Seperti Sampah

Seperti Sampah
Ujian terberat.


__ADS_3

{Cerita ini hanya rekayasa. Saya sama sekali tidak bermaksud menyinggung apalagi memojokkan seseorang atau pihak tertentu. Namun apabila terdapat kata-kata yang kurang berkenan maka saya minta maaf yang sebesar-besarnya. Terima kasih sudah mampir di novelku. Ambil pelajaran positifnya dan jangan tiru yang negatifnya ! SELAMAT MEMBACA jangan lupa tinggalkan jejak kasih juga kritik saran dan komentar kalian ! terima kasih banyak🤗🤗🤗}




Pagi itu Suci tetap mencoba meluluhkan hati Doni. Namun pria itu sama sekali tak bergeming. Dia semakin tak memperdulikan keberadaan istrinya. Saat Suci ingin mengantarnya ke depan rumah pun Doni menolak. Bahkan tak berkata apapun apalagi menatap wajah Suci.



*Sebenci itukah mas padaku ? padahal aku sangat mencintaimu mas. Aku harap kamu bisa kembali tersenyum dan menatapku dengan hangat*.



Saat pulang pun Doni sikapnya masih dingin seperti tadi. Meski Suci sudah mencoba mendekati namun dia tetap menjauh. Dan memilih tidur di kamar lain. Keadaan tidak berubah setelah beberapa hari ke depan. Bahkan Doni semakin hari semakin telat pulang ke rumah.



Libur kerja dihabiskan Doni di luar rumah. Pulang tengah malam bahkan dalam keadaan mabuk. Dan parahnya lagi kali ini dia membawa seorang perempuan.



"Mas siapa dia ?" Suci menunjuk gadis cantik yang dipeluk suaminya.



"Pacarku !" menjawab lantang.



Gadis itu hanya tersenyum sinis seolah puas dengan sikap Doni pada istrinya.



"Maksud mas ?"



"Kamu itu tuli atau bodoh sih ? sudah ku bilang dia adalah pacarku ! mungkin lebih tepatnya calon istriku !"



"Tapi kan kamu sudah menikah denganku mas. Aku gak mau dipoligami."



"Aku gak peduli ! aku gak perlu minta ijin dari istri sepertimu. Kalau kau tidak suka silahkan pergi saja dari rumah ini."



"Ayo sayang kita ke atas. Jangan pedulikan wanita ini. Anggap saja dia tidak ada." Doni mengandeng wanitanya menuju kamar.



"Mas ! apa yang ingin mas lakukan dengannya ?" Suci mengekor mereka.



"Istighfar mas ! jangan lakukan itu ! dosa mas. Ku mohon !" memegang tangan Doni saat sudah di depan pintu kamar.



"Lepaskan ! jangan pernah menyentuhku dengan tangan kotormu itu !"



"Mas ku mohon maafkan semua kesalahanku. Tapi jangan pernah lakukan itu dengannya atau dengan wanita manapun. Mas pasti tahu kan bahwa itu perbuatan dosa."



"Jangan pernah menceramahiku ! bukankah kau sendiri lebih bejad dari ini ?"

__ADS_1



"Mas gak usah ladenin dia ! tadi katanya anggap aja dia gak ada. Jangan buang waktu kita mas. Ayo kita masuk !"



"Baiklah Teni sayang....kamu memang benar. Daripada meladeni dia mending kita manfaatin waktu kita untuk bermesraan."



Doni dan pacarnya pun segera masuk tak peduli dengan perkataan dan perasaan Suci.



"Mas....jangan lakukan ini mas ku mohon. Aku tidak mau mas terjerumus ke dalam dosa." Mencoba mengetuk keras pintu meski orang yang ada di dalamnya sama sekali tak peduli.



"Mas...." Suci terduduk di balik pintu itu dan air matanya kini sudah deras mengalir.



"Ahhh mas geli...." terdengar suara Teni.



Doni dan gadis itu rupanya tengah tertawa bahagia dengan keromantisan mereka.



Suci meremas jemarinya kuat. Begitu sakit mendengar suaminya bercengkrama dengan wanita lain di kamar yang menjadi saksi bisu kemesraannya dengan Doni.



