berdamai dengan kegalauannya Suci memulai ritual kerjanya. Membawa alat tempur menuju ruang kerja Bos.
__ADS_1
Ceklek !!! Surprise...kali ini Suci dibuat terkejut lagi dengan kehadiran Riki di ruangan itu. Tengah duduk manis menatap laptopnya.
Kenapa sepagi ini dia sudah ada di kantor ?
"Masuk saja. Silahkan lakukan pekerjaanmu seperti biasa dan jangan hiraukan keberadaan saya."
Bagaimana bisa menghiraukan keberadaannya yang pasti akan menggangu konsentrasi ku ?
"Kamu pasti tidak akan merasa terganggu kan ?! karena kerjaan kamu itu tidak membutuhkan konsentrasi tingkat tinggi. Sambil tidur pun bisa dilakukan." Bicara sambil terus menatap layar ponsel dan bergantian tertuju ke laptopnya.
Apa ? maksudnya ? dia meremehkan pekerjaan ku ? tapi benar juga sih...ini tidak memerlukan konsentrasi tinggi.
"Baik pak. Permisi." Suci akhirnya menyeret kakinya.
Bismillahirrahmanirrahim....anggap saja dia tidak ada !
Mulai berkutat dengan tugasnya meski agak canggung juga karena merasa diawasi.
Mungkin dia sengaja ingin melihat langsung kinerjaku...aku harus lebih baik lagi !
"Permisi pak. Saya mau membersihkan meja bapak."
Tidak menjawab namun Riki segera pindah duduk ke tempat lain sambil membawa laptop. Diam-diam dia mencuri pandang ke arah Suci. Memperhatikan wanita itu. Senyum kembali merekah di bibirnya. Namun saat Suci menoleh, Riki segera pura-pura lagi menatap laptop.
Pagi yang sangat indah. Mataku terasa segar melihat pemandangan cantik di hadapanku. Dunia ini indah...
"Sudah selesai Pak. Anda bisa kembali duduk di sini."
"Hemmm." Riki beranjak dan kembali ke singgasana.
Setelah semuanya benar-benar tuntas Suci kembali ke lantai bawah untuk membuat kopi susu. Dan membawanya lagi ke lantai atas.
"Ini pak kopi anda."
"Ini ambil !" memberikan dua bungkus roti.
"Tidak pak terima kasih."
"Wajib diambil ! sebagai rasa terima kasih saya karena kamu sudah bekerja keras sepagi ini setiap hari."
"Terima kasih pak." Roti sudah berpindah tangan."
"Jangan dikasih ke orang lain apalagi dibuang.Itu khusus untukmu. Sekarang kamu boleh melanjutkan pekerjaanmu." Kembali so cuek dan akting mengutak-atik laptop.
Suci sudah pasti manut saja dan kini dia sudah kembali ke lantai bawah.
Riki kembali senyum-senyum sendiri. Hatinya benar-benar bahagia.
__ADS_1
Maunya sih bersikap manis dan tidak cuek tapi nanti dia tidak akan suka. Masalah waktu itu saja aku belum tahu apa dia masih marah atau tidak.