
Esok harinya.
Tiba di kantor Riki sudah mendapati Barbi tengah membersihkan ruang kerjanya. Dia memang sudah memberi tahu Pak Juned bahwa Suci diberikan libur selama tiga hari kerja.
"Siti apa yang kamu lakukan ?"
"Saya kan yang menggantikan tugas mbak Suci selama dia belum masuk kerja."
"Saya tahu tapi bukan itu maksud saya. Mau kamu apakan bunga itu ?"
"Mau menggantinya karena sudah mulai layu."
"Biarkan saja seperti itu."
Itu kan bunga yang Suci beri untukku. Bukan memberi sih tapi aku merasa seperti itu.
"Tapi pak..."
"Kamu keluar saja sekarang !"
"Baik ! mau saya ambilkan kopi ?"
"Tidak !"
"Saya permisi."
Masih pagi begini tapi moodnya sudah kacau. Apa karena tidak ada mbak Suci makanya Bos seperti itu ?
Saat belum melihat wajah Suci hanya kegusaran yang muncul di hati Riki.
Apa aku ke rumahnya sekarang ? ahh tidak ! masih pagi aku takut menganggu. Nanti saja pulangnya aku ke sana.
Riki turun ke lantai bawah menuju ruang OB untuk mencoba membuat kopi susu untuknya sendiri.
Wajah-wajah tercengang kembali nampak dari semua karyawan yang ada di sana. Ingin bertanya tapi tentu saja tidak berani. Hanya bisa memendam semua tanya yang berseliweran di kepala mereka.
Kali ini bahkan Pak Riki menyeduh kopinya sendiri. Keberadaan mbak Suci di tempat ini membawa perubahan padanya.
Kira-kira seperti itulah yang mereka simpulkan dari kejadian pagi ini.
Setelah kembali ke lantai atas.
"Mas darimana ?" Raisya berdiri dari duduknya saat kakaknya datang.
"Bikin kopi." Riki duduk di kursinya dan menyesap sedikit minuman itu.
"Kenapa tidak suruh OB saja ?" kembali duduk di sofa.
"Tidak mau. Biasanya Suci yang membuatkan untuk mas tapi hari ini dia ku suruh istirahat di rumah."
Rasanya berbeda dari yang Suci buat. Tapi lumayan juga...
"Mbak Suci kita maksudnya ? dia kerja di sini ? sejak kapan ? kenapa mas gak pernah cerita ? tahu gitu aku kemarin-kemarin dateng ke sini untuk menemuinya." Raisya menghampiri Riki dan menyerangnya dengan berbagai pertanyaan.
"Awalnya mas juga tidak tahu dan tidak menyangka bahwa akan dipertemukan dengannya di tempat ini." Kembali menyeruput kopi.
"Pantesan sekarang mas suka senyum-senyum sendiri di rumah. Ternyata ini alasannya."
__ADS_1
"Bagaimana bisnismu ?"
"Bisnis butikku lumayanlah untuk ukuran pemula." Raisya kembali duduk.
"Baguslah ! tidak sia-sia kamu keluar dari pekerjaanmu yang dulu." Membuka laptop.
"Mas tahu sendiri kan aku tidak suka bekerja di tempat itu karena Bosku genit. Makanya aku mau membuka usaha sendiri saja."
"Mas kan pernah nawarin kamu untuk bekerja di sini saja tapi kamu tidak mau." Mengetik sesuatu pada laptopnya.
"Aku tadinya mau cari pengalaman dan belajar dari bawah dengan usahaku sendiri. Tapi karena alasan tadi aku berhenti. Dan setelah dijalani aku merasa bahwa aku lebih nyaman dengan pekerjaanku yang sekarang."
***
Saat jam makan siang.
Kenapa waktu sangat lambat hari ini ? aku ingin segera menemui Suci.
"Bapak mau makan siang disini atau di luar ? mau saya bawakan sesuatu ?" Barbi sudah menghadap atasannya.
"Tidak usah ! saya akan ke kantin saja."
"Baik pak. Permisi." Barbi melangkahkan kakinya.
Apa tidak salah dengar ? biasanya Bos tidak pernah sekalipun makan di kantin ini.
Saat di Kantin.
Semua karyawan mengangguk hormat saat melihat CEO mereka menyapu seluruh ruangan dengan pesonanya.
