Seperti Sampah

Seperti Sampah
Bab 41.


__ADS_3

Senin pagi Yusuf sengaja tidak pergi ke kantor. Hari ini dia ingin menemani istrinya berburu jajanan. Pasalnya Andini ingin sarapan lontong kari yang ada di pinggir jalan.


Saat ini keduanya tengah duduk di dalam mobil. Yusuf fokus menyetir meski sesekali sudut matanya melirik ke samping. Dia begitu senang melihat istrinya berbinar dan sumringah. Setidaknya, rasa bersalahnya sedikit terkikis.


"Sayang, maaf. Kemarin-kemarin sikapku sudah sangat buruk padamu." Ucap Yusuf.


"Jangan bahas itu lagi, mas. Aku sudah memaafkan mu." Menoleh sambil tersenyum.


Yusuf mengernyit, "Mas ?"


"He-em. Memangnya tidak boleh ?"


"Bukan, tapi itu terdengar aneh buatku. Aku lebih suka dipanggil sayang." Nyengir.


"Tapi saat ini aku ingin memanggilmu begitu. Boleh kan mas ?!"


"Ya sudah, terserah kamu."


"Mas, kita jajan di depan saja. Mumpung tempatnya sepi." Andini menunjuk tempat tersebut dengan jemarinya.


"Baiklah."


Setelah mobil menepi, kedua orang itu turun. Berjalan sedikit ke arah tenda pedagang Lontong Kari. Duduk berdua di bangku yang tersedia di sana.


"Mang, pesan dua porsi, makan di sini !" Pinta Andini.


"Baik, tunggu sebentar !" Jawab mang pedagang.


Tak butuh waktu lama, makanan itu tiba. Lontong kari yang masih ngebul menebarkan aroma sedap, membuat perut Andini makin berdemo. Rasanya sungguh sempurna saat makanan itu disajikan dengan teh hangat.


"Harum sekali...." mendekatkan hidungnya ke piring. "Tapi, sebenarnya ada yang kurang. Mas, aku ingin disuapi !"


"Baik, tidak masalah." Seru Yusuf.


"Tapi aku ingin disuapi oleh tukang lontong, bukan olehmu !" nyengir.


Yusuf membelalak, "Apa ? Kamu jangan mengerjai ku, Andini ! Tidak mungkin ada yang ngidam begitu."


"Benar, aku memang ingin disuapi oleh pedagangnya ! Boleh ya, satu suap.....saja ?" memelas.


Yusuf geleng-geleng kepala lalu menghembuskan nafasnya kasar. Jika saja istrinya itu dalam kondisi yang normal, maka dia tidak akan pernah mengijinkan.


"Ok, satu suap saja !"


Andini kegirangan, "Terima kasih, mas. Baik sekali sayangku ini !" jurus menjilat agak manja.


"Ini pertama dan terakhir kalinya, tidak ada lagi ngidam yang berhubungan dengan pria lain !"


Andini mengangguk. Sebenarnya dia hanya ingin iseng saja. Bukankah suaminya itu harus diberi sedikit hadiah karena sudah membuatnya bersedih kemarin-kemarin ?


Andini memanggil mang pedagang. "Mang, bisa tolong suapi saya, satu sendok saja ?! Saya sedang hamil muda."


Pedagang itu shock mendengar permintaan aneh dari salah satu pembeli. Dengan takut, dia melirik Yusuf yang tengah menatapnya kesal.


"Maaf, saya tidak bisa !" Ucap tukang lontong.


"Mang, satu suap saja ! Kasihan anakku jika keinginannya tidak terpenuhi." Memasang wajah muram.


"Ba...baik. Hanya satu suap." Menyendokkan makanan itu gemetaran, lalu memasukkannya ke dalam mulut pembeli anehnya.


Andini terlihat sangat menikmati mengunyah. "Enak sekali jika makan disuapi oleh pembuatnya secara langsung. Dua suap lagi mang, ku mohon !" antara meminta dan menyuruh.


Yusuf makin geram, menatap pria seumurannya itu. Dan si mang tukang lontong makin gemetaran. Tapi Kebetulan sekali saat itu berdatangan pembeli yang lain. Hingga pedagang itu bisa bebas dari situasi yang tidak mengenakkan.


Andini tertawa dalam hati melihat suaminya yang berwajah masam. Senang sekali melihat Yusuf kesal seperti itu.


***


Usai sarapan lontong yang menyenangkan, Andini meminta dibelikan rujak mangga muda yang super pedas. Tak hanya itu, dia juga menginginkan berbagai macam camilan beserta minumannya. Itu adalah perbekalan yang diperlukan nanti saat menghabiskan waktu di apartemen milik Yusuf.


