Seperti Sampah

Seperti Sampah
Ulah pengantin baru.


__ADS_3

Suci sudah menunggu Riki di parkiran kantor. Selang beberapa menit yang ditunggu muncul juga. Setelah memastikan keadaan aman dan tak ada yang melihat kebersamaan mereka, Suci menyusul masuk ke mobil. Kendaraan roda empat itu pun melaju dengan kecepatan sedang.


Jika ku tanyakan tentang mas Nizar, dia marah tidak ya ?


Suci beberapa kali melirik ke arah Riki. Meski awalnya ragu namun akhirnya dia bertanya juga.


"Apa yang mas bicarakan dengan mas Nizar tadi siang ?" memberanikan diri meski masih was-was.


"Kenapa membahas tentang pria itu ?" nada bicaranya sudah ketus.


"Aku hanya takut mas berbuat sesuatu padanya." Sangat hati-hati mengeluarkan kata-kata itu.


"Kamu mencemaskan dia ?" semakin kesal.


Tuh kan...harusnya aku diam saja tadi. Lagipula mas Riki tidak mungkin berbuat kasar padanya.


"Bukan dia yang aku khawatirkan, tapi mas. Aku hanya takut mas melakukan hal yang tidak seharusnya diperbuat."


"Kamu pikir aku sudah melakukan apa memangnya ?"


"Tidak sih mas. Aku percaya kamu tidak akan berbuat kasar. Tapi tetap saja aku takut."


"Tenang.....aku hanya menggertak nya saja agar dia tidak lagi mendekatimu. Aku tidak suka jika ada pria lain yang akrab denganmu."


"Mas cemburu ?"


"Tidak perlu ku jawab kamu pasti juga tahu." Masih fokus menatap ke depan.


"Maaf mas. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk dekat dengan pria manapun."


Mas Riki benar-benar marah ya, sampai dia tidak merespon begitu.


Suci akhirnya mencuri-curi kecupan di pipi kiri suaminya. Membuat Riki mengerem mobilnya mendadak. Hening sesaat, Riki hanya terdiam tanpa kata. Mukanya masih jutek.


Dia tidak merespon, apa semarah itu ya ?


"Mas..." Suci memegang tangan Riki dan menatapnya lembut.


Riki masih diam dan belum membalas pandangan.


Mas Riki benar-benar marah.


Suci memegang wajah Riki dan membuat mereka bersitatap.


"Maaf mas, jangan marah ya."


Riki masih saja tak merespon. Cup ! kecupan lagi di kedua pipi, kening dan berpindah ke bibir Riki. Demi mengembalikan mood suaminya maka Suci mengesampingkan rasa malunya.


"Hahaha kena juga kamu !" Riki tiba-tiba memeluk erat tubuh Suci.


"Mas, kamu cuma pura-pura marah barusan ?"


"Kalau begini kan aku bisa dapat ciuman darimu. Aku akan sering ngambek ahhhh biar kamu nyosor seperti tadi." Masih tertawa.


"Mas, tapi aku beneran takut kamu marah." Memukul pelan dada suaminya.


"Maaf...."


Keduanya kembali bertatapan. Riki mendaratkan bibirnya di seluruh bagian wajah Suci tanpa ada yang terlewat. Dan berakhir dengan sentuhan lembut yang lama di daerah bawah hidung.


Tit Tit Tit !!!! suara klakson mobil di belakang mobil Riki, yang sudah tidak sabar ingin segera bergerak maju. Gara-gara kemesraan yang tak kenal tempat itu maka tercipta kemacetan di sana.


"Astaghfirullah mas, ayo cepat jalan." Suci menormalkan duduknya.


"Kamu sihhh yang berani menggodaku tadi." Riki menjalankan lagi mobilnya.


"Aku bukan menggoda, aku hanya ingin meredakan amarah mas. Tahunya cuma pura-pura." Bibir Suci agak mengerucut.


"Tapi kamu suka kan ?! bermesraan seperti itu denganku." Riki tersenyum nakal, sudut matanya menoleh pada wanita yang kini wajahnya sudah seperti kepiting rebus.


***


Malam hari Riki tengah berada di ruang kerjanya. Sementara itu Suci sedang berbincang bersama Raisya di kamar Suci. Mereka duduk bersebelahan di sofa.

