
Khesya kembali ke kamarnya yang terhalang tiga kamar dari Khaira. Sepanjang perjalanan singkat itu, dia tak henti menggerutu kesal karena dipeluk secara tidak sengaja oleh iparnya. Bahkan kini bibirnya masih monyong beberapa sentimeter.
Perempuan itu duduk di bibir ranjang. "Menyebalkan ! Tahu begini aku tidak akan pergi menemui Khaira. Tubuhku telah disentuh si Louis yang kurang ajar itu. Meski dia tidak sengaja, tetap saja aku merasa dirugikan. Harusnya suamiku yang melakukannya pertama kali. Dasar aku yang bodoh, kenapa sampai tidak bisa menghindar ?" Terus nyerocos tanpa cape.
Willy menghampirinya, "Sayang, kamu darimana ? Kenapa terlihat sangat kesal ?"
Khesya menatapnya tanpa berkedip. Willy benar-benar lebih tampan lagi saat ini. Wajahnya begitu bersinar, rambutnya yang masih basah sangat indah dipandang. Tapi sejurus kemudian, Khesya tertawa terbahak-bahak. Piyama bergambar animasi yang dipakai suaminya, benar-benar merubah suasana hatinya.
"Kenapa kamu memakai piyama seperti itu ? Bukankah itu lebih cocok untuk bocah ?" Benar-benar di luar dugaan !
Willy berdehem, "Ini....piyama kesukaanku. Aku memang menyukai tokoh kartun dalam gambar baju ini. Mengingatkan saat dulu masih kecil, bersama ayah ibuku." Duduk di sebelah Khesya.
Istrinya itu langsung berhenti tertawa saat Willy bercerita tentang orangtuanya. "Maaf, aku tidak tahu ternyata alasannya seperti itu."
"Tidak apa-apa. Kamu tadi darimana ?"
"Aku menemui Khaira sebentar. Emmm, aku mandi dulu." Menghindari tatapan lekat dari suaminya.
Willy menghubungi pihak hotel agar mengirimkan makan malam ke kamar. Sambil menunggu, dia duduk di sofa. Mengutak-atik ponselnya, siapa tahu ada pesan yang penting.
***
Khesya muncul di hadapannya. Berdiri kaku sambil menunduk. Willy mendongak, "Duduk !" istrinya itu menurut. "Mari kita makan dulu. Kamu pasti lapar, kan ?!" Khesya mengangguk tanpa berkata, mendadak dia jadi perempuan yang kalem.
Willy menyendokkan makanan ke dalam piring, melahap sedikit demi sedikit. Sedangkan Khesya menatapnya sebal, kenapa pria itu begitu cuek ? Tadinya dia pikir, suaminya itu akan mengambilkan makanan untuknya, lalu menyuapinya dengan manis. Tidak peka sekali !
Willy sebenarnya dapat menangkap gelagat aneh istrinya dari sudut mata. Tapi dia tidak mengerti kenapa Khesya mendadak jadi pendiam dan kesal begitu. Dengan tenang, dia menghabiskan makanannya hingga tak bersisa.
"Tidak lapar, kenapa tidak makan ?"
Tak ada jawaban. Bibir mengerucut itu jelas menandakan jika istrinya sedang marah.
Willy mengambil lagi makanan ke piring baru. "Aku suapi !" mendekatkan sendok berisi makanan ke mulut Khesya.
Lemot sekali ! Kenapa tidak dari tadi ?
Khesya melahap makanan itu dengan semangat. Itulah yang dia nantikan. Bibir monyongnya memudar, berganti tersenyum malu-malu.
***
Willy memindahkan kaki istrinya agar berselonjor di atas p*h*nya. "Mau apa ?" Khesya gugup dan panik.
"Kamu pasti cape setelah terlalu lama berdiri menyambut para tamu undangan. Aku akan memijat kakimu agar tidak pegal." Menggerakkan kedua tangannya.
Khesya tersenyum, "Terima kasih, sayang." Suamiku baik sekali ! I love you full !
Willy tersenyum sambil terus memijat. Setelah lima belas menit, tangannya berhenti bergerak atas permintaan istrinya. Jika saja Khesya terus diam, maka pria itu tidak akan berhenti.
Willy menatapnya lekat. "Sudah baikan ?" Khesya mengangguk. Mata mereka beradu. Membuat keduanya sama-sama berdebaran tak karuan. Willy menggenggam erat tangannya. Khesya menunduk malu.
"Aku mencintaimu, Khesya istriku !"
