
Senin pagi.
Jam setengah 8 Suci sudah ada di ruangan CEO. Melakukan aktivitas seperti sedia kala.
Dia belum datang ya ? tumbennn. Meletakkan kopi di atas meja.
"Apa kabar ? ini masih setengah 8. Aku kan menyuruhmu datang jam 8." Riki sudah berdiri di belakangnya.
"Bapak ?" mendekap nampan di dadanya.
"Maaf ! kaget ya ?! masih ada waktu setengah jam, ayo kita sarapan !"
"Tidak pak terima kasih."
"Dilarang menolak ! kamu tidak mau gajimu dipotong kan ?!"
Apa-apaan ?!!!
"Baik pak." Suci duduk di sofa disusul Riki yang duduk di sebelahnya namun ada jarak diantara keduanya.
"Ini ambil !" menyodorkan sekotak makanan.
"Teri.."
"Ya sama-sama. Mau bilang terima kasih kan ?! mulai sekarang jangan ucapkan itu lagi saya bosan mendengarnya !"
Suci mengernyitkan dahi.
"Ini apa pak ?"
Upsss seharusnya diam saja jangan banyak bertanya !
"Masa tidak tahu ? itu kan aneka kue basah. Jangan bilang kamu belum pernah mendengar apalagi memakannya."
Tuh kan ?! seharusnya diam saja. Entah kenapa lidahku tiba-tiba ingin berbicara begitu.
"Tahu pak cuma basa-basi saja." Nyengir yang terpaksa.
"Kopi tolong !" Riki menunjuk ke mejanya dimana kopi itu berada, mengisyaratkan bahwa Suci harus mengambilnya.
Perasaan dia lebih dekat ke mejanya, kenapa tidak ambil sendiri ? tapi he's the Boss. Baiklah tuan !!!
Menggerutu tapi menurut juga.
"Silahkan pak." Meletakkan kopi di meja dan kembali duduk di tempatnya tadi.
"Waktu kamu tidak masuk kerja, saya mencoba membuat kopi sendiri tapi ternyata tidak seenak buatanmu padahal sudah sama persis cara dan takarannya." Berbicara setelah menyeruput kopi.
"Bapak harus membuatnya dengan sepenuh hati."
"Apa maksudnya kamu melakukannya dengan sepenuh hati saat membuat kopi susu itu khusus untuk saya ?"
"Tentu saja !" berbicara sambil masih mengunyah pelan.
Upsss sepertinya aku salah bicara lagi ! lihat dia sudah menatapku sambil tersenyum. Dia pasti salah paham.
"Tidak pak bukan seperti itu maksudnya. Saya hanya mencoba melakukan yang terbaik saat bekerja. Itu saja !!!" langsung memalingkan wajahnya.
Tidak masalah apapun tujuanmu. Yang jelas kamu melakukannya dengan sepenuh hati dan langsung kena di hati.
Riki tersenyum sumringah. Tiba-tiba ponselnya bergetar.
__ADS_1
(Ya Pak.Saya sudah membaca berkas-berkasnya. Saya masih menimbang sebenarnya. Nanti saya kabari lagi jika keputusan saya sudah bulat) Riki berbicara serius dengan seseorang di telpon.
Sementara itu Suci melirik sebentar-sebentar pada pria itu. Dia senyum-senyum sendiri mengingat kejadian saat dirinya pura-pura hamil. Sikap berlebihan yang ditunjukkan Riki waktu itu masih jelas terekam di kepalanya.
"Kenapa lihat-lihat ? kamu baru sadar bahwa saya ini ganteng ?" bicara dengan santainya lalu meminum kembali sisa kopinya.
"Tidak pak." Suci memalingkan wajahnya dan menutupinya dengan nampan.
Riki tersenyum melihat tingkah wanita itu. Dan Suci kembali mesem meneruskan ingatannya akan semua kekonyolan Riki.
***
Tengah hari di kantin.
Suci dan ketiga temannya sudah duduk di tempat biasa ditemani oleh makanan yang mereka pesan.
"Hari ini kantin lebih rame, tumben..." Suci memang sudah memperhatikan sedari datang tadi.
"Mbak belum tahu sih, pas kemaren-kemaren mbak gak kerja, Si Bos tiap hari makan di kantin dan duduk di kursi yang biasa mbak pake. Jadi cewek-cewek yang biasa makan di luar pada ke kantin hanya untuk melihat wajah tampan Pak Riki." Barbi menjelaskan sambil mengunyah.
"Ahh masa ? kedengarannya bohong sekali kamu." Suci berbicara sambil mengaduk mie.
"Ya mbak beneran. Malah kami semua harus pindah tempat duduk. Tapi aku yakin sekarang Bos tidak akan kemari." Arif mengunyah sambil main ponsel.
"Aku rasa juga begitu. Pak Riki hari ini tidak akan ke kantin lagi. Percuma saja wanita-wanita konyol itu datang kesini." Irfan menambahkan. Dia lebih asik makan saja tanpa bermain ponsel.
Tiba-tiba suasana jadi riuh oleh bisikan dan teriakan pelan para wanita yang terpesona dengan kedatangan CEO.
Ada apa ini ? apa ada artis yang datang kemari ? atau jangan-jangan.... Suci.
"Sepertinya prediksi kita salah bro...ayo kita cari tempat lain !" Irfan segera berdiri disusul Arif. Tidak lupa membawa serta makanan dan minuman mereka.
