
Suci masih duduk termenung di sofa. Pikirannya masih melayang-layang memikirkan tingkah polah ibu mertua hari ini. Saat menyuruhnya membuat berbagai macam makanan khas negara lain, itu masih masuk akal. Tapi ketika membohongi Suci dengan mengatakan bahwa Riki bukanlah anaknya, itu sama sekali bukan pemikiran yang normal. Meski hanya bercanda namun tidaklah pada tempatnya. Entah apa yang ada di pikiran wanita yang sudah melahirkan pria yang kini jadi suaminya.
Ponselnya bergetar meluluh lantakkan semua pemikiran dan kebingungan yang melandanya. Sebuah panggilan masuk dari Riki sudah menunggu dijawab. Segera disentuh layar ponselnya. Panggilan pun terhubung.
(Halo sayang...kamu sedang apa ?)
(Tidak sedang apa-apa)
(Bagaimana sikap mama padamu ? kalian sudah akrab ?)
(Mama baik...tapi kami belum bisa akrab. Semuanya butuh proses. Apalagi kehadiranku di rumah ini sudah sangat membuatnya syok. Tidak pernah terpikirkan oleh orangtua mu)
(Kamu sabar saja, mama itu baik. Kalian pasti bisa akrab cepat atau lambat. Sudah dulu ya, aku masih ada kerjaan)
(Ya mas. Assalamualaikum)
(Oh ya lupa. Waalaikumussalam)
Panggilan itu sudah terputus. Entah kenapa Suci merasa agak tidak suka Riki hanya sebentar menelponnya.
Sebentar sekali mas Riki menelpon, padahal aku masih ingin bicara. Dia juga tidak berbasa-basi mengatakan rindu. Sesibuk itu ya dengan pekerjaannya ?!
Ponsel disimpan kembali di atas meja. Suci merebahkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamar. Rasa rindunya muncul. Menginginkan Riki berada di sampingnya saat ini. Kehadirannya bisa membuat Suci merasa tenang. Bukan untuk mengadu atau berkeluh kesah mengenai mama Merly. Hanya ingin bersandar di bahu Riki untuk melepas kegusaran di hatinya.
"Sayang, apa kamu merindukanku ?" Riki tiba-tiba muncul dengan senyum manisnya.
Riki membawa sekotak makanan dan disimpan di atas meja.
"Mas ? bukannya kamu sedang ada di kantor ?" Suci segera duduk kembali.
"Aku tidak tahan ingin segera melihat wajah manismu." Ikut duduk dan melingkarkan tangannya di tubuh Suci.
"Tapi aku senang kamu ada di sini mas." Memeluk erat pinggang Riki dan bersandar di dadanya seperti yang dia inginkan.
"Benarkah ? berarti kamu merindukanku. Tidak sia-sia aku pulang dulu ke rumah." Riki tersenyum sembari mengusap kepala Suci.
"Aku memang merindukan mas."
Rasanya tenang saat ada di pelukan orang yang kita cinta. Semua penat dan kegalauan segera hilang.
"Aku juga sangat merindukan senyummu yang indah, makanya aku menyempatkan diri untuk menemuimu. Masalah pekerjaanku tidak perlu kamu pikirkan, aku bisa mengatasinya. Oh ya, kamu sudah makan belum ? aku bawa sesuatu untukmu." Riki mengambil kotak makanan yang tadi ia bawa lalu membuka dan menyuapkannya ke mulut Suci.
"Enak ?"
"Apapun makanannya asalkan mas yang menyuapi pasti terasa enak. Bukan hanya enak di lidah tapi juga enak di hati." Suci tersenyum lebar.
"Ahhh senangnya digombali sama istri" memeluk lagi tubuh Suci.
"Bukan gombal, itu memang fakta." Suci mencium bibir suaminya sekecup.
"Kamu mulai agresif sekarang." Riki membalas dengan berjuta kecupan dimana-mana.
Gawatttt mas Riki pasti terpancing !
Bu Merly dan Pak Hans tiba-tiba nyelonong masuk begitu saja, mengagetkan sepasang insan yang tengah asik bermesraan. Dengan sangat terpaksa adegan itu terhenti. Mereka merapikan kembali tampilannya.
Apa yang sedang mereka lakukan ?
"Apa yang sedang kalian lakukan ? Riki, kenapa kamu malah ada di rumah ? cepat pergi lagi ke kantor !" sebenarnya Bu Merly marah untuk menutupi rasa malunya karena sudah melihat adegan yang harusnya tak dia lihat.
Suci hanya tertunduk malu. Riki nyengir sambil garuk-garuk kepala.
