
Pagi ini Willy sudah ada di kamar Yusuf. Pria itu terlihat sangat mengkhawatirkan tuannya. Dia tidak berani duduk di sisi atasannya karena merasa sungkan. Hanya diam berdiri sembari menunduk.
"Maaf tuan, saya baru datang kemari menjenguk anda. Jika saya tahu lebih awal maka saya tidak akan terlambat datang kemari. Ini juga semua karena kesalahan saya. Jika saja kemarin saya mengantar anda ke pemakaman, mungkin sekarang anda baik-baik saja."
Yusuf tersenyum kecil. Pria yang duduk bersandar di ranjangnya itu tengah menatap asistennya yang masih tertunduk.
"Kita bukan sedang di kantor. Jadi santailah sedikit. Jangan memanggilku tuan ! panggil namaku saja, bukankah umur kita tak jauh beda ?!"
Willy masih bergeming.
"Will, kau sudah ku anggap seperti saudaraku sendiri. Jadi berhentilah bersikap formal dan jangan sungkan ! jangan menunduk terus, nanti lehermu sakit !" senyum itu masih tersungging di bibirnya.
Willy mendongak perlahan tapi tak berani menatap Yusuf. Sikap baik bosnya itu melahirkan rasa hormat yang teramat besar. Meski dalam suasana santai pun dia ingin selalu bersikap sopan santun pada Yusuf.
"Kau jangan merasa bersalah, aku hanya demam dan sekarang sudah baikan. Lagipula saat kemarin aku memang ingin sendirian."
"Baik tuan !"
"Panggil Yusuf saja !"
Willy menggeleng lalu menatap, "Tidak tuan, saya tidak mau bersikap kurang ajar. Tolong jangan lagi menyuruh saya memanggil anda dengan nama saja !"
Pria yang satu ini benar-benar sangat kaku dan keras kepala ! tapi dia sangat setia padaku !
"Willy, terima kasih banyak karena selama ini kau selalu setia mendampingi ku !"
Willy kembali menunduk hormat, "Jangan pernah berkata seperti itu, tuan. Harusnya saya yang berterima kasih pada anda. Saya bisa sampai seperti ini karena semua kebaikan anda. Apa yang sudah saya lakukan belumlah cukup untuk membalas jasa-jasa anda."
Begitulah Willy, dia tidak akan pernah mau jika dianggap sudah banyak berjasa. Baginya, Yusuflah yang sudah terlalu banyak berbuat kebaikan padanya. Tuannya itu sudah seperti dewa penolong.
Itu semua bermula saat beberapa tahun yang lalu.
Flashback on.
Saat itu Yusuf masih berseragam putih abu-abu. Sepulang dari sekolah, dalam perjalanan menuju Perusahaan XZ, mobil yang dia tumpangi tiba-tiba berhenti. Seorang anak laki-laki seusianya, sengaja menghadang mobil itu. Dia berlari ke pintu belakang, menggedor-gedor kaca jendela samping Yusuf.
"Tolong ! tolong, ijinkan saya masuk mobil anda tuan. Jika tidak, maka orang-orang itu akan menghabisi nyawa saya."
Yusuf berniat membuka pintu, namun sang sopir melarangnya. "Jangan tuan muda, mungkin saja anak itu punya niat jahat. Sebaiknya kita biarkan saja dia ! saya tidak akan membiarkan anda dalam bahaya."
Tapi Yusuf tidak berpikiran seperti supirnya. Dia merasa kasihan melihat anak itu terengah-engah dan bercucuran air mata. Wajahnya yang penuh luka lebam, memelas meminta bantuan. Tangannya gemetaran mengetuk kaca mobil. "Tolong tuan, kasihanilah saya !"
"Pak, kita harus menolongnya. Lihatlah di depan, orang-orang semakin dekat ingin menangkapnya !" tanpa menunggu respon dari pak sopir, Yusuf segera membuka pintu mobil dan membiarkan anak itu masuk, duduk di sampingnya.
"Terima kasih tuan !" dia menangis tersedu-sedu. Tubuhnya membungkuk dan kedua tangannya ditempelkan.
"Tidak apa-apa. Kami akan mengobati lukamu." Ada senyum ketulusan yang muncul di bibir Yusuf.
Anak itu semakin terisak. Baru kali ini ada orang kaya yang mau berbaik hati padanya. Bahkan percaya padanya. Jika orang lain mungkin saja akan membiarkan dia ditangkap para warga.
"Pak, kita ke Rumah Sakit terdekat sekarang !" sembari bicara tangannya merogoh tas miliknya dan mengeluarkan sebungkus roti, lalu disodorkan pada anak yang duduk di sebelahnya.
