
Masih di kejadian beberapa tahun lalu.
Riki tadinya ingin mengantar Enci pulang, namun karena gadis itu tak kunjung sadar juga akhirnya Riki membawanya ke hotel tempatnya menginap.
Tubuhnya kecil tapi berat juga.
Riki sampai ngos-ngosan membawa Enci ke kamarnya. Dia menidurkan gadis itu di kasur dan menyelimutinya. Menutup sampai ke lehernya agar area terbuka penuh pikat itu tak dapat terlihat oleh Riki. Bagaimanapun juga dia adalah laki-laki normal yang bisa saja tergoda jika melihat gadis cantik dengan pakaian serba pendek.
Ada apa dengan gadis ini sebenarnya ? kenapa dia sampai pingsan begini ? atau jangan-jangan dia sudah diberi obat tidur atau sesuatu ?
Riki menatap tubuh Enci yang mungil.
Dia memang gadis yang cantik dan menarik. Bibir keriting mungilnya itu sangat menggoda. Ahh apa yang kupikirkan ?
Riki segera mengambil air putih dan meminumnya berharap otaknya bisa bersih dari pikiran ngeres. Namun matanya kembali menelisik gadis yang terbaring di tempat tidur.
Hawanya semakin panas di sana. Riki masuk kamar mandi sebentar dan kembali saat sudah mulai tenang.
Astaga !
Tanpa sengaja Riki melihat bagian paha mulus gadis itu terbuka. Selimutnya sudah melorot bertumpuk pada kakinya.
Riki menghampirinya. Menyelimuti kembali tubuhnya dan menepuk pelan pipi merah mudanya, memastikan bahwa gadis itu memang masih terlelap.
Apa dia sengaja menggodaku ? tapi dia tak bereaksi, masih tenang dalam mimpinya.
Dia benar-benar manis.
Tanpa sadar tangan Riki membelai wajah dan rambut Enci. Debaran jantungnya sangat kacau. Matanya seolah terhipnotis oleh pesona gadis yang baru ditemuinya itu.
Riki mendekatkan wajahnya dan segera menyentuh bibir Enci dengan bibirnya. Dia sudah benar-benar terhanyut dan tak dapat menolak daya tarik gadis itu. Ini kali pertamanya dia menyentuh seorang gadis.
Dia dengan leluasa menggerayangi nakal seluruh area berbahaya itu meski si gadis sesekali melakukan perlawanan.
__ADS_1
"Jangan..." Enci mencoba menghentikan aksi pria itu meski dengan nada lemah.
Namun Riki tak memperdulikannya. Dia menuntaskan hasratnya hingga gadis itu sudah tak mampu lagi berontak. Tubuhnya terlalu lemah.
Paginya Riki mendengar suara tangisan gadis disampingnya.
"Maaf. Aku tidak bermaksud...aku tidak sengaja melakukannya.vMaaf." Riki menyentuh bahu Enci.
"Jangan sentuh lagi ! aku membencimu ! kau telah merenggut sesuatu yang paling berharga dariku. Kau sama saja dengan laki-laki itu." Membelakangi Riki.
Riki terdiam.
"Kenapa kau tidak membiarkanku dengan pria itu saja ? kau malah semakin membuatku hina." Masih belum mau menampakkan wajah.
"Maaf ! aku benar-benar tidak bermaksud seperti itu. Aku khilaf."
Enci tak bersuara lagi. Hanya isak tangisnya yang semakin pecah. Riki semakin merasa bersalah, akhirnya dia masuk kamar mandi. Membiarkan gadis itu agar lebih tenang.
Riki mengguyur seluruh tubuhnya. Mengusir penat dan peluh serta kotoran dari sana.
Saat Riki keluar kamar mandi, Enci sudah tak terlihat lagi di kamarnya. Dipindai ke segala penjuru kamar pun namun hasilnya nihil.
Kemana dia ? pasti dia sangat marah padaku. Aku harus menemuinya lagi nanti. Aku harus bicara dengannya.
****
Saat malam tiba setelah beres dengan urusan bisnisnya, Riki kembali pergi ke tempat karoke kemarin. Namun gadis yang dicarinya tak ada di sana. Tak ada yang tahu dimana keberadaannya. Tak ada juga yang memberinya informasi tempat tinggal Enci.
Aku harus mencarinya kemana lagi ? padahal aku mau bertanggung jawab padanya.
Itulah pertemuan singkat mereka. Namun peristiwa itu tak akan bisa dilupakan oleh Riki.
Flashback off.
__ADS_1
Sejak saat itu secara tidak sadar Suci sudah masuk dalam hatiku. Aku tak pernah menyangka akan bertemu dengannya lagi. Andai kamu belum menikah dengan Doni aku pasti sekarang sudah melamarmu.
***
Seperti malam lainnya sepasang pengantin baru ini melewatkannya dengan saling memberi cinta melalui sentuhan. Doni langsung tertidur setelah rutinitas mereka usai. Sementara itu Suci masuk kamar mandi sebentar lalu duduk di sofa membaca sebuah buku.
Ponselnya bergetar karena ada sebuah panggilan masuk. Suci mengambilnya dan mengecek.
"Raisya ?"
(Assalamualaikum) panggilan sudah terhubung.
(Waalaikumussalam) suara laki-laki yang terdengar.
(Tunggu Suci jangan tutup telponnya. Please)
Suci belum bersuara lagi. Dia mencoba mendengarkan.
(Maaf tadi siang aku sudah kurang ajar. Maaf juga untuk kekurang ajaranku waktu dulu. Aku tidak berniat menyakitimu. Aku sudah berusaha mencarimu Enci...)
Enci...nama itu. Kenapa dia memanggilku dengan nama yang ku benci itu ? darimana dia tahu ?
(Andai waktu itu kita bertemu lagi, aku pasti sudah bertanggung jawab menikahimu. Aku sungguh menyesal karena telah merenggut hal paling berharga darimu)
Telepon sengaja diakhiri Suci. Tubuhnya lemas mendengar perkataan Riki. Tak dapat berkata-kata. Hanya pikirannya saja yang berhamburan.
Apalagi ini ? apa yang dia katakan tadi ? apa maksudnya ? apa dia memang benar pria itu ? kenapa kami harus bertemu kembali ?
Berbagai hal bermunculan dalam pikiran Suci.Tak pernah menduga akan seperti ini. Entah apalagi yang akan terjadi setelahnya.
Terima kasih banyak sudah mampir.Jangan lupa kasih jejak, silahkan juga untuk yang mau berkomentar 🤗
Tunggu lanjutannya ya !!!
__ADS_1