Seperti Sampah

Seperti Sampah
Bab 9.


__ADS_3

Yusuf spontan memeluk tubuh menggigil Andini. Gadis itu terlihat sangat ketakutan. Entah kenapa alasannya ? dia begitu histeris ketika seluruh ruangan menjadi gelap.


"Tenanglah, ada aku di sini ! jangan takut !" membelai lembut rambut panjang gadis itu. Tubuh Andini mendadak diam tak lagi gemetaran saat Yusuf menyentuhnya. Mungkin dia merasa tenang karena ada seseorang yang menemaninya di saat seperti itu.


Ada rasa ingin selalu melindungi si gadis kucel tapi imut. Dadanya terasa sesak jika Dini berada dalam kesedihan. Yusuf belum menyadari perasaan aneh yang baru dia alami sepanjang hidupnya. Yang jelas, dia hanya ingin menjaga gadis itu.


Willy menangkap adegan aneh tuannya bersama si gadis pembantu Pak Daniel, di bawah cahaya senter ponselnya. Dia menganga saat Yusuf mengecup kening Andini. Apa dunia akan segera kiamat ? tuan Yusuf menciumnya ? atau aku yang salah lihat ?


Tak lama kemudian lampu kembali terang. Semua ruangan di rumah ini kembali bercahaya. Namun, Yusuf masih betah memeluk Andini. Dia membiarkan kepala gadis itu bersandar di dadanya. Aneh, ada getaran hebat yang bersarang di hatinya. Aroma khas tubuh Andini terasa menyeruak. Bukan harum parfum, tapi benar-benar wangi dari tubuh si gadis, membuat jantungnya bertalu-talu.


Ternyata sehangat ini saat bersama seorang wanita !


Andini seakan tersadar dari mimpi buruknya. Dia melihat cahaya dimana-mana. Ini bukan di gudang ! tapi kenapa tubuhnya terasa hangat ? harum aroma ini ? Andini pernah mencium wangi memabukkan ini. Dia teringat sosok si pria menyebalkan. Dini perlahan mendongak. Jederrrr ! ternyata benar ! wangi memabukkan itu berasal dari tubuh pria yang belakangan selalu bertemu dengannya.


Mata Andini dan Yusuf beradu. Keduanya merasakan ada yang aneh pada detak jantung mereka. Dan entah kenapa Yusuf merasa haus saat melihat bibir pink alami milik gadis yang ada di pelukannya. Ingin sekali dia ahhh, apa yang dia pikirkan ? kenapa otaknya mendadak kotor ?


Andini melepaskan diri dari si pria menyebalkan. Dia lekas berdiri. "A...apa yang kau lakukan ? kenapa sembarangan menyentuhku ? apa kau ini sebenarnya pria yang penuh modus ?"


Yusuf ikut berdiri dan memasukkan kembali ponselnya setelah senternya di-off. "Kau tadi sangat histeris. Masih ingat jika ruangan ini tadi gelap ? aku hanya ingin membuatmu tenang."


Andini berkacak pinggang, "Ya, aku tahu jika tadi mati lampu. Tapi harusnya kau tidak boleh curi kesempatan. Biarkan saja aku histeris sendiri !"


"Bukan aku yang cari kesempatan, mungkin ini akal-akalanmu saja untuk menggoda pria tampan sepertiku. Buktinya kau tadi sangat menikmati kehangatan yang ku berikan." Yusuf mencoba mengelak. Sebenarnya dia memang yakin jika gadis itu tidak berbohong dan mencari perhatian. Tapi, dia malu karena sudah memeluk dan...semoga saja gadis itu tidak ingat jika Yusuf sempat menempelkan bibirnya di kening Andini.


"Apa kau bilang ? otakku tidak mesum seperti otakmu ! tolong pergi sekarang juga dari rumah ini ! kau ini benar-benar menyebalkan !" dengan beraninya dia melotot sambil mengarahkan tangannya ke pintu utama.


"Sudah saya bilang untuk menjaga sikap anda !" Willy mendekatkan diri kepada gadis itu. Tatapan tajamnya membuat Andini semakin frustasi. Seorang pria asing mesum saja sudah sangat membuatnya pusing. Apalagi jika harus ditambah dengan asisten galak, Andini bisa dibuat tidak waras oleh mereka.


"Kau asisten setia, bawa pergi tuanmu dari sini !" tatapannya tak kalah tajam dari Willy.


Gadis ini pemberani juga !


Sikap Andini mengingatkan Willy pada seseorang yang selama ini dia sukai. Gadis yang sama-sama cuek dan sedikit galak.


"Dengar gadis galak, aku ke sini karena mengkhawatirkan keadaanmu. Kau tidak ada di pesta itu, jadi ku pikir kau pasti ada di rumah ini sendirian. Aku takut terjadi hal yang buruk padamu."


Dasar pria aneh ! tukang ikut campur dan so tahu ! tapi....kenapa dia melakukan ini ? ayahku saja tidak pernah khawatir !


