
Seluruh keluarga memeluk Khaira saat sampai di rumah. Mereka menangis karena mengkhawatirkannya. Oma Merly bahkan tak dapat berkata-kata melihat cucunya itu.
"Maafkan aku, aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Mama dan papa tidak mengetahui kejadian ini kan ?!" Khaira menundukkan kepalanya.
"Tentu saja tidak. Kakak sengaja merahasiakan ini dari mereka. Kakak tidak mau mereka sedih." Yusuf menjawab.
Khaira menangis lagi mengingat sosok kedua orangtuanya. Jika mereka ada di sini, pasti akan merasa kecewa dan sedih melihat salah satu anak perempuan di rumah ini telah melakukan hal yang tidak pantas.
Khesya memeluknya, "Sudahlah jangan menangis terus. Kau ini masih saja cengeng seperti anak kecil. Ayo bersihkan badanmu dan ganti baju. Kau bau sekali !" menutup hidung dengan kedua tangannya.
"Sya kau ini ! aku tidak sebau itu !" masih bercucuran air mata, Khaira memukul pelan bahu saudari kembarnya.
Di saat seperti ini sosok rame Khesya memang ampuh menghilangkan ketegangan.
Satu hari terlewati. Siang ini di ruangan Yusuf sudah ada pak Irwan. Dia kembali datang untuk meminta kesempatan agar dapat mengulang presentasinya yang kemarin gagal total.
Pria paruh baya bertubuh agak gendut itu duduk menghadap Yusuf. Willy berdiri di sebelah atasannya, menatap pak Irwan dengan seksama. Dia ingin tahu apakah pria itu sudah fasih berbicara atau masih terbata-bata seperti kemarin ? tapi jika dilihat dari raut wajahnya, sepertinya lebih tenang.
"Pak Yusuf !"
"Panggil tuan Yusuf ! atasan saya masih sangat muda jika dipanggil bapak." Willy menyela.
Sebenarnya itu bukan perintah dari Yusuf. Willy berinisiatif sendiri. Dia sama sekali tidak suka jika bosnya dipanggil begitu. Terkesan lebih tua. Akan lebih enak didengar jika bos Yusuf dipanggil dengan tuan. Lebih bergaya dan terhormat. Sedangkan tuan Yusuf tidak mempedulikan itu. Mau dipanggil pak atau tuan baginya tidak masalah.
"Maaf tuan Yusuf. Saya kemari ingin meminta maaf karena kemarin saya sudah banyak berbuat kesalahan. Jika anda berkenan, maka berilah saya kesempatan." Pak Irwan meremas jemarinya yang berkeringat dingin.
"Bicara anda saat ini lebih baik daripada kemarin." Yusuf menatap pria itu lekat-lekat.
"Kemarin saya sangat gugup." Pak Irwan menunduk.
"Sekarang pun anda masih gemetaran. Tenang saja pak Irwan. Saya tidak akan berbuat hal buruk pada anda. Silahkan saja jika masih ingin mengutarakan sesuatu. Mumpung saya masih ada waktu sebelum meeting dengan klien."
Entah kenapa senyum yang muncul di bibir Yusuf malah membuatnya lebih gugup. "Tuan, anda pasti sudah mengetahui jika kami punya tembaga murni yang harganya jauh lebih rendah dibanding perusaahan lain. Itu berarti perusahaan anda akan untung besar jika memasok tembaga dari kami."
Yusuf mendengarkan baik-baik setiap kata yang keluar dari mulut pak Irwan. Namun, dia belum merespon.
"Anda tidak akan menyesal jika bekerja sama dengan kami. Saya bisa menjamin hal itu." Berbicara dengan berapi-api. Matanya berbinar saat bersitatap dengan Yusuf.
CEO Perusahaan Angkasa Group itu melihat sekilas jam tangannya. Masih ada waktu untuk berbicara pada pria di hadapannya. "Saya tentu saja mengetahuinya. Bahkan saya juga tahu bahwa para pekerja tambang di tempat anda, hanya diberi upah yang sangat sedikit. Padahal mereka sudah bekerja sangat keras bahkan juga bertaruh nyawa. Apa anda tidak berempati pada mereka ?" perkataan itu menohok tajam pada ulu hati pak Irwan.