Perempuan itu mendongak setelah mendengar kata-kata indah dari mulut suaminya. "Aku juga mencintaimu, suamiku !"
Willy tersenyum manis lalu meng*c*p kening Khesya. Mem*l*k dan mengusap rambutnya.
Khesya menjerit dalam hati. Ini pertama kalinya dia dic**m seorang laki-laki. Untung saja tidak pingsan.
Willy dengan lembut dan perlahan, meny*nt*h istrinya itu. Meski dia belum berpengalaman, tapi instingnya sebagai seorang pria, telah berhasil menuntunnya agar tidak salah kaprah melakukan malam pertama.
Dan akhirnya malam ini terlewatkan dengan lancar tanpa gangguan. Malam yang paling indah untuk kedua pasang pengantin baru.
***
Andini dan Yusuf sibuk mengasuh anak-anak. Sudah lewat tengah malam tapi kedua bocah itu masih ingin bermain. Marwah anteng dengan papanya. Tertawa lepas karena main cilukba. Sedangkan Safa terus menangis di pangkuan ibunya, diberi ASI pun tidak mau.
"Mas, bagaimana ini ? Safa belum mau berhenti menangis. Kenapa ya ?" menimang-nimang.
"Mungkin mau ganti popok atau dia ngantuk." Masih bermain cilukba dengan si kecil Marwah.
"Popoknya baru diganti. Dan kalau Safa ngantuk, biasanya langsung bobo setelah diayun-ayun begini."
"Jangan-jangan sakit." Mengecek suhu tubuh anaknya. "Tapi panasnya normal." Ucap Yusuf. "Gantian saja. Aku yang ajak main Safa." Andini menyetujui ide suaminya.
Dan setelah dipangku ayahnya, Safa tidak lagi menangis. Bahkan dalam sekejap, anak itu terlelap. "Ohhh, ternyata dia ingin aku yang menimangnya." Yusuf tersenyum.
"Dan Marwah juga sudah tidur. Sepertinya mereka ingin bertukar posisi. Ada-ada saja, menggemaskan !"
Kedua anak kembar itu pun ditidurkan di tempat mereka masing-masing.
Andini dan Yusuf berbaring saling mem*l*k. Hampir setiap malam mereka bermain dengan Safa dan Marwah. Cape dan ngantuk sudah pasti, tapi mereka menjalaninya dengan bahagia. Menikmati setiap momen kebersamaan dengan anak-anak.
"Alhamdulilah, kita diberi kepercayaan untuk membesarkan anak kembar yang sehat dan cantik. Benar-benar menyenangkan. Kebahagiaan yang kita rasakan pun berkali lipat lebih indah." Ucap Yusuf.
"Ya, mas benar. Walaupun lelah tapi semua itu terobati hanya dengan melihat senyum mereka. Memiliki kedua anak kembar itu adalah sesuatu hal yang jauh lebih berharga daripada segala yang ada di dunia ini."
"Betapa sempurnanya hidupku saat ini. Memiliki istri dan anak-anak yang cantik dan menggemaskan. Tapi ada sedikit yang kurang. Aku menginginkan anak laki-laki, kembar atau tidak bukan masalah. Yang penting kita berusaha dengan maksimal untuk mewujudkannya."
"Apa maksudnya ? Jangan bilang ini modus lagi !"
"Kamu tahu saja apa yang ada di pikiranku." Mengusap wajah Andini.
Jelas tahu. Setiap kali kamu tersenyum begitu, pasti ada maksud terselubung dari otakmu itu !
"Bisakah kita tidur sekarang juga, sayang ? Aku sudah cape dan ngantuk. Kamu juga harus istirahat, besok pagi harus ke kantor !"
Percuma saja Andini tersenyum manis untuk membujuk suaminya. Pria itu tetap kekeh ingin lembur dulu sebelum tidur.
Tangan nakalnya semakin tidak bisa dikondisikan. Merayap kemana-mana sesuka hatinya. Dan akhirnya Yusuf tertidur pulas setelah berhasil bermain-main.
***
__ADS_1
Spesial nostalgia Suci dan Riki.
Saat baru mempunyai anak 3, belum ada Zidan dan Zein. Ketika itu Khaira dan Khesya baru berumur dua tahun. Saking baiknya, papa Hans dan Bu Merly bersedia menjaga cucu-cucu mereka. Menyuruh Riki dan Suci berbulan madu lagi untuk ke sekian kalinya.
Pasangan itu menghabiskan waktu beberapa hari di sebuah villa keluarga, di daerah perkebunan teh. Hanya mereka berdua !