"Tuan Yusuf, tidak perlu repot-repot mencemaskan saya. Saya berada di rumah mewah, bukan di hutan ! saya baik-baik saja. Apa anda paham ?" nada bicaranya masih terdengar kesal meski dikatakan dengan lebih sopan.


"Ya sudah, aku akan pergi tapi sebelum itu, simpan nomorku ! siapa tahu nanti kau butuh bantuan."


"Tidak usah, saya tidak punya handphone."


"Will, tolong belikan satu buah handphone keluaran terbaru dan..."


"Ehhhh tidak usah ! saya sebenarnya punya handphone."

__ADS_1


Apa-apaan dia ? mau pamer kekayaan ya ?!


"Catat nomorku sekarang ! 08..."


"Sebentar !" mengambil ponsel bututnya dari saku celana. Sebuah handphone kecil berwarna hitam dengan banyak tombol, sudah ada di genggamannya.


Yusuf tercengang melihat ponsel jadul itu, dia segera merebutnya dari tangan Andini. "Handphone jaman mana ini ? kau masih memakai yang seperti ini ?"


Menyebalkan ! memangnya penting membahasnya ? yaaaaa ponselku memang butut dan jadul ! dasar pria sombong !


Andini komat-kamit tak jelas sembari menatap sebal pria di depannya. "Berikan padaku ! meskipun jadul tapi masih sangat berguna." Andini mengulurkan tangannya, namun Yusuf tidak mau memberikan.


"Biar aku saja yang mencatat nomorku di sini." Pelan-pelan memencet tombol itu. Bukan karena tidak tahu cara memakainya, tapi Yusuf merasa kaku karena terbiasa menggunakan handphone touchscreen.


Benda itu dikembalikan pada Andini. "Sudah, ingat jangan berani menghapusnya ! jika butuh bantuan, jangan sungkan untuk menghubungi nomor yang ku beri nama Yusuf."


"Yaaa." Andini menjawab malas bahkan tak mau bersitatap.


"Kalau begitu, aku pergi. Jaga dirimu baik-baik. Hati-hati, di depan ada dua orang pria. Jangan sampai mereka berbuat macam-macam padamu !" Yusuf sangat serius mengatakannya. Seperti seorang suami yang akan pergi meninggalkan istrinya sendirian di rumah.


Andini memutar bola matanya, jengah. Ahhh bukankah dua pria berbahaya itu adalah kau dan asistenmu ?


"Jangan terlalu cemas tuan, mereka adalah security penjaga rumah ini." Tapi kenapa tidak becus bekerja ? mereka membiarkan dua pria aneh masuk ke rumah ini.


"Tetap saja kau harus hati-hati !"


"Tolong jaga sikap anda !" Willy mencengkram tangan lancang milik gadis itu.


"Will, jangan bersikap kasar padanya ! dengar Andini, tidak perlu repot-repot membantuku keluar dari rumah ini. Aku bisa melakukannya sendiri."


"Ya sudah !" melepaskan tangannya dari dada bidang si pria menyebalkan.


Yusuf melangkah diikuti Willy. Andini menarik nafas lega karena dua pria aneh itu sudah pergi. Itu berarti dia bisa kembali ke dapur untuk mengambil makanan. Kasihan perutnya ingin segera diisi.


Setelah kenyang, Andini membereskan semua bekas makannya. Dia kembali ke kamar, tidak lupa untuk mengunci pintunya. Pria menyebalkan itu benar, dia harus berhati-hati karena berada sendirian di rumah ini. Siapa yang akan menjamin jika dua security di depan, tidak akan berbuat macam-macam ?


Andini duduk di tepi ranjang. Dia seolah teringat sesuatu tentang kejadian tadi. Saat mati lampu, dia merasa ketakutan. Dia menjerit histeris karena saat itu seakan kembali berada di dalam gudang yang gelap dan menyeramkan. Dia merasa ada di masa lalu.


Flashback on.


Saat berusia delapan tahun, Andini kecil saat itu sedang bermain boneka pemberian mendiang ibunya. Di kamar sempit itu dia hanya sendirian. Yasmin muncul dan ingin ikut bermain. Tentu saja Andini sangat kegirangan. Dia memberikan boneka kesayangannya pada Yasmin.


"Sekarang giliranku. Kamu sudah dari tadi main dengannya." Andini kecil meminta bonekanya kembali.


"Tidak boleh, ini punyaku !" Yasmin bersikukuh tak mau mengembalikan.


Karena merasa itu adalah haknya, Andini berani berusaha mempertahankan. Mereka berebut boneka dan Andini berhasil mengambilnya. Yasmin menangis sangat keras hingga Bu Rahma muncul menghampiri. Wanita itu menatap penuh kebencian pada Andini.

__ADS_1


"Berikan !" Dengan mata melotot, Bu Rahma mengulurkan tangannya.


Andini menggeleng. Boneka itu adalah miliknya. Pemberian dan merupakan kenang-kenangan satu-satunya dari mendiang ibunya. Dia harus mempertahankan benda berharga itu.