"Begini pak, saya akan mempertimbangkan lagi kerja sama kita jika anda memberikan upah yang layak bagi semua pekerja dan karyawan anda. Ingatlah, perusahaan anda tidak akan maju jika tanpa mereka. Mungkin di mata anda posisi mereka sangatlah rendah. Tapi kerja keras merekalah yang menjadi salah satu faktor keberhasilan anda. Mereka bagian dari orang-orang penting. Jadi berilah penghargaan yang layak bagi usaha dan kerja keras para pekerja anda."
Pak Irwan bergeming. Yusuf kembali berucap, "Jika anda melakukan hal yang saya minta, maka saya akan mempertimbangkan lagi tentang kerja sama kita. Dan saya akan memberi harga yang pantas untuk tembaga dari perusahaan anda. Jika tidak ada lagi yang ingin anda utarakan, maka saya anggap pembicaraan kita selesai."
"Baik tuan, saya akan melaksanakan saran anda."
Yusuf mengangguk puas. Dia kembali menatap jam tangannya. Pak Irwan tahu jika kini saatnya dia pamit. "Terima kasih atas kebaikan anda tuan Yusuf, saya permisi." pria itu berdiri dan membungkuk hormat, kemudian berlalu.
Willy juga membungkuk santun, dia bermaksud memberi tahu jika meeting akan segera dilaksanakan. Namun Yusuf sudah lebih dulu beranjak dari duduknya. "Aku sudah tahu." Dia melangkah tenang diikuti asistennya.
__ADS_1
***
Pagi hari yang agak mendung. Langit berwarna kegelapan seolah ikut bersedih. Membuat suasana di sebuah pemakaman terasa lebih sendu. Hening, semua orang menangis dalam diam. Menatap lekat pada sebuah kuburan dimana di dalamnya tertidur sosok yang mereka kasihi. Nisan bertuliskan nama Hans Hadi Wijaya lengkap dengan tanggal kelahiran dan kepergiannya. Sudah setahun beliau meninggalkan dunia ini. Namun, duka itu masih terasa sesak dalam dada.
Bu Merly beserta anak menantu dan cucu-cucunya ada di sana. Bersama memberikan doa untuk ketenangan pak Hans di alam sana. Hanya Yusuf yang belum hadir. Dia sengaja datang paling belakangan agar tak ada seorang pun yang melihat air mata kesedihannya. Semua keluarga sudah paham dengan sikapnya ini, tak ada yang keberatan dengan hal itu.
Setelah semua orang benar-benar pergi, Yusuf muncul di sana. Meratap sedih tanah yang mengubur jasad kakeknya. Dia mengusap nisan itu dengan lembut, seolah sedang mengusap kepala opa Hans.
Meski tak bersuara, tapi bulir bening yang terus bercucuran dari matanya menunjukkan bahwa dia benar-benar kehilangan pak Hans. Sosok yang selalu memberi dukungan padanya. Bahkan almarhum juga tempatnya berkeluh kesah di saat dirinya merindukan ayah ibu.
Hampir satu jam dia berjongkok di depan makam pak Hans. Perasaannya sudah lebih lega, rasa rindunya sedikit berkurang kepada sosok kakeknya itu. Yusuf berdiri dan mulai melangkah. Saat baru beberapa langkah, dia berhenti. Suara tangisan pilu dari seorang gadis yang sedang memeluk nisan, membuatnya penasaran.
Yusuf menoleh, dia bisa merasakan sendiri sakitnya kehilangan orang terkasih. Itu juga pasti yang sedang gadis itu rasakan.
"Ibu, kenapa ibu meninggalkan ku sendiri ? membiarkan ku hidup dengan ayah yang tidak pernah menginginkan kehadiranku di dunia ini. Hidupku sangat menderita. Lebih baik aku menyusul ibu saja." Dia mengeluarkan pisau kecil dari tasnya. Bersiap menusukan benda tajam itu ke perutnya.