Siang itu setelah makan, keduanya pergi jalan-jalan di sekitar perkebunan. Berjalan bergandengan tangan dengan senyum yang tak henti merekah. Bahkan sesekali Riki meng*c*p tangan yang dia genggam.
"Sayang, seberapa indah pun dunia ini, akan terasa membosankan jika tanpa ada kamu." Riki merangkul pinggang istrinya.
"Mas, gombal sekali ! Jangan modus ahhh !" tersipu malu.
"Tidak modus, aku jujur !"
Suci manggut-manggut, "Ya...ya...aku percaya !"
Riki berjongkok di depan perempuan itu, "Naiklah, kamu pasti cape !"
"Mas mau menggendongku ? Tapi, aku kan berat."
"Cepatlah ! Aku memaksa, jangan menolak !"
Suci menurut saja, lumayan dia bisa main kuda-kudaan. "Asiknya, terima kasih sayang."
"Hemmm, berterima kasihlah dengan perbuatan !"
"Heyyy, apa maksudmu ? Apa ini akal-akalan mas untuk mengerjai ku ?"
"Aku terlalu pintar, bukan ?!" nyengir.
"Ya, pintar modus ! Dasar ngeres !" memukul-mukul punggung suaminya.
Riki tertawa sambil berlari. Suci kegirangan karena kudanya berpacu dengan cepat. Benar-benar menyenangkan !
"Sudah, aku cape." Menurunkan Suci saat tiba di villa.
"Itu bukan salahku, kamu yang memaksa."
"Makanya kamu harus berterima kasih padaku." Merangkul pundak.
"Oh, no...!" berlari ke arah kamar atas. Riki segera mengejarnya.
***
Riki mengunci pintu kamar. Dia tersenyum menyeringai mendekati istrinya. "Bagus, kamu mau berterima kasih sekarang juga ?"
Suci nyengir, "Mas, kamu memang suka bercanda. Lucu sekali !" sambil mundur beberapa langkah.
Riki terus menghapus jarak diantara mereka. Terus maju hingga punggung istrinya mentok di tembok. Kode keras ! Aku tidak akan pernah bisa melarikan diri !
"Sayang, aku mau mandi dulu. Badanku rasanya lengket." Menyingkir, ayo menyingkir !
Senyum nakal itu masih muncul, "Ayoooo, aku juga ingin mandi. Kebetulan sekali, kita bisa bareng."
Kedua tangan Riki menjadi pagar di sisi kiri dan kanan wajah istrinya. "Aku kan ingin memproduksi anak lagi. Jadi aku harus berusaha lebih keras. Bukankah tujuan kita bulan madu, agar kamu cepat hamil lagi ?!"
Apa ? Produksi anak ? Ahhhh, kamu yang enak sementara aku yang susah !
Suci nyengir terpaksa, "Bukankah tiga anak sudah lebih dari cukup ?"
"Kamu lupa ? Yusuf kan ingin punya adik sepuluh. Kita harus mewujudkannya !"
"Masih saja berpikir begitu, Yusuf pasti sudah lupa dengan keinginannya."
Riki tidak mau lagi membuang waktu. Dia segera menjalankan misi mulia untuk memberi banyak adik buat si sulung. Dan Suci, hanya bisa pasrah.
Jam setengah empat sore, setelah mandi dan menjalankan ritual keagamaan, Suci turun ke dapur. Riki tentu saja mengekor.
Dengan lihai Suci memotong sayuran. Riki dengan senang hati membantu, tidak ! Lebih tepatnya hanya mengganggu ! Pria itu terus memeluk istrinya dari belakang.
"Mas, minggir dulu ! Aku tidak bisa bergerak bebas jika begini. Lebih baik kamu pergi saja daripada mengganggu !" mulai kesal.
Riki terpaksa melepas pelukannya. "Baiklah, sayang. Aku akan membantu."
"Kalau begitu, tolong bersihkan ikan-ikan ini ! Maaf menyuruh-nyuruh. Daripada kamu mengganggu kan lebih baik membantu." Masih memotong sayuran.
Riki pun melaksanakan perintah nyonya bos. Setelah membersihkan ikan, dia membantu memotong bawang dan cabai. Aktivitas memasak itu pun terlaksana dengan lancar dan hasilnya memuaskan.
Suci dan Riki makan dengan lahap. Setelah itu, kembali ke dalam kamar. Itu adalah ide Riki, dengan alasan ingin dipijat.
Suci memijit punggung suaminya. Sama sekali tidak curiga akan niat terselubung dari Riki.