"Terima kasih banyak tuan !" langsung menyabet roti itu tanpa malu karena sudah tidak tahan dengan perutnya yang sakit, ingin segera diisi.
"Ba...baik !" pak sopir menurut meski dia meragukan keputusan Yusuf. Semoga saja tidak ada hal buruk yang akan terjadi.
***
Di sebuah ruangan mewah di Rumah Sakit. Yusuf berdiri di samping ranjang anak yang menumpang mobilnya tadi. Anak itu telah selesai mendapat perawatan.
"Sepertinya kau sangat kesakitan."
"Ya tuan, tapi sekarang sudah baikan. Terima kasih banyak karena sudah mau menolong saya. Anda sungguh baik hati, padahal saya hanyalah orang asing. Sampai matipun saya tidak akan pernah melupakan jasa anda." Anak itu menyeka air mata yang mengalir deras ke pipinya.
"Aku tidak sehebat itu. Aku hanya melakukan apa yang hati kecilku katakan. Oh ya, siapa namamu ? dan apa sebenarnya yang sudah terjadi sampai kau dikejar-kejar mereka ?"
"Nama saya Willy tuan. Sebenarnya saya sudah melakukan pencurian di sebuah toko roti. Saya, terpaksa mencuri karena sudah beberapa hari tidak makan. Karena tidak bisa menahan lapar lagi, saya nekad mengambil satu bungkus kecil roti dari toko itu. Seorang pegawainya memergoki saya dan berteriak. Semua orang yang ada di sana pun mengejar saya."
__ADS_1
"Saya berhasil ditangkap dan dihajar beberapa orang. Tapi saya masih beruntung karena bisa kabur dari mereka. Namun orang yang mengejar saya semakin banyak. Saya terus berlari ke tengah jalan mencoba ikut masuk ke mobil yang ada di sana. Tapi tak ada satupun yang menolong. Mereka berteriak memaki bahkan ikut juga mengejar saya."
"Sampai akhirnya saya menghadang mobil anda dan memaksa masuk. Selebihnya anda tahu apa yang terjadi."
Yusuf menatap lekat pada anak yang masih menangis itu. Dia tidak membenarkan pencurian yang dilakukan Willy. Tapi dia juga merasa kasihan. Nasib anak itu sungguh malang. Orang-orang kebanyakan suka berbuat semaunya. Mereka bahkan tidak peduli jika harus sampai menghilangkan nyawa orang karena lebih asik main hakim sendiri. Lalu, untuk apakah ada lembaga hukum jika masyarakat masih suka berbuat seenaknya ? Menangkap penjahat itu perbuatan mulia, tapi jangan sampai bertindak sesuka hati. Biarkan selebihnya pihak berwenang yang mengurus.
"Willy, dimana orangtuamu ? kau tinggal di daerah mana ?"
Willy tertunduk sedih, "Saya anak yatim piatu. Saya tinggal di kolong jembatan. Sehari-hari saya bekerja mencari barang bekas. Tapi karena kemarin-kemarin uang saya selalu dirampas para preman, saya jadi tidak punya uang untuk membeli makan. Setiap hari mereka datang mengambil uang hasil keringat saya. Dan selama itu saya selalu menahan lapar. Hingga akhirnya saya tidak bisa sanggup lagi dan kalap. Terjadilah hal memalukan itu. Saya benar-benar menyesal tuan. Saya janji tidak akan melakukan hal itu lagi." Anak itu semakin menangis kencang.
Yusuf sangat tidak tega mendengar semua penderitaan yang dialami Willy. Dia patut bersyukur mempunyai kehidupan yang nyaris sempurna. Dan salah satu cara untuk mensyukurinya adalah dengan cara berbagi. Dia bertekad untuk memperbaiki kehidupan anak itu. Dia yakin jika semua keluarganya akan ikut mendukung.
"Aku senang kau sudah menyadari kesalahanmu. Mulai saat ini jangan lagi bersedih, aku akan meminta bantuan dari keluargaku agar menjadikan kehidupanmu lebih layak."
"Terima kasih banyak tuan, tapi anda tidak perlu melakukan itu. Saya sudah cukup merepotkan tuan hari ini."
"Jangan panggil tuan, panggil saja Yusuf ! dan jangan menolak bantuan dariku ! mungkin ini memang rezeki untukmu."
"Tidak tuan, saya tidak akan pernah melakukan itu. Biarkan saya memanggil tuan pada anda. Itu adalah suatu kehormatan bagi saya. Dan terima kasih lagi karena anda sudah terlalu baik pada saya."
Flashback off.
