Seperti Sampah

Seperti Sampah
Bab 27.


__ADS_3

Dua hari berlalu.


Pagi ini Yusuf dan Andini berada di Bandara. Selain untuk mengantar kedua orang tua dan si kembar tampan, mereka juga memang akan melakukan perjalanan ke luar pulau untuk berbulan madu.


"Hati-hati kalian di sana ! Yusuf, jangan sampai menantu mama kelelahan karena ulah nakalmu !" Suci mengacung-acungkan jari telunjuknya di depan muka putra sulungnya.


"Tidak, ma." Yusuf nyengir sambil garuk-garuk tengkuk.


"Ma, pa !" Andini sungkem pada Suci dan Riki.


Si kembar tampan sama-sama menangkupkan telapak tangan mereka. "Sampai jumpa lagi, kakak ! kami senang punya kakak ipar baik seperti kak Andini. Kami pamit ya, kakak ! kakak juga hati-hati, kakak ! semoga perjalanan liburan kakak menyenangkan. Sehat selalu kakak. Jika kak Yusuf nakal, cubit saja hidungnya, kakak !" Keduanya tersenyum cerah.


Andini tertawa melihat kelakuan Zidan dan Zein. Sementara Yusuf terlihat agak kesal. "Kalian sudah selesai bicara ? kalian itu laki-laki, jangan terlalu bawel seperti itu !"


"Baik, kakak ! maaf kakak, hati-hati di jalan kakak !" keduanya sama-sama kompak bersemangat.


Yusuf memutar bola matanya malas. Ya ampun, adik-adikku ini bikin pusing saja !


Tapi walau bagaimanapun juga, dua anak laki-laki yang nyerocos itu adalah adik-adik kesayangannya. Yusuf memeluk mereka bergantian. Mengacak sedikit rambut Zidan dan Zein. "Belajar yang fokus, agar nanti kalian bisa masuk universitas yang bagus !"


"Siap kakak ! terima kasih atas nasehatnya, kakak !" berkata bersamaan.


Yusuf geleng-geleng kepala, "Ya, ya...!"


Yang lainnya tertawa. Andini selain terhibur dengan tingkah laku si kembar tampan, dia juga sangat bahagia karena bisa menjadi bagian dari keluarga besar Yusuf. Kehangatan dan kasih sayang yang dari dulu dia impikan, kini telah dia miliki.


Suci dan Riki beserta Zidan dan Zein telah lebih dulu pergi, karena pesawat mereka akan segera meluncur. Andini dan Yusuf masih duduk menunggu karena keberangkatan mereka masih satu jam lagi.


Andini merogoh tas kecilnya untuk mengambil ponsel. "Oma menelpon. Aku jawab dulu, ya !"


Yusuf mengangguk.


Setelah panggilan terhubung.


"Halo, Dini ! apa mertuamu sudah berangkat ? kamu sedang dimana sekarang ?"


"Mama dan papa juga Zidan dan Zein sudah naik ke pesawat. Andini masih menunggu bersama Yusuf, jadwal penerbangan pesawat yang akan kami tumpangi masih satu jam lagi."


Yusuf meminta ponsel itu, dia ingin berbicara dengan Oma. Andini mengangguk dan menyodorkan benda yang dipegangnya.


"Oma, maafkan kami yang harus meninggalkan Oma di rumah."


"Jangan minta maaf, ini memang permintaan Oma. Kalian harus banyak menghabiskan waktu berdua dengan suasana yang berbeda. Agar kalian lebih cepat punya momongan. Pasti akan sangat menyenangkan jika Oma bisa sempat menyaksikan cucu oma punya anak."


Yusuf tersipu-sipu, "Baik, Oma. Doakan saja !"


"Pasti Oma doakan. Kamu nikmati saja bulan madu dengan tenang. Jangan cemaskan Oma, di sini kan ada Khaira dan Khesya yang menjaga Oma."


Setelah banyak lagi obrolan-obrolan lain, akhirnya pembicaraan pun berakhir. Yusuf menggenggam erat tangan Andini, menatapnya lekat. "Tanganmu dingin, apa kamu takut ?"


Andini balas menatap, "Ini pertama kalinya aku akan naik pesawat, aku takut. Apakah nanti pesawat itu tidak akan jatuh secara tiba-tiba, seperti yang sering aku dengar di berita-berita televisi ?" Raut wajahnya memang pias, pucat pasi karena tegang.