Aaaa dia keren sekali ! aku beruntung bisa menatapnya sejelas ini. Salah satu karyawan wanita menjerit dalam hatinya saat Riki berjalan melewatinya.
"Sepertinya bapak kebingungan. Ada yang bisa saya bantu ?" Barbi menghampiri Riki.
"Siti apa kamu tahu dimana biasanya Suci memesan makanan ? dan dimana tempat duduknya ?" Riki mengedarkan pandangannya ke segala arah.
Apa ? aneh sekali....ini sudah pasti indikasi ke arah Naksir atau bahkan jatuh cinta kepada mbak Suci. Aku yakin !!!
Barbi membawa Riki ke tempat duduk paling pojok yang biasa dipakainya dan Suci juga rekannya yang lain saat makan.
"Silahkan bapak tunggu di sini biar saya yang bawakan makanannya." Mempersilahkan duduk setelah memastikan kebersihan tempat itu.
"Siti, saya mau makan mie ayam tanpa pedas dan es teh manis."
"Siap Bos ehh Pak ! maaf !" Barbi segera pergi menjalankan perintah.
Setelah beberapa menit Barbi kembali dengan membawa semua pesanan Riki dan meletakkannya di atas meja.
"Silahkan pak." Barbi pergi setelah melihat anggukan Riki.
Baunya harum semoga rasanya juga enak.
Riki menyantap makanan itu perlahan.
Ternyata rasanya sangat enak. Kemana saja aku selama ini ? bertahun-tahun ada di gedung ini tapi tidak pernah tahu bahwa ada mie ayam selezat ini.
Riki kali ini menyantapnya dengan lahap hingga tak bersisa.
__ADS_1
Banyak pasang mata yang dari tadi memonitor pergerakan Riki.
Dia memang keren !
Beberapa wanita yang duduk tidak jauh dari Riki bahkan tidak menyentuh makanannya sama sekali. Mereka hanya fokus menikmati ketampanan pria yang sangat jarang bisa mereka lihat sejelas ini.
***
Di perjalanan menuju rumah Suci.
"Kenapa harus macet sih ?"
"Ayo jalannnnn"
"Menyebalkan !"
Setelah setengah jam barulah dia bisa keluar dari kemacetan. Mobil pun melaju dengan kencang. Dia berhenti dulu di super market untuk membeli buah dan makanan sebagai buah tangan.
"Akhirnya sampai juga !" Riki segera turun dari mobilnya.
Dia melihat seorang pria berhelm masuk ke rumah Suci.
Apa pria itu yang mengantar Suci saat ke kantor waktu itu ? siapa dia ?
"Aku tidak peduli pria itu siapa. Aku tidak akan pernah mundur !"
Riki memantapkan langkahnya. Dia mengetuk pintu dan mengucap salam.
Riki disambut oleh Bu Ayu. Dia pun masuk.
Suci terlihat akrab dengan pria itu.
Riki terusik melihat Suci berbicara dengan pria yang duduk membelakanginya.
"Kamu sudah sehat Suci ?" suara Riki melerai percakapan Suci dengan pria tadi.
"Bapak ada di sini ? silahkan duduk pak !"
Kenapa dia kemari ? Suci.
Dia sampai tidak menyadari kedatanganku gara-gara asik mengobrol dengan pria ini. Riki.
Si pria itu berbalik dan tersenyum pada Riki.
Dia hanya bocah rupanya.
"Ini Syarif adik saya pak."
"Ohhh adikmu ya. Saya Riki." Menjabat tangan Syarif dan tersenyum.
Kenapa dengannya ? tadi mukanya judes tapi pas mbak Suci bilang aku adiknya ekspresinya berubah jadi ramah. Apa Pak Riki menyukai kakakku ?
Riki duduk di sebelah Syarif. Suci pergi ke dapur membuatkan minum dan kembali lagi ke sana. Dia duduk di samping Bu Ayu.
"Saya khawatir dengan keadaan Suci jadi saya datang ke sini. Boleh kan Bu ?"
"Silahkan pak masa saya melarang ? terima kasih juga sudah membawa banyak makanan untuk kami. Padahal bapak tidak usah repot begini." Bu Ayu tersenyum sungkan.
__ADS_1
"Saya malah sangat senang melakukannya." Membalas senyum.
Ini adalah cara pendekatan dengan calon mertua hehe boleh saja kan ?!