Dan itulah alasan kenapa Willy sangat menghormati Yusuf. Dia menganggap bosnya itu adalah seorang malaikat penolong. Jika tanpa kebaikan hati Yusuf, maka saat ini dia sudah lenyap dari dunia ini. Atau jika pun masih hidup, maka hanya kesusahan yang akan menemaninya.
***
Sedari pagi buta Andini sudah sibuk beres-beres rumah seperti biasa. Dimulai dari membersihkan seluruh ruangan di lantai bawah, dilanjutkan ke lantai atas. Mengambil semua baju kotor untuk dicuci. Dan saat ini dia berada di belakang rumah, menggantungkan baju basah yang sudah dibersihkan tadi.
"Bosan juga setiap hari seperti ini. Kapan ya aku bisa santai, jalan-jalan dan membeli baju ?"
Itulah keinginan kecil seorang gadis sederhana. Bukan ingin jalan-jalan ke tempat mewah ataupun sekedar cuci mata ke mall. Pergi ke pasar dan membeli baju murah saja sudah membuatnya senang. Baju-baju di lemari bututnya sudah banyak yang robek.
"Enak ya jadi Yasmin, dia begitu dimanja. Apa yang dia minta pasti diberi. Kerjanya hanya ke salon, menghabiskan waktu seharian dengan teman-temannya. Dia tak pernah menyentuh pekerjaan rumah sekalipun."
Andini tidak menyadari bahwa sosok yang sedang dia bicarakan sedari tadi sudah berdiri di belakangnya. "Andini, kau berani membicarakan aku ?" dia sudah berkacak pinggang dan menatap tak suka pada Dini.
Gawatttt !!! nona manja mendengar kicauanku !
Yasmin menaikkan alisnya, "Tentu saja, aku adalah anak kesayangan mereka. Aku lahir dari perempuan baik-baik. Dengar ya Dini, kau tidak usah berharap akan punya kehidupan sepertiku ! dan.....jika kau butuh baju, maka aku akan berikan baju bekasku yang jauh lebih bagus daripada baju yang selalu kau pakai." Kedua tangannya bersilang di dada, menatap penuh hina pada gadis yang ada di hadapannya.
"Tidak usah, terima kasih. Aku tidak biasa memakai baju seperti itu."
"Terserah, kau ini memang norak !" dia berlalu begitu saja setelah banyak mengeluarkan kata-kata penuh hinaan. Gadis sombong itu hanya datang untuk mengganggu saja sebenarnya.
Ya...aku memang norak ! lebih baik aku terlihat seperti emak-emak daripada harus memakai baju yang terbuka dan serba mini.
Andini melanjutkan lagi pekerjaannya. Kadang dia heran, tak habis pikir. Kenapa semua tuan rumah selalu tidak menghargai dan malah senang menghina dirinya ? padahal Dini sudah berusaha melakukan apa saja yang mereka mau. Bahkan, meski harus bercape ria bekerja di rumah ini, dia tidak keberatan.
Andai ayahnya bisa sadar dan dengan berani membela juga melindunginya. Pasti sekarang dia tidak akan mendapat perlakuan tidak menyenangkan ini. Akankah itu terjadi ? Andini juga manusia biasa. Dia kadang lelah dan ingin berlari dari semua ini. Tapi, karena dia masih menghargai sosok ayahnya, dia akan terus bertahan sampai dia diakui dengan tulus sebagai anak.
***
Malam ini Yusuf dalam perjalanan menuju kediaman seseorang. Willy tentu saja menemani.
"Tuan, kenapa anda menerima undangan makan malam dari Pak Daniel ? bukankah anda tahu bahwa ini hanya akal-akalan pria itu saja agar dapat mengakrabkan diri dengan anda ? selama ini pak Daniel memang mengincar anda. Dia ingin mendapatkan posisi bagus di perusahaan."
"Aku ingin melihat sejauh mana usahanya itu ? apakah dia memakai cara yang pantas atau tidak ?"
Yusuf melihat ke luar jendela mobil, sepertinya dia tidak asing dengan jalan ini. Meskipun malam hari, dia masih bisa mengenali.
"Will, kau yakin pak Daniel tinggal di daerah sini ?"
"Tentu saja tuan. Kenapa ? apa anda ingin kita putar balik dan membatalkan makan malam bersama pak Daniel ?" Willy masih fokus mengemudi.
"Tidak ! kita lanjutkan saja !"
Mungkin kebetulan saja pria itu tinggal di daerah ini. Belum tentu juga dia tinggal di rumah besar tempat gadis itu menjadi pembantu.
__ADS_1
Sampai di depan gerbang, mata Yusuf terbelalak. Pak Daniel benar-benar pemilik rumah ini. Apa dia adalah majikan gadis aneh itu ?