Kini keduanya duduk bersama sambil nonton TV. Dan makanan-makanan itu sudah berjejer di atas meja.


"Sayang, kamu yakin sanggup menghabiskan semuanya ?" tanya Yusuf.


Andini menggeleng, "Bukan untukku, semua ini untuk kamu, mas. Aku hanya ingin makan keripik kentang dan jus saja."


"An, tahu begitu aku tidak akan repot membeli semua ini. Kamu tahu sendiri jika aku tidak suka makanan pedas dan asam." Mulai kesal.


"Aku tahu. Maaf, tapi saat ini aku sangat ingin melihat kamu memakannya." Memasang wajah semanis mungkin agar suaminya luluh.


Yusuf menepuk jidatnya sendiri. Andini benar-benar membuatnya repot hari ini. Tapi, demi menyenangkan hati istrinya itu dia pun rela menuruti kemauan Dini.


Meski ragu, Yusuf mengambil rujak dan memasukkan sedikit makanan itu ke mulutnya.


"Hahhhhh ! Hahhhhh ! Pedas !!!" bergidik sambil berteriak-teriak. Tangannya bergerak mencari air minum.


Andini pura-pura berbinar seolah dia ikut menikmati rujak itu. "Wahh, hanya melihat kamu memakannya saja perutku jadi kenyang dan merasa puas." Rasakan ! Itu baru pedas dari rujak, tidak sebanding dengan pedasnya sikapmu padaku.

__ADS_1


Meski sudah minum agak banyak, rasa panas pada lidah Yusuf masih melekat. Dia meletakkan kembali mangkok berisi rujak asam pedas itu.


"Maaf, sayang. Aku menyerah, aku tidak sanggup memakannya lagi ! Hahhhhh !!" segera minum lagi. Dia memegang kepalanya yang serasa ngebul. Wajahnya berubah matang, dan bibirnya juga panas seolah bengkak. "Aku lebih baik disuruh makan pete daripada makan yang pedas seperti ini !"


Maaf, mas sayang ! Aku hari ini memang ingin bermain-main dengan mu ! Andini nyengir dalam diamnya.


Dretttt dretttt !! Ponsel milik Yusuf bergetar. Dia segera mengambil benda yang berada di atas meja itu.


"Ada apa Will ?" Ucapnya.


"Tuan, Galang memberi tahu saya bahwa Meta sudah sadar. Tapi dia belum bisa berbicara dengan normal."


"Benarkah ? Itu suatu kemajuan yang bagus !"


"Galang ingin istrinya dipindahkan ke Rumah Sakit di kota ini agar keluarga besarnya bisa menjenguk."


"Atur saja semuanya."


"Baik, tuan."


Yusuf tersenyum lega sambil menyimpan kembali handphone itu.


"Ada apa ?" tanya Andini penasaran.


"Willy bilang Meta sudah sadar, tapi belum bisa bicara dengan normal. Dan suaminya ingin agar dia dipindahkan ke Rumah Sakit yang ada di kota ini."


Mata Andini berbinar-binar. "Syukurlah, aku bisa bertemu lagi dengan Meta jika begitu. Aku memang sudah merindukannya."


Yusuf tersenyum, "Aku juga menjadi sedikit tenang setelah mengetahuinya. Setidaknya rasa bersalahku pada Meta bisa sedikit berkurang."


"Semoga Meta bisa cepat pulih seperti sedia kala."


Yusuf mengangguk sambil memegang tangan Andini.


Ting tong ! Bel pintu berbunyi. Yusuf segera beranjak untuk membukanya.


"Boleh ayah masuk ?" tanya Pak Daniel.


"Tentu, ayah. Masuklah !" sambut pria bermata sipit itu. Dia tak lagi kesal pada mertuanya karena belakangan sikap Pak Daniel memang tulus pada istrinya.


Orang tua itu pun duduk di sofa ruang tamu. Andini berjalan ke arahnya dan mengecup punggung tangannya. "Ayah, apa kabar ?" duduk di hadapan Pak Daniel.


"Baik. Dini, ayah bawakan martabak telor untukmu. Maaf, mungkin ini sangat terlambat tapi ayah masih ingat jika waktu kecil kamu pernah menangis gara-gara ingin makan ini, bukan ?!" menyodorkan sebuah bungkusan.


"Ayah, silahkan diminum !" Yusuf membawakan beberapa gelas air dan menyimpannya di atas meja. Setelah itu ikut duduk di sebelah istrinya.