__ADS_1


"Mbak, Syarif sudah punya pacar belum ?" agak malu juga Raisya bertanya.


"Setahu mbak Syarif itu bukan tipe pria yang suka pacaran. Jika menyukai perempuan maka dia hanya akan memendamnya dalam hati. Nanti setelah benar-benar yakin dengan pilihannya, maka Syarif akan memintanya langsung pada kedua orangtua perempuan itu."


Ahhh manis sekali Syarif !!!


"Tapi mungkin saat ini Syarif belum mau membuka hatinya karena masih teringat dengan mendiang istrinya." Suci menjelaskan dengan air muka agak muram.


"Apa ? Syarif pernah menikah ? aku baru tahu."


"Rani, istrinya Syarif meninggal saat sesudah melahirkan dan anaknya pun ikut meninggal juga."


Kasihan sekali Syarif. Masih semuda itu tapi sudah menjadi duda. Ujian hidupnya juga tidak mudah. Tidak heran jika sekarang dia lebih dewasa dari umurnya. Itulah salah satu hal yang aku suka darinya.


"Syarif pasti sangat mencintai mendiang istrinya. Memang Rani itu seperti apa sih karakternya ?"


"Rani itu sangat baik pada Syarif dan keluarga kami. Ramah, suka membantu dan ceria." Suci tersenyum membayangkan sosok almarhumah.


"Penampilannya bagaimana ?" semakin penasaran.


"Tertutup dan sederhana. Rapi dan enak dipandang mata."


"Seperti mbak Suci ya ?"


"Jangan membandingkan mbak dengannya. Mbak ini tidak sebaik dia. Rani itu sewaktu masih hidup adalah guru ngaji di kampung kami. Dia adalah lulusan pesantren."


Berarti Rani itu memang sangat spesial. Jauh berbeda denganku yang minim pengetahuan agama. Mana bisa aku menyamainya.


Semangat Raisya untuk memburu cinta Syarif kini mulai pudar. Tidak mungkin rasanya untuk menjadi seperti Rani.


"Sedang apa kamu di sini ?" Riki datang dan duduk di samping Suci.


"Cuma ngobrol sama mbak Suci. Ketus amat." Mood nya semakin rusak.


"Sudah sana, pergi ke kamarmu ! jangan mengganggu kami !" Riki memeluk Suci. Yang dipeluk malah ingin melepaskan diri karena malu dan tak enak hati pada adik ipar.


"Mas ini menyebalkan sekali. Ya sudah, aku juga tidak mau ngiler gara-gara melihat pengantin baru bermesraan. Mbak, aku pergi ya." Raisya berlalu.


"Kenapa sikap mas begitu pada Raisya ? dia masih ingin ngobrol denganku."


"Tidak usah pikirkan Raisya. Dia sudah dewasa. Umurnya bahkan lebih tua darimu." Riki membuka penutup kepala yang Suci pakai, menyimpannya di sandaran kursi.


"Mas mau apa ?" agak gemetaran tubuh Suci diperlakukan begitu.


Riki menjawab tidak dengan kata-kata namun langsung dengan perbuatan. Diserbu lagi bibir manis milik Suci hingga sekian lamanya.


"Masih belum bisa ya ? kita melakukan itu." Mereka sudah pindah ke tempat tidur.


"Sabar ya mas." Nyengir.


Dia harus memastikan dulu bahwa tamu bulanannya benar-benar sudah hilang.


Sudah berapa hari aku puasa ? rasanya seperti sudah setahun saja.


Riki mengeluh dalam hati.


Akhirnya malam itu pun masih zonk untuk Riki. Hanya sebatas peluk cium dan kini keduanya sudah tertidur.


Jam 5 pagi.


Suci sudah beres mandi besar. Dia kembali melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.


Riki terbangun. Dia pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badan. Setelah selesai mandi dan berpakaian, dia masuk ke musholla kecil yang ada di kamarnya. Tempat itu jarang diinjak pemiliknya. Namun semenjak dekat dengan Suci, Riki mulai sering mampir.


Saat itu Riki melihat Suci tengah menutup Al-Qur'an, baru selesai mengaji.


"Aku kira kamu sedang ada di bawah. Ternyata ada di sini. Kenapa tidak membangunkan ku sekalian ?"


"Tadinya mau sekarang, tapi mas sudah keburu bangun." Suci melipat dan merapikan peralatan shalat.