"Ma...papa yang menyuruh Riki pulang ke rumah dan menghabiskan waktu dengan istrinya. Mereka kan masih pengantin baru, jadi harusnya jangan terlalu lama berjauhan. Masa mama tidak mengerti sih ?" Pak Hans tersenyum menggoda Bu Merly.
"Tapi kan Riki harus..." Mama ditarik paksa oleh papa Hans agar segera keluar dari kamar.
__ADS_1
"Ayooo ikut papa, kita kan juga harus menghabiskan waktu bersama. Kunci pintunya Rik, biar kalian bisa tenang." Pak Hans bicara dengan santainya.
"Ok pak, thank you so much !" Riki dengan senang hati segera mengunci pintu kamar setelah kedua orang tuanya pergi.
Bapak dan anak kompak sekali. Tapi apa mereka tidak malu berbuat seperti itu ? tidak ku sangka ternyata mas Riki begitu karena memang turunan dari bapaknya.
Wajah Suci sudah tidak terkira lagi merahnya. Riki kembali menghampiri Suci dan mengangkatnya ke atas tempat tidur.
"Itu mas...apa kamu tidak cape ? kan nanti harus ke kantor lagi." Suci bangkit dan bersiap turun dari ranjang.
"Siapa bilang aku mau ke kantor lagi ? aku mau menghabiskan waktu bersamamu." Membaringkan kembali tubuh Suci. Senyumnya sudah mencurigakan.
Gawattt ! ini benar-benar kode !!!
Dan akhirnya mereka pun melakukannya. Anggap saja ini memang suatu gejala pengantin baru, dimana kau berdekatan maka disitulah kau akan dikerjakan.
Percayalah bahwa Riki sudah berusaha mengontrol diri untuk tidak sering-sering menjamahi istrinya. Setidaknya saat ini dia melakukannya hanya sehari sekali dan semalam sekali. Wahhhh !
***
Esoknya Riki bersama ayahnya pergi mengecek perusahaan cabang di suatu tempat. Raisya kembali dengan aktivitasnya di Butik. Dan Suci masih ada di rumah bersama mama Merly.
Tidak ada obrolan diantara mereka. Hanya sapaan ringan yang dilontarkan Suci pada ibu mertua, meski kadang dijawab kadang tidak.
Jam sepuluh pagi Bu Merly menemui Suci di kamarnya. Mereka duduk bersebelahan di sofa.
"Ma saya ambilkan minum dan camilan dulu." Tawar Suci.
"Tidak usah. Saya sudah banyak minum tadi, saya juga tidak suka ngemil." Bicara sambil mengutak-atik ponsel.
Bu Merly memang tipe wanita yang telaten menjaga penampilannya. Maka tak heran jika wanita paruh baya ini terlihat awet muda, bahkan jika sedang duduk bersama Raisya mereka terlihat seperti adik kakak. Tampilan mereka tidak jauh berbeda, sebelas dua belas. Sama-sama cantik, elegan dan fashionable.
Kira-kira hari ini mama akan melakukan hal aneh apa ya ?
"Dulu papa itu sering dekat dengan sekertarisnya. Dasar Playboy ! bahkan kali ini pun matanya selalu jelalatan kalau melihat perempuan bening. Mentang-mentang sekarang istrinya sudah tidak lagi muda." Bu Merly terlihat kesal.
"Tapi sepertinya papa itu bukan tipe pria playboy." Suci mengutarakan apa yang sebenarnya memang dia pikirkan.
"Pernah sekali papa kepergok makan berdua saja dengan seorang perempuan yang masih muda. Mereka mengobrol sangat akrab. Membuat hatiku hancur." Menangis dibuat-buat.
"Ma...tenang. Itu kan sudah berlalu, jadi tidak usah diungkit lagi karena akan membuat mama kembali terluka. Mama harus benar-benar ikhlas memaafkan papa." Suci mengusap punggung ibu mertua. Bu Merly menaikkan volume suaranya, tangisnya semakin menjadi.
"Yang penting hubungan mama dan papa sekarang baik-baik saja."
Tangis Bu Merly kini mereda.
"Ma...sebaiknya tidak usah lagi membuka aib pasangan sendiri meskipun pada orang terdekat. Itu adalah rahasia rumah tangga yang hanya boleh diketahui suami dan istri. Jika kalian saling menyayangi dan masih betah hidup bersama, maka harus saling menerima kekurangan masing-masing. Apalagi jika pasangan kita sudah menyadari kesalahannya maka kita sepatutnya memberi maaf."
"Ya...kamu benar, papa sebenarnya pria yang sangat baik dan juga setia. Hanya mama barusan sedang berakting saja." Berbicara dengan ekspresi datar dengan tatapan menuju ke layar ponsel.
Kena lagi kau Suci. Mama Merly lagi-lagi mengerjaimu.