Jantung Yusuf terasa berdetak tak biasa, lebih kencang dan perasaannya agak gusar. Pikirannya tertuju pada Andini. Sekarang dia berada di rumah tempat gadis itu bekerja. Itu berarti dia juga akan bertemu dengannya.
"Anda baik-baik saja tuan ?"
"Hemmm. Aku tidak apa-apa. Ayo kita turun !"
"Tunggu tuan, biar saya bukakan pintu untuk anda." Willy segera turun lebih dulu dan melakukan apa yang tadi dia katakan.
Willy itu kadang suka berlebihan. Padahal aku bisa melakukannya sendiri !
Kadang Yusuf merasa risih dengan kesetiaan asistennya itu. Tapi karena Willy selalu bersikukuh, Yusuf pun menerima perlakuan istimewa untuknya.
Yusuf berjalan tegap diikuti Willy. Di depan pintu utama rumah, mereka disambut hangat oleh Pak Daniel beserta istri dan putrinya.
"Senang sekali karena anda ternyata mau memenuhi undangan saya. Perkenalan tuan Yusuf, ini istri dan putri saya satu-satunya."
Nyonya Daniel mengulurkan tangannya sembari mengangguk. Putrinya pun melakukan hal yang sama.
"Saya Rahma, istri pak Daniel. Senang berkenalan dengan anda tuan."
Yusuf mengangguk sembari sedikit menyunggingkan senyum.
"Saya Yasmin !" gadis itu tak dapat mengedipkan mata melihat sosok indah yang berdiri di depannya.
Pria ini tampan sekali ! jauh lebih keren daripada Alex. Dan pastinya lebih tajir. Terima kasih ayah, sudah mempertemukan aku dengannya !
"Maaf nona, tolong jaga sikap anda terhadap tuan Yusuf !" suara mengintimidasi keluar dari pria di sebelah si tampan.
Yasmin segera melepas pegangan tangannya. "Maaf tuan !"
Yusuf memutar bola matanya malas. Dia tidak berkata apapun. Pak Daniel segera mengajak tamu istimewanya ke ruang makan agar suasana tidak tegang.
Willy menarik kursi untuk tuannya. Dia ikut duduk setelah Yusuf terlebih dahulu melakukannya. Mereka duduk bersebelahan dan berhadapan dengan tuan rumah.
Yasmin berinisiatif mengambilkan makanan untuk Yusuf namun dicegah oleh Willy. "Tidak usah nona, ini bagian dari tugas saya !" entah kenapa meski kata-kata asisten Yusuf itu terdengar sopan, namun malah terkesan menakutkan bagi Yasmin. Tatapan tajam itu membuatnya ciut.
Asisten posesif ! dia malah lebih terlihat seperti istri yang tidak mau suaminya direbut !
Yusuf tak mempedulikan mereka. Pandangannya menyisir ke segala arah, mencari sosok gadis konyol dan aneh dengan penampilan kucelnya. Entah kenapa dia melakukan hal yang tidak penting ?
"Silahkan tuan, dicicipi ! semoga anda suka !" nyonya rumah berkata sangat sopan dan manis.
Yusuf perlahan memasukkan sedikit makanan ke mulutnya. Dia hampir tersedak saat mendengar nama gadis aneh disebut.
Nyonya Rahma agak berteriak, "Andini ! tolong kemari !"
Sosok kucel itu muncul tak lama kemudian. "Ya Bu !" dengan tertunduk dia bicara.
"Tolong ya nak, bawa buah-buahan yang segar kemari. Kamu pasti lupa ya ?!" tidak biasanya wanita itu bersikap manis pada Andini. Itu mungkin karena dia ingin terlihat baik di hadapan tamu istimewanya.
"Baik bu." Gadis itu menurut. Dia kembali membawa pesanan nyonya dalam waktu singkat.
Yusuf memperhatikan gadis itu sejak kemunculannya. Namun, Andini sama sekali tidak mengetahui bahwa Yusuf ada di sana. Dia fokus menyajikan buah di meja makan.
"Ehemmm. Bisa tolong ambilkan air untukku ?" Yusuf berdehem dan menyodorkan gelasnya pada Andini yang berdiri di sampingnya.
Deg ! Andini sepertinya kenal dengan suara itu. Dia memberanikan diri untuk menoleh. Matanya terbelalak melihat sosok pria tampan yang pernah mengantarnya pulang ke rumah ini.
Dia ada di sini ?
Yusuf tersenyum pada gadis yang terlihat shock itu. Sementara yang lain memperhatikan mereka dengan bingung.
Note:
Mampir juga di novel baruku. Judul awal "Suamiku Gay" telah diganti menjadi "My husband is a Gay" biar gak ketuker sama novel lain😁
__ADS_1
Makasih banyak udah support 🤗