
(Mas gimana sih ? kenapa pake hp ku buat hubungi mbak Suci ? nomerku jadi diblokir tahu)
Raisya mengeluarkan protes pada kakaknya lewat telpon.
Belum ada jawaban.
(Mas kenapa malah diem ? gara-gara mas aku jadi gak bisa hubungi mbak Suci. Lagian kenapa juga sih mas nelpon mbak Suci malem-malem ? gimana kalo dia pikir aku juga terlibat ? jangan-jangan mas tertarik sama mbak Suci)
(Mas memang suka padanya)
Riki menjawab tanpa ragu.
(What ? dia kan istri mas Doni. Lupa ya..)
(Mas gak akan ganggu hubungan mereka)
Aku akan berusaha menjauh meski perasaanku padanya tak akan berubah. Sebisa mungkin bersikap seolah kami tidak pernah bertemu di masa lalu.
(Sukurlahhh aku gak mau mas jadi pebinor perebut bini orang. Seandainya mbak Suci belum menikah, aku pasti akan bantu mas)
Sementara itu di tempat lain.
Pikiran Doni sudah mulai termakan hasutan Toso. Meski hatinya tak ingin percaya namun entah kenapa dia selalu gusar. Doni memang tahu bahwa Suci sudah bukan perawan lagi saat menikah dengannya. Suci pun mengakuinya. Karenanya Doni menerima itu dengan lapang dada. Namun dia tak pernah menyangka bahwa alasan Suci kehilangan kehormatannya adalah karena menjadi seorang wanita penghibur. Tadinya dia pikir Suci itu dulunya pernah berhubungan badan hanya karena cinta atau suka bukan karena uang. Bagi Doni keduanya sangat berbeda. Menurutnya wanita yang menyerahkan kehormatannya pada pria yang dicintainya itu lebih terhormat daripada menjajakan cinta semalam pada pria hidung belang meski semahal apapun bayarannya.
Padahal menurut aturan agama, itu semua adalah Zinah dan sama-sama dilarang. Tetap saja pandangan Doni selama ini memang begitu.
"Sehabis pulang dari rumah mertua Syarif mas terlihat murung. Apa mas gak enak badan ?"
Masih belum menjawab pertanyaan Suci.
"Apa mas gak suka kita nginep di rumah Indah ?"
"Apa kamu senang bisa ada di rumah adikmu sekarang ?" balik bertanya.
"Maksud mas ? aku tentu saja senang karena setelah lama akhirnya aku bisa sedekat ini dengan Indah."
Kau senang bisa dekat dengan Indah atau dengan suaminya ?
Prasangka Doni semakin menjurus pada ketidakyakinannya akan Suci.
__ADS_1
"Mbak bisa kita bicara sebentar ?" Indah berdiri di depan pintu kamar yang ditempati kakaknya.
"Mas...aku"
"Pergi saja mungkin ada yang penting." Doni bicara tanpa bersitatap dengan Suci.
Suci mengekor adiknya menuju kamar Indah yang letaknya berdekatan dengan kamar yang ia tempati malam ini.
"Mbak sebenarnya aku mau membahas tentang Syarif. Bagaimana jika mbak bawa Syarif ke Bandung agar dia bisa memulai kehidupan yang baru. Kalau di sini terus kasihan...Syarif pasti akan terus teringat mendiang istri dan anaknya."
"Mbak juga sempat berpikir begitu. Tapi mbak belum minta persetujuan mas Doni. Nanti kalau waktunya tepat mbak akan coba bicara padanya. Untuk sementara mbak minta bantuanmu untuk ikut memperhatikan Syarif."
"Pasti akan ku lakukan mbak gak usah khawatir. Sepertinya anakku nangis. Aku lihat dulu ya mbak tunggu dulu di sini. Aku masih perlu bicara lagi sama mbak."
Suci mengangguk saja.
Tapi mending aku balik lagi ke kamar. Aku takut nanti Toso tiba-tiba pulang dan melihatku ada di kamarnya. Nanti dia akan berpikir macam-macam. Meski dia sudah minta maaf tapi aku merasa harus tetap menjaga jarak untuk menghindari fitnah. Dan entah kenapa aku meragukan Toso.
Baru sampai pintu ternyata Toso sudah ada dihadapannya. Menghalangi Suci untuk keluar dari sana.
"Mbak mau kemana ?"
"Mbak mau ambil minum buat mas Doni." Agak gelagapan menjawab karena melihat pandangan mata adik iparnya yang liar.