"Mama hanya akting ? mama cuma bohong ?" Suci terpaksa nyengir.
Untuk apa mama berbuat begitu ? aku punya ibu mertua yang sangat aneh !
Bu Merly tidak menjawab kebingungan menantunya.
"Astaga Riki !" mama masih menatap ponselnya. Sebelah tangannya menutupi mulut.
"Mas Riki kenapa ma ?" Suci sudah panik.
"Ini coba lihat !" Bu Merly memberikan ponselnya pada Suci.
Sebuah foto yang menunjukkan Riki tengah memeluk sekertarisnya dengan wajah mereka yang berdekatan, terpampang jelas di layar ponsel. Seketika itu juga dada Suci serasa sesak dan panas. Berbagai pikiran negatif dan prasangka buruk memenuhi isi kepalanya.
__ADS_1
Astaghfirullah.....apa ini ?
"Riki itu benar-benar ya....malah bermesraan dengan wanita lain padahal sudah punya istri." Bu Merly malah mengompori.
Suci berusaha menenangkan hatinya.
Fuhhhh...jangan dulu suudzan, fakta yang sebenarnya belum tentu seperti yang ku lihat.
"Ma...saya percaya pada mas Riki. Dia tidak akan melakukan hal buruk yang akan menghancurkan hubungan kami." Ponsel itu diberikan kembali pada yang punya.
"Kamu ini polos sekali sih. Sudah jelas Riki itu bermesraan dengan wanita lain. Kamu lihat sendiri kan buktinya !" malah bu Merly yang naik pitam.
"Mas Riki adalah anak mama, harusnya mama juga percaya padanya." Suci berkata tegas membuat ibu mertuanya terdiam.
"Saya tidak akan pernah percaya pada hal seperti itu selama tidak melihatnya secara langsung dengan mata kepala sendiri. Tapi meskipun begitu, saya tidak akan langsung menuduh, saya akan mencari tahu terlebih dulu tentang kebenarannya." Tatapan tajam mata Suci berhasil membungkam sepenuhnya mulut ibu mertua.
Kita lihat saja nanti. Apa kamu masih bisa tenang saat melihat wajah suamimu ?
Akhirnya Bu Merly menyerah untuk memanas-manasi menantunya. Dia pun berlalu.
***
Hari menjelang sore namun sinar mentari masih setia menyinari sebagian bumi. Sama seperti Suci yang masih setia duduk menunggu suaminya di teras depan. Membunuh waktu dengan membolak-balik halaman buku.
"Assalamualaikum...." ayah dan anak yang baru pulang itu memberi salam bersamaan.
"Waalaikumussalam." Suci beranjak dan mencium punggung tangan Riki, yang dibalas dengan kecupan lembut di kening Suci.
Mas...kamu itu tidak malu ya dengan papamu ?!
Suci menyolek pinggang Riki dengan siku tangannya. Agak melotot Suci menatap suaminya.
"Apa sih sayang ? aku baru pulang, jadi biarkan aku istirahat sebentar. Jangan dulu mengajakku bermain." Riki tersenyum menggoda.
Apa sih ? bukan itu. Aku mau memperingatkan mas supaya menjaga sikap di hadapan orangtuamu. Aku malu !
Pak Hans hanya tertawa kecil melihat mereka.
"Tidak apa, papa senang melihat kalian selalu mesra begini. Mengingatkan papa pada jaman dulu saat baru menikah dengan mama."
Wajah Suci semakin merah. Namun Riki semakin berani menggandeng istrinya sambil tersenyum penuh kemenangan.
Papaku memang yang terbaik.
Suci melepaskan tangan Riki dan menghampiri ayah mertua untuk menyalaminya.
Suci memang menantu yang baik. Riki tidak salah memilih pasangan.
Senyum kebanggan ditujukan pada menantunya itu. Pak Hans melangkahkan kakinya masuk ke rumah.
Riki menyusul Suci dan kembali merangkulnya.
***
Saat makan malam tiba semua orang berkumpul. Bu Merly memperhatikan semua gerak-gerik menantunya. Mencoba menebak ekspresi yang muncul di wajah Suci.
Setelah melihat foto itu, kenapa dia masih bisa setenang ini menghadapi Riki ?
Netranya masih fokus pada Suci meski sesekali tangannya bergerak mengambil buah dan memasukannya ke mulut.
"Mas mau tambah lauknya ?"
"Ini minumnya mas."
"Makannya pelan-pelan nanti mas tersedak."
__ADS_1
Suci malah semakin menunjukkan perhatiannya pada Riki. Dan itu terlihat jelas oleh sepasang mata yang sedang memonitornya.
Ternyata Suci bukan wanita sembarangan.