Suci berlalu meninggalkan Riki yang juga akan menunaikan kewajiban.


***

__ADS_1


Suci merapikan tempat tidur lalu mematut diri di cermin. Mengeringkan rambut yang masih sedikit bercucuran.


"Stop !" Riki menghampiri.


"Kenapa mas ?" hair dryer sudah dimatikan.


"Biarkan saja basah begitu. Aku suka. Kamu jadi terlihat lebih menggoda." Riki memeluk dari belakang.


Apa sih pagi-pagi begini sudah membuatku malu.


Wajah Suci memerah. Riki mengambil alih pengering rambut dan menyimpannya di atas meja rias.


Pipi kanan Suci sudah disentuh bibir Riki. Jantungnya berdebaran tak karuan.


Ahhh ini pasti kode !


Suci sudah tahu maksud suaminya. Dia pasrah saja karena memang sudah kewajibannya sebagai istri melayani kebutuhan biologis suaminya.


Tak ada yang berbicara hingga tarikan nafas mereka dapat terdengar jelas. Debaran jantung mereka menjadi saksi penyatuan jiwa raga keduanya.


Sudah jam 6 pagi.


Belum ada yang keluar kamar. Mereka masih berpelukan di atas tempat tidur.


"Mas bangun. Kita harus ke kantor kan ?!" mengguncang tubuh polos Riki.


"Hari ini kita libur saja. Aku malas, cape juga." Bicara dengan mata tertutup.


"Aku mau mandi dan berangkat kerja. Mas tidur lagi saja ya." Bersiap turun dari ranjang.


"Eitsss tidak boleh !" semakin mengeratkan pelukannya.


"Mas enak bisa libur semaunya, mas kan bos. Tapi aku kan hanya seorang OB yang tidak boleh main libur saja sesuka hati."


"Justru karena aku bosnya maka aku menyuruhmu untuk tidak masuk kerja hari ini."


"Tapi mas nan.." Riki sudah memblokir bibir yang masih ingin nyerocos itu.


Kode lagi ini ! perasaan tadi dia bilang cape, tapi untuk urusan begini sepertinya kata cape tidak berlaku.


Jam 8 pagi.


Mumpung dia masih tidur, aku mau ke kamar mandi sekarang.


"Eitsss jangan kemana-mana. Kamu pikir aku tidak tahu ya kalau kamu mau kabur ?!" Riki memegang kuat tangan Suci.


"Bukan mau kabur, aku mau ke kamar mandi sebentar."


"Ya sudah ayoo !" Riki sudah duduk.


Jangan bilang kamu mau ikut juga !


"Aku bisa sendiri mas." Terpaksa nyengir.


Riki turun dari tempat tidur dan segera mengangkat tubuh Suci ke kamar mandi. Dia pun ikut ke dalam. Selain membersihkan badan bersama, Riki juga dengan nakalnya mengecup bagian leher dan wajah Suci.


Apa kamu sama sekali tidak malu mas ?


Tidak berakhir di situ saja. Selesai duet mandi, Riki kembali mengangkat tubuh Suci dan merebahkannya di atas sofa. Menggerayangi kembali semua lekuk tubuhnya.


Kalau begini terus tidak akan pernah selesai, sampai kapan aku harus terkurung di kamar ini ? ahhhh kenapa tamu bulanan ku keburu pergi sihh !!!


Pusing juga Suci jika berlebihan seperti itu.


Sementara Raisya yang sudah ada di Butiknya, sibuk menghubungi kakaknya lewat panggilan telpon. Sama sekali tak ada jawaban. Mencoba menghubungi nomer Suci pun sama.


"Kenapa tidak ada yang menjawab sih ? padahal nomer mereka aktif."


Mencoba lagi menelpon namun gagal.


"Malah dua-duanya dinonaktifkan, tidak bisa dihubungi. Memang mereka sedang apa sih ? tadi pagi juga tidak keluar kamar. Apa sudah ada di kantor ya ? tapi biasanya selalu aktif meski sedang bekerja. Anehh padahal aku ingin membicarakan sesuatu." Kesal juga Raisya.


Seandainya dia tahu bahwa saat ini Riki sedang mengurung dan menyiksa kakak iparnya di dalam kamar.

__ADS_1


__ADS_2