*Aku tidak sanggup mendengarnya* !!!




*Aku tak mau mendengarnya*....



Suci menutup kuat telinganya dengan kedua tangan untuk mengusir suara-suara penuh nikmat setan itu.



*Kamu kejam mas....aku tak pernah menyangka pria baik sepertimu bisa jadi sejahat ini*...



Kembali bangkit dan masuk ke kamar yang pernah ditempati ibunya. Di sana Suci lagi dan lagi melepas segala isi hatinya. Air mata menjadi saksi betapa terkoyaknya hati Suci.



Untung saja ibunya sudah tak ada disini. Jika Bu Ayu melihat semuanya maka akan membuat hati Suci lebih berlipat merasakan kepedihan.



*Tak ada gunanya terus menangis*.



Suci bangkit dan ke kamar mandi mengambil air wudhu. Melaksanakan shalat malam untuk mengadu pada Tuhan. Menumpahkan semua lara dan meminta kekuatan dalam menjalaninya. Berharap bisa segera mendapat penyelesain yang terbaik.



Setelah merasakan sedikit ketenangan dia membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Mencoba memejamkan mata meski pikirannya tak mau diam.


__ADS_1


Sementara itu di kamar lain dua sejoli yang sudah melakukan tindakan terlarang itu kini telah tumbang di tempat tidur. Tak memikirkan sedikit pun bahwa perbuatan mereka sudah membuat hancur seseorang. Dan tak pernah merasa bahwa mereka melakukan dosa.



Saat hari sudah siang pun mereka tak kunjung keluar kamar. Mereka tengah berpelukan di atas ranjang.



"Mas...kamu pasti akan nikahin aku kan ?!"



"Ya dong...tentu saja.Kenapa kamu ragu ?"



"Aku takut aja kamu berubah pikiran dan membuangku setelah kamu puas."



"Aku janji akan menikahimu secepatnya."



"Istrimu bagaimana ?"



"Aku akan menceraikannya secepatnya. Tenang saja !"



"Makasih mas....aku makin cinta sama kamu." Mencium pipi Doni.



"Aku juga mencintaimu sayang..." kembali menyerang pacarnya itu seperti yang dilakukannya tadi malam.



Mereka semakin menambah catatan dosa-dosa di kamar itu. Sama sekali tidak berpikir bahwa perbuatan itu harus dipertanggungjawabkan.



Suci memberanikan diri keluar kamar. Sebenarnya ada rasa was-was jika saja dia melihat atau mendengar lagi kemesraan Doni dan gadis itu. Ternyata memang benar. Saat di depan pintu kamar dia kembali disuguhi suara-suara yang membuatnya susah bernafas. Suci segera kembali ke kamar lagi.



Setelah lewat tengah hari barulah Doni dan selingkuhannya keluar kamar. Mereka tertawa bersama layaknya pengantin baru. Suara mereka cukup keras hingga terdengar oleh Suci.



"Sayanggg aku padahal masih kangen lho..." Teni bermanja-manja pada Doni.



"Aku juga. Tapi kamu tenang aja karena nanti malam giliran aku yang nginep di rumahmu. Boleh kan ?"



"Boleh dong...." kegirangan seperti bocah yang diberi mainan baru.



Mereka pun turun dan segera meninggalkan rumah itu. Meninggalkan nyonya rumah bersama hatinya yang porak-poranda. Hanya bulir bening yang selalu setia menemaninya di saat berduka.



*Ya Allah...jika ini adalah ujian dan bisa menebus semua dosa-dosaku maka aku ikhlas menjalaninya. Beri hamba petunjuk dan ketabahan*.


__ADS_1


Saat ini hanyalah doa yang dapat menguatkan hatinya. Suci yakin bahwa dia bisa melalui seberat apapun kehidupannya. Dia yakin bahwa Tuhan tidak akan memberi ujian di luar batas kemampuannya. Dan manusia tidak akan selalu berada dalam duka. Ada saatnya kebahagiaan akan menyambut setelah ujian itu berhasil dilalui.


__ADS_2