"Sudah, sayang." Riki membalikkan badan menjadi telentang. Menarik tangan Suci sehingga perempuan itu berada di at*snya.
"Mas, jangan mulai lagi ! Kamu ini, modus terus. Tahu begini aku tidak akan mau memijatmu." Ihhhhh, malah senyum-senyum mencurigakan ! Aku tahu apa yang akan terjadi jika aku masih di sini !
"Suci, kamu menggemaskan sekali !" memeluk erat.
"Lihatlah, rambutku masih basah begini ! Masa aku harus mandi lagi !" kesal.
"Tidak apa-apa, nanti aku temani !"
"Itu memang maumu ! Tidak cape apa, ka....." terlambat, bibirnya langsung diblokir oleh b*bir suaminya. Mas Riki benar-benar membuatku pusing ! Ahhhh, tahu begini lebih baik tidak usah liburan kemari !
Dan akhirnya Suci dikerjai lagi.
***
Riki tersenyum cengengesan setelah berganti baju. Semangatnya bertambah besar setelah beberapa kali mendapat asupan vitamin alami dari istrinya. Sedangkan Suci terlihat lemas, letih dan lesu. Wajahnya memucat dan kusut.
Riki m*mel*k istrinya yang sedang berdiri di depan jendela kamar. Meraup wajahnya dan menatapnya lekat. "Sayang, terima kasih banyak. Aku sekarang lebih bersemangat dan happy." Tak ada suara yang terdengar dari mulut Suci. Kalian tahu, terlalu lelah hingga malas untuk bicara ?!
__ADS_1
"Aku ambilkan makan malam ke kamar. Kamu duduk saja dulu !" Segera pergi setelah istrinya duduk di kursi. Dalam waktu singkat dia sudah kembali. Ikut duduk di sebelah Suci.
"Makan dulu, aku suapi !" Riki menyendokkan makanan dan mendekatkannya ke mulut perempuan itu.
Usai makan dan mengerjakan kewajiban sebagai seorang muslim, mereka menonton TV. Tapi Suci sama sekali tidak fokus, pikirannya sedang gusar.
"Mas, harusnya kita mengajak anak-anak kemari. Aku merindukan mereka. Kasihan juga mama dan papa harus kerepotan."
"Aku juga kangen dengan anak-anak. Tapi kan ini ide mama dan papa. Lagipula Yusuf dan si kembar lebih suka menghabiskan waktu bersama mereka. Kamu jangan cemas !" menggenggam tangan.
"Aku mau besok kita pulang." Berkaca-kaca.
"Ya, besok pagi kita pulang." Memeluk. Lama-lama ingin lebih dari itu. Meng*c*p semua area wajah Suci. Entah karena suhu di daerah sana sangat dingin, atau memang sudah menjadi kebiasaan Riki untuk sering-sering mengerjai istrinya ?
Ahhhh, benar-benar keterlaluan ! Inikah caranya menghibur ku ?
Tubuh Suci yang lelah harus digarap lagi. Riki memang bekerja sangat fokus untuk memberikan adik bagi Yusuf.
***
Esoknya.
Dalam perjalanan menuju rumah, mobil yang mereka tumpangi mendadak mogok. Riki dan Suci turun untuk mengecek. Ketika itu sebuah mobil menepi di dekat mereka. Seorang pria menghampiri, "Mobil kalian mogok ?"
"Heyyy, kau ! Sedang apa di sini ? Jangan-jangan sengaja membuntuti kami ?" Riki naik darah.
"Mas, jangan berkata begitu !" berbisik.
"Maaf, pak. Saya memang sedang dalam perjalanan ke rumah kakek. Kebetulan sekali kita bertemu di sini." Nyengir.
"Kakek mas Nizar orang sini ?" tanya Suci.
"Ya, rumahnya tidak terlalu jauh dari sini."
Riki cemberut, "Aku tidak peduli !"
"Pak, biar saya bantu." Nizar mengecek mobil bosnya. "Ini harus dibawa ke bengkel. Saya ada teman pemilik bengkel di daerah sini. Saya akan menelponnya agar mobil bapak dibawa ke bengkelnya. Kalian bisa ikut ke mobil saya."
"Tapi, mas kan mau ke rumah kakek. Kami tidak mau merepotkan."
"Tidak masalah, saya bisa melanjutkan perjalanan setelah mengantar kalian. Di sini tidak ada kendaraan umum. Terminal masih jauh."
"Ya, baiklah. Saya setuju dengan idemu." Ucap Riki.
