
"Maaf, anda siapa ?" Suci bertanya kembali karena wanita asing itu hanya diam memperhatikan dirinya.
"Seharusnya saya yang bertanya, kamu siapa ? kenapa ada di kamar anak saya ?" wanita itu balik bertanya.
Apa dia ad..
"Mama ?" Riki menghampiri mereka.
Dia memeluk wanita yang tidak lain adalah mama kandungnya.
"Kenapa tidak bilang, kalau mama akan pulang hari ini ? aku kan bisa jemput ke bandara."
Wanita ini memang benar ibunya mas Riki.
"Mama kan mau kasih surprise. Tapi malah mama rupanya yang dibuat terkejut." Melirik ke arah Suci.
"Ma, kenalkan ini Suci." Riki mengerti dengan kebingungan mamanya.
Suci mencium tangan Bu Merly dan tersenyum.
"Ahhh ya." Bu Merly agak canggung diperlakukan seperti itu.
"Suci ini menantu mama. Dia istriku." Riki memeluk Suci dari belakang dan menempelkan pipinya ke pipi Suci.
Jangan memelukku di depan mama mu mas.
"Apa ? kapan kalian menikah ? kenapa tidak pernah memberi tahu mama dan papa ?" syok sekaligus marah.
"Halo semuanya !" Pak Hans muncul.
"Papa ?" Riki berpindah memeluk Pak Hans.
"Ini kenapa rame begini ? siapa perempuan yang tadi kamu peluk ?"
"Dia Suci, istriku pa."
Pak Hans tak kalah terkejutnya dengan Bu Merly. Suci hanya tersenyum saat mertua lelakinya memandangnya.
Mendadak sekali Orangtua mas Riki datang. Aku belum menyiapkan hati dan mental ku untuk menyambut mereka dengan baik.
"Nanti aku jelaskan. Lebih baik sekarang kita ke bawah untuk makan bersama." Riki sebenarnya juga mengulur sedikit waktu untuk menjelaskan.
Saat di meja makan, suasana yang tercipta sangat canggung. Semua orang hanya makan tanpa berucap meski tidak fokus mengunyah sekalipun. Riki sesekali berkicau mencoba mencairkan suasana, namun tetap saja canggung.
Kenapa mereka menikah tanpa memberi tahu sama sekali ? Pak Hans.
Kira-kira gadis ini punya kelebihan apa sehingga bisa membuat anakku menikahinya tanpa minta ijin dulu pada orangtua ? Bu Merly.
Suci lah yang paling merasa terasing dan tak enak hati dengan situasi saat ini. Berbagai macam perasaan muncul, gugup dan takut mengelilingi pikirannya. Riki yang duduk di samping kanannya tak henti menggenggam sebelah tangannya. Dia sangat tahu bahwa istrinya tengah gusar.
Riki bahkan menyuapi makanan juga ke mulut Suci karena wanita itu hanya sedikit mencicipi makanannya.
"Biar aku saja mas." Berbicara pelan. Dia tak enak pada kedua mertua yang baru saja ditemuinya.
"Aku mau menyuapimu, jangan menolak." Riki tidak mau melepaskan genggaman tangannya.
Suci terus disuapi hingga makanan itu habis.
Anak itu persis seperti ku saat muda dulu.
Pak Hans tersenyum melihat kemesraan anak dan menantunya.
Riki sepertinya tidak main-main dengan perasaannya. Tapi aku harus mengetahui dengan jelas, seperti apa karakter gadis yang dipilih putraku ini.
__ADS_1
Bu Merly pun memperhatikan tingkah mesra keduanya.
Mas aku harap kamu jangan seperti ini di hadapan mereka. Aku malu dan tak enak hati.
Suci tidak berani mengarahkan pandangan pada kedua orang tua suaminya.
"Minum." Riki membantu Suci untuk menenggak air.
Aku ingin mereka melihat sendiri bahwa aku memang sangat mencintai wanita yang sudah ku pilih menjadi pendamping hidup.
Makan bersama yang sedikit menegangkan itu pun berakhir. Mereka pindah ke ruang keluarga untuk berbincang.
"Ma...Pa...maafkan aku karena baru memberi tahu kalian tentang pernikahan kami. Sebenarnya aku kemarin-kemarin menghubungi dan meminta kalian pulang adalah untuk mengatakan hal penting ini." Riki mulai menjelaskan.
Tidak ada suara dari mulut yang lain. Mereka semua terdiam, hanya Riki yang masih berbicara.
"Jujur saja aku sangat mencintai Suci dan tak mau kehilangan nya. Maka dari itu aku cepat-cepat menikahinya meski hanya secara agama. Aku mau meminta restu mama dan juga papa untuk menerima pernikahan kami." Riki tak membeberkan alasan sebenarnya untuk melindungi harga diri dan perasaan Suci.
"Apa kalian benar-benar bahagia dengan pernikahan ini ?" Pak Hans angkat bicara sambil menatap anak menantunya bergantian.
"Apa papa tidak bisa melihatnya ?" Riki tersenyum. Tangannya merangkul Suci.
"Kalau begitu papa merestui. Segera resmikan pernikahan kalian !" Pak Hans mengangguk mantap.
Senyum merekah di bibir semua orang kecuali bu Merly. Dia terlihat kurang begitu puas dengan berita itu.
"Ma, apa mama juga setuju ?" tanya Riki.
Bu Merly belum menjawab.
Suci meremas jemarinya untuk menghilangkan kekhawatiran.
"Mau bagaimana lagi, kalian sudah menikah jadi tidak ada alasan bagi mama untuk menolak. Mama percaya kamu tidak akan memilih gadis sembarangan untuk dijadikan istri." Bu Merly memberi restu namun air mukanya masih sinis.