"Bukan seperti itu. Mbak takut ada yang salah paham melihat kita." Menjawab dengan menunduk.
"Memang kita kenapa ? aku gak meluk mbak seperti ini kan ?!" benar-benar mempraktekan apa yang dia katakan.
"Astaghfirullah Toso lepasin mbak. Kamu jangan macam-macam. Indah nanti akan terluka melihat kita." Panik dan berusaha melepaskan diri.
"Tidak akan...mbak gak usah takut." Senyum menyeringai.
Indah sudah ku suruh ke dapur membuatkan minuman dan camilan untuk Doni. Jadi tenang saja...kalaupun dia keburu ke kamar ini maka aku akan pastikan bahwa dia tidak akan menyalahkan suaminya yang sangat dia sayangi.Mungkin ini saatnya menjalankan rencana selanjutnya.
Toso menutup pintu dengan kakinya. Mengangkat tubuh Suci ke atas tempat tidur dan mengukungnya.
"Istighfar Toso ! apa yang akan kamu lakukan ?" Suci semakin panik. Dia sekuat tenaga berusaha melepaskan diri namun cengkraman Toso jauh lebih kuat.
"Mendapatkan apa yang aku inginkan sejak lama."
__ADS_1
"Jangan lakukan itu Toso !" Suci sudah setengah teriak. Dia masih berusaha untuk melepaskan diri.
Tapi Toso tiba-tiba mengganti posisi tubuhnya jadi terbaring dan menarik Suci agar berada di atasnya.
"Apa yang mbak lakukan ? aku ini suami adikmu Indah. Aku tidak mau mengkhianatinya meskipun mbak berusaha menggodaku terus."
Suci semakin bingung.
"Mbak ! apa yang mbak lakukan pada suamiku ?" Indah berdiri di depan pintu dan di sebelahnya pun ada Doni.
Pandangan mematikan ditujukan pada Suci. Keadaan malah berbalik memojokkannya. Rupanya Toso sudah memasang telinga baik-baik dan menyadari kedatangan mereka. Dia berhasil memanipulasi keadaan. Memutar balikkan fakta. Sesuai rencana yang sudah dia susun serapi mungkin.
Suci segera turun dari ranjang dan menghampiri kedua orang yang tengah geram padanya.
"Ini tidak seperti yang kalian lihat."
Baik Doni ataupun Indah belum ada yang merespon.
"Indah mbak gak mungkin menggoda Toso." Memegang tangan Indah namun segera ditepis.
"Mas...aku tidak seperti apa yang dibilang Toso. Aku sama sekali tidak melakukannya." Memegang tangan Doni namun mendapat penolakan yang sama dari suaminya.
"Mbak gak usah pura-pura dari dulu mbak memang mencoba untuk selalu menggodaku. Meski aku selalu menolak tapi mbak masih saja tidak mau menyerah." Toso menghampiri mereka.
"Apa yang kau katakan ? bukankah kau sendiri yang mengganggu ku ?" mencoba mengatakan yang sebenarnya.
"Mbak jangan memutarbalikkan fakta. Indah sayang...inilah alasannya kenapa aku membenci mbak Suci. Selain karena dia pernah menjadi wanita murahan dia juga sudah mencoba menghancurkan kebahagian kita." Toso semakin mengompori.
"Aku kira mbak sudah benar-benar berubah tapi ternyata aku salah."
"Kalian sudah salah paham. Ini tidak seperti yang kalian lihat. Aku berani bersumpah demi..."
"Aku gak mau dengar mbak membela diri lagi." Memotong perkataan Suci.
Doni hanya diam namun jelas raut wajahnya menunjukkan kekecewaan dan amarah yang menggebu. Tangannya dari tadi terkepal keras menahan perasaannya.
"Lebih baik mbak pergi sekarang. Aku gak mau mbak menggangu rumah tangga ku lagi. Mas Doni sekarang sudah tahu kan sifat asli istri mas. Bawa mbak Suci keluar dari rumah kami !" Ucap Toso.
"Pulang sekarang !" Doni berbicara pelan namun penuh penekanan dan bara amarah.
__ADS_1
Sepertinya rencanaku berhasil. Bukan hanya suamimu tapi juga adik yang sangat kau sayangi ini sekarang pun ikut membencimu Suci. Hahaha !!!
Senyum menyeringai penuh kemenangan muncul dari sudut bibir milik adik ipar Suci yang licik. Awal dari rencana busuknya berhasil.