Setelah menghubungi orang bengkel, Nizar masuk ke mobilnya. Suci dan Riki mengikut.
Sepanjang perjalanan, Nizar memperhatikan wanita yang duduk di belakang, melalui kaca spion depan. Sesekali senyumnya tersungging. Jika saja dia bertemu Suci lebih awal, maka dia tidak akan membuang waktu untuk segera melamarnya. Astaga, apa yang ku pikirkan ?
Riki memicingkan matanya, "Heyyy, fokuslah menyetir ! Jangan melihat apalagi memikirkan hal yang aneh-aneh !"
"Baik, pak." Apa dia tahu yang ada dalam otakku ?
Riki dengan posesifnya, memeluk dan bahkan meng*c*p kepala Suci. Istrinya itu beberapa kali mencubit pinggangnya, menyuruh berhenti bersikap seperti itu. Nizar berdehem pelan, mendadak kesusahan menelan ludahnya sendiri. Pak Riki pantas begitu mencintai Suci. Dia adalah perempuan yang baik dan manis. Tetap saja matanya tergoda untuk memperhatikan wajah cantik istri bosnya.
Riki makin murka. Dia menendang kursi bagian belakang, yang Nizar duduki. "Heyyy, kau mau dipecat ? Kenapa masih melirik istriku ? Cepat turun ! Aku yang akan menyetir !"
"Baiklah, pak. Kita tukar posisi duduk ?" Hehehe, aku berarti bisa duduk dekat Suci !
"Bukan seperti itu, bodoh ! Aku dan Suci duduk di depan. Kau duduk sendiri di belakang." Ucap Riki meledak-ledak.
"Ba, baik." Nizar menghentikan mobilnya lalu segera turun.
Riki dan Suci pun ikut turun. Mereka berganti tempat duduk seperti yang diinginkan Riki.
"Heyyy, jangan lagi menatap istriku meskipun hanya punggungnya saja ! Tundukkan kepalamu, jika ku lihat kau masih saja nakal, aku akan menendang mu agar keluar dari mobil ini !" Ancam Riki.
"Pak, ini kan mobil saya !" protes.
"Kau mau ku pecat ?"
"Tidak, pak. Silahkan saja pakai mobil ini sesuka anda. Anggap saja mobil sendiri. Saya akan menutup mata dan tidak melirik sembarangan." Nizar benar-benar menutup matanya dengan kedua tangan. Dia tidak mau dipecat ataupun diturunkan di tempat ini.
"Bagus !" Riki tersenyum puas.
Ya ampun, mas Riki benar-benar keterlaluan ! Sampai kapan dia akan cemburuan begini ? Aku tidak enak pada mas Nizar. Dia begitu baik, tapi malah kena kejahilan suamiku ! Ada-ada saja !
"Mas Nizar, maaf kami sudah merepotkan. Terima kasih atas bantuannya." Suci menoleh ke belakang.
Riki membalikkan wajah istrinya agar kembali menatap ke depan. "Sayang, dia tidak apa-apa kok. Benar kan, Nizar ?"
"Ya, Pak. Saya tidak keberatan dengan semua perlakuan anda." Masih menutup mata.
Suci mengutak-atik ponsel untuk memesan taxi online. Dia kasihan pada Nizar. Kenapa tidak kepikiran dari tadi ?
"Mas, kita turun di depan saja. Aku sudah memesan taxi." Ucap Suci.
Riki menurut saja. Mobil berhenti di depan. Dia dan istrinya segera turun.
"Terima kasih, Nizar. Senang bisa merepotkanmu !" Riki nyengir lalu buru-buru pergi.
"Ahhh, dia benar-benar sengaja ingin menyusahkan aku !" rengek Nizar. Dia pindah ke kursi kemudi lalu berputar balik menuju rumah kakeknya.
Suci dan Riki naik ke taxi itu. Mereka pulang dengan damai menuju rumah. Itulah sedikit kisah mereka yang baru diceritakan.
***
Novel ini saya nyatakan benar-benar tamat. Tidak akan ada lagi kebimbangan author π
Maaf jika ceritanya kurang memuaskan atau tidak sesuai dengan keinginan kalian. Terima kasih banyak sudah menyimak dan support. Senang dapat mengenal kalian. Sampai jumpa di novel berikutnya !
Author sudah merencanakan untuk membuat karya baru. Tapi belum diketik di Noveltoon. Tunggu saja, ya βΊοΈ
__ADS_1
Terima kasih banyak-banyak. I love you all π€
Ingat, buang yang negatifnya dan ambil yang positifnya dari cerita ini !