Yusuf berlari ke arahnya dan berusaha merebut pisau itu. Pegangan tangan gadis bertubuh kecil itu cukup kuat. Mungkin tenaganya menjadi sangat besar karena terdorong oleh nafsu dan pikiran kalut.
"Lepaskan ! siapa kau ? jangan ikut campur !"
"Hey, nona ! berpikir jernihlah ! berikan pisau ini padaku !" akhirnya Yusuf berhasil mengambilnya. Dia melemparnya sejauh mungkin. Tapi gadis itu masih gelap mata. Dia berusaha mencari-cari benda tajam yang menurutnya bisa mengantarkan dia kepada mendiang ibunya.
"Stop ! jangan biarkan nafsu membodohimu !" Yusuf mencengkram kedua tangan gadis itu.
"Pergi kau ! aku tidak butuh nasehat dari orang asing !" meronta ingin melepaskan diri namun dia malah kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke belakang. Otomatis tubuh Yusuf pun ikut terseret dan menindih tubuh si gadis.
Mata mereka bertemu. Tubuh gadis itu gemetaran. Dia langsung berteriak-teriak. "Tolong ! tolong !"
Si gadis ikut duduk dan mendelik ke arahnya, "Kau penipu. Kau hanya pura-pura ingin menolong padahal kau punya pikiran mesum. Kau itu pemerk**a !"
"Kau, dasar gadis gila tidak tahu terima kasih. Kau jangan memfitnah sembarangan !"
"Kau pria gila berotak mesum !" dia berdiri lalu berlari.
Yusuf segera beranjak dan mengejarnya. Dia takut si gadis bodoh itu nekat bunuh diri lagi. Gadis gila seperti itu pasti akan mencoba lagi mengakhiri hidupnya.
Gadis itu mencoba berontak saat tangannya berhasil lagi dicengkram Yusuf. "Lepaskan ! aku akan teriak lagi jika kau masih kurang ajar !"
"Heyyy dengar gadis bodoh ! aku tidak ada niat untuk macam-macam padamu. Aku hanya takut kau bertindak nekat lagi."
"Kenapa mau ikut campur ? itu urusanku ! kau jangan mencari alasan agar bisa menyentuhku !" masih berusaha melepaskan diri.
Yusuf akhirnya melepas cengkeramannya. Dia tersinggung dengan perkataan gadis itu. Inikah balasan karena niat baiknya ?
"Dengar nona ! kau sudah salah paham. Aku bukan pria mesum !" Yusuf segera melangkah meninggalkan gadis yang masih cemberut itu.
Tak enak hati juga ketika melihat si pria gila berotak mesum itu marah. Mungkin dia yang salah karena sudah berpikiran buruk. Jika bertemu lagi dengannya maka dia akan bertekad untuk minta maaf dan mengucap terima kasih karena sudah berusaha menyadarkannya agar tidak melakukan usaha melenyapkan diri. Gadis itu pun pergi dari makam dan berjalan mencari ojeg yang lewat.
Diam-diam Yusuf memperhatikan dan mengikutinya. Dia takut gadis itu akan nekat lagi. Entahlah, dia tidak akan tenang jika belum yakin bahwa si gadis gila akan insyaf.
__ADS_1
Yusuf menghentikan mobilnya karena ojeg yang diikuti juga berhenti tepat di depan sebuah taman. Dia turun dari mobil dan mengikuti gadis itu sampai di sebuah danau kecil.
Heyyy apa si bodoh itu mau melompat ke dalam danau ? dasar nekat !
Yusuf membopong gadis itu dan mendudukkannya di sebuah bangku yang tak jauh dari sana. Dia tak peduli jika punggungnya terus dipukul dengan tangan mungil milik si gadis. "Heyyy lepaskan !"
"Diam dan duduk di sana !" Yusuf berdiri di hadapannya.
"Kau pria mesum ! ternyata aku memang benar, kau punya otak ngeres. Kau pasti sudah mengikutiku. Menyesal sekali rasanya karena aku sempat berpikir untuk minta maaf padamu jika kita bertemu lagi."
"Dengar ! aku sama sekali tidak tertarik untuk mesum denganmu. Aku hanya ingin memastikan bahwa kau tidak lagi berbuat nekad untuk mengakhiri hidup."