Bu Rahma makin murka dengan sikap membangkang Andini, dia menampar gadis kecil itu dan mengambil paksa boneka kesayangannya. Yasmin tersenyum kegirangan setelah mendapat mainan yang dia inginkan. Anak itu pun pergi.


Bu Rahma menyeret paksa tubuh mungil Andini dan membawanya ke sebuah gudang di belakang rumah. Menguncinya di sana selama beberapa hari. Kebencian pada gadis kecil tak berdosa itu, membuatnya gelap hati. Tak peduli jika Andini menangis ketakutan, dan akan tersiksa ataupun kehilangan nyawa karena ulahnya.


Selama tiga hari, Andini kecil terkurung dalam ruangan gelap. Kadang terdengar suara-suara aneh di sana. Suara cekikikan wanita yang sangat menakutkan. Mungkinkah itu suara hantu yang ada di gudang ? begitulah pemikiran anak kecil itu. Tapi sebenarnya suara itu adalah hasil rekaman yang sengaja disetel Bu Rahma untuk menakut-nakuti anak itu.


"Tolong ! tolong !" Andini kecil terus histeris meski tubuhnya lemas karena tidak pernah diberi makan selama ada di gudang. Dia masih beruntung karena tubuhnya terbilang kuat dan tidak jatuh sakit. Namun, kejadian itu membuatnya trauma akan tempat yang gelap. Selalu teringat saat ada di gudang yang menyeramkan.


Bu Rahma hanya tertawa puas mendengar jeritan anak malang itu. Itu adalah hukuman karena Andini sudah berani mengusik putri kesayangannya.


Flashback off.


Jika mengingatnya, Andini selalu menggigil dan sesak. Saat tadi pun dia masih saja histeris ketika mati lampu. Namun, saat ada tangan hangat yang memeluknya, dia merasa terlindungi. Belaian lembut di rambutnya membuatnya merasa damai. Dan kecupan di keningnya membuat hatinya semakin tenang, merasa disayangi.


"Apa ?" Andini berteriak. Dia baru ingat jika laki-laki menyebalkan bernama Yusuf sudah mencium keningnya. Tubuhnya mendadak berkeringat dingin. Baru pertama kali dia diperlakukan seperti itu oleh seorang pria. Perasaannya campur aduk. Andini kesal karena pria menyebalkan itu sudah mencuri kesempatan untuk menyentuhnya. Namun, aneh. Perasaannya yang lain merasa berbunga-bunga. Wajahnya merona mengingat momen mendebarkan itu.


Andini mengusap keningnya sembari tersenyum. Jantungnya kembali ingin mendobrak keluar. Ahh, perasaan apa ini ?


Heyyy, Andini ! sadarlah ! kau jangan ikut-ikutan mesum !


Andini kembali muram. Dia tidak boleh merasa bahagia karena disentuh pria itu.


Heyyy aku bukan gadis yang mesum. Semua kejadian tadi di luar kesadaran ku. Tapi aku bisa mengingatnya ? apa aku memang mesum ? ahhh pria itu membuatku gila !!!


***


Di dalam mobil saat perjalanan pulang. Yusuf lagi-lagi mesem di kursi belakang. Dia sesekali memegangi bibirnya dan dadanya. Sungguh manis kejadian yang dialaminya tadi. Tanpa sadar, dia memeluk dan mengecup kening gadis itu. Dan saat kepala Andini bersandar di dadanya, jantungnya meletup-letup.


Semakin aneh yang dia rasakan saat tangan Andini menyentuh dadanya. Sikap kasar gadis itu yang ingin mengusirnya malah terkesan menggemaskan. Ya, mungkin Yusuf benar-benar sudah gila ! dia sangat menikmati perasaannya itu.


Andini, kau sudah membuatku menjadi pria mesum yang konyol ! kau harus bertanggung jawab !


Senyum tak henti merekah dari bibirnya. Sejurus kemudian dia teringat dengan sikap histeris gadis itu. Sikapnya sangat berlebihan. Apa ada sesuatu yang buruk yang pernah menimpa Dini ?


"Will, aku merasa ada yang aneh dari sikap Andini tadi. Dia begitu histeris saat mati lampu. Seperti sedang ketakutan. Pasti ada sesuatu yang menyebabkan dia seperti itu."


Willy masih terdiam. Dia juga berpikiran sama. Namun yang lebih dia pikirkan adalah sikap tuannya. Dia yakin jika Yusuf sudah benar-benar menyukai gadis itu.


"Will, bisakah kau mencari tahu mengenai semua hal tentang Andini ? asal-usul keluarganya dan masa lalunya. Kenapa dia bisa menjadi pembantu di rumah si Daniel yang kurang ajar itu ?"


"Baik tuan, saya akan segera melaksanakannya."


Semua ini demi anda tuan. Saya hanya ingin melihat anda bahagia. Dan sepertinya gadis bernama Andini adalah salah satu alasan anda tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2