Yusuf tersenyum, "Inshaa Allah tidak akan terjadi apapun. Kamu jangan terlalu cemas, lebih baik banyak berdoa !"


Andini mengangguk dan tersenyum. Perkataan, sentuhan dan senyuman suaminya itu sedikit mengikis ketakutannya.


***


Tubuh Andini gemetaran saat kakinya menginjak anak tangga pertama pesawat yang akan dia tumpangi.


Yusuf yang ada di belakangnya, berbisik. "Tenang saja, tidak apa-apa ! mau ku gendong ?" mencoba mengalihkan ketegangan Andini.


Perempuan itu geleng-geleng kepala dengan cepat, dia memilih untuk memantapkan kakinya melangkah daripada harus menanggung malu digendong di hadapan umum.


Mata Andini terbelalak takjub tatkala ia dibawa ke sebuah ruangan.

__ADS_1



"Bukankah kita sedang berada di dalam pesawat ? ini bukan di hotel, kan ?!" berbisik di telinga Yusuf.


Suaminya itu hanya tersenyum dan membawanya untuk duduk. Seorang pramugari mendatangi mereka dan membawakan minuman. Menyapa dan menyambut dengan ramah, setelah itu berlalu.


"Yusuf, kita sebenarnya ada dimana ? kenapa tidak ada orang lain di sini ?" celingak-celinguk menelisik ke segala penjuru.


"Kita sedang berada di cabin first class. Di sini memang hanya menampung lima sampai enam penumpang saja. Jarang sekali ada yang menduduki tempat ini. Dan kita beruntung, karena sekarang tidak ada penumpang lain selain kita di sini."


"Pasti lebih mahal tiketnya bukan ?!"


"Tentu saja. Fasilitas dan pelayanan di sini lebih komplit, sangat nyaman."


"Pantas saja tempat ini jarang terisi." Sepertinya ketegangan Andini sudah sirna berganti dengan ketakjuban. Baru pertama kali naik pesawat, dia sudah mampu memasuki cabin first class. Ini semua berkat Yusuf, tentunya. Dia rela menggelontorkan uang yang tidak sedikit, untuk membuat istrinya nyaman.


Tak lama berselang, seorang chef membawakan makanan dan minuman yang dipesan Yusuf. Secara khusus dirinya datang menyajikan hidangan mewah buatannya. Menjelaskan secara garis besar mengenai bumbu dan bahan serta penyajiannya. Itu adalah salah satu upaya untuk menservis penumpang di kabin kelas satu.


Usai Chef itu pamit dengan ramah, Andini cepat-cepat mencicipi makanannya. "Enak sekali !" sangat menikmati setiap mengunyah. Dia benar-benar merasa seperti ada di sebuah restoran mewah atau di hotel. Lupa jika saat ini sebenarnya sedang ada di ketinggian.


Yusuf tersenyum puas melihat istrinya yang begitu antusias. Sangat lega karena Andini bisa menikmati perjalanan tanpa tegang.


***


Berjam-jam kemudian, mereka telah sampai di tempat tujuan. Masuk ke sebuah villa mewah di pinggir pantai sebagai tempat mereka menginap. Yusuf sengaja memilih villa tersebut karena lokasinya yang terpisah dari penginapan lain. Suasana yang tenang dan sepi memang jadi incarannya, agar dirinya bisa leluasa untuk bersama Andini.


Seorang pelayan menyambut mereka dan membawakan serta membereskan barang bawaan. Yusuf membawa Andini berkeliling villa. Perempuan itu sangat kegirangan ketika melihat kolam renang yang berhadapan langsung dengan pantai.


Duduk di tepi smimming pool sambil merendam kakinya, bergerak membuat air kolam beriak-riak. Kedua tangannya mendayung air, sesekali mencipratkannya ke depan. Andini tertawa seperti anak kecil. Yusuf ikut duduk dan merendamkan kakinya. "Kamu seperti bocah saja. Memang kamu belum pernah berenang ?" menoleh dengan seksama.


Dini tersenyum dan masih menatap ke air kolam. "Belum pernah berenang di kolam renang seperti ini. Meskipun ada di rumah ayah kandungku, aku sama sekali tidak diijinkan main di sana. Paling untuk mengobati rasa penasaran, saat mandi aku kadang suka berendam di ember besar. Membayangkan itu adalah kolam renang. Tapi setelah dewasa, aku sudah tidak lagi melakukannya."