Riki dan Pak Hans tersenyum lega. Sebaliknya Suci, perasaannya bisa menangkap keterpaksaan pada perkataan ibu mertuanya.
"Mama...papa...aku kangen !" Raisya muncul dan menghambur kepada orang tuanya.
Mereka berbincang, hanya Suci yang banyak diam, masih canggung.
***
Malam hari Riki tengah terbaring miring berhadapan dengan Suci. Memeluk dan membenamkan wajah Suci di dadanya.
"Kamu senang bertemu orangtuaku ?" membelai lembut rambut hitam lurus itu.
"Senang tapi juga kaget. Tidak menyangka mereka akan datang hari ini. Aku yakin mereka juga sangat syok dengan berita pernikahan kita."
"Tapi kan mereka sudah merestui hubungan kita. Jadi tidak udah cemas lagi. Aku juga secepatnya akan mempersiapkan untuk peresmian pernikahan kita."
"Ya mas, terima kasih."
Riki menyamakan posisi wajahnya hingga sejajar menghadap tepat di wajah Suci. Membelai lembut kedua pipinya. Mereka bersitatap disertai debaran kencang. Sentuhan kecil dilakukan Riki pada area wajah manis milik istrinya. Dan malam itu berakhir dengan penyatuan kembali jiwa raga mereka.
Hal itu membuyarkan semua kecemasan di hati Suci.
Esoknya Suci turun ke dapur menyiapkan sarapan. Bu Merly muncul.
"Biar saya saja yang melakukannya." Wanita yang masih terlihat anggun di usianya yang sudah menginjak kepala lima itu, mengambil alih pekerjaan Suci.
"Biar saya bantu ma !"
"Tidak perlu, saya biasa melakukan ini. Saya tahu persis bagaimana selera anak-anak dan suami saya." Bicara namun tidak bersitatap.
__ADS_1
Suci memilih pergi saja karena canggung jika harus terus di sana tapi hanya berdiam diri menonton. Dia kembali ke kamarnya.
Riki sedang berganti pakaian.
"Sayang...bisa bantu aku tidak ?"
"Ada apa mas ?"
"Tolong pakaikan aku dasi, aku lupa caranya." Riki nyengir.
"Mas bilang saja jika mau aku yang memakaikan dasi, tidak usah bohong seperti barusan. Mana mungkin mas lupa, ini kan pekerjaan yang ringan. Sambil tidur pun bisa dilakukan." Suci so jutek. Tangannya bergerak mengutak-atik dasi.
"Kamu pintar. Aku maunya memang setiap hari kamu yang memakaikan ku dasi, kalau bisa sekalian mandikan dan pakaikan aku baju juga." Tersenyum nakal dan sudah melingkarkan tangannya di pinggang Suci.
"Kalau mas itu bayi pasti sudah ku lakukan. Tapi karena mas ini sudah bapak-bapak maka aku akan menolak." Mesem-mesem.
"Heyyy aku belum bapak-bapak. Kalau kamu sudah memberikanku anak, maka saat itulah aku jadi bapak.Kalau begitu, ayo kita rajin-rajin membuatnya !" Riki tersenyum nakal.
"Tidak mau mas. Mas kan harus ngantor. Aku juga tadinya mau berangkat kerja, tapi tidak enak sama orangtuamu. Masa mereka sedang ada di sini, aku tinggalin."
"Aku tahu, kamu di rumah saja. Ini kesempatan bagus untuk mengenal dan dekat dengan mereka."
***
Waktu sarapan bersama dimulai. Bu Merly mendahului Suci untuk memberikan sarapan pada Riki.
"Makan yang banyak, kamu pasti kangen kan sama masakan mama ?!"
"Wahh..aku bisa-bisa kekenyangan nanti. Mulutku tidak mau berhenti saat makan buatan mama." Riki mulai melahap makanannya.
"Papa juga mau diambilkan ma."
"Raisya juga mau ma..."
Hanya Suci yang terdiam, dia mengambil sendiri makanannya.
"Tidak usah. Kita makan berdua saja. Biar ku suapi ya." Riki sudah siap meluncurkan makanan ke mulut Suci.
"Tidak mas. Aku makan sendiri saja." tersenyum sedikit.
"Kalau tidak mau, berarti aku tidak akan melanjutkan makan."
Riki terus memaksa sampai Suci menurutinya. Sebenarnya tidak nyaman, tapi Suci melakukannya demi menyenangkan suaminya.
"Ahhh mulai lagi ! mas sengaja ya selalu pamer kemesraan begitu biar aku ngiler ?!" bibir Raisya sudah agak monyong.
Riki tidak memperdulikan dan hanya fokus makan sambil menyuapi istri tercinta.
Jadi mereka memang selalu mesra seperti ini ya ?!
Bu Merly terus memonitor.
Rasanya baru kemarin putraku ini masih bayi. Sekarang tahu-tahu sudah pintar memanjakan istri. Sepertinya aku akan segera menimang cucu.
Pak Hans lagi-lagi mesem melihat kelakuan anak laki-laki nya.
Selesai sarapan Riki dan ayahnya pergi ke kantor. Pak Hans ingin mengecek hasil kerja putranya. Sementara itu Raisya sengaja tidak ke Butik karena ingin kangen-kangenan dengan Bu Merly.
Raisya mengajak ibu dan iparnya ke ruang keluarga untuk mengobrol.
"Ayo mbak, ini kesempatan yang bagus untuk saling mengenal antar menantu dan mertua." Raisya berbisik di telinga Suci.
Entahlah, akan ku coba. Tapi apa aku bisa dekat dengan ibu mertua ? dia terlihat cuek. Semoga saja dia bisa menerimaku dengan tulus.
__ADS_1