"Benarkah ? apa buktinya jika kau tidak akan berbuat macam-macam ?"
"Berpikir jernihlah nona ! jika aku seorang penjahat, maka sudah ku lakukan sejak di makam tadi. Lagipula apa kau sudah pernah berkaca ? siapa yang ingin berbuat mesum pada gadis kucel sepertimu ?" Yusuf memijit pangkal hidungnya.
Yaa aku memang kucel dan sama sekali tidak menarik. Itu fakta tapi kenapa masih terdengar menyakitkan ?
Gadis itu cemberut dan menundukkan wajahnya. Yusuf ikut duduk agar rasa kesalnya berkurang. Dia tak enak hati karena perkataannya membuat gadis di sebelahnya tersinggung.
"Maaf jika aku tidak sengaja berkata kasar. Dengar nona, aku mengikuti sampai sini dan mengangkat tubuhmu menjauh dari tepi danau, karena aku hanya ingin mencegahmu bunuh diri lagi."
"So tahu ! siapa yang mau loncat ke sana ? aku takut tenggelam." Bicara namun tak mau menatap pria itu.
Tahu begitu aku tidak usah repot mengangkat tubuhnya. Meski kecil tetap saja berat.
"Tapi saat di makam kau pun so berani ingin melenyapkan nyawamu sendiri ?"
"Ituu...karena aku khilaf. Tidak perlu mencemaskan aku ! kita bahkan tidak saling kenal."
"Tapi aku tetap tidak bisa cuek jika ada orang yang berusaha bunuh diri di hadapanku. Jika kau ada di posisiku juga, apa kau akan tega membiarkan orang itu menghabisi nyawa sendiri ?"
Gadis itu menggeleng. "Aku pun akan melakukan hal yang sama. Maaf karena sudah salah paham. Dan terima kasih banyak karena sudah menolong."
"Lain kali jangan berbuat nekad lagi. Berjanjilah pada Tuhan dan dirimu sendiri. Ingatlah, masalah harus dihadapi, bukan dihindari !"
Yusuf beranjak dari tempat duduknya. "Sebaiknya kau pulang karena sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Aku duluan !" dia memakai kacamata hitam yang terselip di saku kemejanya.
Gadis itu mengangguk. Ia terus menatap punggung yang semakin menjauh dari pandangannya. Ada rasa kagum menyelip di hatinya pada pria asing itu. Baru kali ini dia mendapatkan perhatian dari orang lain. Dulu dia sering mendapatkannya dari mendiang ibu. Sudut lain hatinya mencelos. Kenapa bukan ayahnya yang bersikap perhatian ? kenapa malah pria asing yang baru dia jumpai yang peduli pada nyawanya ?
Air matanya bercucuran seiring turunnya air hujan. Namun dia tak beranjak. Membiarkan tubuh mungilnya dibanjiri air langit. Jika saat kecil dia melakukan ini untuk bermain dan bergembira, namun kali ini dia melakukannya karena ingin menutupi tangisnya.
Gadis itu terus menangis hingga tak menyadari kehadiran seseorang di sampingnya. Pria asing itu berdiri di sampingnya.
Kenapa tidak ada air hujan yang mengucur di tubuhku ? padahal hujannya masih deras ?
"Heyyy gadis bodoh ! kau bukan anak kecil yang masih suka main hujan-hujanan kan ?!" Yusuf memayungi gadis itu. Sementara dia sendiri sudah basah kuyup.
Gadis itu menoleh, "Kau ? kenapa kembali lagi kemari ?"
__ADS_1
Yusuf pun bingung kenapa dia ingin kembali lagi ke danau dan memastikan gadis gila itu baik-baik saja ? dia bahkan rela basah-basahan demi memayungi tubuh gadis itu ? apa dia juga sudah ketularan gila ? harusnya dia biarkan saja si gadis asing itu sendirian. Bukankah dia bukan anak kecil lagi ? tapi dia itu seorang perempuan. Mungkin saja akan berbahaya jika dibiarkan sendiri. Jika ada pria mesum bagaimana ? dia akan sangat merasa bersalah jika terjadi hal buruk pada si gadis.