"Tidak apa-apa," Yusuf tersenyum.


"Ayah, terima kasih martabaknya." Mata Andini berkaca-kaca. Dia ingat saat dulu pernah menangis menginginkan makanan tersebut. Hanya sekedar martabak telor tapi ayahnya tak mau memberi. Segalanya untuk Yasmin, sedangkan Andini tidak pernah dipedulikan. Mungkin saat ini Pak Daniel berusaha untuk menembus sedikit kesalahannya di masa lalu.


***


Andini melahap martabak itu dengan semangat. Bahkan makanan itu dihabiskan sendirian saja olehnya. Sementara Yusuf dan Pak Daniel hanya tersenyum saja melihatnya.


"Bagaimana kabar kehamilan mu ?" tanya Pak Daniel.


"Baik-baik saja." Jawab putrinya.


"Syukurlah. Jaga anak itu dengan baik ! Jangan sampai melakukan hal yang salah seperti yang ayah lakukan padamu ! Bagaimana pun juga, seorang anak itu tidak punya dosa sedikitpun."


Andini dan Yusuf tahu persis arah pembicaraan orang tua itu. Ini menyangkut kejadian kelam yang menimpa Dini. Pak Daniel bisa menebak bagaimana perasaan anak menantunya saat ini.


"Kami akan menjaga dan membesarkannya dengan baik." Ucap Yusuf tanpa ragu.


"Terima kasih banyak, nak. Ayah percaya padamu."


***


Selasa jam sepuluh pagi. Bu Rahma menemui Andini di rumah keluarga Yusuf. Wanita itu duduk di ruang tamu bersebelahan dengan Andini. Setelah banyak berbasa-basi akhirnya dia sampai pada obrolan inti.


"Andini, ibu mengerti bagaimana perasaanmu. Memang tidak mudah untuk menerima seorang anak yang belum tentu ayah kandungnya siapa. Kamu pasti saat ini sangat tertekan."


Andini belum mau merespon.


"Jika ibu ada di posisimu, maka mungkin ibu akan menyingkirkan bayi itu." Berbisik.


"Aku bukan wanita seperti itu !" menatap tajam.


"Ah, maaf. Ibu cuma mau memberi saran. Oh ya, suamimu bagaimana ? Dia pasti tidak tenang. Sukur-sukur anak ini adalah anaknya. Tapi bagaimana jika bukan ? Kasihan sekali tuan Yusuf."


"Kami baik-baik saja. Dan sepertinya ibu tidak perlu repot-repot memikirkannya !"


"Bukan begitu, ehm...apa kalian akan melakukan test DNA nantinya ?"


"Kenapa ibu ingin tahu ?"


"Hanya bertanya saja. Harusnya tuan Yusuf tidak perlu menyuruhmu untuk melakukan itu jika dia benar-benar mencintaimu."

__ADS_1


"Ini masalah rumah tangga kami, ibu tidak perlu tahu apalagi sibuk memberi solusi. Oh ya, jika tidak ada hal penting, maka aku mau ke kamarku untuk istirahat." Berdiri.


Sombong sekali dia ! Bu Rahma ikut beranjak dari duduknya. "Ibu pulang dulu. Kapan-kapan kamu yang berkunjung ke rumah ibu !" tersenyum palsu.


Andini tidak menjawab. Wanita paruh baya itu pun pergi dengan wajah kusut. Tadinya dia ingin menyerang Andini secara halus. Berusaha mempengaruhi agar Dini mau melenyapkan kandungannya. Tapi ternyata tak membuahkan hasil.


***


Beberapa hari berlalu.


Andini duduk menghadap Meta yang masih terbaring di ranjang Rumah Sakit. Suaminya berdiri di sampingnya.


"Meta, aku ingin kamu segera sembuh dan bersekolah lagi. Aku tidak punya teman lagi yang sebaik dirimu." Menggenggam erat tangan temannya itu.


"Andini.....a-aku ingin memberi tahu se-suatu. Se...benar, nya..." berusaha terus bicara meski tersendat.


"Jangan terlalu memaksakan diri ! Aku yakin sebentar lagi kamu akan sepenuhnya pulih !" ucap Yusuf.


Andini terus mengajaknya ngobrol ini-itu di saat Meta masih terus berusaha mengeluarkan suara dengan benar. Sampai akhirnya mereka pun pamit.


"Meta, nanti besok aku ke sini lagi. Sampai jumpa dan semoga cepat sembuh, tetap semangat !" tersenyum manis. Dia pun melangkah diikuti suaminya.