Sementara Barbi sama sekali tidak menyadari dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Dia hanya sibuk makan sambil fokus ke HP.
"Haiii !" Riki menyapa dan tersenyum manis pada Suci.
"Bapak makan di sini juga ?" Suci nyengir sambil menggaruk sebelah alisnya.
Pantas saja tadi dia tidak menyuruhku membawakan makanan ke ruang kerjanya. Ku pikir dia akan makan di luar. Ternyata....
"Mmm enaknya !!!" Barbi masih fokus makan dan belum menyadari keberadaan Riki.
"Ehemmm Siti !"
Suara ituuu...gawat !! kapan datangnya ? tiba-tiba saja muncul.
"Ya pak. Saya pikir bapak tidak akan kemari." nyengir.
"Bawakan saya makanan seperti kemarin !" masih berdiri.
"Baik pak." Barbi pergi sambil membawa seperangkat makanan dan minumannya.
Harus di pause dulu makannya, nanti sambung lagi aaaa lagi enak-enak malah diganggu si Bos ! harus nyari tempat lagi mana penuh begini.
Meski kesal Barbi tetap menjalankan tugas dengan cekatan, takut kena damprat.
"Bolehkan saya duduk di sini ?" Riki menempati tempat duduk bekas Barbi. Tentu saja setelah membersihkannya dengan tisu terlebih dulu.
"Ya...." menjawab ragu. Ingin melarang tapi tidak mungkin.
Barbi datang dengan makanan dan minuman pesanan Riki dan menyimpan hati-hati di atas meja. Setelah itu dia berjalan cepat ke dapur salah satu pedagang kantin. Ikut makan di sana karena tidak ada tempat lagi. Arif dan Irfan entah terdampar dimana.
__ADS_1
"Saya permisi pak." Suci berdiri.
"Eitsss mau kemana ?"
"Mencari tempat lain supaya bapak bisa makan lebih tenang tanpa gangguan." Suci sudah mengangkat mangkoknya.
"Jangan kemana-mana. Temani saya makan di sini ! jangan membantah !" mengaduk mie.
Memalukan sekali ! lihat wajah-wajah cemburu para wanita itu ! sepertinya mereka kesal sekali melihatku bersama idola mereka.
Dengan terpaksa Suci menyimpan lagi mangkoknya dan duduk di tempat semula.
"Siapa wanita itu ? beruntung sekali dia bisa duduk bersama Pak Riki."
"Itu kan OB baru."
Beberapa wanita membicarakan Suci dan bisa terdengar jelas olehnya dan Riki.
"Tidak usah dengarkan omongan mereka ! memang seperti itu rasanya duduk bersama seorang idola." Sambil mengunyah dengan santai.
Memang pede nya tinggi sih kalau pria keren.
Suci belum lagi menyentuh makanannya. Dia merasa tidak nyaman dengan tatapan para fans si Bos.
"So cantik tuh cewek, keren juga nggak !" seorang karyawati keceplosan berbicara bahkan suaranya lantang.
Mendengar itu Riki langsung berdiri dan menghampiri sumber suara.
"Siapa tadi yang bicara ?" menatap satu persatu mereka dengan tajam.
"Siapa tadi yang sudah berbicara lancang tentang Suci ?" sudah tinggi nada bicaranya.
"Ssssaya pak maaf !" seorang wanita berambut pendek mengacungkan tangan sambil menunduk.
"Saya tidak mau punya karyawan yang tidak punya sopan santun sepertimu."
"Maaf pak jangan pecat saya." Masih menunduk takut.
"Minta maaf saja pada Suci."
"Baikk."
"Tidak usah sampai harus seperti itu pak. Saya tidak merasa terganggu olehnya." Suci menghampiri.
"Maafkan saya karena sudah lancang dan tidak sopan padamu Suci !" wanita itu mendekati Suci.
"Tidak usah minta maaf !" merasa tidak enak hati.
"Jika Suci tidak memaafkanmu maka kau harus angkat kaki dari perusahaanku sekarang juga."
Suci menoleh Riki dan tak habis pikir kenapa sikapnya berlebihan.
"Saya sudah memaafkan kamu." Suci berharap dengan mengatakannya maka wanita itu bisa selamat.
"Terima kasih Suci."
"Sekarang kamu lebih baik pergi dari sini. Mulai sekarang jangan ada lagi yang menghina sesama karyawan." Riki berbicara tegas dan sorot matanya masih mematikan. Menciutkan nyali yang melihat dan mendengarnya. Bahkan tubuh mereka gemetaran.
Dengan secepat kilat wanita itu kabur menyelamatkan diri.
Untung aku tidak dipecat. Aku tidak mau lagi berurusan dengan mereka. Pak Riki benar-benar menakutkan. Aku akan mencoret namanya dari daftar pangeranku.
__ADS_1
Sementara para penonton melanjutkan kembali makannya tapi ada pula yang memilih meninggalkan kantin. Kejadian hari ini sungguh di luar dugaan. Para wanita kecewa melihat pria idola mereka duduk dengan wanita lain. Dan setelah melihat keganasan sang Arjuna, mereka langsung ciut untuk terus memujanya. Meski masih banyak yang malah lebih tergila-gila karena di mata mereka pria itu selain keren juga maco.