"Di rumah oma, kan ada kolam renang juga. Kenapa tidak mencobanya ?"


Andini menoleh, "Tidak, aku malu dan takut. Nanti ada pria gila dan mesum, yang akan mengintip," tertawa kecil. Yusuf menautkan alisnya, "Maksud mu, aku ?" Andini mengedikkan bahunya, "Mungkin !"


"Sebentar, harus pake baju renang dulu. Masa pake rok begini."


"Kamu mau pakai bikini di tempat ini ? bagaimana jika ada yang melihat ?" mulai melotot dan masam.


"Ihhh, bukan. Baju renang versiku itu adalah kaos oblong dan celana selutut."


"Ahhh, lama jika harus ganti baju dulu. Lagipula rokmu juga sudah sedikit basah." Mengangkat tubuh Andini ke dalam air.


Kedua tangan Dini menahan roknya yang mengambang, agar bagian bawahnya tertutupi. Meski masih memakai hot pants, tetap saja merasa malu. Jika suaminya itu melihat, maka tamatlah riwayatnya kini.


Yusuf menyeringai, terus maju hingga Andini otomatis mundur, dan punggungnya mentok di tembok sisi kolam. Kedua tangan nakal itu membuat benteng yang kokoh di sisi kepala istrinya. "Heyyy, tenanglah ! jangan bilang otakmu ngeres lagi !" Wajah Andini sudah panik. Bukannya tidak mau, tapi malu jika tiba-tiba ada orang yang lewat dan melihat adegan intim mereka.


"Bagaimana rasanya, jika bermain di dalam kolam renang ? ehemmm, sepertinya seru." Seringai masih belum hilang dari bibirnya.


"Jangan lakukan di tempat ini, nanti ada yang mel...." Nanti ada yang melihat, Yusuf ! dasar kau ini, suka main serobot ! Perkataannya berlanjut di dalam hati, karena mulutnya dibungkam oleh bibir sang suami.


Sebelah tangan Yusuf, seperti biasa memegang tengkuk Andini agar kepala perempuan itu tetap kokoh saat menerima serangannya. Sebelah tangan yang lain bergerilya ke segala area favoritnya dengan sesuka hati.


Kalau mau main beginian mah, di kamar juga bisa ! dasar modus, so pura-pura mengajak berenang padahal hanya mau bermesraan ! tapi......bibirnya ini memang manis melebihi madu. Aduhhh, aku mulai gila !


Awalnya mengeluh, lama-lama melenguh panjang karena menikmati. Hemmm, dasar Andini !


Lama sekali mereka bercengkrama di dalam air. Saling menyentuh dan memberi kehangatan. Deburan ombak yang terdengar membuat suasana menjadi lebih syahdu. Semilir angin seolah membuai mereka lebih jauh dalam keindahan.


"Aaaaaaaaa !!!" seorang wanita paruh baya yang merupakan pelayan di villa itu, berteriak kaget karena tak sengaja melihat adegan hot Andini dan Yusuf.


Kedua insan yang dimabuk asmara itu, saling melepas diri. Andini tertunduk malu dan mencubit keras paha Yusuf. Sedangkan pria di sebelahnya itu mengusap tengkuknya sambil melirik kanan dan kiri.


"Maafkan saya, tuan dan nyonya ! saya tidak melihat kalian sedang berciuman, sungguh !" membungkukkan badannya.

__ADS_1


Andini menutup wajahnya dengan kedua tangan, kepalanya geleng-geleng. Berarti dia sudah memergoki kita Yusuf ! ini semua adalah salahmu ! jika saja kau tidak memancingku tadi, maka kejadian memalukan ini tidak akan aku alami !


"Bi, apa makanan sudah siap ?" Yusuf mencoba mengalihkan pikiran pelayan itu.


"Sudah tuan, saya kemari bermaksud untuk memberi tahu hal ini. Pasti anda berdua sudah lapar setelah melakukan perjalanan jauh."


"Baiklah, terima kasih. Bibi boleh pergi, nanti kami akan menyusul," ucap Yusuf.


"Baik, saya permisi." Segera pergi setelah membungkuk hormat.


Andini memukul keras dada suaminya. "Ini gara-gara kamu, Yusuf ! aahhh, memalukan sekali !" merengek-rengek sambil menghentakkan kaki hingga air dalam kolam ikut bergerak.