"Aku ingin bi...ca...ra..." Meta mencoba menghentikan langkah kaki Yusuf dan Andini. Dia ingin segera menjelaskan fakta itu. Tapi sayangnya kedua orang itu keburu pergi.


Aku harus mengejarnya ! Dorongan kuat dari dalam dirinya, berhasil membangunkan otot-otot tubuhnya hingga dia kini dapat duduk sendiri.


Galang yang baru muncul pun begitu terharu melihat kemajuan baik dari istrinya. Dia memanggil Dokter untuk mengecek kembali kondisi Meta. Dan semuanya pun semakin membaik.


"Aku sangat bahagia melihat kondisimu semakin pulih." Galang mengecup kening istrinya yang bersandar di ranjang itu.


"Mas, aku ingin...bicara de..ngan Andini."


"Ya, tapi nanti saja. Kamu harus istirahat lagi !"


"Tidak, mas. Aku...mau se-karang."


Galang menatapnya lekat. Sepertinya keinginan Meta sangatlah kuat. Mungkin dia harus menurutinya, mungkin saja jika begitu Meta akan senang dan kondisinya akan lebih membaik lagi.


***


Andini dan Yusuf baru saja meninggalkan parkiran Rumah Sakit. Keduanya duduk di kursi belakang mobil dengan saling berpelukan.


"Mas, aku senang melihat Meta semakin membaik."


"Aku juga."


"Ini semua berkat pertolongan Tuhan melalui dirimu. Kamu sudah mau mengurus dan membiayai perawatan Meta. Kamu bahkan juga menyelidiki kecelakaan yang menimpanya. Tapi aku belum tahu, penyebab kecelakaan itu apa."


"Sayang, pertama dengarlah. Aku melakukan semua ini karena ingin bertanggung jawab padanya. Lagipula yang menghandle semuanya adalah Willy. Dan untuk masalah yang menimpa Meta, itu adalah murni kecelakaan."


"Benarkah ?"


"Benar, kecelakaan tanpa rekayasa."


Willy menimpali, "Itu benar, nona. Tuan tidak bo...Maaf, Galang menelpon saya."


"........"


"Baik, kami akan putar balik !" Ucap Willy mengakhiri pembicaraan di telpon.


"Ada apa ?" tanya Yusuf.


"Meta ingin bicara pada anda dan nona. Kita sebaiknya ke Rumah Sakit lagi !"


"Baik, cepatlah !" Perintah Yusuf.


***


Andini kembali duduk menghadap Meta. "Apa yang mau kamu sampaikan ? Bicara pelan-pelan saja, kami akan mendengarkan baik-baik !"


"Alex, se-benar-nya ti...tidak pernah." Meta gemas pada dirinya sendiri yang tidak becus bicara dengan lancar. Inginnya terus nyerocos tanpa jeda, tapi mulutnya agak sukar berucap.


Andini menggenggam tangannya erat. "Pelan-pelan saja !"


"Alex tidak pernah menyentuhmu, Andini !" lagi-lagi dorongan kuat dalam hatinya, berhasil membuka gembok yang ada dalam kerongkongannya. Meta dapat berbicara lagi dengan lancar. Galang memeluk dan mengecup kepala Meta. "Sayang, syukurlah."


Andini dan Yusuf pun ikut bahagia. Namun sejurus kemudian wajah mereka menjadi seperti orang linglung. Apa sebenarnya maksud perkataan Meta barusan ?


"Yasmin dan Alex sengaja menjebak Andini. Membuat situasi seperti pria itu sudah menidurinya. Tujuannya adalah agar Dini pergi menjauh dari tuan. Inilah yang ingin saya sampaikan waktu itu sebelum kecelakaan terjadi."


Pantas saja tadi Meta terlihat berusaha keras untuk berbicara. Ternyata memang hal yang ingin dia sampaikan adalah sesuatu yang begitu penting.


"Kamu yakin, darimana kamu tahu ?" tanya Yusuf tak sabar.


"Tidak usah memaksakan diri, Meta ! Kamu baru saja pulih." Andini memang penasaran, tapi dia lebih mengkhawatirkan keadaan temannya itu.


Namun sepertinya Meta bersikeras untuk menjelaskan semuanya. Dia tak mau lagi menyimpan kebenaran itu sendirian. Akhirnya dia menceritakan bagaimana kronologi peristiwa itu. Setidaknya jika sudah begitu, maka hatinya menjadi tenang.

__ADS_1


__ADS_2