"Ini salahmu, karena punya wajah yang menggoda." Melingkarkan tangan di pinggang Andini.


Istrinya itu menolak, "Lepaskan, jangan melakukan di sembarang tempat ! nanti aku kena malu lagi !"


"Baik, kita lanjutkan lagi di tempat yang lebih aman." Seringai pria itu membuat bulu kuduk Andini berdiri.


***


Di dalam kamar paling atas. Yusuf membaringkan tubuh istrinya di tempat tidur. Baju yang basah bekas bermain di kolam, telah berganti dengan bathrobe yang menempel pada keduanya.


Dengan cepat, Yusuf melepas handuk kecil yang membalut rambut Andini. Melemparnya ke atas lantai. Rambut basah itu disentuh dan dihirup aromanya. Begitu menyegarkan dan membuat Yusuf bersemangat.


Andini membeku, matanya terpejam menikmati setiap sentuhan yang telah menjadi rutinitasnya itu. Tangan, hidung dan bibir Yusuf travelling ke semua lekuk tubuhnya. Meninggalkan kiss Mark di mana-mana. Hal itu merupakan kebanggan sekaligus kenikmatan bagi keduanya.


Setelah beberapa menit melakukan warming up, Yusuf menanggalkan jubah mandi miliknya dan milik Andini. Melemparkannya entah kemana. Kamar itu kini terlihat seperti kapal pecah. Bantal, guling dan selimut teronggok begitu saja di atas lantai.


Tanpa menunggu lama, cumbuan itu pun berubah jadi pergulatan hebat dan melelahkan tapi mengasikan.


Setelah istirahat selama setengah jam, mereka turun ke ruang makan. Bibi pelayan menghampiri, "Maaf, sebaiknya saya hangatkan dulu makanannya."


Andini nyengir, "Tidak usah, bi !" Ini adalah salahnya dan Yusuf karena telat untuk mencicipi masakan bibi itu. Jadi, dia tidak boleh protes atau merepotkan lagi bibi pelayan. Sepertinya suaminya pun punya pikiran yang sama.


"Kalau begitu, saya permisi tuan, nyonya." Membungkuk sopan kemudian berlalu.


Andini dan Yusuf pun menyantap makanan mereka dengan lahap. Setelah itu, keduanya pergi ke kamar lagi, waduhhh !!


***


Di balkon kamar.


Andini bersandar di pundak Yusuf. Menikmati pemandangan laut yang terlihat cantik dari atas. Mereka menunggu sunset dengan saling berpelukan.


"Tempat ini sangat indah dan romantis," ucap Andini.


"Kamu benar. Sangat indah dan cocok untuk kita berbulan madu, tanpa gangguan. Kecuali saat tadi di kolam renang."


"Itu karena salah kita, bermesraan di ruang terbuka," terkekeh.


"Tapi sekarang kita ada di tempat aman, bisalah jika kita melakukannya lagi ?" Menggerakkan alisnya dan menyeringai.


Andini mendongak, "Mulai lagi !"


"Biarkan saja, suka-suka aku !" Usai bicara, Yusuf mendaratkan bibirnya di bibir Andini. Mengecup dan mengulum, juga sedikit menggigitnya.


Dini semakin lihai membalas ciuman dari suaminya. Akhirnya mereka pun terus berciuman hingga tanpa sadar, melewatkan momen indah matahari terbenam yang mereka nantikan.


Bergulingan indah di atas matras, di bawah pendar cahaya lampu yang agak remang. Menyentuh, mengecup dan merasai setiap inchi pahatan indah buatan Tuhan, yang sudah sah menjadi milik mereka.


Tanpa sadar keduanya terus terbuai dalam kenikmatan tiada tara. Peluh dan lelah tak jadi halangan. Terus berpacu dalam indahnya penyatuan jiwa dan raga mereka.


Usai berolahraga kesekian kalinya, mereka kembali saling berpelukan. Andini dan Yusuf terkekeh-kekeh. Maksud hati ingin menyaksikan matahari terbenam, apa daya hasrat mereka memuncak.


"Gagal sudah rencana melihat matahari terbenam. Ini semua gara-gara kegilaan kita, Yusuf !" Andini tertawa renyah. Yusuf ikut terbahak sembari mengeratkan pelukannya di tubuh Andini.

__ADS_1


Hari ini adalah hari yang melelahkan tapi juga mengasikan.


__ADS_2